
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi Kinan berdiri di depan pintu kamar Adam. Dia mendengar semua yang dibicarakan kedua anaknya. Saat Zea keluar tadi, wanita itu bersembunyi di samping tembok jadi, tidak melihat. Kinan merasa sedih dengan apa yang dirasakan oleh putrinya.
Namun, dia tidak bisa berbuat banyak hal karena memang Hanif sangat menentang perasaan itu. Wanita itu pun memutuskan untuk menemui sang putri di kamarnya. Kinan tidak bisa membiarkan Zea merasakan kesedihan seorang diri. Dia tidak akan membiarkan sang putri merasa sendirian.
"Sayang, boleh Mama masuk?" tanya Kinan sambil mengetuk pintu kamar.
Tidak ada tanggapan dari pemilik kamar. Wanita itu pun memutuskan untuk langsung membuka saja, bersyukurlah pintunya tidak dikunci. Dia melihat Zea yang terbaring di ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Kinan tahu jika putrinya saat ini pasti sedang bersedih.
Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil mengusap tubuh Zea yang tertutupi selimut. Dia bisa merasakan betapa besar luka yang putrinya rasakan. Kinan akan berusaha membuat putrinya tidak bersedih lagi.
"Mau cerita sama Mama? Bukankah kamu pernah bilang kalau Mama ini juga teman kamu jadi, anggap saja saat ini Mama adalah teman kamu," ucap Kinan yang sedang berusaha mengambil hati putrinya agar mau bercerita.
Zea masih tidak bergerak sedikit pun. Kinan pun semakin tidak tega melihatnya. "Maafin Mama, ya, Sayang. Mama tidak becus menjadi seorang ibu, hingga membuat kamu seperti ini," lanjutnya dengan air mata yang menetes.
Rasa bersalahnya kepada sang putri begitu besar, hingga membuat hatinya begitu terluka. Zea yang mendengar suara tangis ibunya pun segera bangkit. Kinan bisa melihat air mata di mata putri meski sudah dihapus. Keduanya pun saling berpelukan, menumpahkan rasa sakit di hati masing-masing.
Air mata serta isak tangis seolah memberi jawaban jika keduanya sama-sama memiliki luka. Cukup lama keduanya menumpahkan tangis, hingga akhirnya Zea mengurai pelukan dan menghapus air matanya dengan pelan. Gadis itu mencoba tersenyum ke arah mamanya.
"Ma, bolehkah aku minta sesuatu?"
"Minta apa, Sayang?"
"Izinkan aku pergi. Aku ingin tinggal sama Oma Aida dan kuliah di sana, sekalian menemani opa dan Oma."
Kinan terkejut mendengarnya, dia pun bertanya dengan nada sedih. "Kamu mau ninggalin Mama?"
"Hanya sebentar, kok. Ma. Sampai aku benar-benar bisa melupakan perasaanku pada Kak Adam. Aku tidak bisa tinggal di sini, itu akan semakin menambah sakit hatiku. Apalagi saat ini Aini juga marah padaku, sudah tidak ada lagi tempat untukku saling bercerita. Mama tolong mintakan izin pada papa, Mama pasti bisa bujuk papa."
"Tapi Mama nggak mau jauh dari kamu, Sayang. Kamu adalah anak Mama."
__ADS_1
"Mama bisa datang ke sana kalau Mama kangen, sekalian Mama juga bisa ketemu sama oma dan Opa. Aku mohon, Ma. Hanya itu yang bisa menyembuhkan lukaku secara perlahan."
Kinan sebenarnya tidak ingin jauh dengan putrinya. Namun, saat melihat wajah putrinya yang begitu terluka, dia pun tidak tega. Akhirnya mau tidak mau wanita itu pun mengangguk, dia akan berusaha untuk membantu Zea meminta izin pada sang suami.
"Mama akan coba bicara sama papa, tapi Mama nggak janji kalau papamu akan mengizinkannya."
"Aku percaya sama Mama. Mama pasti bisa membujuk papa," ucap Zea dengan begitu percaya diri. Dia sangat tahu kemampuan Kinan. "Mama harus janji untuk tidak mengatakan pada siapa pun terlebih dahulu, termasuk Kak Adam."
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak ingin menambah masalah," jawab Zea seadanya, Kinan yang mengerti maksud putrinya pun hanya bisa mengangguk.
Pagi-pagi sekali pintu rumah keluarga Hanif diketuk oleh seseorang dari luar. Kinan yang sedang membersihkan ruang tamu pun segera membukakan pintu. Ternyata Aina yang datang, wanita itu pun tersenyum menyambutnya. Semalam putrinya mengeluh tidak ada yang mau dekat lagi dengannya, sekarang keponakannya itu datang.
Mudah-mudahan bisa membuat Zea membatalkan keinginannya pindah. Ingin sekali Kinan meminta Aina membujuk putrinya agar tidak pergi, tetapi dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada siapa pun.
“Assalamualaikum, Tante,” sapa Aina dengan mencium punggung tangan wanita itu.
“Aku mau ketemu Zea, Tante,” ucap Aina di sela langkahnya memasuki rumah.
“Dia masih ada di kamar, kamu masuk saja.”
“Terima kasih, Tante. Aku masuk dulu.”
Kinan mengangguk sambil memperhatikan kepergian keponakannya. Dia ingin Zea kembali seperti dulu, ceria dan cerewet. Bukan yang sekarang, selalu sedih dan tidak memiliki semangat hidup. Semoga dengan kedatangan Aina putrinya berubah meskipun hanya sedikit.
Aina mengetuk pintu tiga kali, terdengar sahutan dari dalam memintanya masuk. Zea yang ada di dalam berpikir itu mamanya atau penghuni rumah lainnya yang mengajak makan. Gadis itu tentu sangat terkejut saat melihat siapa yang datang, dia .tidak menyangka jika sepupunya akan datang.
“Kok, diam saja! Biasanya kamu kalau nggak ketemu beberapa hari, sudah kangen dan memelukku. Kenapa sekarang tidak ada sambutan seperti itu?” tanya Aina dengan cemberut. Zea pun segera memeluk sepupunya, begitu juga dengan Aina yang membalas pelukan itu.
__ADS_1
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Zea. Gadis itu dengan cepat mengusapnya agar tidak membuat Aina tahu. Dia sangat senang dengan kedatangan sepupunya meski belum mengatakan apa tujuannya. Zea membawa Aina ke atas ranjangnya, tempat biasa mereka bercanda gurau.
Kini hanya tinggal berdua, sementara Aini masih marah padanya. Namun, sebisa mungkin keduanya tidak membahas hal itu. Mereka tidak ingin merusak suasana yang harus ini, biarlah urusan Aini diselesaikan nanti.
“Kamu apa kabar? Kapan kamu bisa kembali kuliah lagi? Sepertinya sudah sangat lama,” tanya Aina memulai pembicaraan.
“Sebentar lagi,” jawab Zea sekenanya.
Dia tidak ingin mengatakan pada siapa pun saat ini. Papanya juga belum memberi persetujuan mengenai kepergiannya. Nanti saat akan mendekati harinya, barulah gadis itu akan mengatakan pada Aina.
“Zea, atas nama Aini, aku minta maaf. Dia hanya sedang khilaf saja, tolong jangan masukkan hati apa pun yang dia katakan dan dia lakukan.”
“Aini tidak melakukan apa pun, kenapa meminta maaf. Justru akulah yang salah di sini,” sahut Zea yang kemudian menatap sepupunya.
"Aina, apa kamu tidak cemburu pada kami?"
"Kenapa aku harus cemburu?" tanya Aini dengan mengerutkan keningnya.
"Kamu nggak usah pura-pura tidak mengerti. Aku tahu sebenarnya kamu juga naksir sama Kak Adam, kan?" tanya Zea sekaligus menggoda sepupunya.
"Aku bukannya naksir sama Kak Adam, Zea. Kamu salah paham, rasa sukaku pada Kak Adam hanya sebatas kagum saja. Awalnya aku iri pada Aini, saat dia bisa dengan leluasa mengutarakan isi hatinya. Dalam hati aku juga ingin seperti dia karena itu aku tertarik pada Kak Adam, tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata rasa yang aku miliki pada Kak Adam itu hanya sebatas suka saja. Tidak ada cinta di dalamnya. Setelah tahu Kak Adam mau menikah, aku sempat terkejut, tapi tidak ada rasa cemburu dalam hatiku. Kalau aku memang cinta sama Kak Adam, bukankah harusnya aku marah dan cemburu pada wanita itu? Nyatanya aku biasa saja."
Zea tersenyum sambil menganggukkan kepala. Andai saja dia juga seperti Aina, pasti masalah ini tidak akan serumit ini. Namun, mengubah perasaan tidak semudah yang terucap di bibir. Kata orang menyembuhkan luka karena cinta yaitu dengan cinta yang baru, apa gadis itu harus mencari cinta baru itu.
Zea dan Aina bercerita banyak hal tentang kampus dan juga tentang orang-orang sekitar. Zea merasa sedikit terhibur dengan kedatangan sang sepupu, setidaknya gadis itu bisa melupakan sejenak masalahnya. Mama Kinan juga membawakan sarapan untuk keduanya ke kamar. Wanita itu tahu jika anak-anak masih ingin bercerita jadi, dia tidak ingin mengganggu keduanya.
Tidak lupa juga Mama Kinan membawakan cemilan untuk mereka bersantai. Zea dan Aini merasa tidak enak karena harus dilayani oleh mamanya. Namun, wanita itu meyakinkan jika semua ini baik-baik saja. Apalagi saat melihat wajah putrinya yang tampak sedikit cerita, itu membuatnya lebih lega.
.
__ADS_1
.