
Setelah pulang kuliah, Kinan pergi menuju ke perusahaan papanya. Dia ingin menanyakan mengenai hal yang terjadi pada keluarga Nayla. Gadis itu berharap agar sang papa mau berbaik hati, untuk tidak membuat keluarga mantan sahabatnya itu benar-benar hancur.
Kinan tahu betapa hebatnya Papa Hadi dalam dunia bisnis. Bagaimanapun Nayla juga pernah menjadi sahabatnya dan saat ini, Nayla juga memerlukan biaya untuk kuliah. Dia tidak tega melihat mantan sahabatnya yang begitu terpuruk.
“Assalamualaikum,” ucap Kinan saat memasuki ruangan papanya.
Gadis itu sudah sering datang ke sini, jadi tidak sulit untuk masuk ke perusahaan. Apalagi untuk bertemu dengan papa atau kakaknya. Mungkin ada juga beberapa orang baru yang tidak mengenalnya, tetapi tidak masalah bagi Kinan.
“Waalaikumsalam, anak Papa tumben datang ke sini. Pasti ada sesuatu, nih!” ucap Papa Hadi sambil menatap putrinya.
Kinan berjalan mendekati papanya dan mencium punggung tangan pria itu. Sudah tidak heran bagi Papa Hadi jika kedatangan putrinya karena ada sesuatu. Dia sudah sangat mengenal gadis itu sejak kecil. Pria itu juga ingin tahu apa yang diinginkan sang putri.
“Apa benar Papa yang sudah melakukan semuanya pada keluarga Nayla?” tanya Kinan tanpa berbasa-basi.
“Bukankah sebelumnya Papa sudah mengatakan, kalau Papa akan membongkar kebusukan keluarga mereka. Papa juga tidak mengada-ada, semuanya jujur.”
“Tapi tidak harus menghancurkan usaha mereka. Papa bisa menegur mereka sedikit atau memberi pelajaran. Nggak harus kayak gini. Pasti pelanggan mereka akan pergi dan keluarga mereka juga pasti akan bangkrut. Nayla pasti sudah tidak bisa kuliah lagi.”
“Tidak semua orang bisa ditegur dengan cara halus. Ada yang saatnya kita harus melakukan sesuatu yang keras agar bisa membuat orang itu sadar. Papa sudah memperingatkan mereka berkali-kali, tapi ucapan Papa seperti dianggap angin lalu. Selama ini Papa juga sudah sangat bersabar menghadapi mereka, terutama putrinya. Yang selama ini selalu menyakitimu, tapi kali ini biarkan Papa bertindak. Papa juga tidak akan melakukan sesuatu yang melebihi batas. Biarkan mereka menyesali apa yang mereka lakukan. Kita tidak perlu ikut campur."
"Tapi kasihan keluarga Nayla, Pa."
"Apa kamu nggak kasihan pada orang-orang yang makan di restoran mereka? Para pembeli membayar makanan dengan begitu mahal, tapi harus menanggung akibat yang tidak mereka lakukan. Biarlah seperti ini dulu, nanti kalau mereka ingin bangkit, Papa akan membantu. Tentunya dengan hal yang baik."
“Benarkah Papa akan membantu mereka kembali lagi seperti dulu?”
__ADS_1
“Itu tergantung usaha mereka, Sayang. Papa akan bantu dari belakang kalau mereka sendiri berusaha, tapi jika mereka tidak mau, bagaimana Papa bisa membantu mereka? Jadi intinya semuanya kembali pada mereka masing-masing. Mau berusaha atau hanya merenungi nasib mereka saja.”
Kinan menghela napas sambil menundukkan kepala. Itu artinya semua tergantung pada kedua orang tua Nayla. Mau berusaha atau tidak. Mungkin benar kata papanya, dia tidak harusnya ikut campur dengan urusan mereka. Kedua orang tua Nayla memiliki tanggung jawab sendiri pada keluarganya.
Nayla juga sudah dewasa, sudah saatnya dia membantu orang tuanya. Tidak terus-terusan berfoya-foya dan menghamburkan uang seenaknya. Apalagi membiayai hidup laki-laki seperti Niko, yang tidak tahu diri.
“Ya sudah, Pa. Aku pulang dulu,” pamit Kinan.
“Nggak mau makan siang dulu sama Papa? Ayo, makan dulu! Kita sudah lama nggak makan berdua. Sekali-kali kencan sama Papa.”
Kinan tersenyum dan mengangguk. Jarang-jarang sekali mereka pergi hanya berdua. Padahal dulu jika dia ingin ke mana-mana selalu mengajak papanya. Meski Papa Hadi itu sibuk, tapi masih menyempatkan waktu untuk sang putri.
Papa Hadi dan Kinan berjalan keluar. Mereka ingin mencari restoran terdekat saja karena sebentar lagi juga pria paruh baya itu ada meeting. Ayman yang sedang berada di lobby pun melihat papa dan adiknya dari jarak jauh. Dalam hati ingin bergabung, tapi pria itu mengurungkannya karena dia tahu Papa Hadi dan Kinan butuh waktu bersama.
Kinan bergelayut manja di lengan papanya. Banyak orang yang di sekitar menatapnya dengan iri karena mereka terlihat begitu harmonis. Atasan mereka terlihat begitu sangat mencintai putrinya.
“Terserah kamu, maunya makan di mana. Papa mah ikut saja, tapi jangan jauh-jauh. Papa sebentar lagi ada meeting,” jawab Papa Hadi.
Kinan berpikir sejenak kemudian berkata, “Kalau begitu kita makan di restoran sebelah kantor papa saja, jadi nggak usah pakai mobil.”
“Nggak apa-apa, kamu makan di sana? Siapa tahu kamu bosan. Masa tiap ke sini makannya di sana terus."
“Nggak papa dong, Pa. Yang penting bisa makan sama Papa, di mana pun tempatnya asalkan masakannya halal.”
“Ya sudah, ayo! Restoran sebelah perusahaan juga tidak kalah enaknya.”
__ADS_1
Papa Hadi dan Kinan pun berjalan menuju restoran sebelah. Kehadiran keduanya cukup menyita perhatian. Mereka mengira jika Kinan adalah sugar baby-nya. Namun, tidak dihiraukan oleh papa dan anak itu. Seorang pelayan datang menghampiri meja Papa Hadi dan Kinan.
Keduanya pun menyebutkan apa yang mereka inginkan. Sambil menunggu makanan tiba, keduanya berbincang sesekali juga bercanda. Meski Papa Hadi orang yang sangat tegas terhadap karyawannya, tetapi bersama dengan keluarga dia juga bisa bersikap lembut.
“Persiapan pernikahan kamu bagaimana?” tanya Papa Hadi.
“Semuanya aku serahin sama Mas Hanif, Pa. Nanti aku dikabari, sudah sejauh mana persiapannya. Kalau aku kurang suka tinggal bilang, biar nanti di rubah.”
“Memangnya kamu nggak mau terjun langsung dan melihat bagaimana persiapannya?"
“Nggak lah, Pa. Aku percaya sama Mas Hanif, dia pasti bisa melakukannya dengan baik.”
Papa Hadi tersenyum sambil menatap putrinya. Dia tidak menyangka, gadis kecil yang dulu begitu manja padanya sebentar lagi akan menikah. Waktu berjalan begitu cepat. Sebentar lagi akan ada yang menggantikan posisinya di mata sang putri.
“Nanti setelah kamu menikah, pasti semua waktumu sudah tersita untuk suamimu. Waktu untuk Papa pasti sudah tidak ada lagi. Tiba-tiba saja Papa nggak rela kamu menikah," ucap Papa Hadi.
“Nggak, Pa. Kalaupun Aku memiliki suami dan keluarga baru, Papa dan Mama tetaplah orang tuaku. Ada kalanya aku juga membutuhkan kalian. Kalau Papa dan Mama juga nanti ingin aku datang, aku pasti akan datang. Jangan ragu untuk mengatakannya padaku. Ingat kalau aku juga Putri kalian.”
“Tentu saja, sampai kapan pun kamu Putri Papa. Begitu pun sebaliknya, kalau kamu membutuhkan seseorang untuk bercerita, Papa siap untuk mendengarkan kamu, kapan pun dan di mana pun."
"Terima kasih, Pa," sahut Kinan dengan mata berkaca-kaca sambil menggenggam telapak tangan papanya.
Makanan pesanan mereka pun datang Papa Hadi dan Kinan menikmatinya sambil berbincang dan bercanda. Setelah selesai, Kinan pun pamit pada papanya untuk pulang. Begitu juga dengan Pak Hadi yang harus kembali ke perusahaan karena harus menghadiri meeting dengan kliennya.
.
__ADS_1
.