Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
136. Villa keluarga


__ADS_3

“Mas, kamu mau ngajak aku ke mana, sih?” tanya Zayna sambil melihat ke arah jalanan.


Setelah selesai sarapan tadi, Ayman mengajak sang istri pergi. Saat wanita itu bertanya, pria itu hanya bilang ingin jalan-jalan. Namun, sudah satu jam perjalanan, mereka tak kunjung sampai.


“Ke suatu tempat, nanti kamu juga akan suka. Sebentar lagi juga sampai, sabar dong, Sayang,” jawab Ayman.


“Habisnya kamu ditanyain nggak mau jawab. Dari tadi juga belum sampai juga, punggungku juga sudah capek,” keluh Zayna.


“Iya, ini hampir sampai, sabar ya!”


Benar saja, mobil yang dikendarai Ayman akhirnya berbelok memasuki sebuah villa yang berada di sekitar perkebunan. Zayna turun dan mobil dam melihat ke sekeliling. Dia dibuat takjub dengan keindahan tempat tersebut.


“Ini villa siapa, Mas?”


“Ini Villa punya Papa, jarang sekali ditempati. Hanya sesekali disewakan dan sekarang kebetulan sedang kosong. Aku ingin mengajak kamu ke sini.”


“Kenapa keluarga juga nggak pernah ke sini? Padahal tempatnya nyaman dan tenang.”


“Kamu tahu sendiri kalau Papa banyak pekerjaan. Dulu saat aku masih kecil dan perusahaan Papa belum sebesar sekarang ini, kami sering ke sini. Villa ini dulunya milik orang lain. Papa dan Mama sering mengajakku dan Kinan berlibur. Karena Mama menyukai tempat ini, akhirnya Papa membelinya saat dia sudah memiliki cukup uang. Namun, sayang, kami malah sudah tidak pernah ke sini lagi.”


Ayman jadi teringat kebersamaannya dulu bersama dengan keluarga, yang sudah tidak pernah dia rasakan. Bertambahnya umur, bertambah pula tanggung jawab seseorang. Apalagi kini dirinya sudah memiliki istri. Kinan juga sebentar lagi memiliki keluarga lain. Pasti akan semakin sulit berlibur bersama.


“Kenapa sekarang tidak ke sini lagi. Kalau pekerjaan ‘kan bisa ditinggal, Mas. Semua bisa berlibur bersama meski cuma sebentar.”


“Iya, tapi untuk menyatukan waktu kami itu sangat sulit. Aku punya kesibukan sendiri, begitu pun dengan Papa, Kinan lain lagi. Jadi setiap kali ada waktu liburan, kami hanya pergi sendiri-sendiri.”


Zayna menganggukkan kepala. Dia mengerti maksud dari sang suami. Wanita itu sendiri juga tidak tahu bagaimana kesibukan seorang pengusaha. Dirinya sudah terbiasa dengan keluarga yang tidak peduli padanya jadi, tidak masalah saat Ayman hanya memiliki sedikit waktu.


Berbeda dengan orang yang sudah terbiasa disayang dan dimanja. Bukan berarti dia tidak ingin diperhatikan. Hanya saja ada waktunya untuk bersama dan tidak.


“Ayo, kita masuk!” ajak Ayman dengan menggenggam telapak tangan istrinya. Zayna pun mengangguk dan mengikuti sang suami.


“Di sini ada orang, Mas?”

__ADS_1


“Iya, ada penjaga villa yang biasanya bersih-bersih tempat ini.”


“Pantas saja tempatnya begitu terawat.”


Ayman dan Zayna memasuki villa tersebut. Tampak sepasang suami istri yang sudah berumur mendekati mereka. Keduanya tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya.


“Siang, Den. Kami dari pagi sudah menunggu kedatangan Aden. Saya kira tidak jadi ke sini karena sudah hampir siang," ucap seorang wanita paruh baya.


“Iya, Bik. Terima kasih sudah menyiapkan semuanya. Tempatnya juga sangat bersih.”


“Ini memang pekerjaan Bibi dan Paman jadi, tidak perlu sungkan.”


“Oh ya, Bik. Kenalin ini istriku, namanya Zayna,” ucap Ayman sambil merangkul pundak sang istri.


“Selamat datang, Neng Zayna. Selama ini saya dan suami saya yang membersihkan tempat ini. Semoga Eneng nyaman di tempat ini.”


“Iya, Bik. Salam kenal, terima kasih sudah memberikan kenyamanan buat kami.”


“Sama-sama, kalau begitu Bibi dan Paman pergi dulu. Ini kunci villa-nya nanti kalau Aden dan Eneng membutuhkan sesuatu, bisa menghubungi kami. Bisa juga datang langsung ke rumah kami yang berada di sebelah sana. Aden masih ingat, kan?” ujar wanita paruh baya itu sambil menunjuk ke arah rumahnya.


“Baiklah kalau begitu kami pamit dulu.”


Wanita paruh baya itu dan sang suami pun meninggalkan villa, menyisakan Ayman yang hanya berdua bersama dengan sang istri. Kini hanya tinggal mereka berdua. Zayna melihat interior yang ada di villa ini. Semua tampak klasik, sesuai dengan bangunannya.


“Mau istirahat dulu atau mau berkeliling?” tanya Ayman setelah cukup melihat-lihat.


“Aku mau berkeliling saja, Mas.”


“Memangnya nggak capek tadi habis perjalanan jauh?”


“Capeknya hilang setelah melihat pemandangan sekitar, Mas. Ayo, aku mau berkeliling!”


“Ya sudah, sebentar aku ambilin topi dulu. Di luar agak panas.”

__ADS_1


Ayman pun memasuki sebuah kamar dan mengambilkan sebuah topi yang berada di sana. Dia juga memakai topi yang berada di kamar itu. Pria itu memberikannya pada sang istri.


“Ini topi punya siapa, Mas?”


“Punya Mama, nanti aku beliin buat kamu. Untuk sementara pakai ini saja dulu. Aku juga pakai punya Papa. Punyaku sudah kekecilan."


Zayna mengangguk dan mengikuti sang suami berjalan mengelilingi villa. Di sekitar tempat itu banyak kebun sayuran dan juga ada beberapa pohon buah. Menurut Ayman, semua ini adalah tanah milik papanya. Namun Papa Hadi sengaja meminta para warga untuk merawat dan mempergunakannya dengan sebaik mungkin.


Setiap kali mereka panen, tidak lupa juga mengirim hasil uang pada Papa Hadi. Meskipun berkali-kali pria itu sudah menolaknya, tetapi warga tetap mengirimnya. Mereka merasa tidak enak jika mempergunakan tanah secara cuma-cuma. Akhirnya pria paruh baya itu pun membuat tabungan sendiri untuk para petani yang ingin menyetorkan hasilnya.


Setelah uang terkumpul, Papa Hadi akan membeli tanah yang baru untuk digunakan warga lagi. Zayna dibuat takjub dengan sikap papa mertuanya. Ternyata selain pengusaha, pria paruh baya itu memiliki jiwa sosial yang tinggi. Bahkan dia juga tidak menghitung berapa kekayaannya yang ada di daerah ini. Betapa beruntungnya wanita itu bisa mengenal orang seperti Papa Hadi.


“Ayo, ke sebelah sana! Di sana ada pohon buah, dulu aku yang menanamnya bersama dengan Papa dan Mama. Aku Ingin tahu apakah masih ada atau sudah berganti dengan pohon yang lainnya," ajak Ayman.


"Memang Mas tanam pohon apa?"


"Pohon jeruk," jawab Ayman yang terus melangkahkan kakinya bersama dengan sang istri menuju pohon yang dia ingin lihat. "Wah! Ternyata masih ada, Sayang. Ini pohonnya."


"Tapi sayang, ya, Mas. Nggak ada buahnya," ucap Zayna dengan nada kecewa sambil melihat pohon.


"Iya, mungkin belum musim buah jeruk."


"Den Ayman! Aduh, sudah lama tidak datang," tegur salah seorang warga yang sedang ada di kebun.


"Iya, Bu."


"Mau petik jeruk, Den? Sayangnya sekarang belum musim panen jeruk. Sekarang lagi musimnya buah rambutan. Ada di sebelah sana. Kalau Aden mau, saya bisa memetiknya buat Aden."


"Kenapa Ibu yang memetiknya? Biar suami saya saja yang metik," sela Zayna.


"Tapi buahnya tinggi, Neng. Den Ayman pasti kesulitan untuk mengambilnya. Kalau begitu pakai galah saja."


"Nggak perlu pakai galah, Bu. Memang di mana tempatnya? Aku mau melihat pohonnya. Apa buahnya banyak?" tanya Zayna membuat wanita itu menunjuk ke salah satu pohon yang ada di sana.

__ADS_1


Zayna sangat bersemangat mendekati pohon yang dimaksud ibu tadi. Ayman sudah merasakan sesuatu yang tidak enak di sini. Dia dibuat terkejut kala sang istri meminta dirinya memanjat pohon tersebut.


__ADS_2