Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
250. S2 - Ingin berkata sesuatu


__ADS_3

"Namanya Alin, Ma. Aku sudah menjalin hubungan dengan dia sekitar dua tahun yang lalu. Maafkan aku jika selama ini aku menutupinya dari Papa dan Mama," ucap Adam dengan menundukkan kepala. Dia merasa bersalah pada kedua orang tua, yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa kamu berbohong?" tanya Kinan.


"Aku melakukannya agar Zea tidak mengganggunya. Mama 'kan tahu, kalau selama ini Zea selalu membuat masalah dengan para wanita yang dekat denganku. Aku hanya tidak ingin hal itu terjadi juga pada Alin. Dia gadis yang baik dan juga selalu sabar menghadapiku, yang sering tidak memiliki waktu dengannya. Mama kalau sudah kenal sama dia juga pasti akan menyukainya. Dia juga pintar memasak, sama seperti Mama."


Kinan mengangguk sambil tersenyum. Dia memang tidak mengetahui seperti apa pilihan Adam. Akan tetapi, wanita itu juga tidak mungkin menolak begitu saja, tanpa melihat bagaimana sikap dan sifat wanita yang dicintai oleh putranya. Adam juga berhak memilih pasangan hidupnya.


Kinan tidak ingin terlalu mengekangnya. Pemuda itu juga berhak bahagia. Dia hanya bisa berdoa, mudah-mudahan pilihan sang putra sudah tepat. Mereka juga bisa hidup bahagia selamanya.


"Kalau memang dia baik, ajak dia ke sini. Kenalkan sama kita semua," sahut Hanif yang sudah dari tadi mendengarkan apa yang putranya katakan.


Dia tadi juga cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Zea jika Aini menyukai Adam. Mereka memang tidak memiliki hubungan darah dan itu diperbolehkan. Akan tetapi, dirinya akan merasa canggung saat berbesan dengan kakak iparnya. Namun, jika memang mereka berjodoh, Hanif juga tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kalau Mama bagaimana?” tanya Adam pada Kinan.


Dia juga ingin tahu pendapat mamanya. Pemuda itu ingin mendapat restu dari semua keluarganya. Bagi Adam, doa mereka sangatlah berarti untuk masa depannya.


“Sama seperti Papa, Mama juga ingin bertemu dengan kekasihmu itu lebih dulu. Mama tidak tahu bagaimana kepribadiannya. Kalau memang dia baik, Mama pasti akan merestuinya," jawab Kinan dengan tersenyum.


Adam mengangguk ikut tersenyum. Dia senang kedua orang tuanya mengizinkannya bersama dengan sang kekasih. Pria itu yakin jika nanti Hanif dan Kinan pasti akan setuju, saat bertemu dengan Alin. Selama ini gadis itu juga sangat baik, itu juga yang membuatnya bertahan hingga kini.


Sementara Zea hanya diam di tempat. Dia tidak tahu harus berkata apa. Gadis itu bisa melihat wajah bahagia kakaknya. Kali ini dirinya tidak akan menghancurkan kebahagiaan itu. Akan tetapi, bagaimana dengan Aini?


Apa yang harus Zea katakan padanya nanti? Pasti sepupunya itu akan merasa sangat sedih dengan apa, yang sudah menjadi pilihan Adam. Semoga saja Aini bisa menerimanya dengan ikhlas dan tidak mengganggu kebahagiaan kakaknya. Mengingat betapa keras kepalanya gadis itu, dia jadi ragu.


"Zea, kenapa diam? Jangan bilang kamu sekarang sedang merencanakan sesuatu, untuk membuat ulah pada kekasih kakak yang kali ini," ucap Adam membuyarkan lamunan Zea.


"Apa, sih, Kakak! Siapa juga yang membuat ulah," kilah Zea dengan cemberut.

__ADS_1


"Memang selama ini kamu ngapain? Bukankah kamu yang selalu membuat para wanita yang dekat dengan kakak kabur? Jangan kira Kakak tidak tahu hal itu."


“Enggak, enak saja. Siapa juga yang membuat ulah."


Adam tentu saja tidak percaya karena memang selama ini adiknya itu yang selalu membuat ulah. Akan tetapi, dia tidak ingin merusak suasana kali ini. Pria itu yakin, apa pun yang akan terjadi, Alin pasti bisa melewati semuanya. Adam juga pernah bercerita tentang hal itu pada Alin.


"Sudah, sekarang kalian sarapan dulu dan kamu, Zea. Bukannya kamu ada kelas pagi ini?" tanya Kinan.


"Iya, Ma," sahut Adam dan Zea yang kemudian menikmati sarapan.


Gadis itu bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak pada Aini. Akan tetapi, sepupunya juga berhak tahu akan hal itu. Dia tidak ingin Aini semakin sakit hati jika mengetahuinya dari orang lain. Apalagi jika salah dalam penyampaiannya.


Setelah menghabiskan sarapan, Zea pergi ke kampus. Tadinya Adam menawarkan diri untuk mengantar. Namun, dia menolak dengan tegas. Sebaiknya mulai hari ini kakaknya tidak lagi mengantar. Zea melakukan itu agar Aini tidak semakin sakit hati, saat melihat pria itu dengan wanita lain.


Zea pergi ke kampus dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sepanjang perjalanan, dia memikirkan cara bagaimana berbicara dengan Aini, tanpa menyakiti hati sepupunya itu. Namun, semakin memikirkannya, justru semakin membuat gadis itu sakit kepala. Seandainya saja Aini seperti saudara kembarnya Aina, yang bisa mengendalikan emosi dan perasaan. Zea juga tidak akan seperti sekarang ini.


Terlihat di sana ada Aini dan Aina yang sudah menunggunya. Pasti mereka pikir Adam yang akan mengantar dirinya hari ini. Sebelum turun dari mobil, Zea menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan pelan.


"Selamat pagi," sapa Zea begitu membuka pintu mobil.


"Selamat pagi," sahut Aina.


"Kok kamu datang sendiri? Kenapa nggak diantar Kak Adam? Memang dia ke mana?” tanya Aini beruntun.


"Di rumah lah, memang di mana lagi," jawab Zea yang kemudian berlalu meninggalkan si kembar. Kedua bersaudara itu pun mengikutinya.


"Kenapa kamu nggak minta antar? Biasanya kamu diantar terus," tanya Aini yang masih belum lega dengan jawaban dari sepupunya.


Zea pun hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Dia terus melanjutkan langkahnya

__ADS_1


Aini merasa ada yang aneh dengan sepupunya. Gadis itu pun mempercepat langkahnya dan menghadang di depan.


"Zea, kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" tanya Aini dengan memicingkan mata ke arah sepupunya itu.


Zea membuang napas dan menatap kedua sepupunya secara bergantian. "Ada sesuatu yang harus aku katakan pada kalian, tapi nanti saja setelah kelas selesai."


"Sekarang saja, kamu membuat aku penasaran saja. Sebenarnya ada apa?"


"Sebentar lagi ada kelas, nanti saja."


"Kalau nunggu nanti, pasti di kelas aku nggak bisa tenang memikirkan apa yang ingin kamu ceritakan." Aini terus mendesak Zea agar menceritakan sekarang saja.


"Tapi sebentar lagi kelas dimulai. Aku nggak mau bolos."


"Iya, Aini. Nanti saja setelah kelas. Sudah, ayo kita masuk kelas saja. Nanti juga Zea bakal cerita sama kita. Apa kamu mau mama marah sama kamu?" sela Aina yang dari tadi hanya diam.


Aini cemberut menatap saudara dan sepupunya bergantian. Akhirnya dia pun mengangguk juga. Nanti pasti dirinya tidak akan bisa tenang memikirkan apa yang ingin Zea katakan. Namun, gadis itu juga tidak mungkin melewatkan kelas.


Mereka bertiga pun memasuki kelas. Sepanjang dosen menjelaskan materi. Aini sama sekali tidak bisa konsentrasi, begitu juga dengan Aina. Keduanya sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Zea. Aina lebih bisa mengendalikan diri daripada Aini.


Setelah pelajaran selesai, Aini yang tidak sabar pun segera menarik Zea untuk keluar dari kelas. Padahal buku gadis itu masih ada di meja. Aina yang berada di belakang mereka pun membawakan buku-buku yang ada di meja, sambil menggelengkan kepala ke arah saudaranya.


Aini membawa Zea ke taman yang ada di kampus. Dia mencari tempat yang jauh dari keramaian agar tidak mengganggu pembicaraan mereka nanti. Aina berlari mengikuti keduanya dengan terengah-engah. Sepertinya saudaranya memang benar-benar tidak sabar, untuk mengetahui berita yang dibawa Zea.


"Sekarang kamu katakan apa yang sebenarnya ingin kamu ceritakan pada kita radi? Jangan semakin membuatku penasaran," tanya Aini setelah keduanya duduk di atas rumput dan di bawah pohon. Tempatnya sangat sejuk. Aini memang sengaja memilih tempat tersebut.


.


.

__ADS_1


__ADS_2