Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
300. S2 - Bertemu Akmal


__ADS_3

Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Adam semuanya baik. Mulai minggu depan pria itu juga harus mengikuti terapi yang sudah dijadwalkan oleh pihak rumah sakit. Zea merasa begitu bahagia mendengar kabar tersebut. Ini akan menjadi motivasi untuk sang suami bisa cepat sembuh.


"Alhamdulillah, akhirnya doa kita terkabul, Kak. Semoga nanti saat terapi semuanya berjalan dengan normal," ucap Zea saat sedang dalam perjalanan pulang.


"Amin, aku juga sudah lelah duduk di kursi roda ini. Aku selalu membuat istriku ini merasa susah," sahut Adam yang merasa bersalah.


"Kak, aku sudah bilang jangan seperti itu. Sekarang kita mau ke mana?"


"Iya, maaf. Seperti yang aku katakan tadi, kita akan pergi ke rumah sakit untuk bertemu Akmal sebentar. Rumah sakitnya nggak jauh."


Zea mengangguk dan mengikuti saja ke mana pun sang suami pergi. "Kira-kira Akmal mau bicara apa, ya, Kak?"


"Aku juga kurang tahu soal itu. Mudah-mudahan saja dia tidak membuat masalah," jawab Adam yang juga merasa was-was. Mengingat selama ini selalu ada saja yang saudaranya itu lakukan untuk menjatuhkannya.


Zea memang belum pernah bertemu dengan Akmal, tetapi mendengar cerita dari sang suami, membuat dirinya kurang suka dengan iparnya itu. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Seperti biasa, Zea mendorong kursi roda sang suami untuk menuju ruangan Akmal. Yang sebelumnya sudah ditanyakan pada resepsionis.


Begitu sampai di tempat yang dituju, tampak dua orang yang berjaga di depan pintu. Bisa Adam pastikan jika itu adalah polisi. Meskipun mereka memakai baju biasa dan menggunakan jaket. Namun, pembawaan mereka sudah bisa membuka identitasnya.


"Kamu tunggu di luar saja, biar aku yang masuk sendiri. Pasti Akmal juga tidak ingin ada orang lain tahu apa yang dia bicarakan," ucap Adam pada istrinya.


"Iya, Kak. Aku tunggu di sini saja."

__ADS_1


Adam pun menggerakkan kursi rodanya untuk masuk ke dalam ruangan. Tidak lupa juga dia mengatakan pada orang yang berjaga, jika dirinya adalah orang yang dihubungi oleh Akmal tadi. Penjaga pun mempersilakan pria itu untuk masuk. Begitu membuka pintu, tampak Akmal sedang duduk dengan pandangan kosong.


Adam mendekati saudara tirinya. Meskipun dia duduk di kursi roda, bukan berarti pria itu harus terlihat lemah di depan Akmal. Dirinya tidak ingin saudara tirinya itu semakin merendahkannya. Sudah cukup di masa lalu saja Adam lemah.


"Ada apa? Kenapa kamu meminta aku ke sini?" tanya Adam yang tidak ingin berbasa-basi.


Akmal menghembuskan napas kasar, kemudian menunduk. Dia merasa malu pada Adam setelah apa yang dirinya lakukan selama ini. Pria itu harus meminta saudara tirinya untuk datang dan meminta sesuatu padanya. Entah Adam mau mengabulkannya atau tidak.


Adam yang melihat Akmal masih terdiam pun jadi geram. "Ada apa? Jangan berbasa-basi lagi, kalau memang kamu tidak ingin bicara sebaiknya aku pulang saja."


Adam akan pergi. Namun, Akmal menghentikannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Belum tentu dirinya bisa bertemu lagi nanti. Apalagi saudara tirinya itu orang sibuk.


"Tunggu dulu! Aku ingin meminta sesuatu padamu."


Akmal menatap Adam dan berkata, "Tolong jaga Papa dan Mama. Mereka sudah tua, sudah tidak ada yang menjaga dan menemani mereka. Aku tahu kamu masih sakit hati dengan apa yang sudah mereka lakukan, tapi percayalah dalam hati mereka sejujurnya mereka juga menyayangimu," ujar Akmal yang membuat Adam terkekeh.


"Lelucon apa yang sedang kamu bicarakan. Tidak bisakah kamu mencari kata-kata yang lebih masuk akal lagi? Kalau memang benar mereka menyayangiku, mereka tidak mungkin membuangku dulu. Padahal dulu aku masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa, tapi mereka sama sekali tidak peduli," sahut Adam dengan wajah datar.


"Adam, itu hanya masa lalu. Semua itu sudah lewat. Papa juga sudah menyesal dengan semuanya, mereka sudah tua," ucap Akmal yang sebenarnya juga ragu dengan apa yang dikatakan.


Namun, semua demi kedua orang tuanya. Meskipun Farid bukan papa kandungnya, tetapi dia begitu menyayangi papanya karena sudah memberi kasih sayang yang begitu besar.

__ADS_1


"Mudah sekali berkata seperti itu, tapi tidak pa-pa. Aku akan mengirim orang sana untuk menjaga mereka. Jangan paksa aku untuk datang menemui mereka karena setiap kali aku datang ke rumah itu, melihat wajah-wajah manusia tidak punya hati, hatiku semakin terasa sakit."


"Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Apa pun keputusanmu, aku hanya ingin ada seseorang yang menjaga papa dan mama. Terima kasih sudah mau memenuhi keinginanku."


"Apa itu saja yang ingin kamu katakan?" tanya Adam lagi, dia ingin segera pergi dari ruangan yang menyesakkan dada ini.


"Aku ingin meminta maaf padamu. Maaf karena sudah membuatmu seperti ini. Aku sungguh ngerasa iri dengan apa yang kamu miliki. Semua yang aku dapatkan dari kecil ternyata semua itu harus kembali padamu. Aku akui kalau aku memang tidak punya hak dari awal. Bagaimanapun itu juga restoran papa, tapi karena sedari kecil aku sudah menganggapnya Itu milikku jadi, saat kamu mendapatkannya aku merasa tidak rela. Aku yang selama ini sudah sangat berusaha membesarkannya, tetapi kamu yang tidak melakukan apa pun justru mendapatkan segalanya."


"Tahu apa kamu tentang diriku? Kamu hanya melihatnya dari luar tanpa tahu apa yang sudah aku rasakan bertahun-tahun. Sejak kehadiranmu dan ibumu, hidupku bagai neraka Apa pun yang aku lakukan, di mata papa aku selalu salah karena dia sudah termakan dengan omongan ibumu, tetapi sejak bertemu dengan keluarga Papa Hanif, aku merasa dimanusiakan. Mereka begitu menyayangiku tanpa berharap jika suatu hari nanti aku akan membalas jasa mereka. Aku juga banyak belajar dari keluarga itu. Sesuatu yang seharusnya aku dapatkan dari keluargaku, tetapi justru mendapatkan dari orang lain." Adam teringat kenangan masa lalunya yang membuat dia sakit hati.


"Dibalik semua itu aku merasa senang, setidaknya ada orang yang benar-benar tulus padaku tanpa mengharapkan imbalan. Mereka juga menganggapku seperti anak sendiri. Entah aku harus berterima kasih pada Papa Farid atau tidak karena secara tidak langsung, berkat sikap papa padaku yang mengantarku pada keluarga Papa Hanif," lanjut Adam dengan membuang napas.


Akmal menatap ke depan dengan perasaan sedih. "Itu juga yang buatku iri, kamu bisa mendapatkan keluarga yang begitu menyayangimu meskipun kamu sama sekali tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Kadang aku berpikir jika aku yang terlantar, apakah mungkin aku juga mendapatkan orang baik seperti orang yang merawatmu? Tapi jawabannya tentu saja tidak. Aku sangat tahu setiap perbuatan akan ada balasannya. Begitu pula dengan kamu, yang selalu baik meskipun sudah ditindas. Sekarang Tuhan mengirimkan orang baik padamu, sedangkan aku selalu egois dan ingin menang sendiri. Banyak hal negatif yang aku miliki, hingga Tuhan memberikan cobaan padaku seperti ini. Apalagi dengan kesalahan yang sudah aku lakukan padamu dan membuatmu seperti ini."


"Sudahlah, lupakan saja! Aku juga sudah ikhlas menerima semua ini. Aku menganggap apa yang terjadi padaku adalah takdir yang harus aku jalani. Apalagi dengan luka yang kamu dapat ini, aku sudah bisa memastikan siapa pelakunya. Seharusnya kamu beruntung karena kamu masih bisa melihat matahari. Padahal biasanya korban sama sekali tidak bisa membuka mata dan berakhir di lubang tanah. Bahkan terkadang jadi santapan binatang buas."


"Kamu tahu siapa yang melakukan semua ini padaku?" tanya Akmal sambil melihat seluruh tubuhnya yang memar. Kakinya pun juga ada yang retak, bisa dipastikan dia akan memakai tongkat nanti.


"Tentu, aku sangat mengenal keluargaku. Mereka tidak akan membiarkan keluarganya merasa sedih ataupun susah. Apalagi jika sampai menyakitinya seperti yang kamu lakukan padaku." Adam menggelengkan kepala sambil membuang napas.


"Itu semakin membuat aku iri padamu. Semoga suatu hari nanti aku juga bisa bertemu dengan orang, yang benar-benar tulus menyayangiku seperti dirimu."

__ADS_1


"Apa kasih sayang dari kedua orang tuamu belum cukup? Seharusnya kamu bersyukur karena mereka, selalu memaafkanmu atas segala kesalahan yang sudah kamu lakukan. Tidak sepertiku yang selalu salah di mata mereka."


__ADS_2