Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
22. Ingin pindah


__ADS_3

"Paman Doni, penghasilan tukang ojek berapa, sih?" tanya Ayman saat mereka berada di apartemen. Selama ini pria itu memang selalu ke sana untuk mengerjakan semua pekerjaannya.


"Saya kurang tahu, Tuan. Tergantung jumlah penumpang dan dekat jauhnya," jawab Doni setelah berpikir sejenak. "Memang kenapa, Tuan?"


"Semalam aku kasih Zayna uang dua ratus ribu, dia ngelihat uang itu kayak aneh. Kemarin juga saat aku ngasih seratus ribu, aku pikir itu kurang, makanya aku tambahin. Semalam aku kasih dua ratus ribu, ekspresinya masih sama."


"Saya rasa itu cukup untuk ukuran tukang ojek. Mungkin perasaan Tuan saja," sela Doni.


"Tidak, Paman. Aku sangat tahu ekspresi Zayna. Dia kayak melihat uang itu aneh padahal itu uang asli. Aku baru dua hari yang lalu ambil di ATM."


"Hah! Jadi Tuan memberi uang Non Zayna pakai uang yang Anda ambil dari mesin ATM? Uangnya bentuk seratus ribuan baru?" tanya Doni dengan suara terkejut.


"Iya, Paman. Uangku memang hanya itu. Memangnya kenapa? Sepertinya Paman terkejut sekali padahal bukan sesuatu yang aneh."


"Tuan, semua uang yang dihasilkan tukang ojek itu sudah pasti puluhan ribu atau ribuan. Kalau pun dapat uang seratus ribu, itu cuma sesekali dan uangnya juga sudah lecek. Pantas saja Non Zayna melihatnya aneh." Doni menepuk keningnya.


Dia tidak habis pikir dengan atasannya ini karena tidak berpikir sebelum melakukan kebohongan. Padahal Ayman sangat pintar dalam berbisnis, tetapi untuk hal sekecil itu bisa sampai melakukan kesalahan? Orang pintar memang aneh.


"Jadi aku harus menukarkan uang ke bank lagi?"


"Tidak perlu, Tuan. Kalau di Bank, pasti uangnya baru lagi, lebih baik tukar tukang ojek atau penjual makanan saja."


"Paman benar, nanti aku tukar saat perjalanan pulang saja, tapi, Paman, apa dua ratus ribu tidak terlalu sedikit?"


"Saya rasa tidak, Tuan. Malah kadang mereka hanya dapat lima puluh ribu jika tidak ada penumpang."


Ayman menganggukkan kepala. Ternyata kehidupan ini sangat menyedihkan. Beruntung dia masih memiliki keluarga dan usaha. Banyak di luar sana yang hidup kesusahan.

__ADS_1


Apa pun yang akan terjadi, dia akan berusaha membuat istrinya bahagia. Akan tetapi, mereka harus melewati ujian dari mamanya terlebih dahulu selama satu bulan. Setelah itu, pria itu bebas melakukan semuanya.


"Oh, ya, Paman. Apa mama sudah menentukan rumah kontrakan untukku?" tanya Ayman.


"Sudah, Tuan. Em ... mm ...."


Ayman menatap Doni. Sepertinya ada sesuatu yang begitu penting, tetapi ragu untuk dikatakan.


"Ada apa, Paman? Katakan saja."


"Ada beberapa orang yang memang sengaja dibayar nyonya agar membuat Non Zayna tidak betah di sana," ujar Doni dengan suara lirih.


"Maksudnya?"


"Nyonya membayar beberapa orang yang tinggal di sekitar sana agar nanti membuat ulah dengan Non Zayna. Mereka melakukan apa pun terserah, asal Non Zayna tidak betah dan pergi dari rumah itu."


Setelah berpikir sejenak, Ayman berkata pada Doni untuk diam saja dan pura-pura tidak tahu. Akan tetapi, pria paruh baya itu tetap harus menyelidiki semua rencana mamanya. Dia tidak ingin sampai lengah dan membuat semua berantakan.


Doni meninggalkan Ayman yang sibuk kembali dengan pekerjaannya. Pria itu tahu pasti atasannya lebih mengerti apa yang harus diambil. Untuk saat ini dia hanya bisa mengikuti perintah saja.


*****


"Mas, apa tidak sebaiknya kita mandiri saja," ucap Zanita saat berada di dalam kamar dan akan tidur.


"Maksud kamu apa?" tanya Fahri dengan memicingkan matanya.


"Ya, kita tinggal berdua saja, Mas. Di apartemen atau di mana. Aku juga ingin menjadi istri yang selalu melayani kamu. Hanya kita berdua saja. Aku ingin berbakti sama kamu sepenuhnya," ucap Zanita beralasan. Dia benar-benar tidak bisa melakukan semua pekerjaan itu.

__ADS_1


"Di rumah ini juga kamu bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan. Kamu juga bisa berbakti dan melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan, tanpa harus tinggal di apartemen atau di tempat lainnya."


"Tapi, Mas, kalau di sini kan ada mama dan papa. Aku jadi kurang leluasa saja sebagai seorang istri."


Fahri mulai mengerti tujuan dari sang istri. Sepertinya wanita ini ingin menghindari mamanya. Dia tahu jika Zanita mulai tertekan dengan apa yang Lusi perintah. Secara istrinya tidak pernah melakukan pekerjaan dapur. Semua pekerjaan di rumah mertuanya, Zayna yang mengerjakan.


"Kamu tidak berusaha untuk menghindari pekerjaan di rumah ini, kan?" tanya Fahri yang ingin mendengar pengakuan istrinya.


"Tidak, Mas. Bagaimana mungkin aku seperti itu? Aku cuma ingin mandiri, berdua sama kamu. Apa itu salah? Kita masih muda jadi harus mulai belajar dari awal."


"Tidak perlu, di rumah ini kamu bisa belajar segala hal. Apalagi ada mama yang bisa mengajari kamu. Aku sudah mengatakan sebelumnya, kalau setelah menikah kita akan tinggal di rumahku. Aku sudah berjanji pada mama kalau aku tidak akan pernah meninggalkannya jadi, mau tidak mau kamu harus tetap tinggal di rumah ini. Kalau kamu sudah tidak betah, kamu boleh pergi, tapi aku tidak akan pernah ke mana pun."


"Kok mas bicaranya seperti itu, sih! Aku, kan, istri kamu, seharusnya kamu lebih memilih aku daripada mama dan papa kamu!" ucap Zanita dengan kesal.


"Aku tidak pernah memilih siapa pun. Aku hanya mengatakan apa yang menurutku benar. Aku juga tidak mau memaksamu untuk tetap bertahan di rumah ini, tapi sudahlah, semua pilihan ada padamu. Mau tetap di sini silakan, mau pergi juga silakan. Aku tidak akan pernah menghalangi jalan yang kamu pilih."


Fahri merebahkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia tidur dengan membelakangi sang istri. Pria itu tidak ingin ada perdebatan yang lebih panjang lagi. Yang nantinya malah akan membuat emosinya semakin naik dan tak terkendali.


Selama ini Fahri sudah cukup bersabar menghadapi istri manja seperti Zanita. Dalam situasi seperti ini, pria itu malah semakin mengingat Zayna. Andai saja ... hah, kata andai saja begitu menyakitkan untuknya, tetapi memang itulah kenyataannya.


Zanita yang melihat sang suami membelakanginya hanya bisa tersenyum kecut. Padahal dia awalnya sudah yakin jika Fahri bisa memenuhi keinginannya seperti sebelum-sebelumnya. Namun, siapa sangka jika pria itu sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakannya. Kalau sudah seperti ini Zanita harus bisa menerima tinggal di rumah mertua selamanya.


Dia ragu apa bisa bertahan nantinya dan entah sampai kapan itu terjadi. Keluarga ini kaya, di rumah juga ada ART, tetapi kenapa masih harus ikut repot di dapur? Zayna menghela napas kasar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2