
Setelah subuh, Zayna berkutat di dapur bersama dengan Bik Ira. Kali ini sepanjang memasak, wanita itu selalu tersenyum. Bik Ira yang ada di sampingnya pun merasa aneh, tetapi wanita paruh baya itu ikut senang karena pasti menantu majikannya itu sedang bahagia.
Sejak kedatangan Zayna di rumah ini, hanya dengan Bik Ira yang paling sering berinteraksi. Wanita paruh baya itu juga senang dengan kehadiran menantu majikannya. Hal itu membuatnya tidak kesepian. Bersama Kinan hanya saat gadis itu di rumah saja.
"Kenapa, Bik? Kok, ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Zayna saat sadar jika Bik Ira dari tadi menatapnya.
"Tidak ada apa-apa. Nyonya, pastinya lagi bahagia, ya? Dari tadi senyum-senyum terus."
"Bibi tahu aja, tapi bibi bisa nggak, sih! Jangan panggil aku, nyonya. Aku kadang suka salah, saat Bibi manggil mama, malah saya yang noleh. Panggil nama saja."
"Nggak enak, ah, Nyonya. Masa panggil nama."
"Terserah, Bibi, saja panggil apa. Asal jangan nyonya. Aku nggak enak sama mama."
"Saya panggil neng saja gimana?"
"Boleh, itu lebih enak."
"Baiklah kalau begitu. Mulai saat ini, saya panggil Neng Zayna."
"Iya, Bi. Ayo, kita lanjutin!"
"Lanjutin apanya, Neng. Dari tadi Neng Zayna sibuk sendiri nggak bolehin saya bantu."
"Bibi nemenin saya juga sudah membantu, kok!"
"Iya, Neng. Saya senang sejak ada, Neng, di sini. Setiap masak, saya ada temennya. Meskipun saya cuma diam saja, tapi dapur ini terasa ramai. Biasanya cuma Bibi sendiri. Nyonya juga jarang sekali masak. Neng Zayna akan di sini terus, kan? Nggak akan pindah rumah?"
"Aku akan ikut ke mana pun suamiku pergi, Bi, jadi kalau Bibi mau tahu, tanya saja sama Mas Ayman," sahut Zayna dengan terus melakukan kegiatannya.
"Ayman akan tetap di sini. Dia tidak akan pergi ke mana-mana," sahut Mama Aisyah yang baru saja memasuki dapur.
Zayna terkejut mendengar suara Mama Aisyah. Dia tidak memiliki niat apa pun saat mengatakan hal tadi. Wanita itu hanya menjawab pertanyaan Bik Ira. Zayna takut Mama Aisyah salah faham dan tersinggung.
__ADS_1
"Eh, Nyonya, maaf," sahut Bik Ira yang merasa tidak enak. Aisyah hanya diam dan duduk di meja makan.
"Mama, mau dibuatin teh apa susu?" tanya Zayna mencoba mencairkan suasana.
"Tidak usah, saya tidak haus," jawab Mama Aisyah. "Belum selesai juga masaknya?"
"Tinggal sedikit lagi, Ma," jawab Zayna.
"Hari ini kamu yang masak lagi?" tanya Mama Aisyah membuat Bik Ira terdiam. "Pekerjaan Bik Ira jadi nggak ada, dong?"
"Dari tadi Bik Ira bantu, kok, Ma. Yang bersihin semuanya juga Bik Ira," sahut Zayna yang merasa tidak enak dengan Bik Ira karena mengambil tanggung jawab pekerjaannya.
Sebenarnya bukan itu yang ingin disampaikan Mama Aisyah. Dia hanya tidak ingin Zayna selalu sibuk di dapur. Wanita itu tidak mau menjadikan menantunya sebagai pembantu. Hanya saja sebagai mertua yang sejak awal memberi kesan buruk, sulit baginya berbicara dan berinteraksi dengan Zayna.
Sementara Bik Ira hanya diam dengan menundukkan kepala. Dia tidak bermaksud mengabaikan tugasnya karena memang Zayna sendiri yang memaksa untuk memasak. Tadi, wanita itu sudah menawarkan bantuan, tetapi menantu majikannya itu menolak.
"Ma, aku hanya ingin membuat makanan untuk suami dan keluargaku. Aku tidak pernah keberatan melakukannya. Aku juga tidak akan melupakan tugasku sebagai seorang istri jadi, Mama jangan khawatir," ujar Zayna yang mencoba memposisikan diri berpikir positif.
"I–iya," sahut Mama Aisyah yang terkejut karena Zayna tahu maksudnya.
Mereka makan dengan tenang. Sesekali Ayman menyuapi istrinya. Suasana pagi masih terasa sepi dan dingin. Namun, tidak mengurangi kehangatan sepasang suami istri. Semua orang bisa melihat, betapa besarnya cinta Ayman pada Zayna.
Pria itu sama sekali tidak malu menunjukkan betapa besar cintanya pada sang istri. Zayna juga menerimanya dengan senang hati karena dia merasa, apa yang dilakukan suaminya masih dalam batas wajar. Sedangkan Wina melihatnya dengan kesal.
"Hari ini kamu kerja, Man?" tanya Papa Hadi.
"Iya, Pa," jawab Ayman.
"Apa Ilham sudah memberi jadwal kamu hari ini?"
"Belum, Pa. Tadi aku sudah menghubunginya, dia bilang akan mengaturnya lebih dulu."
"Bilang padanya untuk mengosongkan waktu setelah makan siang. Kamu gantikan Papa untuk meeting."
__ADS_1
"Iya, Pa."
"Sebelum kamu pergi ke kantor, kamu anterin Wina dulu, ya, Man!" sela Mama Aisyah.
"Aku nggak bisa, Ma. Aku harus segera pergi ke kantor."
"Sebentar saja. Kamu anterin dia sampai stasiun. Nggak jauh juga."
"Bukannya kemarin dia bawa mobil ke sini? Kenapa sekarang minta antar?" tanya Ayman dengan kesal.
"Mobilnya sudah dibawa sopir pulang."
Ayman membuang napas kasar dan berkata, "Biar nanti sama Pak Doni, saja. Aku kirim pesan agar dia segera ke sini."
"Nggak bisa, pokoknya kamu yang nganterin."
Ayman ingin menolak, tetapi Zayna mencegahnya. Wanita itu menatap sang suami seolah berkata antarkan saja. Mau tidak mau, Ayman pun mengangguk. "Kinan, kamu nanti ikut Kakak, ya! Setelah itu Kakak antar kamu ke kampus sekalian."
"Iya, Kak. Kebetulan mobil aku mogok jadi, sekalian hemat ongkos," sahut Kinan dengan tersenyum. Jelas dia tahu maksud kakaknya.
Gadis itu juga tidak begitu menyukai kehadiran Wina, yang dianggapnya calon perusak rumah tangga orang. Kinan akui jika Wina, gadis yang baik. Akan tetapi, jika kedatangannya untuk merebut suami orang, dia orang pertama yang membencinya.
Setelah selesai makan Ayman mengajak Wina dan adiknya berangkat. Pria itu berpamitan pada sang istri untuk bekerja. Zayna mencium tangan sang suami yang dibalas pria itu dengan mencium keningnya. Ayman juga berpamitan pada mamanya kemudian dia pergi bersama dengan adiknya dan juga Wina. Dia akan mengantar wanita itu ke stasiun.
"Ayman, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Wina saat mereka berada di perjalanan. Kinan yang sedari tadi asyik memainkan ponselnya, seketika berhenti. Menunggu gadis itu berbicara.
"Tanya apa?" tanya Ayman balik dengan nada dingin.
"Kapan kamu mengenal istri kamu? Aku tidak pernah mendengar kamu dekat dengan wanita. Tiba-tiba hari ini aku lihat kamu sudah punya istri. Aku juga tahu dari tante, katanya kamu belum menghadap resepsi?"
"Sebenarnya aku mengenal dia saat ada proyek di luar kota. Aku tidak sengaja melihatnya menolong seorang wanita tua. Bukan hanya itu yang membuatku ingin menikahinya, tapi kecantikan dan keikhlasan Zayna yang membuat aku jatuh cinta. Apalagi auranya, yang tidak dimiliki wanita manapun," jawab Ayman sambil menerawang kisah masa lalunya, saat pertama bertemu dengan Zayna.
Mendengar Ayman memuji wanita lain, membuat Wina merasa cemburu. Dirinya sudah sangat lama mengenal pria itu dan keluarganya, tetapi tidak sekali pun pria itu memujinya. Kini dia harus kalah dengan seorang wanita kampung. Wina akui jika Zayna sangat cantik dengan tampilan apa adanya, tetapi dirinya juga tidak kalah cantik.
__ADS_1
"Aku baru tahu kalau Kak Ayman bisa juga memuji wanita. Biasanya selalu cuek," cibir Kinan.