Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
270. S2 - Cerita Adam


__ADS_3

Adam baru sampai di bandara, pria itu segera mencari keberadaan adiknya. Dia pun langsung menuju tempat, di mana semua orang mengantar kepergian para saudaranya. Baru saja pria itu sampai, terlihat Mama Kinan berjalan keluar dengan lesu. Sampai di sini, Adam bisa merasakan sesuatu yang tidak enak.


"Ma, Zea mana, Ma?” tanya Adam dengan napas yang sudah ngos-ngosan.


“Zea sudah pergi. Pesawatnya juga sudah lepas landas," jawab Kinan sambil memperhatikan sang putra.


"Astagfirullah, jadi aku terlambat, Ma," sahut Adam dengan menunduk.


Dia sudah berusaha untuk cepat sampai di sini, tetapi akhirnya pria itu kalah juga dengan waktu. Kini Adam hanya bisa menyesali semuanya. Seandainya dia bisa mengetahui isi hatinya lebih cepat, pasti semua ini tidak akan terjadi.


"Tangan kamu kenapa, Adam?" tanya Kinan saat melihat tangan kanan Adam yang lecet.


Pria itu melihat ke arah tengahnya, ternyata memang ada luka di sana. Pasti itu tadi karena dia memukul Akmal. Adam sama sekali tidak merasakan apa pun, semua seolah tertutupi dengan perasaannya.


"Tidak apa-apa, Ma. Ini tadi nggak sengaja terbentur," kilah Adam yang tidak ingin mamanya khawatir.


"Mana ada terbentur seperti ini. Kamu kira Mama bodoh, pasti kamu tadi bertengkar, kan? Dengan siapa kamu bertengkar? Ada masalah apa sampai kamu seperti ini?"


"Sungguh tidak apa-apa, Ma. Pesawat berikutnya ada, Ma? Aku mau menyusul Zea," tanya Adam yang tidak menghiraukan keadaannya. Saat ini yang penting adalah bagaimana menemui Zea.


"Buat apa kamu menyusul Zea? Dia ke sana buat kuliah."


"Tidak, Ma. Ini pasti juga karena aku. Aku tidak bisa kehilangan dia."

__ADS_1


"Dia nggak akan ke mana-mana. Dia juga akan tinggal sama Oma Aida, jadi kamu tenang saja, jangan terlalu khawatir."


"Ma, aku baru sadar kalau aku juga mencintai Zea. Aku tidak ingin kehilangan dia. Maaf jika aku membuat Mama kecewa, tapi itulah kenyataannya. Selama ini aku berusaha untuk menutupi perasaanku karena tidak ingin Mama dan Papa kecewa. Aku rela kalau harus mengubur perasaanku pada Zea dengan menikahi Alin. Aku berpikir asalkan Mama, Papa dan Zea bahagia, aku rela melakukan apa pun, tapi saat mendengar kepergian Zea, aku merasa ada sesuatu yang pergi dan hilang. Aku nggak bisa menjalaninya, aku baru sadar kalau cinta memang harus diperjuangkan, bukan seperti yang aku pikirkan selama ini. Itu sama saja aku menyakiti orang yang aku cintai. Zea selama ini sudah sangat terluka dengan apa yang aku lakukan. Apalagi dengan penentangan semua orang, pasti itu sangat menyakitinya. Aku sudah bersalah pada Zea, sangat-sangat bersalah."


Adam menundukkan kepala, guna menutupi air mata yang menetes agar mamanya tidak melihat. Meskipun pria itu menunduk, tetap saja Kinan bisa melihat karena sang putra memang lebih tinggi dari dia. Wanita itu juga bisa melihat wajah sedih dari Adam, sama seperti yang Kinan lihat pada putrinya. Dia sadar kedua anaknya sama-sama menyimpan perasaan, demi membahagiakan semua orang, tanpa memikirkan perasaannya masing-masing.


Zayna memeluk putranya, dia juga merasa hancur melihat kedua anaknya yang seperti ini. Mereka tidak peduli pada orang-orang di sekitar, yang memperhatikan mereka. Biarlah Ada. mencurahkan isi hatinya agar rasa sesak di dalam hatinya bisa sedikit berkurang. Wanita itu tidak ingin putranya tertekan.


"Kamu tenang dulu, kita sebaiknya pergi dari sini. Banyak orang yang melihat ke arah kita. Ayo, cari tempat yang enak buat bicara!"


Adam mengangguk dan mengurai pelukan. Keduanya meninggalkan bandara dan mencari tempat untuk bicara dari hati ke hati. Kinan juga perlu tahu bagaimana isi hati sang putra. Pria itu pun memutuskan untuk pergi ke taman. Syukurlah tempatnya tidak banyak pengunjung jadi, Adam dan Kinan bisa berbicara tanpa ada yang mengganggu.


Keduanya duduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon. Tempatnya juga lebih sepi dibanding yang lain. Tampak para orang tua sedang menunggu anaknya yang sedang bermain.


"Kamu memutuskan untuk mengejar Zea lalu, bagaimana dengan pernikahan kamu dan Alina?" tanya Kinan memulai pembicaraan.


Adam menarik napas dalam-dalam, teringat dengan apa yang dilihat di apartemen Alin. Pria itu pun terpaksa menceritakan semua kejadian sebelum dirinya mengetahui, kepergian Zea. Kinan cukup terkejut mendengarnya. Bagaimana tidak, wanita yang terlihat begitu baik dan sopan, ternyata bisa berbuat hal yang tidak senonoh seperti itu.


Kinan menggelengkan kepala, rasa-rasanya sangat tidak mungkin. Akan tetapi, mau bagaimana lagi jika Adam sendiri yang melihatnya. Mungkin jika orang lain yang mengatakan, jelas wanita itu tidak percaya. Alin juga terlihat sangat lembut dalam berbicara dengan orang lain.


"Apa itu artinya kamu menjadikan Zea sebagai pelarian saja karena pernikahan kamu dan Alin batal?" tanya Kinan dengan nada tidak suka.


Meskipun Adam dan Kinan adalah anaknya, dia juga tidak akan rela jika Zea hanya dijadikan pelarian. Walaupun itu oleh putranya sendiri. Mereka satu keluarga dan tidak ingin ada yang saling memanfaatkan.

__ADS_1


"Mungkin kalau Zea tetap di rumah, aku tidak akan pernah menyadari perasaanku, tapi sekarang aku sudah kehilangan dia. Duniaku seperti kosong tidak bernyawa. Aku hanya ingin memohon pada Mama dan Papa agar merestui hubunganku dan Zea. Apa saja akan Papa dan Mama lakukan dan inginkan, aku akan melakukannya, tapi jangan pisahkan kami. Aku benar-benar tidak bisa kehilangan Zea."


"Sebaiknya sekarang kita pulang, kamu nanti bisa bicara sama papa sendiri. Minta izin sama dia untuk menjalin hubungan dengan Zea."


Adam terdiam sejenak sambil, memandang mamanya. "Itu artinya Mama setuju jika aku dan Zea bersama mama?"


Mama Kinan memandangi Adam. "Mama akan selalu mendukung anak-anak Mama. Meskipun nanti akan ada banyak sekali keluhan dari orang-orang di sekitar, tapi Mama lebih peduli dengan perasaan anak-anak Mama, tapi Mama juga tetap harus menghormati pendapat papamu. Keputusan suami tetaplah yang utama."


Adam mengangguk, mengerti apa yang dikatakan sang mama. Keduanya pun memutuskan untuk pulang dan menunggu kepulangan Hanif di rumah. Apa pun nanti reaksi papanya, dia pasti akan menerimanya. Sekali pun jika harus diusir dari rumah itu.


****


Ayman, Zayna dan Arslan sudah bersiap akan pergi. Mereka akan menemui wanita yang akan dijodohkan dengan gadis yang akan dijodohkan dengan Arslan dan juga kedua orang tuanya. Ayman sudah mendapat hasil dari orang yang sudah dikirim, untuk mencari tahu tentang putri temannya itu.


Ternyata benar, gadis itu sangat baik kepada siapa pun. Ayman yakin jika Puti temannya memang cocok dengan sang puta. Zayna juga membaca apa yang didapat oleh anak buah sang suami. Dia cukup kagum dengan gadis itu.


Namun, ada yang mengganjal di hatinya karena ternyata gadis itu, menyukai seorang ustaz yang mengajar di pondok ayahnya. Ustaz itu ternyata yang paling pintar dan yang paling tampan di sana. Ada ketakutan dalam hati Kinan. Bagaimana jika calon menantunya ternyata masih mencintai pria itu.


"Ma, apa kamu yakin akan tetap melanjutkan perjodohan ini? Lihatlah dia sudah memiliki pujaan hati," tanya Zayna yang merasa ragu.


"Dia hanya kagum pada pria itu, Sayang. Setiap orang juga berhak mengagumi orang lain. Mereka tidak punya hubungan apa-apa. Papa yakin kalau Arslan dan dia menikah, pasti cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


Zaina menganggukkan kepala meski dalam hati dia ragu akan hal itu. Namun, setelah dipikir kembali, memang benar seperti yang sang suami katakan. Dulu dirinya juga tidak mencintai Ayman, tetapi dengan kebaikan yang dia lakukan membuat diri ini luluh.

__ADS_1


Semoga gadis itu sama, apalagi dia juga sudah memperdalam ilmunya. Pasti lebih mengerti tentang kewajiban dan hak seorang suami dan istri. Zaynba tidak ingin ikut campur mengenai rumah tangga anaknya. Dia hanya bertugas untuk mengantar ke pelaminan, selebihnya Itu tugas mereka sendiri. Ayman dan Zayna keluar dari kamar, ternyata ada Arslan yang sudah siap di sana.


Si kembar menolak untuk ikut, mereka lebih suka di rumah saja bersama opa dan omanya. Mereka juga tahu tentang perjodohan yang dilakukan Ayman. tetapi sekarang malah putranya yang dijodohkan. Namun, Ayman sama sekali tidak menggubris dan terus melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


__ADS_2