Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
200. Masih khawatir


__ADS_3

"Iya, itu memang benar, Dokter Ina, tapi dengan Anda memberi vitamin pada Kinan, yang akhirnya bisa membuat Kinan dan anaknya bertahan," ucap Mama Aisyah.


"Saya hanya sebagai perantara, Bu. Semuanya ada di tangan Tuhan. Kami permisi dulu, semoga Kinan juga cepat bisa keluar dari rumah sakit," sahut Dokter Ina sambil bersalaman dengan Mama Aisyah, begitu juga dengan Pak Frans.


"Iya, Dokter, sama-sama. Sekali lagi terima kasih."


Dokter Ina dan Pak Frans memasuki mobil dan meninggalkan parkiran rumah sakit. Mama Aisyah sendiri kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dia harus menjaga putrinya yang saat ini sendirian di ruangannya.


"Aisyah, kamu ada di sini? Kinan sama siapa?" tanya Mama Aida yang tidak sengaja bertemu di lantai bawah. Baru saja wanita itu menebus obatnya di apotek.


"Kinan sendiri, tidak apa-apa. Dia sudah di ruangan. Tadi perawat sudah memindahkannya. Aku baru saja mengambil tas Kinan yang tertinggal di mobil dosennya tadi, yang menolong Kinan." Mama Aisyah menunjukkan tas milik putrinya.


"Sekarang Mana orangnya? Aku tadi belum sempat berterima kasih padanya. Tadi aku sudah lihat, tapi belum sempat berterima kasih."


"Orangnya sudah pulang. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku sudah berterima kasih mewakilkan kita semua. Ayo, kita ke ruangan! Sekarang Kinan sendirian."


"Iya, ayo!"


Ketiganya pun berjalan menuju ruangan Kinan. Di sela langkah mereka, Mama Aisyah bertanya pada Mama Aida. "Bagaimana pemeriksaan kamu tadi?"


"Alhamdulillah, semuanya baik. Cuma memang kecapean saja. Dokter juga sudah memberi obat dan juga vitamin."


"Di umur kita memang mudah sekali jatuh sakit jadi, kamu harus jaga kesehatan. Jangan sampai nanti cuma aku yang menggendong cucu kita, sedangkan kamu hanya bisa melihat saja," ucap Mama Aisyah yang memang sengaja ingin menggoda besannya.


"Enak saja, jangan dong! Aku juga ingin menggendong cucuku. Kalau kamu 'kan sudah ada anaknya Ayman jadi, sudah pernah ngerasain gimana gendong cucu, sedangkan aku belum merasakannya sama sekali."


"Makanya kamu harus cepat sembuh, biar kita sama-sama bisa melihat pertumbuhan cucu kita."


Mama Aida mengangguk, sementara Papa Wisnu yang berjalan di belakang hanya bisa tersenyum. Dia senang melihat semangat istrinya untuk sembuh. Padahal sebelumnya sangat sulit sekali membujuk wanita itu untuk ke dokter. Sekarang bahkan Mama Aida mau minum obat tanpa dibujuk.


Mereka pun Akhirnya sampai juga di depan ruangan Kinan. Ketiganya masuk bersama-sama, terlihat Kinan sedang berbaring dengan ranjang yang sedikit naik di bagian kepala.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? Kenapa bisa sampai begini?" tanya Mama Aida yang segera memeluk sang menantu.

__ADS_1


Setetes Air Mata mengalir di pipi wanita paruh baya itu. Padahal sebelumnya dia sudah berjanji, untuk tidak menangis di depan menantunya, tetapi air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa dicegah. Mama Aida begitu sangat menyayangi Kinan. Selain menantunya adalah putri sahabatnya, dia juga wanita yang baik.


Hal itu memang tidak diragukan lagi karena memang orang tuanya juga orang-orang yang baik. Mama Aida sangat mengenal mereka. Itulah kenapa saat Hanif ingin menikah dengan anak Papa Hadi, wanita itu setuju saja tanpa banyak berpikir.


"Mama, aku nggak apa-apa. Mungkin tadi ada kecelakaan sedikit, Alhamdulillah Tuhan menyelamatkan aku dan calon anakku. Aku bahagia sekali, Ma. Akhirnya aku hamil juga."


Mama Aida mengurai pelukannya dan menangkup wajah sang menantu. "Mama juga bahagia, Mama berharap kamu dan calon cucu Mama sehat-sehat terus sampai lahiran."


Saat mertua dan menantu itu sedang berbincang, Mama Aisyah dan Papa Wisnu hanya mendengarkan saja. Keduanya memperhatikan interaksi mereka dan merasa bersyukur atas kedekatan keduanya.


"Amin, Terima kasih doanya. Oh ya, kok, Mama bisa tahu kalau aku ada di rumah sakit? Apa Mama Aisyah yang kasih tahu?"


"Tidak, tadi Hanif yang telepon Papa, dia tanyain keadaan kamu. Dia dapat telepon dari Pak Munif."


"Terus sekarang bagaimana? Pasti Mas Hanif khawatir sekali," tanya Kinan yang tiba-tiba merasa khawatir.


"Iya, tapi kamu tenang saja. Mama tadi sudah bilang kalau keadaan kamu baik-baik saja, tapi kamu sebaiknya segera telepon dia. Biar dia tidak khawatir."


"Iya, Ma. Aku akan telepon Mas Hanif."


Kinan tersenyum, dia memang ingin memberi kejutan untuk suaminya. Wanita itu sudah lama menunggu hal ini. Akhir-akhir ini Kinan memang sudah tidak lagi memakai alat tes kehamilan. Dia tidak ingin kecewa, sekarang malah hampir mencelakai calon anaknya karena ketidak tahuannya.


"Iya, Ma. Terima kasih atas pengertiannya," sahut Kinan dengan tersenyum.


Wanita itu meminta tasnya pada Mama Aisyah dan mencari ponselnya. Saat menyalakan ponsel, terdapat banyak sekali panggilan masuk dari sang suami. Namun, terlebih dahulu Kinan mengirim pesan ke nomor Dokter Ina, untuk meminta nomor rekening.


Setelah mendapat balasan, dia segera mentransfer beberapa uang. Barulah wanita itu menghubungi sang suami, yang saat ini sedang dilanda rasa khawatir. Begitu panggilan tersambung Hanif segera mengangkatnya.


"Halo, assalamualaikum, Sayang. Bagaimana keadaan kamu? Kenapa kamu tidak menghubungiku? Aku sudah sangat mengkhawatirkanmu. Dari tadi aku mencoba menghubungi ponselmu, tapi tidak diangkat juga. Apa saja yang terluka, Sayang?" tanya Hanif beruntun.


Kinan tersenyum mendengar ucapan sang suami, yang terdengar begitu mengkhawatirkannya. "Waalaikumsalam, Mas. Kenapa begitu banyak sekali pertanyaannya? Mana yang harus aku jawab lebih dulu?"


"Terserah kamu, mau menceritakan yang mana lebih dulu. Aku lega mendengar suara kamu, setidaknya sekarang kamu dalam keadaan baik-baik saja."

__ADS_1


"Aku memang baik-baik saja, Mas. Kamu tidak perlu khawatir, di sini juga ada orang tua kita. Mereka sangat menjagaku."


"Syukurlah kalau begitu. Aku sudah sedikit lega. Sebenarnya ingin segera aku terbang ke sana, tapi sayangnya tidak bisa. Tadi Adam juga terus nanyain keadaan kamu. Ini sekarang dia ada di sampingku," ucap Hanif sambil melihat ke arah Adam yang juga sedang melihat ke arahnya.


"Mana, Mas? Aku ingin berbicara dengannya," ucap Kinan dengan begitu antusias.


Kinan ingin bertanya mengenai adopsi Adam, tetapi dia tidak bisa bertanya saat ada anak itu di sana. Wanita itu tidak ingin melihat wajah sedih Adam. Nanti saja saat dia hanya berdua dengan sang suami.


"Aku alihin ke panggilan video call, ya?"


"Iya, boleh."


Hanif pun mengalihkan panggilan ke video call. Pria itu terkejut melihat layar belakang Kinan. Dia sangat tahu jika sang istri sedang berada di rumah sakit. Tadinya Hanif berpikir jika istrinya sudah ada di rumah, ternyata masih di rumah sakit.


Bahkan sekarang ada di ruang rawat inap. Pria itu yakin jika apa yang menimpa Kinan pasti sangat serius. Jika itu hanya kecelakaan ringan, sudah pasti istrinya akan langsung pulang.


"Sayang bukannya kamu baik-baik saja? Kenapa masih ada di rumah sakit dan sepertinya kamu sedang berada di ruang rawat inap?"


Kinan melupakan hal itu, seharusnya tadi mereka tidak usah video call. Kalau seperti ini Hanif pasti akan bertanya hingga ke akarnya. Sebisa mungkin wanita itu harus menjelaskannya agar sang suami tenang.


"Iya, Mas. Dokter menyarankan untuk dirawat sementara waktu. Nanti kalau keadaanku sudah benar-benar baik, barulah aku bisa pulang," jawab Kinan dengan tersenyum.


"Memang apa yang sudah terjadi sama kamu?"


"Nanti saja, Mas. Kalau kamu ada di sini, aku akan ceritakan semuanya." Kinan sudah tidak sabar ingin mengatakan pada sang suami mengenai keadaannya.


Dia tahu pasti Hanif tidak akan bisa tenang sebelum mendengar ceritanya. Namun, sebisa mungkin wanita itu menahannya. Suaminya juga sudah pasti tidak terlalu khawatir seperti tadi karena dirinya juga sudah bisa berbicara.


"Halo, Adam. Assalamualaikum, bagaimana keadaan kamu?" tanya Kinan yang mencoba mengalihkan pembicaraan sang suami.


Adam tersenyum saat Kinan bertanya. Baginya itu adalah bentuk kasih sayang dari wanita itu. "Waalaikumsalam, Tante. Seharusnya aku yang bertanya keadaan Tante karena Tante habis kecelakaan."


Kinan tersenyum sambil melirik ke arah sang suami. Sepertinya pria itu masih belum puas dengan jawabannya, tetapi wanita itu tidak peduli. Biarkan nanti saja dia berbicara.

__ADS_1


.


.


__ADS_2