Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
190. Akan diusahakan


__ADS_3

"Mas, bagaimana rencana kamu mengenai Adam. Eh, Aldo. Ah, terserahlah mau Adam atau Aldo. Pokoknya dia jadi, bagaimana?" tanya Kinan.


Setelah memastikan Adam sudah tertidur pulas, dia kembali ke kamarnya. Wanita itu juga perlu menanyakan mengenai anak itu pada sang suami. Apakah pria itu punya solusi atau tidak.


"Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Sayang. Aku perlu berkonsultasi dengan beberapa orang, yang lebih paham mengenai adopsi. Aku juga mau tanya pendapat papa dan mama. Bagaimanapun juga kita tinggal sama mereka, kita perlu persetujuan mereka juga, kalau kita mau mengadopsi Adam," jawab Hanif.


"Iya, Mas. Kalaupun kamu nanti tidak bisa mengadopsinya, tolong pastikan dia di tangan orang baik. Yang bisa menyayanginya sepenuh hati. Dia sudah cukup menderita selama ini. Kasihan kalau masih harus menderita juga."


"Iya, Sayang. Aku pasti akan memastikan hal itu. Aku juga tidak tega melihat dia sedih seperti tadi."


Adam memang paling dekat dengan Kinan, tetapi bukan berarti Hanif tidak menyayanginya. Pria itu bahkan sudah menganggap Adam seperti anaknya sendiri. Hanya saja dia memang bukan orang yang bisa mengungkapkan perasaan sayangnya secara terbuka.


Kinan mengingat kebersamaannya selama di rumah sakit. Selalu ada keseruan diantara dirinya dan Adam. "Meskipun kita cuma beberapa hari bersama dengannya, aku sudah sangat menyayanginya, Mas. Dia anak yang baik, tidak pernah neko-neko juga."


Hanif tersenyum sambil mengusap rambut sang istri. Dia juga bisa merasakan kasih sayang Kinan kepada anak itu, tetapi terlalu beresiko juga jika harus memaksakan kehendak pada Adam. Semoga saja Tuhan mempermudah langkahnya, untuk mencari kebaikan untuk anak itu.


"Sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur saja. Jangan lupa berdoa. Apa pun nanti hasilnya, semoga dia baik-baik saja," ucap Hanif.


"Iya, Mas. Aku mau cuci kaki dulu sebelum tidur."


"Iya, aku mau menyelesaikan sedikit pekerjaanku, kamu tidurlah dulu."


"Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, kamu juga harus istirahat."


"Iya, Sayang. Ini tinggal sedikit lagi, kok!"


Kinan mengangguk dan berlalu menuju kamar mandi. Hanif sendiri kembali sibuk dengan laptopnya.


***


Hari ini semua orang kembali ke aktivitas masing-masing. Papa Wisnu dan Hanif pergi ke kantor, sementara Kinan pergi ke kampus. Adam di rumah bersama dengan Mama Aida dan Bik Ira. Anak itu sama sekali tidak keberatan dengan siapa dia di rumah. Adam juga bukan anak yang suka membuat masalah.

__ADS_1


Selama perjalanan Hanif menceritakan pada papanya, tentang apa yang diceritakan oleh Adam semalam pada dirinya dan Kinan. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa karena sampai detik ini, pihak kepolisian belum memberi kabar kepada mereka, mengenai keluarga anak itu.


Papa Wisnu pun hanya bisa meminta putranya untuk menunggu kabar dari kepolisian dulu. Jika pihak berwajib sudah mengatakan bahwa Adam tidak memiliki keluarga, barulah Hanif bisa mengambil tindakan. Terserah mau mengadopsinya atau menyerahkan kepada lembaga sosial.


Akan tetapi, Hanif sudah memutuskan untuk mengadopsinya. Papa Wisnu juga menyarankan untuk menghubungi salah satu pengacara, yang bisa membuat surat adopsi secara sah. Meski tanpa adanya orang tua. Bagaimanapun juga Adam termasuk anak jalanan karena tidak ada data kedua orang tua.


"Kalau Kinan sendiri, apa tidak keberatan kalau kamu mengadopsi Adam?" tanya Papa Wusnu. Bagaimanapun juga pendapat wanita juga sangat penting.


"Tidak, Pa. Justru dia senang sekali. Kinan sudah sangat menyayangi anak itu. Dia juga yang memberi saran buat mengadopsi Adam. Kalaupun nanti kita tidak bisa mengadopsinya, Kinan ingin memastikan bahwa ada orang lain yang menjaganya dengan baik. Papa tahulah bagaimana kehidupan Adam sebelumnya. Itu juga yang membuat Kinan tidak tega," jawab Hanif dengan mengembuskan napas pelan.


"Apa pun keputusan kalian jika itu memang yang terbaik, Papa dan Mama hanya bisa mendukung, tapi ingatlah! Jika kalian sudah memutuskan untuk mengadopsi seorang anak, perlakukan dia seperti anak kalian sendiri. Mungkin sekarang kalian belum memiliki anak jadi, kasih sayang kalian semuanya tercurah pada dia. Jika suatu saat nanti kalian miliki anak, pasti rasanya akan berbeda. Papa harap saat itu tiba, kamu masih tetap menyayangi Adam seperti sebelumnya."


Papa Wisnu menatap putranya, berharap Hanif mengerti apa yang disampaikan.


"Iya, Pa. Aku akan berusaha untuk adil terhadap anak-anakku kelak, baik anak angkat, ataupun anak kandung. Aku juga berharap papa akan selalu mengingatkanku jika aku melakukan kesalahan."


"Tentu saja, bagaimanapun juga kamu tetap tanggung jawab kami sebagai orang tua, tapi Papa percaya padamu. Kamu pasti bisa berbuat adil."


Keduanya pun berbincang mengenai syarat-syarat apa saja yang diperlukan untuk mengadopsi Adam. Papa Wisnu juga merekomendasikan salah satu teman pengacaranya pada putranya. Hanif menerima saja karena dia juga tidak memiliki kenalan pengacara.


Sementara itu, di rumah Adam sedang bermain sendiri di kamarnya. Mama Aida pun menghampiri anak itu. Dia tidak ingin Adam selalu mengurung diri di kamar. Itu juga akan menjadi kebiasaan yang buruk untuk anak itu.


"Adam, lagi main apa?" tanya Mama Aida saat memasuki kamar anak itu. Terlihat Adam sedang menyusun puzzle.


"Lagi main Lego, Oma."


"Wah! Bagus sekali rancangan kamu. Ini pesawat, kan?"


"Iya, Oma," jawab Adam dengan tersenyum. Dia senang ada orang yang memuji pekerjaannya. Anak itu jarang sekali dipuji jadi, baginya itu adalah hal yang spesial.


"Tadi malam Adam sudah bicara sama Tante Kinan dan Om Hanif, Oma."

__ADS_1


"Bicara apa?" tanya Mama Aida yang belum mengerti ke mana arah pembicaraan putranya.


"Bicara tentang keluargaku."


"Oh, terus apa kata Om Hanif sama Tante Kinan?" tanya Mama Aida yang semakin penasaran.


Tadi di meja makan juga anak dan menantunya tidak ada yang bicara mengenai hal ini. Apa mungkin karena keberadaan Adam juga di sana. Bisa jadi karena mereka ingin menjaga perasaan anak itu.


"Kata Om Hanif masih dipikirkan dulu cara agar aku bisa tinggal di sini. Kalaupun nanti Om Hanif tidak bisa membuatku tetap tinggal di sini, aku nggak mau pulang," ucap Adam dengan nada sedih.


"Kalau kamu nggak mau pulang, kamu mau tinggal di mana? Kamu juga masih kecil, belum bisa cari uang sendiri."


"Aku bisa ngamen di mana saja atau mencuci mobil. Apa saja aku bisa, asalkan aku nggak mau pulang."


Mama Aida menahan napas. Dia memang tidak tahu apa-apa mengenai anak ini, tetapi dari perkataan anak ini, bisa dipastikan jika keluarganya tidaklah baik Namun, mengadopsi tanpa persetujuan kedua orang tuanya, saat orang tuanya masih hidup, pasti akan terkena hukum nantinya.


“Kamu tenang saja, Om Hanif pasti berusaha yang terbaik untuk kamu.”


Adam mengangguk meski sebenarnya, Mama Aida juga tidak begitu yakin dengan apa yang dikatakannya. Bagaimanapun nanti masa depan anak itu, dia yakin Hanif akan mengusahakan yang terbaik. Apalagi Adam sudah menceritakan kehidupannya.


“Main di luar, yuk! Apa kamu tidak bosan di dalam kamar terus?”


“Iya, Oma.” Adam pun membereskan mainannya untuk di bawa keluar.


Sebenarnya sedari tadi dia ingin bermain di bawah, tetapi anak itu takut akan membuat rumah berantakan. Adam tidak mau membuat penghuni rumah marah. Apalagi sampai dirinya mendapat hukuman.


Sepanjang hari Adam bermain dengan ditemani Mama Aida. Anak itu terlihat begitu senang, sesekali keduanya berbincang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2