Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
293. S2 - Bertemu Imel


__ADS_3

“Sudah magrib, Mas,” ucap Hira pada sang suami.


“Iya, kita cari masjid dulu, kalau nunggu sampai rumah juga pasti akan telat Nanti,” sahut Arslan dengan melihat sekitar.


“Iya, Mas. Terserah kamu saja.”


Arslan pun mencari masjid terdekat kemudian membelokkan setir. Keduanya memasuki masjid tersebut dan ikut salat berjamaah. Pria itu beruntung memiliki istri seperti Hira, yang selalu mengingatkannya untuk melakukan kewajiban sebagai seorang muslim.


Setelah selesai salat. Arslan mengajak sang istri pergi ke restoran untuk makan malam. Tadi pria itu sudah menghubungi bibi di rumah jika mereka tidak akan makan di rumah jadi, asistennya bisa masak sedikit saja untuk dirinya sendiri. Arslan memang sudah tinggal di rumahnya sendiri.


Pria itu sengaja membeli rumah, yang ada di dekat tempat tinggal kedua orang tuanya agar saat butuh sesuatu tidak terlalu jauh. Hira juga tidak keberatan, bagi wanita itu ke mana pun sang suami pergi, dia akan mengikutinya. Saat ini dirinya sudah menjadi tanggung jawab Arslan sepenuhnya. Setiap yang ditempuh juga atas izin sang suami


"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Arslan padah sang istri, saat mereka sudah di restoran. Tempatnya begitu ramai, pria itu yakin pasti makan di sini sangat enak.


"Aku terserah kamu saja, mau makan apa."


Arslan pun mengangguk, dia memanggil pelayan dan memesan makanan. Tempat makan ini begitu cantik, hiasannya juga sangat indah, membuat para keluarga menjadi semakin nyaman datang ke sini.


"Mas, tadi umi kirim pesan, katanya di pondok seminggu lagi ada acara. Apa kamu mau datang?" ucap Hira.


"Insya Allah aku akan datang, hari Minggu juga aku libur jadi, bisa datang ke sana."


"Alhamdulillah, kalau gitu biar aku kirim pesan ke umi," sahut Hira dengan tersenyum.


"Iya, nanti kamu siapkan saja keperluannya. Kita datang ke sana dari Sabtu sore biar kamu bisa lamaan di sana."


Arslan tahu jika sang istri sudah merindukan keadaan pondok. Maklumlah setelah menikah, mereka baru dua kali ke sana. Itu juga karena kesibukan sang suami yang sedang memimpin perusahaan. Keluarga Hira juga sangat mengerti, mereka tidak terlalu memaksakan menantu dan putrinya datang berkunjung.

__ADS_1


“Beneran, Mas? Apa kamu nggak pa-pa? Hari senin ‘kan kamu kerja.”


“Tidak apa-apa, nanti kita bisa pulang subuh.”


Hira mengangguk. Dia memang sudah merindukan kedua orang tua dan seluruh penghuni pondok pesantren. Selama ini wanita itu ingin datang ke rumah orang tuanya dan menginap lebih lama, tetapi selalu tidak bisa karena kesibukan Arslan. Hira dan suaminya hanya bisa menginap semalam saja. Bahkan yag terakhir keduanya tidak menginap, datang pagi pulang sore.


“Senang banget yang bisa menginap di rumah orang tuanya,” goda Arslan sambil mencubit pelan pipi istrinya.


Hira tersenyum malu. “Senang, dong, Mas. Aku juga kangen sama anak-anak di sana. Setiap kali aku datang, pasti mereka juga kedatangan orang tuanya jadi, tidak bisa bertemu. Mudah-mudahan saat aku ke sana, aku bisa bertemu mereka.”


“Amin, mudah-mudahan.”


Makanan pesanan mereka telah datang, keduanya menikmatinya dengan tenang. Sesekali Arslan menyuapi sang istri, begitu pun sebaliknya. Pria itu memperlakukan istrinya dengan begitu baik, membuat orang yang melihat merasa iri.


“Kamu ini makannya sampai belepotan gini,” ucap Arslan sambil mengusap bibir sang istri dengan tisu.


“Hai, Ars! Apa kabar? Lama nggak ketemu. Sudah dapat yang baru, nih? Kira-kira kamu punya rencana apa buat dia? Apa dia juga punya masalah dengan sahabatmu hingga membuatmu memanfaatkannya?” tanya Imel yang kemudian duduk di samping Arslan, sambil melirik sinis ke arah Hira, membuat pria itu geram.


Hubungan Arslan dan Imel memang sudah lama berakhir sejak pencurian DVD dulu. Pria itu juga mengikuti permintaan papanya untuk minta maaf pada Imel dan mengatakan yang sebenarnya. Memang wanita itu belum memaafkannya, tetapi tidak masalah bagi Arslan yang penting dia sudah berusaha meminta maaf.


“Aku baik, sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Aku sedang ingin menikmati makan malam dengan istriku.”


“Istri? Wah, aku tidak menyangka kalau kamu sudah menikah. Apalagi setelah menghancurkan hidupku."


"Aku tidak pernah menghancurkan hidupmu. Kamu sendiri yang menghancurkannya."


Imel geram mendengar apa yang dikatakan Arslan. Wanita itu memang mengakui jika sudah pernah melakukan kesalahan, tetapi sejak mengenal pria itu, dia sudah berniat untuk berubah dan memulai segalanya. Akan tetapi, justru dirinya telah ditipu. Kenyataan yang disampaikan Arslan menjadi tamparan untuknya jika tidak ada orang baik di dunia ini.

__ADS_1


Hira hanya diam mendengarkan apa yang Imel katakan. Wanita itu memang tidak mengenalnya, tetapi dari apa yang dia dengar mungkin ini yang bernama Imel. Arslan memang sudah pernah mengatakan tentang dirinya dan wanita yang bernama Imel. Pria itu sama sekali tidak ingin menutupi apa pun tentang dirinya pada sang istri. Begitu pula dengan Hira yang pernah memiliki perasaan pada Ustaz Ali.


Bagi keduanya, itu bukanlah masalah karena baik Imel maupun ustadz Ali adalah masa lalu. Meskipun Hira sempat kecewa karena sang suami telah membuat seorang wanita sakit hati. Bagaimanapun juga dia juga seorang wanita. Pasti akan merasa terluka jika diperlakukan seperti Imel.


Arslan juga mengatakan jika dirinya sudah meminta maaf, terlepas dari wanita itu mau memaafkannya atau tidak. Imel yang masih saja terdiam di kursi, membuat pria itu merasa tidak nyaman. Dia pun pindah di samping sang istri karena tidak ingin ada kesalahpahaman. Apalagi membuat istrinya sakit hati.


Melihat Apa yang dilakukan Arslan, membuat Imel menatap kedua pasangan suami istri itu dengan penuh rasa iri. Apalagi melihat wanita yang berpenampilan sangat tertutup itu. Semakin besar api yang berkobar di dadanya.


"Apa istimewanya wanita ini dibandingkan aku? Jika dilihat, aku jauh lebih cantik dan seksi, sedangkan dia tidak ada apa-apanya. Kenapa kamu mau menikahinya?' tanya Imel dengan nada sinis.


Namun, bagi Hira pertanyaan seperti itu. Sudah biasa dirinya mendengar penilaian begitu. Dia sama sekali tidak tersinggung.


"Justru karena itu, karena penampilannya yang sederhana yang aku suka. Apalagi kebaikan dan ketulusan hatinya, itu sudah cukup meluluhkan hatiku. Dengan dia berdiam saja, itu sudah sangat memikat hatiku. Tanpa harus melakukan apa pun."


Hira hampir saja tersedak makanannya saat mendengar apa yang dikatakan sang suami. Dia tidak menyangka Arslan akan atakan seperti itu Bukankah itu terlalu berlebihan untuk mengungkapkan tentang dirinya bahkan dia tidak memiliki kelebihan apapun yang disebutkan oleh suaminya tadi.


"Dia? Meluluhkan hatimu? Rasanya tidak mungkin."


"Terserah padamu. Kapan kamu akan pergi dari sini? Jika memang masih lama, sebaiknya aku saja yang pegi."


Arslan hanya ingin menikmati makan malam berdua saja dengan sang istri. Terserah jika orang mengatakan jika dirinya tidak sopan. Dia hanya ingin kenyamanan untuk Hira.


"Baiklah, aku akan pergi, semoga kita bisa bertemu lagi dan saat itu tiba aku harap kamu masih bersama dengan istrimu."


"Tentu, walaupun sebenarnya aku tidak ingin bertemu denganmu lagi."


Arslan sangat mengerti maksud Imel dari kata 'masih bersama'. Namun, dia tidak mau ambil pusing. Terserah apa kata Imel yang penting dia bahagia bersama dengan sang istri.

__ADS_1


.


__ADS_2