Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
282. S2 - Mengungkap kebenaran


__ADS_3

“Kakak sering ke sini?” tanya Zea tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.


“Setiap aku merindukanmu, aku akan ke sini,” jawab Adam yang sudah berdiri di samping gadis itu. Dia senang melihat adiknya tersenyum.


Zea hanya mengangguk tanpa mencurigai apa pun. Dia pikir Adam merindukannya sebagai adik, tanpa tahu makna sebenarnya. Keduanya mencari tempat yang nyaman untuk berbicara, tanpa ada gangguan dari siapa pun. Pria itu ingi bicara empat mata saja.


“Kak, sebenarnya apa yang semua orang tutupi dariku? Apa aku tidak begitu penting dalam hidup Kakak, hingga Kakak juga tidak menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangga Kakak,” tanya Zea mengawali pembicaraan. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahuinya.


“Bukan begitu, justru kami menyembunyikannya karena ini berhubungan dengan kamu.”


Zea mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang kakaknya katakan. “Maksud Kakak apa? Aku sama sekali nggak ngerti."


"Zea, sebenarnya tidak pernah ada pernikahan antara Kakak dan Alin."


"Maksudnya? Kakak belum menikah dengan Alin?"


Adam mengangguk dan berkata, "Di hari yang sama, saat kamu pergi meninggalkan kota ini. Aku melihat Alin berselingkuh dengan saudara tiriku. Mereka sedang bersama di apartemen Alin."


Pria itu pun menceritakan apa yang terjadi, dia juga berkata jujur tentang perasaannya pada Zea. Termasuk syarat dari Hanif yang memintanya untuk tidak menceritakan semuanya pada adiknya. Gadis itu menutup mulutnya dengan tidak percaya. Cinta yang selama ini bertepuk sebelah tangan, ternyata sudah lama terbalaskan. Pantas saja setiap kakaknya datang ke sana, Adam selalu bersikap romantis, bahkan pria itu juga berani menciumnya dan itu bukan hanya sekali.


"Bukan maksudku untuk menjadikanmu pelarian. Aku benar-benar mencintaimu. Entah kamu percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Terserah kamu mau mengatakan apa. Perasaanku padamu memang nyata, bukan untuk main-main.”

__ADS_1


Adam menatap wajah adiknya dengan saksama, dia ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu. Namun, Zea hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Semua terasa mengejutkan untuknya. Dulu gadis itu berjuang seorang diri demi mendapatkan cinta kakaknya, tetapi pria itu malah menjauhinya.


Kini saat dirinya menyerah dengan mudahnya Adam mengatakan cinta, lalu di mana perasaan itu dulu sewaktu dia mengejarnya? Apakah pria memang begitu mudah mengatakan cinta dan membuangnya begitu saja? Dia sangat ingat benar bagaimana Adam membela Alin dulu.


“Kalau Kakak benar mencintaiku, kenapa Kakak lebih membela Alin dari pada aku? Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bagaimana aku percaya Kakak benar-benar mencintaiku, saat apa yang Kakak lakukan justru berbeda dengan apa yang Kakak katakan saat ini,” ucap Zea dengan air mata yang mengalir.


Adam merasa sedih dengan apa yang dikatakan adiknya. Dia mengakui hal itu, tetapi semua dia lakukan karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih. Pria itu tidak mungkin membuat mereka malu dengan hubungan terlarang ini. Memang bukan sepenuhnya terlarang, hanya saja semua orang tahu kalau dirinya adalah anak tertua di keluarga ini.


"Maafkan aku, aku memang salah. Aku sadar saat semuanya sudah terlambat," ucap Adam.


Dia hanya mampu berkata seperti itu, perasaannya memang penting, tetapi nama baik keluarganya juga jauh lebih penting. Pria itu memang mencintai Zea dan untungnya keluarga juga setuju. Seandainya keluarga melarangnya, Adam juga tidak akan memaksa untuk tetap bersama Zea. Baginya keluarganya adalah segalanya.


Zea hanya diam memandangi kakaknya. Bukan dia tidak mengerti perasaan Adam. Gadis itu juga tahu jika semua ini berhubungan dengan keluarganya. Mungkin kedepannya juga apa pun yang akan mereka lakukan, tidak bisa lepas dari perasaan Mama Kinan dan Papa Hanif. Keduanya harus siap untuk hal itu jika mereka memutuskan untuk bersama.


“Sebaiknya kita pulang, Kak,” ajak Zea yang kemudian berdiri dari tempat duduk dan melangkahkan kakinya.


Adam ikut berdiri dan mengikuti langkah gadis itu. “Zea, apa kamu marah padaku? Aku sungguh tidak bermaksud untuk mempermainkanmu. Aku sungguh mencintaimu, tidak ada yang aku cintai selain dirimu, tolong percayalah padaku.”


“Kakak seenaknya saja mengatakan cinta, setelah Kakak menyakiti hatiku. Apa perasaanku tidaklah penting? Seharusnya Kakak tanya bagaimana perasaanku selama ini. Setiap hari aku harus memendam luka sendirian. Setiap kedatangan Kakak menemuiku dan memperlakukanku layaknya kekasih, aku selalu merasa bersalah karena sudah menggoda suami orang. Sekarang kenyataan ternyata seperti ini, apa Kakak sadar sudah mempermainkan perasaanku? Tidakkah kalian memikirkanku?”


“Maafkan aku, tapi hanya itu syarat agar aku bisa bersamamu. Aku juga terluka dengan semua ini, ingin sekali aku mengatakan padamu yang sesungguhnya, tapi janjiku pada papa mengubur semuanya. Maaf sudah membuatmu terluka. Aku juga memendam semuanya agar bisa memilikimu."

__ADS_1


"Berikan aku waktu untuk berpikir, Kak. Semuanya tidak semudah seperti yang Kakak pikirkan. Aku benar-benar terluka dengan semua ini."


"Sejak awal aku tidak pernah memaksamu. Aku akui kalau aku juga melakukan kesalahan. Aku sudah sangat menyakitimu dan ini memang pantas aku dapatkan," ucap Adam dengan tersenyum.


Dia memang sudah menyiapkan mental sebelumnya. Apapun jawaban Zea, dia akan menerimanya, termasuk penolakan seperti sekarang ini. Adam pun mengajak adiknya untuk pulang. Sepanjang perjalanan, gadis itu selalu menatap ke arah luar jendela. Zea enggan bertatapan dengan kakaknya.


Bahkan saat Adam berbicara pun gadis itu sama sekali tidak menanggapi. Zea masih berperang dengan keadaan dan hatinya. Jujur jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa senang karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, tetapi tetap saja gadis itu merasa kecewa dengan apa yang sudah terjadi. Adam juga tidak ingin mengganggu ketenangan adiknya biarlah adiknya berpikir dengan jernih. Pria itu berharap setelah ini Zea mau memaafkannya.


Tidak berapa lama, keduanya sampai juga di rumah. Zea segera turun dari mobil dan memasuki rumah tanpa mengatakan apa pun pada Adam. Kedua orang tuanya dan Opa Wisnu yang berada di ruang keluarga, hanya bisa memandangi kepergian putrinya. Mereka yakin jika kedua anaknya pasti bertengkar.


"Kenapa dengan Zea? Sepertinya dia sedih, apa dia tidak suka dengan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Adam, Mas?" tanya Kinan yang masih memandangi jalan putrinya yang hilang menaiki tangga.


"Sebaiknya kita tunggu Adam, ke mana dia?" tanya Hanif sambil melihat ke arah depan, menunggu sang putra untuk segera masuk. Tidak lama, Adam masuk ke rumah dengan lesu. Semua orang bisa menyimpulkan jika pembicaraan Adam dan Zea berakhir dengan tidak baik.


"Kamu kenapa lesu begitu? Ada apa? Apa kamu tidak berhasil berbicara dengan Zea atau kamu belum menceritakan semuanya?" tanya Hanif beruntun.


"Aku sudah mengatakan semuanya, Pa. Hanya saja memang Zea sudah kecewa padaku karena sudah menutupi semuanya. Aku juga tidak pernah membelanya saat dia mengatakan perasaannya yang sebenarnya dulu."


Papa Hanif merasa bersalah, bagaimanapun juga apa yang dilakukan Adam adalah atas perintahnya. Begitu pula dengan Kinan, yang ikut sedih atas apa yang terjadi, pasti saat ini sang putri sangat merasa terluka. Dia akan memberikan waktu untuk Zea berpikir, nanti akan ada saatnya dirinya berbicara dengan Zea.


.

__ADS_1


__ADS_2