Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
260. S2 - Bersaudara, tapi tak sedarah


__ADS_3

Akhirnya apa yang selama ini Zea tahan terungkap juga. Gadis itu senang bisa mengatakan isi hatinya, selama ini dia sudah berusaha menutup hati dan perasaannya untuk Adam. Zea juga membantu Aini untuk mendapatkan kakaknya agar cintanya pudar. Namun, semakin dia berusaha justru perasaannya tumbuh semakin besar.


Gadis itu memang sudah lama mengetahui tentang jati diri Adam. Saat itu dia ingin menemui orang tuanya yang berada di ruang kerja Papa Hanif. Tanpa sengaja Zea mendengar pembicaraan mereka. Saat itulah dia mengerti kenapa dirinya dan pria itu berbeda.


Perasaan gadis itu pada Adam juga berbeda, dengan Zea pada Aslan. Dia menyayangi Arslan sebagai saudara, sedangkan dengan Adam, gadis itu memiliki perasaan sebagai wanita terhadap laki-laki. Mungkin banyak orang yang akan berkata jika dia gila, tapi inilah kenyataannya.


"Zea, jangan seperti ini. Aku adalah kakakmu," ucap Adam yang mencoba untuk menyadarkan adiknya.


"Tapi aku mencintai Kak Adam. Aku sa—"


“Zea, apa yang kamu katakan? Adam itu kakakmu!” potong Kinan dengan berteriak.


Adam dan Zea terkejut dengan keberadaan mamanya di sana. Keduanya menunduk, tidak tahu harus berkata apa. Kinan juga tidak menyangka jika putrinya akan mengatakan hal seperti itu. Selama ini dia sudah berusaha agar membuat kedua anaknya saling menyayangi, layaknya adik dan kakak.


Meskipun mereka lahir dari rahim yang berbeda, tetapi keduanya dibesarkan oleh tangan yang sama. Seharusnya perasaan seperti itu tidak ada diantara mereka. Bukan ini yang Kinan inginkan dari kedua anaknya. Mereka harus bersama sebagai kakak dan adik, bukan suami istri.


"Coba ulangi lagi apa yang kamu katakan? Mama tidak pernah mengajari kamu seperti itu! Adam ini Kakak kamu, tidak seharusnya kamu mencintainya!" ucap Kinan yang masih dengan berteriak.


Hanif yang berada di kamar pun jadi terkejut, segera dia berlari menuju asal suara sang istri. Selama usia pernikahan mereka, baru kali ini pria itu mendengar teriakan Kinan. Entah apa yang sedang dilakukan anaknya sekarang, kemarin saat Zea melakukan kesalahan saja, wanita itu tidak marah. Sekarang apa yang membuat istrinya seperti itu.


"Ada apa ini? Kenapa kamu berteriak, Sayang?" tanya Hanif sambil menatap ke arah sang istri.


Terlihat wajah Kinan yang sudah memerah karena marah. Hanif pun menatap kedua anaknya yang sedang menunduk. Sepertinya kesalahan mereka kali ini sangat fatal, hingga membuat istrinya marah.


"Sayang apa yang sedang terjadi?" tanya Hanif lagi karena sang istri tidak juga memberi jawaban.

__ADS_1


"Kamu tanyakan saja pada Zea, Mas. Bagaimana bisa dia mencintai Adam. Sudah jelas-jelas kalau Adam itu kakaknya," jawab Kinan dengan menatap ke arah putrinya yang sedang menunduk.


Hanif melototkan matanya, tidak menyangka akan mendengar hal yang selama ini dia takutkan. Selama ini pria itu selalu menyangkal pikirannya, saat melihat tingkah Zea saat bersama Adam.


"Tidak, Pa. Aku sudah mengetahui semuanya, kalau Kak Adam itu bukan kakakku. Apa salahnya kalau aku mencintainya. Aku dan Kak Adam juga tidak memiliki hubungan darah," sahut Zea mata berkaca-kaca.


Hanif yang berada di sana pun tidak kalah terkejutnya dengan apa yang dikatakan Zea. Pria itu maju mendekati sang putri dan memberi tamparan yang begitu keras. Hingga gadis itu terhempas ke lantai yang begitu dingin. Zea sama sekali tidak menangis, dia sangat tahu jika dirinya sudah menyakiti hati kedua orang tuanya.


Akan tetapi, gadis itu tidak mungkin selamanya menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya. Zea sudah sangat-sangat mencintai Adam dan tidak akan rela pria itu menjadi milik orang lain. Apalagi dengan wanita yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Papa tidak pernah mengajarimu seperti ini. Sampai kapan pun Adam adalah kakak kamu. Tidak seharusnya kamu memiliki perasaan seperti itu. Kami membesarkan kamu dan Adam sebagai saudara, tapi kenapa kamu seperti ini?" Hanif memandang putrinya dengan pandangan terluka. "Sebaiknya kamu pikirkan perasaan kamu itu baik-baik. Papa yakin jika itu hanya perasaan nyaman karena Adam adalah kakak kamu, bukan karena hal yang lain."


"Tidak, Pa. Aku yakin itu perasaan cinta. Aku memang mencintai Kak Adam. Apa salahnya kalau Papa menikahkan aku dengan Kak Adam? Itu justru semakin membuat keluarga kita utuh, tidak ada orang lain yang masuk ke dalam keluarga kita."


"Sampai kapan pun aku tetap akan mencintai Kak Adam. Ak—"


"Masuk ke dalam kamarmu! Kamu masih dalam masa hukuman atau kamu mau Papa tambah kembali hukuman kamu?" potong Hanif yang sudah benar-benar sangat emosi.


Pria itu takut jika dirinya sampai lepas kendali dan akan menyakiti anak-anaknya. Zea berlari ke arah kamarnya dan menutup pintu, kemudian bersandar di sana. Air mata mengalir begitu deras membasahi pipi. Cinta yang selama ini gadis itu pendam, nyatanya memang tidak akan pernah bisa dia memiliki.


Orang yang selama ini diharapkan bisa bersama selamanya, ternyata lebih memilih wanita lain. Mungkin bagi kedua orang tuanya cintanya ini salah, tetapi bagi Zea tidak. Dia dan Adam memang kakak beradik. Namun, tidak memiliki hubungan darah, tidak ada larangan untuk keduanya bersatu.


Teringat kebersamaan mereka dulu, yang selalu bersama dalam keadaan apa pun. Hingga janji Adam yang akan melindunginya sampai kapan pun. Zea memegang teguh janji itu. Namun, kini saat mereka sudah sama-sama dewasa, ternyata semua itu hanya janji palsu. Kini Adam akan hidup bersama dengan wanita lain pilihannya.


Sementara itu, ketiga orang yang ada di kamar Adam hanya terdiam. Mereka tidak tahu harus berkata apa, semuanya masih terkejut dengan apa yang terjadi hari ini. Ini masih pagi dan Zea sudah membuat kekacauan.

__ADS_1


"Adam, bukankah kamu ingin ke rumah kedua orang tua Alin? Sebaiknya kamu berangkat sekarang," ucap Hanif yang memaksakan senyum pada putranya.


Dia tidak ingin menghalangi kebahagiaan sang putra. Meskipun harus mengorbankan perasaan putri kandungnya. Bagaimanapun mereka tetap saudara, meski tidak mengalirkan darah yang sama.


"Tapi, Pa. Bagaimana dengan Zea?" tanya Adam yang mengkhawatirkan adiknya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Besok juga dia akan kembali lagi seperti kemarin-kemarin. Kamu seperti tidak mengenalnya saja."


Adam sebenarnya ragu. Akan tetapi, mau bagaimana lagi jika Hanif sudah berkata seperti itu. Pria itu pun berpamitan pada kedua orang tuanya. Kinan menawarkan Adam untuk sarapan terlebih dahulu. Namun, putranya menolak dan berkata akan sarapan di apartemen kekasihnya saja.


Kinan tidak memaksa lagi dan membiarkan sang putra untuk pergi. Setelah mendengar mobil Adam meninggalkan halaman rumah, wanita itu segera pergi menuju kamar putrinya. Hanif sudah mencegahnya dan berkata agar membiarkan putrinya tenang terlebih dahulu. Namun, Kinan tidak mendengarkan apa yang sang suami katakan.


Wanita itu sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Saat ini dia tidak peduli, apa yang dikatakan oleh suaminya. Begitu sampai di depan pintu kamar Zea, Kinan mengetuk pintu beberapa kali, berharap gadis itu mau membukakan pintu. Sebagai seorang wanita, dia sangat mengerti perasaan putrinya.


Kinan ingin agar Zea berbicara dengannya dari hati ke hati agar dia juga bisa memberi pendapat pada putrinya itu. Kinan ingin memberi pengertian jika apa yang dirasakan Zea hanyalah perasaan kagum, bukan perasaan cinta.


"Sayang, buka pintunya. Ini Mama, Mama ingin bicara sebentar. Boleh, kan?" tanya Zayna sambil mengetuk pintu.


Namun tidak ada jawaban dari dalam. Zea duduk bersandar di belakang pintu. Dia hanya bisa menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Air mata yang dari tadi mengalir pun tidak bisa berhenti. Gadis itu tidak ingin sang mama melihat dirinya dalam keadaan kacau seperti ini.


Entah apa yang dipikirkan oleh kedua orang tuanya, yang menganggap dirinya gila atau hanya pikiran anak kecil. Akan tetapi, dia yakin jika ini memang cinta. Zea ingin mempertahankannya, tetapi bingung harus bagaimana.


.


.

__ADS_1


__ADS_2