Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
137. Gara-gara rambutan


__ADS_3

“Apa kamu yakin, Sayang? Ini pohonnya tinggi sekali, masa kamu minta aku buat manjat. Pakai galah saja.” Ayman mencoba membujuk sang istri.


“Nggak mau, Mas. Aku maunya kamu yang manjat pohon ini. Aku ingin makan rambutan dari hasil kamu memanjatnya. Ini juga nggak tinggi, pohonnya. Dulu waktu aku masih kecil malah sering naik pohon yang lebih tinggi daripada ini. Kamu pasti bisa, masa laki-laki nggak bisa manjat. Ayolah, Mas!” pinta Zayna.


“Tapi, Sayang. Itu beneran tinggi, lagi pula di dalam pohon itu juga banyak sekali semut atau ulat,” ucap Ayman beralasan.


“Memang ada seperti itu, Bu?” tanya Zayna pada Ibu tadi.


“Kalau ulat nggak ada, kalau semut mungkin ada di beberapa tempat, biasanya di ujung ranting. Tidak semuanya."


“Tuh kan, Mas. Pokoknya aku mau kamu manjat pohon buat ambilin buah. Aku nggak mau pakai galah. Aku maunya dari tangan kamu langsung."


Ayman memandangi pohon yang begitu tinggi, membayangkan saja sudah membuatnya ngeri, apalagi pohon ini cabangnya hanya sedikit jadi, susah untuk memanjat. Namun, menolak keinginan Zayna juga bukan hal yang baik karena sudah pasti wanita itu akan beralasan, jika ini keinginan anak mereka. Entah itu benar keinginan anak mereka atau bukan. Yang pasti ini namanya penyiksaan. Mau tidak mau akhirnya Ayman pun pasrah menuruti keinginan sang istri.


“Ayo, Mas, cepat! Ini sudah panas!” seru Zayna yang akhirnya membuat sang suami bergerak.


“Iya, Sayang. Sebentar aku lagi nyari mikir, bagaimana cara memanjatnya.”


“Pakai mikir segala, tinggal panjat saja terus ambil buahnya, sudah.”


Mudah sekali istrinya berbicara seperti itu. Andai wanita itu tahu apa yang dirasakan suaminya kini. Ibu yang tadi bersama dengan mereka pun memberi Ayman kantong kresek agar memudahkan mengambil buah. Pria itu pun mendekati pohon dan melihat ke atas.


Rasanya dia ingin berteriak kalau dirinya benar-benar tidak bisa memanjat. Sudah sangat lama sekali Ayman tidak melakukan hal ini. Terakhir dulu saat pria itu masih sangat kecil. Perlahan dia pun mulai mencoba untuk memanjat pohon tersebut dengan susah payah. Zayna begitu senang melihat sang suami menaiki pohon rambutan. Wanita itu ingin segera menikmati buah yang dihasilkan oleh sang suami.


“Ayo, Mas! Cepat itu pilih yang merah, pasti manis sekali!” teriak Zayna pada sang suami yang saat ini baru sampai di pertengahan pohon.


“Neng, biar saya panggil orang buat bantuin Den Ayman saja,” ucap ibu tadi yang merasa tidak enak pada pemilik kebun itu.


“Tidak perlu, Bu. Saya juga ambilnya sedikit saja, cukup dimakan berdua dengan suami. Nggak banyak-banyak jadi, nggak perlu minta bantuan orang lain. Takutnya malah merepotkan,” sahut Zayna yang kemudian kembali berteriak pada sang suami. “Ayo, Mas! Cepat!”

__ADS_1


Ayman yang berada di atas pohon, berusaha untuk menggapai buah yang berada di ujung ranting. Sudah beberapa tahun tidak memanjat pohon, membuat tubuhnya bergetar. Dia takut bila terjatuh, padahal biasanya pria itu juga naik gedung yang tingginya puluhan lantai. Namun, kali ini memanjat satu pohon saja sudah membuat nyalinya menciut.


Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya Ayman berhasil menggapai buah rambutan dan mengambilnya. Tanpa sadar, ada beberapa semut yang mulai menggigit tubuhnya. Ayman berusaha untuk tidak berteriak agar tidak mempermalukan dirinya. Namun, semut yang menggigitnya semakin banyak. Akhirnya dia pun berteriak dan membuat Zayna yang berada di bawah menjadi panik.


“Ada apa, Mas? Kenapa berteriak? Apa ada sesuatu?” tanya Zayna yang juga ikut berteriak.


“Aduh! Aduh!” Ayman tetap berteriak tanpa menghiraukan pertanyaan dari sang istri. Dia mencoba untuk mencari jalan turun, hingga akhirnya pria itu berhasil turun dari pohon.


“Ada apa, Mas?” tanya Zayna dengan mendekati sang suami.


“Aduh, Sayang. Aku digigit semut. Maaf, cuma bisa dapat segini,” jawab Ayman sambil menyerahkan kantong kresek yang dia bawa tadi.


“Maaf ya, Mas. Gara-gara aku kamu sampai digigit semut seperti ini,” ucap Zayna yang merasa bersalah saat melihat tubuh Ayman yang merah-merah. Mata Zayna berkaca-kaca sambil berusaha menyingkirkan semut di tubuh sang suami.


“Aku Nggak apa-apa, Sayang. Kenapa kamu jadi sedih begini? Aku ikhlas melakukannya untukmu. Jangan sedih lagi, ya!”


“Tapi karena aku kamu jadi digigit semut seperti ini.”


“Kita kembali ke Villa saja, Mas.”


“Ya sudah, ayo!” ajak Ayman yang kemudian beralih menatap ibu tadi. “Bu, terima kasih sudah membantu. Saya dan istri saya mau balik ke villa lagi. Mungkin besok kami akan jalan-jalan lagi.”


“Iya, Den, Neng. Nanti saya akan ke Villa bawain obat agar merah-merahnya bisa hilang.”


“Iya, Bu. Terima kasih.”


Ayman dan Zayna pun kembali ke Villa. Keduanya berjalan beriringan. Kebun yang begitu luas, membuat mereka nyaman. Sebenarnya Zayna masih ingin berkeliling, tetapi melihat keadaan sang suami, dia pun tidak tega.


“Mas, kamu beneran nggak apa-apa? Apa merah-merah ini nggak sakit?” tanya Zayna saat keduanya dalam perjalanan.

__ADS_1


“Nggak sakit, Sayang. Cuma gatal saja. Ini nggak apa-apa, kok! Aku laki-laki masa gatal sedikit saja sudah kesakitan."


"Kalau begitu besok bisa ‘kan ambil rambutan lagi?” pinta Zayna yang membuat Ayman melototkan matanya. Belum juga sembuh akibat gigit semut, malah menyuruhnya mengambil rambutan lagi.


“Aku bercanda kok, Mas. Gitu aja sudah melotot,” cibir Zayna sambil terkekeh, membuat Ayman merasa lega sekaligus malu.


Begitu sampai di villa, Ayman membersihkan tubuhnya, sementara Zayna menikmati rambutan yang dipetik oleh sang suami.


“Sayang sekali cuma sedapat sedikit. Padahal rasanya sangat manis. Besok aku suruh Mas Ayman ambil lagi saja. Pakai galah juga nggak pa-pa,” gumam Zayna yang kemudian masuk ke kamarnya. Ternyata Ayman sudah selesai mandi.


“Sudah habis, Sayang?” tanya Ayman saat melihat istrinya.


“Sudah, Mas, habisnya kamu mengambilnya sedikit sekali.”


“Besok aku ambilin lagi, tapi pakai galah ya? Nggak usah manjat.”


“Iya, boleh. Mas, baru saja ada Ibu yang tadi datang. Dia ngasih salep buat kamu, biar badan kamu nggak merah-merah," ucap Zayna sambil menyerahkan salep pada sang suami.


“Ibunya sudah pulang?”


“Sudah, Mas.”


“Kamu bantuin aku olesin salepnya, ya. Kamu 'kan tahu kalau aku mana bisa ngolesin punggung, nggak kelihatan.”


“Kami nggak lagi modus, kan?” tanya Zayna sambil memicingkan mata ke arah sang suami, membuat pria itu tertawa.


“Enggak, dong, Sayang. Masa dalam keadaan seperti ini masih mau modus, tapi sebenarnya modus juga nggak apa-apa. Kan, suami istri jadi, sah-sah saja.”


“Aku sudah memperkirakannya. Hal seperti ini memang sudah sering terjadi,” gumam Zayna yang masih bisa didengar Ayman.

__ADS_1


.


.


__ADS_2