
Cukup lama Mama Aisyah dan Ayman menunggu di depan ruang UGD. Namun, belum ada satu pun dokter yang keluar. Hal itu semakin membuat keduanya khawatir. Ayman tampak mondar-mandir di depan pintu. Dia sama sekali tidak bisa tenang, sebelum mendengar apa yang terjadi pada sang istri.
Hingga tiba-tiba pintu pun akhirnya terbuka. Ayman dan Mama Aisyah segera mendekati dokter tersebut dan bertanya, “Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?”
“Istri Anda dalam keadaan baik-baik saja. Dia masih ada di dalam. Tadi saya sudah memanggil dokter kandungan dan menurut pemeriksaan, sepertinya sudah saatnya istri Anda melahirkan.”
“Tapi kandungan istri saya masih tujuh bulan, Dokter. Apa tidak apa-apa?"
“Mengenai hal itu, ada juga beberapa ibu hamil yang melahirkan di usia tujuh bulan, Pak. Mengenai nanti keadaan istri Anda, biar dokter kandungan yang akan menjelaskan agar lebih detail. Sebentar lagi beliau akan keluar. Saya tinggal dulu, permisi.” Dokter tersebut pergi meninggalkan Ayman dan Mama Aisyah.
Meski sudah mendapat kabar jika istrinya baik-baik saja, tidak mengurangi rasa khawatir yang Ayman rasakan. Apalagi saat ini istrinya sedang berjuang untuk melahirkan anaknya. Pintu ruangan kembali terbuka, tampak seorang dokter wanita keluar. Ayman yakin jika itu adalah dokter kandungan yang dimaksud oleh dokter tadi.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Ayman pada dokter wanita itu.
“Saat ini istri Anda masih dalam. Masih harus menunggu beberapa saat. Sebentar lagi perawat akan memindahkan istri Anda ke ruang bersalin. Anda bisa menemaninya sampai waktu melahirkan.”
“Memang masih lama, Dok?” tanya Ayman dengan wajah khawatir, Mama Aisyah yang ada di samping juga ikut menyimak apa yang dikatakan dokter. Saat ini kedua orang itu ingin tahu adalah bagaimana keadaan Zayna dan calon anaknya.
Bagi seorang dokter kandungan, itu pertanyaan yang sangat wajar. Bahkan terkadang ada juga pertanyaan yang membuat dokter malu untuk menjawab. Namun, dia tetap harus menjelaskan dengan detail sampai pasiennya mengerti.
Dokter pun menjelaskan sedikit tentang tahapan seorang wanita. Dari rasa mulas yang dirasakan Zayna ini, hingga sampai waktu persalinan tiba. Ayman mendengarkannya dengan saksama. Dia tidak ingin melewatkan hal itu, dia takut akan berakibat pada istrinya.
Apa pun yang dikatakan dokter, dia akan berusaha untuk menerapkannya. Pria itu tidak ingin sang istri terlalu lama merasa kesakitan.
“Jadi kalau lahir diusia kandungan tujuh bulan tidak apa-apa? Apa tidak sebaiknya dioperasi saja?”
__ADS_1
“Tidak perlu, Pak. Saya juga melihat istri Anda masih kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini."
Ayman pun mengangguk karena sudah mengerti penjelasan dokter. Setelah menjelaskan semuanya dan dirasa Ayman sudah mengerti, dokter tersebut pamit untuk undur diri. Nanti dia akan memeriksa keadaan Zayna. Di ruangan juga akan ditemani oleh seorang perawat yang akan memantau bagaimana perkembangan kondisinya.
“Sayang,” panggil Ayman saat beberapa perawat mendorong ranjang Zayna. Wanita itu hanya tersenyum.
Ayman tahu jika saat ini istrinya tengah menahan sakit. Namun, berusaha untuk tetap tersenyum agar tidak membuat dirinya khawatir. Pria itu menggenggam telapak tangan istrinya dan mengikuti ke mana perawat akan membawa wanita itu. Dia ingin selalu berada di samping Zayna.
Mama Aisyah juga mengikutinya dari belakang. Dia juga khawatir pada menantunya. Ini pertama kali dia menemani seorang wanita yang akan melahirkan. Rasanya dia benar-benar sangat takut. Padahal saat dia sendiri yang melahirkan, rasanya tidak seperti ini. Kali ini rasanya dua kali lebih menegangkan.
Di sela langkahnya, ponsel Mama Aisyah berdering. Tertera nama Papa Hadi di sana. Wanita itu pun mengangkat dan mengatakan apa yang terjadi. Dia juga meminta sang suami untuk segera datang ke rumah sakit.
Mama Aisyah juga memberitahu di mana letak dirinya saat ini. Para perawat mendorong ranjang Zayna memasuki ruang bersalin. Di sana wanita itu dipindahkan keranjang yang sudah tersedia. Ayman dengan setia menemani sang istri.
“Mas, ini sakit sekali. Punggungku juga sakit sekali,” rintih Zayna setelah sekian lama terdiam.
“Mana yang sakit, Sayang?” tanya Ayman sambil mengusap punggung sang istri, terlihat seperti memeluk wanita itu.
Zayna benar-benar tidak tahan dengan sakit yang dia rasakan. Air mata yang sedari tadi dia tahan pun akhirnya menetes juga. Bahkan Ayman bisa mendengar isak tangis dari wanita itu. Dia yang tidak tega pun juga ikut meneteskan air mata. Namun, pria itu segera mengusapnya.
Ayman tidak ingin sang istri melihat dirinya menangis, yang malah nanti akan membuat wanita itu menahan sakitnya. Dia ingin Zayna mengutarakan semua rasa sakit yang wanita itu rasakan, terhadap dirinya agar bisa merasakan apa yang istrinya itu rasakan saat ini. Setiap kali Zayna merintih, pasti genggamannya semakin erat.
“Sakit sekali, Mas,” rintih Zayna. Ayman terus saja mengusap punggung sang istri dengan telaten. Dia berharap rasa sakit yang wanita itu rasakan bisa sedikit berkurang.
“Kamu harus kuat. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini. Kamu wanita hebat,” bisik Ayman yang tangannya masih mengusap punggung sang istri.
__ADS_1
Zayna berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Namun, rasa yang dia rasakan sungguh luar biasa, sehingga wanita itu tidak mampu menahannya. Air mata masih terus mengalir, rintihan pun terus terucap dari bibir Zayna.
Mama Aisyah yang melihat itu pun menjadi tidak tega. Dia sangat tahu apa yang dirasakan menantunya saat ini karena dia pun pernah melewati masa itu. Tidak berapa lama, Papa Hadi datang. Pria itu terlihat sama khawatirnya seperti Ayman dan juga Mama Aida.
"Bagaimana, Ma?" tanya bapak Hadi.
"Sudah saatnya lahiran, Pa, tapi masih belum lengkap pembukaannya," jawab Mama Aisyah.
Papa Hadi mengangguk sambil melihat menantunya yang tengah menangis. "Kita di luar saja, Ma."
Pria itu berpikir jika Zayna pasti malu jika terlalu banyak orang di dalam. Mama Aisyah yang mengerti pun segera mengikuti sang suami. Keduanya pun menunggu di luar ruangan.
"Mas," panggil Zayna sambil menatap sang suami.
"Ya, Sayang. Ada apa?"
"Jika aku tidak bisa bertahan, tolong jaga anak kita dengan baik. Jangan pernah menyalahkan kehadirannya," ucap Zayna dengan air mata yang masih menetes dan semakin deras.
"Kamu bicara apa, Sayang. Kamu dan anak kita akan baik-baik saja. Kita akan membesarkan anak kita sama-sama."
"Dulu, aku juga dilahirkan diusia kandungan yang masih tujuh bulan. Akhirnya membuat mamaku meninggal dan papa membenciku. Itulah kenapa aku tidak ingin apa yang terjadi padaku, kini harus dialami anakku. Kamu tidak boleh membencinya, Mas."
.
.
__ADS_1