
"Lupakan saja semuanya. Aku juga minta maaf atas apa yang sudah terjadi pada kehidupanmu," ucap Adam dengan pelan.
"Bolehkah aku minta sesuatu padamu?" tanya Alina membuat kening Adam mengerut.
"Meminta sesuatu apa?"
"Aku ingin mendapat kesempatan kedua dari kamu, Adam."
"Maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu maksud."
"Aku ingin kamu menikah denganku. Meskipun anak ini bukan anak kandungmu, aku yakin kamu bisa menyayanginya dengan setulus hati," pinta Alin sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
Adam melongo mendengar apa yang Alin katakan. Bisa-bisanya wanita itu meminta dia untuk bertanggung jawab, setelah pa yang dilakukan oleh Alin padanya. Meskipun semua ini tidak lepas dari tanggung jawabnya, tetapi jika Alin punya keteguhan hati yang besar, pasti semua ini juga tidak akan terjadi. Wanita itu tidak akan mudah tergoda.
Yang lebih penting dari semua itu, Adam sama sekali tidak mencintai Alin lagi. Mana mungkin dia menikah dengan orang yang sama sekali tidak ada dalam hatinya. Pria itu juga tidak memaafkan perselingkuhan.
"Maaf, Alin, tapi apa yang terjadi padamu, tidak sepenuhnya salahku. Seandainya kamu bisa menjaga dirimu, semua itu tidak akan terjadi. Bukan maksudku untuk merendahkanmu, tapi kamu sendiri yang merendahkan dirimu hingga mudah sekali terbujuk rayu. Jadilah wanita yang terhormat. Meskipun saat ini kamu bukanlah wanita yang sempurna. Cobalah untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi."
Alin tertawa sumbang, seolah menertawakan apa yang mantan kekasihnya itu katakan. Adam hanya diam sambil memperhatikan apa yang akan wanita itu lakukan. Dia tahu, pasti itu tidak mudah bagi Alin, tetapi wanita itu harus tetap melewati semuanya ini. Suka atau tidak suka, begitulah jalan hidupnya.
__ADS_1
"Berbicara memang mudah, kamu tidak tahu apa yang sudah aku lewati selama 6 bulan ini. Semua keluarga tidak ada lagi yang peduli padaku. Mereka semua menyalahkanku atas apa yang terjadi, tanpa mereka tahu apa yang sudah aku rasakan."Alin berhenti sejenak sambil menarik napas dalam-dalam. Adam hanya diam mendengarkan tanpa menyela sedikit pun.
"Selama ini aku kesepian, tidak ada satu pun orang yang perhatian padaku. Kamu memang baik selama aku bersamamu. Ada sedikit ruang hati dalam diriku yang sudah mulai terisi, tapi seiring berjalannya waktu, aku ingin yang lebih dari hanya sekedar perhatian. Kamu selalu mendahulukan keluargamu, terutama Zea. Adikmu itu selalu menyita semua waktu dan hanya menyisakan sedikit untukku. Padahal aku kekasihmu," ujar Alin dengan air mata yang menetes.
Meskipun dia sudah berusaha keras untuk terlihat tegar, tetapi Alin hanyalah wanita biasa yang memiliki perasaan dan hati. Terlebih lagi dia membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sandaran, baik dalam suka maupun duka.
"Tapi dia adalah adikku. Papa dan Mama adalah keluargaku, mereka yang memberikan seluruh kehidupan untukku. Aku pasti sudah pernah bercerita padamu, kalau aku hanya anak adopsi, tapi mereka memberikan kasih sayang yang begitu besar padaku."
"Iya, aku tahu karena itu aku iri pada mereka, terutama adikmu. Aku juga tahu kalau kamu juga memiliki perasaan yang lebih terhadapnya. Bukan sebagai seorang kakak, tapi sebagai seorang pria." Alin menatap wajah mantan kekasihnya, berharap agar dia mendengar bantahan dari pria itu. Namun, Adam hanya terdiam.
Bahkan orang lain pun bisa merasakan apa yang pria itu rasakan. Melihat keterdiaman mantan kekasihnya, semakin membuat Alin yakin jika Adam memang benar-benar mencintai adiknya. Wanita itu menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, guna mengurangi rasa sesak di dada.
Keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Semuanya terlalu rumit, itu semua karena hati dan pikiran mereka yang belum sepenuhnya saling terbuka. Alin dan Adam memang selalu memendam apa pun yang ada dalam hati masing-masing. Mungkin itu juga yang membuat keduanya saling salah paham.
"Aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini. Aku juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dan aku tidak pernah berharap kalau semua ini akan terjadi padamu," ucap Adam yang merasa menyesal atas apa yang terjadi pada Alin.
"Jangan meminta maaf, itu semakin membuatku merasa menjadi wanita yang paling buruk di dunia ini. Semua sudah terjadi, kedepannya aku harus bisa menjadi orang yang lebih baik." Alin mengusap air mata yang menetes di kedua pipinta.
"Aku juga berharap kamu bisa menemukan laki-laki yang bisa menerimamu dengan tulus."
__ADS_1
"Amin, semoga saja itu bisa terjadi. Meskipun aku berharap laki-laki itu adalah kamu."
"Maafkan Aku," ucap Adam dengan menatap sedih ke arah wanita itu yang sedang tersenyum. Dia tidak ingin terlihat mengenaskan di depan mantan kekasihnya itu. Biarlah semua ini Alin tanggung seorang diri.
Sementara itu, di luar ruangan, Zea dan si kembar merasa khawatir karena Alin tak kunjung keluar. Padahal ini sudah cukup lama, ingin sekali gadis itu masuk ke dalam, tetapi dia takut jika apa yang mereka lakukan akan semakin menyakiti hatinya. Berkali-kali Zea meyakinkan hatinya, jika Adam dan Alina tidak akan melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya.
"Kamu dari tadi mondar-mandir terus, Zea. Kamu tenang saja, Kak Adam pasti tidak akan melakukan apa pun dengan Alin di dalam. Ini rumah sakit," ucap Aini sekaligus mengejek sepupunya itu.
Dia sangat tahu apa yang dirasakan oleh Zea karena dirinya pun juga merasakan hal itu. Akan tetapi, gadis itu mencoba untuk tetap tenang. Aini percaya jika Adam tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti adiknya.
"Aku tahu Aini, tapi kenapa mereka lama sekali bicaranya? Aku jadi penasaran mereka sedang bicara apa. Seharusnya tadi aku di dalam saja."
"Sudahlah, Zea. Berikan mereka waktu juga untuk berbicara. Setelah mereka putus, belum ada kesempatan mereka berbicara," sahut Aina yang sedari tadi hanya diam saja.
"Kamu tahu sekali kalau mereka belum berbicara. Siapa tahu sebelumnya mereka pernah bertemu, kamu 'kan tidak tahu."
"Kak Adam yang pernah cerita sendiri, dia nggak mungkin bohong, kan?”
Zea mengangguk, dia juga pernah mendengar hal itu dari mamanya, tetapi tetap saja gadis itu khawatir dengan keberadaan Alin di dalam ruangan Adam. Padahal kakaknya sudah pernah mengatakan jika hati pria itu sepenuhnya sudah terisi oleh Alin.
__ADS_1