Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
120. Siapa yang hamil?


__ADS_3

“Aku harus memastikannya," gumam Firly. "Tidak, aku tidak percaya padamu. Aku harus bertanya langsung pada Hanif,” lanjutnya yang segera berlalu dari sana.


“Hei! Kamu mau ke mana?” teriak Zayna dengan kesal.


“Sudah, Neng. Jangan terlalu emosi, ingat lagi hamil. Tidak baik seperti itu," tegur Bik Ira. Dari tadi dia khawatir jika Zayna melakukan sesuatu yang akan menjadi masalah. Mengingat bagaimana mood wanita itu sejak hamil.


“Iya, Bik. Habis aku kesel sama dia. Datang-datang buat keributan.”


“Neng, apa nanti tidak akan menjadi masalah, kalau sampai wanita itu bertanya sama orang tua Mas Hanif? Nanti dikira Mas Hanif melakukan hal yang tidak-tidak sama Non Kinan.”


“Eh, iya juga. Aduh, bagaimana dong, Bik? Aku sudah bicara yang tidak-tidak.”


“Mudah-mudahan saja tidak apa-apa. Ya sudah, biarkan saja. Nanti jika ada masalah biar Bibi bantu jelasinnya. Lagi pula dari tadi juga Neng nggak bilang kan kalau ayah anak ini adalah Mas Hanif, cuma dia saja yang berasumsi seperti itu."


"Ya iyalah, Bik. Mana berani saya bilang begitu, bisa-bisa kalau kedengeran Mas Ayman, tamat sudah riwayatku," jawab Zayna membuat Bik Ira menutup mulutnya karena menahan tawa.


Padahal beberapa hari ini Zayna yang selalu membuat masalah dan Ayman yang selalu mengalah. Sekarang bisa juga wanita itu takut pada suaminya. Semua penghuni rumah sangat mengerti bagaimana mood Zayna yang suka berubah-ubah. Namun, mereka dengan senang hati menurutinya.


"Nggak usah ketawain aku dong, Bik. Yang aku katakan 'kan memang benar," ucap Zayna.


"Iya, maaf, Neng. Habisnya lucu."


"Ya sudah, Bik. Ayo, masuk! Takut nanti ada orang aneh lagi."


"Iya, Neng. Ayo, masuk!" Keduanya pun memasuki rumah dengan berjalan beriringan.


“Mama sama Kinan lama sekali nggak pulang-pulang. Padahal cuma ke butik doang,” gumam Zayna.


“Tadi kata nyonya, mau sekalian ke salon, Neng,” sahut Bik Ira yang membuat Zayna menganggukkan kepalanya.


Sementara itu, di rumah keluarga Hanif juga tidak kalah sibuknya. Mama Aida sepanjang hari tidak ada hentinya bolak-balik melihat semua persiapan untuk nanti malam. Untung saja tempatnya tidak begitu jauh dari rumahnya. Wanita itu ingin memastikan sendiri jika semua berjalan dengan lancar. Dia tidak ingin acara pertunangan putranya gagal.


“Assalamualaikum, Tante,” ucap Firly begitu memasuki rumah.


“Waalaikumsalam. Eh, kamu. Ada apa?” tanya Mama Aida dengan ketus.


Baru juga bertemu Firly , sudah membuat mood-nya hancur. Bagaimana jika keluarga mereka nanti datang. Bisa-bisa sepanjang acara dia dibuat kesal oleh mereka. Andai saja sang suami mau menuruti keinginannya untuk tidak mengundang mereka. Pasti wanita itu bisa tenang.


Jika nanti keluarga mereka membuat masalah dalam acara nanti malam, dia akan membuat perhitungan. Mama Aida tidak akan membiarkan mereka bisa berbuat seenaknya lagi seperti dulu. Sudah cukup dirinya dan keluarga mengalah dulu, sekarang tidak lagi.


“Saya ingin bertemu dengan Hanif, Tante. Saya ingin menanyakan sesuatu yang penting padanya.”

__ADS_1


“Mau apalagi kamu mencari anak saya? Urusan kamu dengan Hanif sudah selesai, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku juga tidak mau nanti suamimu menuduh putraku macam-macam. Padahal dia juga tidak berselera padamu ”


“Tapi, Tante, apa yang saya bicarakan ini sangat penting. Aku mohon sama Tante, jangan sampai Tante menyesal di kemudian hari.”


“Kamu jangan khawatir mengenai hal itu. Saya sudah sangat yakin dan tidak akan menyesal dengan keputusan yang sudah saya ambil.”


“Saya mohon, Tante. Saya hanya ingin bertemu dengan Hanif. Saya ingin menyelamatkan masa depannya, sebelum semuanya terlambat.”


Firly masih tidak menyerah. Dia berusaha keras untuk bisa bertemu Hanif. Apa pun akan gadis itu lakukan agar bisa membuat pria itu membatalkan pertunangannya. Baginya, Hanif adalah pria yang baik, tidak pantas untuk bersama dengan gadis yang bernama Kinan.


“Masa depan? Masa depan apa yang kamu maksud? Kamu tidak perlu repot-repot mengurusi masa depan orang lain. Urus saja masa depanmu sendiri. Sudah, lebih baik kamu pergi saja.”


“Tante, kenapa seperti itu? Dulu Tante selalu baik sama aku, kenapa sekarang jadi seperti ini?”


“Dulu dan sekarang itu sudah zaman yang berbeda, jadi tidak perlu dibahas lagi.”


“Ada apa ini, Ma?” tanya Papa Wisnu yang memang hari ini sedang mengambil cuti. Tadinya dia sedang membaca koran di teras samping rumah, kemudian mendengar keributan dari ruang tamu. Itulah kenapa pria itu ke sini.


“Nggak tahu ini, Pa. Firly datang-datang malah cari masalah.”


“Saya ingin bertemu dengan Hanif, Om.”


“Ada apa lagi, Firly. Bukankah sudah pernah saya katakan, jangan pernah lagi mencari Hanif. Kenapa sekarang kamu masih mencarinya?” tanya Wisnu dengan nada tegas.


“Maksud kamu apa, sih? Keputusan apa? Tidak perlu berbelit-belit dan jangan mengurusi urusan orang lain," sela Mama Aida.


“Baiklah, Om, Tante. Saya hanya ingin bertemu dengan Hanif. Saya ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Setelah itu saya janji akan meninggalkan rumah ini.”


“Tapi—“


“Ma, sudahlah.” Papa Wisnu memotong perkataan sang istri, kemudian memanggil ART-nya. “Bik, panggil Hanif ke sini,” perintahnya.


Mama Aida membuang napas kasar. Sesungguhnya dia tidak rela Hanif bertemu Firly, tetapi mau bagaimana lagi. Sang suami juga sudah mengizinkannya.


“Iya, Tuan.”


Tidak berapa lama, Hanif pun keluar. Dia menuju ruang tamu. Pria itu heran saat melihat keberadaan Firly di sana. Setahunya Mama Aida tidak menyukai wanita itu, kenapa bisa ada di sini?


“Kata Bibi, Papa manggil aku, memang ada apa?” tanya Hanif.


“Iya, ini Firly mau mengatakan sesuatu katanya dan penting buat kamu,” jawab Papa Wisnu.

__ADS_1


“Mama saranin buat kamu, ya, Hanif. Jangan pernah mendengarkan omong kosongnya. Dia hanya mengada-ada,” ucap Mama Aida yang diangguki Hanif.


“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Hanif pada Firly.


“Sebaiknya kamu pikirkan lagi keputusanmu untuk pertunangan dengan gadis yang bernama Kinan.”


Mama Aida berdecih sinis, sementara Hanif menyernyitkan keningnya. Pria itu merasa jika itu bukanlah urusan Firly, jadi kenapa harus ikut campur. Dirinya saja tidak mau tahu urusan keluarga wanita itu. Baginya itu tidak penting.


“Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu pikir kamu siapa, berani mengaturku untuk bertunangan dengan gadis mana dan siapa.”


“Tapi dia bukan gadis yang baik-baik."


"Lalu seperti apa gadis baik-baik menurutmu? Apa itu wanita yang sengaja menjebak seorang pria dan membuatnya tersisih dari keluarga? Atau wanita yang mengemis cinta pada pria, padahal dia sudah beristri? Yang mana?"


Firly terdiam, dia sangat tahu siapa yang dimaksud oleh Hanif. Namun, wanita itu tidak mau mengalah sebelum keinginannya terkabul. Bagaimanapun juga pertunangan Hanif dan Kinan harus batal.


"Aku hanya ingin menyelamatkanmu. Aku nggak yakin kalau dia itu benar-benar hamil anak kamu," ujar Firly.


“Hamil!” ulang Hanif dan Mama Aida bersamaan. Keduanya bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Firly.


“Maksud kamu apa? Siapa yang hamil?” tanya Hanif.


“Ya, siapa lagi kalau bukan gadis yang bernama Kinan itu.”


Sontak saja, perkataan Firly membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Tidak terkecuali Papa Wisnu. Pria itu selama ini sudah sangat percaya dengan pilihan putranya, mana mungkin bisa berbuat sejauh itu.


“Benar, Hanif, kalau Kinan hamil?” tanya Papa Wisnu.


“Nggak, Pa. Mana mungkin Kinan hamil. Dia bukan gadis yang seperti itu,” jawab Hanif. “Eh, kamu Firly kamu jangan bicara omong kosong. Jangan sampai apa yang kamu katakan itu menjadi fitnah.”


“Iya, kamu Firly, pasti memang sengaja ‘kan menjelek-jelekkan Kinan agar pertunangan Hanif dan Kinan batal.”


“Siapa yang mengada-ada, Tante. Saya tadi baru saja dari rumah Kinan dan bertemu dengan gadis itu. Dia bilang kalau dia hamil, perutnya juga sudah sedikit buncit.”


Semua orang yang ada di ruang tamu masih terdiam, memikirkan kebenaran yang dikatakan oleh Firly. Tiba-tiba Mama Aida teringat jika tadi Mama Aisyah memberi kabar jika mengajak Kinan ke salon. Jadi tidak mungkin jika calon menantunya berada di rumah.


“Firly, sebaiknya kamu pulang. Mengenai masalah Kinan hamil atau tidak, itu bukan urusan kamu," pungkas Mama Aida.


“Tapi, Tante—“


“Bukankah tadi kamu bilang bahwa setelah mengatakan pada Hanif, kamu akan pulang. Sekarang kamu sudah bicara dengan Hanif, lebih baik segera pulang.”

__ADS_1


.


.


__ADS_2