
Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, Kinan menggerutu tidak jelas. Beberapa orang pun menatapnya dengan aneh karena melihat gadis itu bicara sendiri. Tidak ada satu orang pun yang ada di sekitarnya. Gadis itu sama sekali tidak sadar jika sudah menjadi pusat perhatian.
Begitu sampai kelas, sudah ada beberapa orang di sana. Mereka sibuk dengan buku, ada juga yang saling mengobrol. Kinan memilih duduk di bangku urutan ketiga. Tidak berapa lama dosen pun datang dan dia mengikuti pelajaran dengan tenang.
Setelah selesai kelas, Kinan membereskan mejanya. Dia berniat untuk pergi ke kantin sebelum mengikuti kelas selanjutnya. Namun, tiba-tiba ada seorang yang mendekatinya. Gadis itu tidak mengenalnya. Namun, pesan yang disampaikan membuat Kinan kesal.
“Hai, nama kamu Kinan, kan?” tanya seorang wanita.
“Iya, aku Kinan. Memangnya ada apa?”
“Pak Hanif memintaku untuk memanggilmu ke ruangannya. Sepertinya dia sangat marah sekali, apa kamu sudah membuat masalah dengannya?”
“Aku mana tahu, kelasnya saja belum dimulai, bagaimana bisa aku membuatnya marah.”
“Ya, barangkali kemarin kamu lupa. Ya sudah, sana! Jangan sampai kamu nggak datang. Nanti dikira aku tidak menyampaikan pesannya lagi. Aku tidak mau dihukum gara-gara kamu."
Kinan sebenarnya malas, tapi kasihan juga wanita tadi jika dirinya tidak datang. Pasti wanita itu akan disalahkan, dia tidak mau orang lain kena hukuman karena perbuatannya. Kinan pun melangkahkan kakinya menuju ruangan dosen. Dia melihat ke sekitar. Namun, gadis itu tidak melihat keberadaan Hanif.
Seorang dosen memberitahunya jika Hanif menunggu di ruangan sebelah. Kinan berjalan menuju ke sana dan benar saja, ada Hanif yang sedang memainkan ponselnya. Tidak ada siapa pun di sana.
“Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Kinan yang berusaha untuk tetap seperti biasanya. Bukankah kemarin mereka sepakan untuk berpura-pura tidak saling mengenal.
”Duduklah dulu,” ucap Hanif sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana pria itu, kemudian meletakkan satu kotak makanan di depan Kinan dan mengambil kotak lainnya, lalu memakannya.
“Makanlah dulu, sebelum kelas saya dimulai.”
__ADS_1
“Pak, Saya sudah bilang sebelumnya, kalau Anda harusnya pura-pura tidak mengenal saya di dalam kampus.”
“Memangya apa yang saya lakukan? Saya hanya memberimu makan, itu juga karena paksaan Mama agar aku membawa kotak makanan itu. Sebenarnya saya juga malas, tapi tolong hargailah usaha Mama. Tidak ada salahnya ‘kan makan di sini. Mereka juga pasti akan mengira kalau kamu di sini karena saya hukum, jadi tidak perlu kamu pikirkan. Kamu hanya perlu berpura-pura akting saja.”
Ada rasa kecewa karena Hanif membawakan makanan karena paksaan dari mamanya. Entah apa yang sebenarnya diinginkan Kinan. Akan tetapi, benar juga banyak dikatakan Hanif. Lagi pula tidak ada salahnya makan di sini, gratis lagi.
Dia juga malas pergi ke kantin sendirian. Kinan belum menemukan teman yang benar-benar tulus padanya. Sebelum ke sini, gadis itu juga mendapat pesan dari Fara jika semua orang sudah menunggunya di kantin.
“Baiklah, Pak. Saya terima makanannya. Tolong sampaikan pada Tante Aida, terima kasih banyak sudah mau repot membuatkan aku makan siang.”
Hanif hanya mengangguk dan terus saja memakan makanannya. Dia senang saat melihat Kinan menikmati makanan yang sudah disiapkannya. Pria itu memang sedari pagi sibuk di dapur untuk menyiapkan bekal hari ini. Terpaksa Hanif mengatakan jika mamanya yang menyiapkan agar gadis itu mau makan.
Jika keluarganya tahu kalau dia berbohong demi bisa makan bersama dengan Kinan, pasti mereka akan menertawakannya. Entahlah, untuk saat ini Hanif sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengatakan isi hatinya. Pria itu percaya, akan ada saatnya dia mengatakan yang sebenarnya.
Kenangan pertemuan pertama kali dengan pujaan hatinya, tiba-tiba datang. Saat itu Kinan yang memakai baju putih abu-abu, sedang menolong seorang kakek yang sedang dipalak oleh preman. Di sana tidak ada seorang pun yang mau menolong, tetapi gadis itu maju tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Hanif banyak mencari informasi mengenai Kinan, yang ternyata anak sahabat papanya. Pria itu meminta tolong pada sang papa agar mau menjodohkannya dengan gadis itu, tetapi orang tuanya mengajukan syarat. Dia harus mau meneruskan bisnis keluarga.
Saat itu Hanif menolak keinginan papanya. Lebih baik dia berusaha sendiri. Setiap kali mengisi kelas Kinan, pria itu mencoba untuk mengambil hati gadis itu. Namun, Kinan sama sekali tidak tertarik dengannya. Malah jadian dengan Niko.
Menyesal, hanya itu yang dirasakan Hanif. Seandainya saja dia mau menerima tawaran papanya, pasti saat ini pria itu bisa mengikat Kinan. Sejak saat itu Hanif selalu membuat ulah dan membuat gadis itu kesal. Dia tahu karena ulahnya, Kinan jadi membencinya, tetapi itu bukan masalah, asal gadis itu bisa mengingatnya.
“Pak ... Pak Hanif,” panggil Kinan dengan menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah dosennya.
“Ah, iya, ada apa?”
__ADS_1
“Kenapa Anda melamun? Anda tidak sedang berpikir jorok, kan?”
Hanif memukul kepala Kinan dengan sendok yang ada di tangannya. Hingga membuat gadis itu mengadu kesakitan. Bisa-bisanya pikiran seperti itu ada di kepalanya
“Pak, ini namanya kekerasan. Belum juga jadi istri, sudah main KDRT saja.”
“Jadi kamu mau nikah sama saya?”
“Eh, enggak,” ucap Kinan yang salah tingkah. “Kenapa aku tadi ngomong gitu? Pak Hanif bisa salah paham,” lanjutnya dalam hati.
Diam-diam Hanif tersenyum. Sepertinya Kinan sudah mulai menerima. Dia hanya perlu membuat gadis ini tertarik dengannya. Perlahan, pria itu pasti akan membuat Kinan jatuh cinta.
Setelah selesai, gadis itu membereskan kotak makanan dan menyerahkannya pada Hanif. Makanan buatan orang tua Hanif enak juga.
“Saya sudah selesai makannya. Saya mau kembali ke kelas. Terima kasih makanannya, Pak. Terima kasih sekali lagi untuk Tante Aida," ucap Kinan yang kemudian pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dari Hanif.
Di pertengahan jalan, Kinan kembali bertemu Nayla dan Niko. Mood gadis itu yang sudah membaik, kini harus kembali memburuk. Ingin menghindar, sepertinya percuma. Mereka sepertinya memang sengaja memperlihatkan kemesraannya.
“Kamu dari mana, Kinan? Kenapa tidak bergabung dengan kita di kantin?” sapa Nayla.
“Aku sudah bilang, aku tidak mau berteman dengan kalian, jadi tidak perlu menunggu kedatanganku.”
“Kinan, kenapa sekarang kamu berubah? Dulu kamu begitu baik pada siapa pun dan selalu mengalah pada sahabatmu. Sekarang kenapa kamu jadi jahat?” tanya Niko.
Kinan tertawa mendengarnya. Bisa-bisanya ada orang tidak tahu malu seperti mereka. Untung saja dia dijauhkan dari orang-orang munafik seperti mereka. Jika tidak, akan semakin banyak penyakit hati yang mereka tularkan.
__ADS_1
.
.