Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
140. Seseorang yang berarti


__ADS_3

“Assalamualaikum,” ucap Papa Hadi saat memasuki rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab Mama Aisyah yang sedang berada di ruang keluarga.


“Mama sendirian? Anak-anak semua ke mana?”


“Ayman dan istrinya ‘kan lagi jalan-jalan ke villa. Kalau Kinan masih di rumah calon mertuanya. Tadi dia kirim pesan sama Mama. Rumah jadi terasa sepi banget, ya, Pa. Anak-anak sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.”


“Iya, bukannya Mama sudah berencana tinggal di villa? Di sana bukannya akan lebih sepi lagi? Tidak ada anak-anak.”


“Iya, di sana memang sepi, tapi di sana tempatnya lebih sejuk dan tenang. Mama sudah membayangkan betapa senang dan damainya tinggal di sana.”


“Apa Mama sudah bicara dengan Kinan?”


“Belum, Pa. Nanti saja kalau dia sudah menikah. Mama tidak ingin karena keinginan Mama, dia membatalkan pernikahannya karena Mama mau pergi.”


“Tapi nanti juga dia akan tahu juga.”


“Ya ... setidaknya ada suaminya yang bisa membujuknya.”


Papa Hadi menganggukkan kepala. Dia sangat tahu itu adalah keinginan istrinya dari dulu. Itu juga yang menjadi alasan dirinya membeli villa, serta tanah yang berada di sekitarnya. Pria itu hanya ingin membuat sang istri bahagia. Meski itu diusia yang tidak muda lagi, setidaknya ada sesuatu yang dia berikan.


“Ayman sama istrinya kapan pulangnya?” tanya Papa Hadi.


“Sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin malam sampai rumah. Zayna tadi terdengar begitu bahagia di sana."


“Tadi Pak Rahmat menghubungi Papa. Katanya besok mereka akan datang. Dia ingin memberi kejutan untuk putrinya dan ingin memberi kado ulang tahun untuk Zayna."


“Kalau begitu, besok Mama siapin kamar buat mereka. Biar mereka tinggal di sini untuk kali ini. Nggak tinggal di hotel kayak kemarin.”


“Terserah Mama saja.”


“Mama bersyukur Pak Rahmat dan Bu Savina benar-benar berubah. Sebelumnya Mama takut jika mereka tetap seperti sebelumnya.”


“Memang apa yang Mama takutkan jika mereka tidak berubah?” tanya Papa Hadi yang tidak mengerti maksud dari sang istri.

__ADS_1


“Papa ini bagaimana, Ayman ‘kan menantu mereka. Mama takut jika anak kita itu diperas oleh mereka, terutama ibu tirinya Zayna. Dia itu sangat suka berfoya-foya. Sekarang Mama bersyukur mereka akhirnya berubah juga.”


“Iya, sudah jangan bicarain orang lagi. Tidak baik.”


“Iya, Pa.”


“Assalamualaikum,” ucap seorang dari luar.


“Waalaikumsalam,” jawab Mama Aisyah


dengan suara sedikit keras. “Seperti suara Kinan, Pa. Sebentar, Mama lihat dulu. Papa sebaiknya mandi sana!”


Mama Aisyah pun keluar menuju ruang tamu. Ternyata benar, Kinan dan Hanif yang baru datang. Wanita itu tersenyum dan berjalan mendekati anak dan calon menantunya.


“Duduk saja, Hanif, tidak perlu sungkan,” ucap Mama Aisyah saat melihat Hanif akan berdiri.


“Iya, Ma," jawab Hanif yang akan berdiri.


“Papa mana, Ma? Tadi kita lihat sudah ada mobilnya di depan,” tanya Kinan.


Gadis itu melihat ke arah Hanif agar pria itu saja yang berbicara. Dia juga tidak tahu betul bagaimana rencana pernikahan yang disiapkan tunangannya. Kinan hanya akan mengikuti saja.


“Begini, Ma. Saya dan Kinan sudah sepakat kalau pernikahan akan diadakan empat bulan lagi. Mengenai tanggalnya, saya menyerahkannya pada para orang tua untuk memutuskannya," ujar Hanif


“Kalau mengenai itu, Mama juga tidak tahu, biar nanti Papa saja yang pikirkan. Mama ikut saja. Kalau orang tua kamu bagaimana?” tanya Mama Aisyah balik.


“Mama dan Papa juga menunggu kepastian dari Mama Aisyah dan Papa Hadi, kapan kiranya ada waktu untuk bertemu guna membahas pernikahan.”


“Kalau papa Hadi, kapan pun ada waktu karena di perusahaan juga ada Ayman yang bisa menghandle semuanya. Tinggal cocokkan dengan jadwal Papa kamu saja.”


“Iya, benar kata Mama Aisyah. Semua terserah papamu, kapan waktu yang bisa,” sela Papa Hadi yang baru saja datang.


“Papa belum mandi?” tanya Mama Aisyah.


“Belum, Papa penasaran apa yang kalian bicarakan," jawab Papa Hadi yang kemudian duduk di samping istrinya.

__ADS_1


“Baiklah, Pa. Nanti akan saya tanyakan kepada Papa dan Mama.”


“Memangnya empat bulan tidak terlalu lama untuk kamu, Hanif? Aku lihat kamu sudah tidak tahan,” goda Papa Hadi membuat Hanif tersenyum canggung. “Pasti ini permintaan Kinan, ya?”


“Papa, semua orang juga sudah setuju. Mama Aida setuju, kenapa papa malah nyalahin aku?” tanya Kinan yang tidak terima dengan tuduhan papanya. Dia melirik ke arah Papa Hadi sambil mencebikkan bibirnya.


“Papa tidak menyalahkan, hanya bertanya saja,” kilah Papa Hadi membuat Kinan cemberut.


Hanif menjelaskan sedikit mengenai rencana pernikahannya. Papa Hadi dan Mama Aisyah hanya menyimak saja. Mereka suka dengan rencana Hanif yang sudah sangat matang. Sepertinya pria itu sudah merencanakan semua ini sejak lama.


Papa Hadi semakin yakin memberikan Kinan pada Hanif. Pemikiran calon menantunya itu sudah matang, dia tidak perlu mencemaskan keadaan putrinya.


****


Sementara itu, di sebuah rumah. Seorang pria dengan tampilan yang begitu acak-acakan sedang tidur di kamarnya. Setiap hari pekerjaannya hanya mabuk-mabukan. Dia juga jarang sekali pulang ke rumah, membuat orang tuanya geram. Siapa lagi kalau bukan Fahri.


Sejak perceraiannya dengan Zanita, hidupnya bukan bertambah baik, malah semakin hancur. Setiap hari pria itu selalu memikirkan kehidupannya yang tidak beruntung. Andai saja dulu Fahri tidak pernah mendengar hasutan mamanya dan tidak tergoda oleh rayuan Zanita, pasti saat ini dirinya sudah hidup bahagia dengan Zayna. Seharusnya dia mendengar nasihat papanya.


Pria itu sangat tahu betapa sabarnya mantan kekasihnya itu dulu. Apa pun yang Fahri lakukan, Zayna selalu sabar dalam menasehatinya. Wanita itu juga yang dulu membuatnya menjadi pria yang baik-baik. Padahal dulu dia seorang buaya darat.


“Fahri, sampai kapan kamu akan seperti ini? Setiap hari kamu mabuk-mabukan dan selalu pulang pagi. Mama dengar di kantor juga kinerjamu menurun. Kalau kamu dipecat bagaimana? Kamu mau jadi apa? Kapan kamu akan sadar?" tanya Mama Lusi sambil berusaha membangunkan putranya. Sudah saatnya Fahri pergi ke kantor, tetapi pria itu belum bangun juga.


“Hidupku sudah hancur dan ini semua karena Mama. Mama yang sudah menghasudku agar meninggalkan Zayna dan menikah dengan Zanita. Mama lihat kehidupanku sekarang, tidak ada yang bisa membuatku bahagia!” jawab Fahri dengan berteriak.


Selalu seperti ini. Pria itu terus saja menyalahkan mamanya atas apa yang terjadi di kehidupannya. Tidak jarang kata-kata yang keluar dari mulutnya sudah sangat menyakiti hati mamanya. Lusi tahu kesalahannya, tetapi tidak bisakah Fahri berubah dan menggapai masa depan yang lebih baik.


Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk putranya. Begitu juga dengan Mama Lusi. Saat itu dia berpikir jika Zanita adalah istri yang cocok untuk Fahri, mengingat pendidikan wanita itu yang setara dengan putranya. Lusi tidak tahu jika Zayna dan Zanita memiliki kepribadian yang sangat berbeda.


“Jangan seperti ini, Fahri. Kamu bisa mencari kebahagiaan yang lain. Masih banyak di luar sana wanita yang baik.”


“Mama selalu seperti itu, Mama tidak tahu betapa hebatnya Zayna. Dia yang sudah membuat aku berubah menjadi laki-laki yang baik. Sebelum aku bertemu dengan Zayna, beginilah kehidupanku. Bersenang-senang ke sana kemari, tanpa mempedulikan orang sekitar. Dia yang merubahku menjadi pria yang lebih baik dan sekarang aku kehilangan dia. Bagaimana aku bisa bertahan hidup, kalau yang membuatku hidup saja sudah meninggalkanku.”


Lusi yang melihat keadaan putranya seperti itu pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia meninggalkan kamar Fahri dengan air mata yang mulai menetes. Ini memang kesalahannya dan wanita itu juga sudah berkali-kali meminta maaf. Namun, pria itu sama sekali tidak memedulikannya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2