Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
105. Tidak terpengaruh


__ADS_3

“Memang apa salahnya jika dia mahasiswa? Banyak juga mahasiswa di sini yang sudah menikah. Tidak ada larangan, kecuali kalau dia masih SMA. Itu bisa menjadi masalah,” sahut Hanif, dia tidak ingin ada yang menyalahkan Kinan. Jika ada patut disalahkan, itu hanya dia karena pria itu yang mengejar Kinan.


“Iya, Bu. Kampus ini memang membebaskan siapa saja untuk memiliki pasangan karena memang umur mereka sudah waktunya berumah tangga. Kita juga tidak bisa melarang mereka,” sela Pak Munif.


Ibu Lisa terdiam dan pergi dari sana. Wanita itu benar-benar terluka atas apa yang dia ketahui hari ini. Sudah lama dia berharap dan kini harus terhempas begitu saja.


“Kamu tenang saja, kami akan membelamu,” ucap Pak Munif sambil menepuk bahu temannya itu.


“Aku tidak masalah jika harus dipecat dari sini. Yang aku khawatirkan adalah Kinan. Dia masih muda, cita-citanya masih panjang. Aku tidak ingin dia dikeluarkan dari kampus ini.”


“Kalau mengenai itu, Anda jangan khawatir, Pak Hanif. Itu tidak akan terjadi. Pak rektor orang yang bijaksana, pasti bisa menilai masalah dengan benar,” timpal dosen lainnya.


“Benar, sudah kamu tidak perlu khawatir. Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Wajah kamu terlihat pucat, kamu masih sakit?” tanya Pak Munif.


“Iya, kepalaku tiba-tiba pusing. Tadi lupa sarapan dan belum minum obat," jawab Hanif sambil memegangi kepalanya.


“Hah ... gara-gara wanita kamu jadi seperti ini. Biasanya kamu tidak pernah lupa menjaga kesehatan.”


“Ya, kamu tahu sendiri lah bagaimana rasanya. Kamu 'kan sudah menikah, lebih berpengalaman daripada aku.”


“Tapi aku nggak begitu bucin seperti kamu.”


“Ah, terserahlah. Ya sudah, aku balik dulu. Terima kasih semuanya sudah mau membelaku."


"Perlu diantar? Katanya kepalamu pusing, bisa nyetir?"


"Tidak usah, saya bawa sopir. Permisi, assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Hanif pergi meninggalkan kampus dengan membawa beberapa lembar foto tadi. Dia akan mencari siapa pelakunya. Mudah-mudahan ada petunjuk seperti CCTV di sana. Semalam memang sangat ramai. Pria itu tidak memperhatikan sekitar, entah siapa pelakunya.


“Pak Hanif, tunggu!” teriak seorang mahasiswi menghentikan jalan Hanif. Pria itu pun menoleh ke belakang. Ternyata di sana ada Nayla. Hanif sangat tahu siapa wanita itu. Dia harus bersikap biasa saja dan berpura-pura tidak mengenalnya.


“Iya, kamu memanggil saya?” tanya Hanif.


“Apa benar Bapak menjalin hubungan dengan Kinan?” Bukannya menjawab pertanyaan Hanif. Nayla malah balik bertanya.


“Itu tidak ada urusannya denganmu, jadi saya sepertinya tidak perlu menjawab pertanyaanmu.”

__ADS_1


“Tapi, Pak. Kinan itu bukan wanita yang baik. Kenapa Bapak mau sama dia?”


Hanif mengerutkan keningnya, sepertinya sekarang dia sudah mulai paham maksud dari kata-kata Nayla. Pasti wanita ini ingin hubungan pria itu dengan Kinan berakhir. Akan tetapi, Nayla salah. Mungkin jika pria lain pasti akan dengan mudah terpengaruh, tetapi Hanif dari dulu sudah sangat mengenal Kinan. Tidak mungkin pujaan hatinya seperti yang dikatakan Nayla.


Tidak cukupkah Niko untuknya, hingga Nayla perlu menjelekkan Kinan. Entah apa yang diinginkan wanita itu jika hubungan Hanif dan Kinan berakhir.


“Mengenai Kinan wanita baik atau tidak, biarlah itu menjadi urusan saya pribadi. Kamu tidak perlu repot untuk mencari tahu mengenai dirinya. Saya lebih tahu tentang dia daripada kamu.”


“Tapi, Pak. Anda ....”


Hanif mengangkat telapak tangannya agar Nayla berhenti berbicara. Dia terlalu banyak membuang waktu, berbicara dengan wanita itu. Lebih baik pria itu pergi saja. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.


“Sebanyak apa pun kamu berusaha menjelekkan Kinan, justru kamu membuka keburukan dalam dirimu sendiri. Tidak usah mengatakan kejelekan Kinan karena itu percuma. Saya lebih mengenalnya daripada kamu. Simpan saja omong kosong kamu itu untuk pria yang saat ini sudah bersamamu. Saya masih banyak urusan yang lebih penting, daripada berdiri di sini mendengar cerita omong kosong kamu. Permisi.” Hanif pergi meninggalkan Nayla yang masih berdiri menahan kekesalannya.


Sepertinya akan sangat sulit mempengaruhi Hanif. Akan tetapi, Nayla tidak putus asa. Dia akan berusaha untuk membuat hubungan dosennya itu dan Kinan berakhir. Gadis itu tidak rela jika mantan sahabatnya bahagia.


Dari dulu, Nayla memang selalu iri dengan apa yang dimiliki Kinan. Dia merasa lebih baik dari mantan sahabatnya itu, tetapi kebaikan seolah tidak berpihak padanya.


“Kamu kenapa ada di sini, Sayang? Lagi ngelihatin siapa?” tanya Niko sambil menepuk bahu kekasihnya itu. Nayla sedikit terkejut. Namun, berusaha untuk terlihat biasa saja.


“Tidak, hanya tadi ada orang yang nyapa, tapi nggak kenal. Ya sudahlah, ayo, kita kembali!”


*****


“Assalamualaikum,” teriak Kinan saat memasuki rumah.


“Waalaikumsalam, kamu ini, Kinan! ucap salam pelan-pelan bisa, kan! Yang sopan, jangan teriak-teriak,” tegur Mama Aisyah.


“Iya, Ma. Lupa," sahut Kinan yang kemudian duduk di tengah-tengah mama dan kakak iparnya. Mereka sedang asyik menonton acara televisi.


“Kamu itu selalu saja seperti itu, beralasan lupa. Padahal kamu memang sengaja, kan?”


Kinan hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Mama Aisyah memutar bola matanya dengan malas.


“Tumben kamu jam segini pulang, Dhek?” tanya Zayna.


“Iya, sudah nggak ada kelas, ngapain Kalau nggak pulang,” jawab Kinan.


“Biasanya juga nongkrong sama teman kamu," sahut Mama Aisyah.

__ADS_1


“Sekarang tanggal tua, Ma. Sudah bokek, dompet sudah kering, makanya pulang. Makan di rumah lebih enak.”


“Alasan saja, pasti nggak ada teman kamu yang ngajak. Pakai bilang dompet kering. Padahal uang yang dikasih Papa juga lebih dari cukup.”


“Mama tahu aja, deh,” sahut Kinan dengan bersandar di bahu mamanya.


“Kamu sudah makan siang?”


“Belum, Ma.”


“Ya sudah, minta sama Bibi sana!”


“Mama sama Kakak sudah makan siang?”


“Sudah barusan.”


“Kalau gitu, aku nanti saja. Aku masih malas,” ucap Kinan yang kemudian beralih menatap kakak iparnya. “Kak Zayna sudah periksa baby-nya bulan ini?”


“Sudah kemarin sama kakak kamu."


“Yah ... kenapa nggak ajak aku? Aku 'kan pengen lihat keponakan aku.”


“Kamu nggak bilang mau ikut, mana Kakak tahu.”


“Aku pikir masih lama. Bulan depan aku mau ikut, ya!”


“Iya, mudah-mudahan saja kamu nggak sibuk," ucap Zayna yang diangguki Kinan.


Mereka terdiam sambil menonton acara televisi. Tanpa sengaja pandangan Mama Aisyah tertuju pada putrinya. Kinan memang melihat ke depan, tetapi arah pandang matanya tidak ke televisi. Sepertinya sang putri sedang melamun.


“Kamu lagi ada masalah, Kinan?” tanya Mama Aisyah.


“Nggak, Ma. Masalah apa?”


“Kamu terlihat aneh, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Kamu nggak bisa bohong sama Mama.”


“Nggak, Ma,” jawab Kinan dengan mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin menatap mamanya karena sudah dipastikan wanita paruh baya itu akan tahu jika gadis itu sedang ada yang dipikirkan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2