
"Ma, boleh aku minta tolong untuk mengajak Adam keluar sebentar," ucap Hanif pada mertuanya.
Mama Aisyah yang mengerti keinginan Hanif pun segera mengajak Adam keluar. Wanita itu mengajak anak angkat putrinya untuk makan di kantin. Dia yakin sang menantu pasti ingin bicara berdua istrinya. Kinan menatap sang suami seolah bertanya kenapa meminta mamanya dan Adam untuk keluar.
Mereka juga bisa berbicara bersama, apa ada sesuatu yang rahasia sampai tidak ada yang boleh mendengarnya. Setelah Mama Aisyah dan Adam keluar, suasana menjadi hening. Tidak ada satu pun dari keduanya yang berbicara, hingga Kinan lebih dulu membuka suara.
"Mas, ada apa? Kenapa meminta Mama Aisyah dan Adam keluar? Apa ada sesuatu yang rahasia?"
"Aku ingin kamu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku tidak ingin ada rahasia diantara kita. Kamu mengerti 'kan bagaimana aku? Kalau kamu tidak mengatakannya sekarang, aku pasti akan mencari tahunya sendiri. Saat itu terjadi, aku sudah pasti tidak akan memaafkan mereka. Sekalipun mereka menangis darah. Entah siapa yang sedang kamu tutupi, pasti akan mendapat balasannya," ujar Hanif membuat Kinan terdiam.
Wanita itu tidak tahu apakah dia harus menceritakan semuanya atau tidak. Mengingat kejadian tadi, pasti Felly juga tidak sengaja. Hanif yang melihat istrinya masih terdiam pun menjadi sangat yakin, jika sesuatu memang telah terjadi dan disengaja.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengatakannya. Aku bisa mencari tahunya sendiri," pungkas Hanif yang segera mendapat sahutan dari Kinan.
"Mas, jangan terlalu kejam padanya. Aku yakin dia melakukan semuanya hanya karena rasa iri. Sebenarnya ada sesuatu lain yang ingin aku katakan padamu," ucap Kinan dengan menundukkan kepala.
Tadinya dia ingin memberi kejutan pada sang suami. Namun, melihat situasi yang sudah seperti ini, lebih baik sekarang saja dia mengatakannya. Nanti juga akan sama saja.
"Apa yang ingin kamu katakan padaku? Apa ini sesuatu yang sangat penting mengenai kejadian tadi?" tanya Hanif yang sangat penasaran.
Kinan menggenggam kedua telapak tangan sang suami. Berharap pria itu mulai tenang dan tidak emosi lagi. Dia tidak ingin berita yang akan wanita itu sampaikan malah menjadi Hanif semakin emosi. Ini adalah kabar gembira, berharap kebahagiaan akan tercipta setelahnya.
__ADS_1
"Mas, ada kabar gembira yang ingin aku katakan. Tadi dokter memeriksaku dan mengatakan kalau sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah," ucap Kinan dengan tersenyum membuat Hanif yang tadinya emosi jadi terdiam.
Dia masih mencerna apa yang istrinya katakan. Kinan juga melihat ekspresi wajah sang suami, berharap pria itu bahagia. Namun, Hanif masih saja terdiam. Wanita itu jadi takut jika sang suami tidak menerima kehamilannya. Padahal sebelumnya sang suami sangat menginginkan seorang anak.
"Ka–kamu tadi bilang apa, Sayang? Coba ulangi lagi, Aku sama sekali tidak paham," tanya Hanif dengan terbata, antara bingung dan bahagia.
Kinan tersenyum. Pasti sang suami sedang syok kali ini. "Aku ada kabar gembira, kalau sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah!"
Lagi-lagi Hanif masih terdiam. Kinan yang melihat itu pun jadi kesal pada sang suami. Dia sudah merencanakan kejutan ini untuk pria itu, tetapi sepertinya suaminya sama sekali tidak terkejut. Bahkan terkesan biasa saja. Kalau seperti ini lebih baik tidak usah memberitahunya.
"Ah, kamu! Dari tadi diam melulu, tahu gitu tadi aku nggak ngasih tahu kamu tentang kehamilanku," sahut Kinan dengan cemberut.
Dia pun merebahkan tubuhnya dengan memunggungi sang suami. Hal itu tentu saja membuat Hanif tersadar, kalau apa yang pria itu lakukan, sudah membuat istrinya marah. Dia pun mendekati wanita itu dan memeluknya. Rasa bersalah Hanif rasakan karena membuat istrinya sedih.
Kinan bangun dari tidurnya dan menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Justru mama dan papa sudah tahu kalau aku hamil, Mas," jawab Kinan membuat Hanif menatap sang istri.
Pria itu terbengong sambil berpikir. "Jadi aku orang terakhir yang tahu tentang kehamilan kamu begitu?"
Kinan mengangguk sambil tersenyum karena memang seperti itulah kenyataannya. Hanif membuang napas panjang, niatnya ingin memberi kejutan kepada orang tuanya ternyata gagal. Justru dirinya yang malah jadi orang terakhir yang tahu tentang kehamilan istrinya. Namun, dia tidak masalah tentang hal itu.
Sekarang yang lebih penting adalah Hanif sudah mendengar berita bahagia ini. Pria itu segera memeluk sang istri, dia begitu sangat bahagia. Ini adalah hadiah terindah yang dia dapatkan. Hanif ingin agar istri dan calon anaknya akan selalu sehat, sampai waktu melahirkan itu tiba.
__ADS_1
"Sekarang kamu ceritakan apa yang terjadi pada kamu di kampus tadi. Aku tidak ingin ada kebohongan yang keluar dari mulutmu, untuk menyelamatkan orang lain. Mereka juga harus mendapat hukuman karena sudah mencelakai kamu. Takutnya nanti malah akan menyakiti orang lain," ucap Hanif dengan tegas. Dia tidak ingin mendengar penolakan dari sang istri.
Dalam pelukan sang suami Kinan berpikir, apakah dirinya harus menceritakan semuanya pada Hanif. Apa mungkin pria itu bisa memberi hukuman pada Felly tanpa menyakiti wanita itu. Akan tetapi, sekejam apa pun suaminya, pasti masih dalam batas wajar jadi, Kinan tidak perlu risau.
"Sebenarnya ada yang sengaja membuatku terjatuh tadi, tapi aku yakin kalau dia tidak tahu aku sedang hamil, sama seperti aku." Kinan pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi tadi di kampus serta bagaimana dirinya sampai di rumah sakit.
Wanita itu menceritakan semuanya tanpa mengurangi sedikitpun. Hanif mendengarkan cerita sang istri dengan saksama tanpa menyela satu kata pun. Saat bercerita, sesekali Kinan melihat ekspresi suaminya, takut jika pria itu sudah mulai emosi.
"Jadi begitulah ceritanya, Mas. Aku yakin Felly juga tidak ada maksud untuk menyakitiku jadi, jangan terlalu berat menghukumnya."
"Dari yang aku dengar dari ceritamu, sepertinya dia memang selalu mengganggumu, terutama si Niko itu. Kali ini aku tidak mau mendengarkan kamu. Mereka harus menerima hukuman dariku agar jera. Seenaknya saja bertindak sesuka hati."
“Mas ...."
“Sayang, untuk kali ini saja. Kelak mereka bukan hanya akan menyakiti kamu. Bisa saja nanti akan ada orang lain, yang akan mereka ganggu karena mereka merasa paling berkuasa. Kasus seperti ini sudah banyak terjadi, bahkan di kalangan anak sekolah pun banyak yang seperti ini. Kalau mereka tidak diberi efek jera, pasti mereka akan selalu semena-mena."
Hanif mencoba memberi pengertian pada sang istri. Dulu dia juga sering melihat kejadian seperti ini, sampai sekarang pun masih ada yang melakukannya. Entah sampai kapan akan terjadi, padahal sudah ada korbannya.
Kinan memikirkan apa yang dikatakan sang suami. Selama ini dia juga sering merasakan hal itu, bukan hanya saat di kampus aja, tetapi dulu saat masih SMA juga sama. Anak-anak itu merasa seolah dirinyalah yang paling hebat di antara semuanya. Hingga melakukan sesuatu yang tidak pantas, dilakukan oleh seorang pelajar dan mahasiswa.
.
__ADS_1
.