
"Kita lihat saja nanti. Aku yakin kamu akan jatuh cinta padaku. Kamu hanya belum mengenalku, setelah kamu mengenalku dengan baik dan kamu melihat kehebatanku, pasti kamu akan bertekuk lutut di depanku," ucap Zayna dengan percaya diri.
Ayman tidak mempedulikan apa yang Zanita katakan. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Pekerjaannya masih banyak. Dia tidak ingin main-main. Sebuah ketukan diikuti seorang satpam masuk ke ruangan itu.
"Permisi, Pak. Anda memanggil saya?" tanya seorang satpam.
"Seret wanita itu dari ruangan ini. Jangan biarkan dia ke sini lagi. Ingat baik-baik wajahnya."
"Baik, Pak." Satpam tersebut segera menarik tangan Zanita.
"Aku bisa sendiri. Tidak perlu ditarik-tarik seperti ini." Zanita yang berusaha melepaskan tangannya. Akan tetapi, satpam itu tidak menghiraukan ucapannya dan terus saja menarik Zanita hingga keluar gedung.
"Dia siapa, Tuan?" tanya Ilham yang baru saja selesai dengan kerjaannya.
"Adik ipar."
"Adik ipar? Kenapa berani sekali menggoda Anda?"
"Kamu tahu benar cerita keluarga mereka jadi, aku tidak perlu menjelaskannya padamu," jawab Ayman datar. Terlalu malas membahas sesuatu yang tidak penting.
"Kekuasaan dan uang memang luar biasa. Padahal sebelumnya mereka menghina Anda."
"Sudahlah, tidak perlu membahas mereka. Lanjutkan pekerjaanmu!"
*****
__ADS_1
Zayna sedang berbelanja di supermarket yang lumayan jauh dari rumahnya. Dia pergi seorang diri untuk membeli beberapa kebutuhannya. Wanita itu melihat ibu-ibu penjual kue di seberang jalan. Zayna ingat jika Ayman sangat suka dengan kue basah. Dia ingin membelikan untuk sang suami. Letak penjual ada di seberang jalan, terpaksa harus menyeberang ke sana.
Sebelum melangkahkan kaki, wanita itu melihat ke arah kiri dan kanan. Saat sudah dirasa aman, Zayna pun melangkahkan kakinya. Namun, saat di tengah jalan, tanpa dia sadari ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Sebuah teriakan mengalihkan pandangannya. Hingga membuat wanita itu melihat jika ada mobil yang berjalan ke arahnya. Namun, sayang, jaraknya sudah di depan mata dan itu membuat tubuhnya mematung karena saking terkejutnya..
"Zayna, awas!" teriak seorang pria sambil mendorong tubuh Zayna. Tabrakan pun tidak dapat dihindari.
Zayna terdorong ke tepi jalan oleh seseorang yang tadi menolongnya. Orang tersebut sudah tergeletak di tengah jalan dengan darah yang mengalir di jalanan. Sementara itu, mobil yang menabrak mereka sudah pergi meninggalkan tempat kejadian. Zayna mencoba berdiri dengan tubuh yang gemetar.
Rasa takut dan gugup menjadi satu. Dia ingin memastikan siapa yang menolongnya tadi. Dari kejauhan wanita itu sudah bisa melihat wajah penolongnya. Zayna menutup mulutnya tidak percaya. Air mata mengalir begitu saja membasahi pipi wanita itu.
"Papa!" gumam Zayna.
Wanita itu bahkan tidak tahu sejak kapan papanya ada di sekitar sini. Bukankah seharusnya pria itu sedang bekerja. Zayna menangis meraung-raung meminta pertolongan pada orang-orang yang ada di sekitar. Dia tidak mempedulikan bagaimana keadaan tubuhnya yang sudah dipenuhi darah sang papa.
"Tolong, Pak, Bu! Tolong papa saya."
"Tunggu sebentar, Neng. Akan saya panggilkan ambulan," ucap seorang pria yang segera menghubungi rumah sakit terdekat.
Zayna mengangguk. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Wanita itu benar-benar merasa takut terjadi sesuatu pada papanya. Apalagi melihat darah yang mengalir begitu deras di jalanan.
Papa Rahmat membuka mata. Pria itu mengangkat tangannya dan mengusap pipi Zayna yang sudah basah dengan air mata. Dia tersenyum sambil memandangi wajah putrinya, wajah yang sejak lahir tidak pernah ditatapnya. Papa Rahmat merasa senang karena bisa melakukan sesuatu untuk putrinya. Hal yang selama ini tidak pernah bisa dia lakukan. Pria itu senang Zayna tidak apa-apa.
"Papa harus baik-baik saja. Papa nggak boleh ninggalin Zayna seperti ini," ucap Zayna yang melihat papanya tersenyum. Dia berharap Papa Rahmat baik-baik saja. Dia terus saja bergumam, seolah memberi kekuatan bahwa semua akan baik dan kembali seperti semula.
__ADS_1
"Aisyah," gumam Rahmat sambil melihat ke arah langit yang tengah mendung, seolah di sana ada almarhumah sang istri yang tengah menunggu. Pria itu tersenyum matanya pun tertutup kembali. Tangan yang tadinya mengusap pipi lembut putrinya juga ikut terkulai lemah. Dia tidak pernah menyesali apa yang dilakukannya hari. Rahmat senang putrinya baik-baik saja.
"Papa! Papa, harus baik-baik saja. Papa tidak boleh ninggalin aku sendiri." Zayna semakin menangis histeris.
Dia tidak rela papanya pergi seperti ini. Wanita itu pasti akan merasa bersalah karena dirinya, sang papa jadi seperti ini. Semua orang hanya menatap iba. Tidak ada yang berani mendekat karena takut terjadi sesuatu.
Tidak berapa lama akhirnya sebuah mobil ambulans datang. Beberapa orang dengan memakai pakaian serba putih, mengangkat tubuh bapak Rahmat ke atas brankar dan mendorongnya memasuki mobil ambulan. Zayna mengikuti dari belakang tanpa mengatakan satu kata pun. Dia juga ikut masuk ke mobil itu. Untung saja perawat memperbolehkannya.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Zayna terus saja menggenggam telapak tangan papanya. Dia berharap papanya baik-baik saja. Tidak peduli apa pun akan dia lakukan agar tidak terjadi sesuatu pada papanya. Air mata Zaina masih terus saja mengalir. Berbagai rasa takut hadir dalam pikirannya.
Seorang perawat memberikan pertolongan pertama pada Papa Rahmat dengan memberikan selang oksigen dan juga mencoba menghentikan pendarahan yang ada di kepala. Zayna memandangi wajah sang papa yang mulai memucat. Bibirnya tidak henti berdoa meminta pada Tuhan agar memberikan keselamatan untuk papanya.
Hanya doa yang bisa memberi keajaiban untuk Papa Rahmat. Kalaupun memang pria itu harus pergi, berarti Umur papanya hanya sampai di sini. Zayna menggelengkan kepala dengan cepat kala pemikiran buruk memenuhi kepalanya.
Akhirnya mobil ambulans sampai juga di depan rumah sakit. Perawat segera mendorong brangkar dengan sedikit berlari. Mereka membawa Pak Rahmat menuju ruang ICU. Zayna tidak diperbolehkan mengikutinya masuk. Terpaksa dia harus menunggu seorang diri di depan ruangan.
Seorang perawat meminta Zayna agar segera mengurus administrasi. Untung saja dia memiliki kartu kredit yang diberikan oleh Ayman jadi, wanita itu tidak perlu khawatir mengenai berapa besar biayanya. Disaat seperti ini Zayna mengakui jika uang adalah segalanya. Jika dia tidak memiliki uang, entah bagaimana papanya.
Zayna teringat sang suami, segera dia menghubunginya. Tidak lupa juga menelepon Mama Savina. Beberapa dokter dan perawat berlari menuju ruang ICU membuat Zayna merasa takut. Sesekali dia masih mengusap air mata yang masih mengalir. Bibirnya tidak berhenti berdoa untuk papanya.
.
.
.
__ADS_1