
“Apa nama yang cocok untuk anak kita, Mas? Aku bingung mau kasih nama apa,” ujar Zayna sambil menerawang.
“Bukannya kamu kemarin sudah ada beberapa nama? Kemarin kamu tunjukin juga sama aku, kan?” tanya Zayna yang duduk di samping istrinya.
“Iya, tapi tetap saja bingung mau pakai yang mana. Menurut kamu yang bagus yang mana?” tanya Zayna sambil memperlihatkan deretan nama yang dia tulis di ponselnya.
“Terserah kamu saja, Sayang.”
Zayna berpikir sejenak dan dia pun menyebutkanmu satu baris nama yang menurutnya cukup bagus. “Arslan Narendra Respati. Bagaimana bagus nggak, Mas?”
“Bagus, aku suka. Panggilannya apa? Arslan?”
Zayna mengangguk. Keduanya pun tersenyum, kini anak mereka sudah memiliki nama. Biarlah nanti rumah sakit yang mengurus segala akta kelahiran dan lainnya. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan nama. Ayman dan Zayna berharap masa depan bayi mereka cerah dan selalu di kelilingi orang-orang baik.
“Sekarang kamu tidur dulu, ini sudah malam," ucap Ayman sambil menaikkan selimut yang dipakai sang istri.
“Kamu tidur di mana Mas? Sini tidur sama aku,” ucap Zayna sambil menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
“Kamu masih sakit, Sayang. Sebaiknya aku tidur di sana saja. Di sini nanti sempit," sahut Ayman sambil menunjuk kasur di bawah.
“Aku sudah nggak papa, Mas. Meskipun masih nyeri sedikit, tapi nggak masalah. Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada kamu di sini,” ucap Zayna pada sang suami.
Dia memang sudah terbiasa jika tidur sambil memeluk pria itu jadi, rasanya aneh jika harus tidur sendiri. Ayman pun tersenyum dan mengikuti permintaan sang istri. Dia tidak mungkin membuat Zayna merasa tidak nyaman. Apalagi sampai kurang istirahat.
Ayman memeluk sang istri hingga wanita itu tertidur dengan pulas. Dia menatap wajah sang istri yang sudah memejamkan mata. Pria itu begitu bahagia memiliki Zayna. Ayman berharap istrinya kelak bisa membimbing anaknya, menjadi anak yang sholeh dan berbakti pada kedua orang tua serta bisa membawa nama baik keluarga. Dia percaya jika Zayna mampu melakukan hal itu.
Pagi-pagi sekali setelah Subuh, Papa Rahmat dan Mama Savina datang ke rumah sakit. Keduanya baru saja mendarat dan langsung menemui putrinya. Keduanya juga ingin melihat cucunya. Awalnya pegawai rumah sakit melarang karena ini belum jam besuk, tetapi dengan berbagai alasan dan bujukan, mereka pun diizinkan.
“Assalamualaikum,” ucap Papa Rahmat dan Mama Savina begitu memasuki ruangan. Terlihat Ayman sedang duduk di kursi, sementara Zayna duduk bersandar pada ranjang yang dinaikkan.
“Waalaikumsalam, Papa sama Mama sudah ada di sini?” tanya Zayna.
__ADS_1
“Iya, sebenarnya maunya dari kemarin, tapi karena pesawatnya tengah malam jadi, baru sekarang kami sampai. Bagaimana keadaan kamu dan cucu kami?” tanya Mama Savina sambil berjalan mendekati Zayna.
“Aku baik-baik saja, Ma. Kalau anakku masih ada di ruangan bayi. Dia masih belum bisa digendong, hanya bisa dilihat dari luar ruangan. Untuk menyusui saja aku harus memompanya.”
“Karena anak kamu memang lahir prematur jadi, memang seperti itu, tapi semoga saja dia baik-baik saja. Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter.”
“Apa aku dulu juga seperti itu, Ma?” tanya Zayna dengan sedikit takut. Wanita itu pernah mendengar, jika dulu saat dia masih bayi. Mama Savina lah yang merawatnya. Bahkan dulu dirinya sangat bergantung pada wanita itu.
“Iya, tapi tidak lama, hanya sekitar sepuluh atau dua belas hari, Mama agak lupa.”
Zayna mengangguk, semoga nanti bayinya juga sama seperti dirinya. Dia tidak ingin melihat anaknya lebih menderita. Apalagi dirinya juga sangat ingin menggendongnya. Sedari tadi juga wanita itu tidak hentinya memperhatikan foto anaknya.
“Kami boleh melihat cucu kami nggak? Di mana ruangannya?” tanya Papa Rahmat.
“Ruangannya ada di ujung, Pa. Nanti kalau ada perawat, Papa bisa tanyakan pada mereka, tapi hanya boleh melihat lewat jendela," jawab Ayma.
“Ya sudah, Papa sama Mama mau ke sana dulu.”
*****
“Semalam kalian ke mana saja? Kenapa pulang larut sekali? Pestanya ‘kan dari siang?” tanya Mama Aida pada anak dan menantunya saat mereka sedang menikmati sarapan.
“Kemarin kami dapat kabar dari Papa Hadi, kalau Kak Zayna melahirkan jadi, kami langsung ke rumah sakit. Sampai sana ternyata bayinya sudah lahir,” jawab Kinan.
“Zayna sudah melahirkan! Baru kemarin acara tujuh bulanannya, sekarang sudah melahirkan saja.”
“Iya, Ma. Bayinya lahir di usia kandungan tujuh bulan. Semua keluarga juga sempat bingung dan takut juga, tapi alhamdulillah semuanya terlewati dengan baik. Kak Zayna dan bayinya juga baik-baik saja. Meskipun sekarang bayinya harus berada di inkubator terlebih dahulu.”
“Syukurlah kalau begitu. Bayi prematur memang harus menjalani pemeriksaan lebih detail. Semoga saja nanti bayinya tidak apa-apa. Kenapa kalian kemarin nggak bilang sama Mama? Kalau tahu begitu, Mama bisa nyusul ke sana. Mama pikir kalian pergi jalan-jalan."
“Semalam kami datang juga sudah larut, Ma. Kasihan juga kalau Kak Zayna kebanyakan yang jenguk, dia juga butuh istirahat setelah melahirkan. Nanti juga Mama bisa ke sana,” sela Hanif.
__ADS_1
“Iya, Ma. Nanti perginya sama aku saja. Aku juga kebetulan hari ini nggak ada kelas jadi, bisa seharian temenin Mama," sahut Kinan.
“Bukannya kamu nanti siang ada kelas, Sayang?”
“Nggak, Mas. Aku baru saja dapat pesan, katanya hari ini libur.”
“Baguslah kalau begitu. Nanti kita jenguk Zayna dulu, habis itu kita pergi ke salon," ucap Mama Aida membuat Kinan menahan napas. Selalu saja ke tempat itu, mau tidak mau Kinan harus mengikutinya.
“Mama ini, Kinan ‘kan nggak suka pergi ke salon, masih saja Mama ajakin ke sana,” ucap Hanif yang mengerti keadaan istrinya.
“Nggak boleh nggak suka, wanita itu harus pandai merawat diri. Kamu mau ‘kan Kinan?”
“Iya, Ma,” jawab Kinan dengan tersenyum.
Meski dirinya merasa terpaksa. Namun, tidak ada salahnya juga jika menuruti mertuanya. Dia juga nggak ada kerjaan hari ini. Setelah sarapan, semua orang kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Papa Wisnu dan Hanif pergi ke kantor, sementara Kinan dan mertuanya pergi ke rumah sakit. Tidak lupa juga mereka mampir ke toko perlengkapan bayi lebih dulu. Mama Aida ingin membelikan hadiah untuk anaknya Zayna.
"Mama mau beli apa?" tanya Kinan saat mereka memasuki toko.
"Sebentar, Mama mau lihat-lihat dulu. Kira-kira apa yang cocok untuk anak Zayna. Anaknya laki-laki apa perempuan?"
"Laki-laki, Ma."
"Sebentar Mama cari dulu."
Mama Aida dan Kinan pun berkeliling mencari sesuatu yang cocok untuk anak Ayman dan Zayna. Begitu sampai di deretan baju-baju, Kinan melihat begitu banyak deretan baju untuk bayi, terutama untuk bayi perempuan. Gaun-gaun yang lucu di sana.
Dia ingin sekali membelinya, bukan untuk keponakannya, melainkan untuk calon anaknya. Namun, sayang dirinya hamil saja belum. Andai Tuhan sudah memberinya rezeki, Kinan pasti sangat senang bisa berbelanja perlengkapan seperti ini.
.
__ADS_1
.