Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
288. S2 - Menjenguk Adam


__ADS_3

“Dhek, besok aku akan menjalani operasi. Kamu doain agar operasinya lancar, ya!” ucap Adam sambil memandangi wajah cantik Zea.


Hanif dan Kinan terpaksa membawa Adam kembali ke kotanya. Sang putra akan menjalani pengobatan di sana saja, termasuk operasi yang akan dijalani nanti. Keduanya juga sudah memindahkan kuliah Zea kembali, setelah sempat terjadi perdebatan panjang karena Hanif masih ingin putrinya kuliah di sana. Mereka juga mengerti bagaimana perasaan gadis itu.


“Tentu, Kak. Aku akan selalu doain kesembuhan untuk Kakak,” sahut Zea dengan tersenyum.


"Zea, kamu belum jawab pertanyaanku yang kemarin."


"Pertanyaan yang mana?" tanya Zea sambil mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak ingat kapan kakaknya menanyakan sesuatu padanya.


"Kemarin aku bertanya, apakah kamu mau menikah denganku jika aku sudah sembuh?"


Zea tersenyum canggung, dia masih ingat pertanyaan itu. Hanya tidak menyangka jika Adam menanyakan lagi di waktu terdekat. Gadis itu bingung harus berkata apa pada kakaknya. Padahal selama ini mereka sangat dekat, apa pun pasti Zea ceritakan pada pria itu, tetapi kini terasa sangat berbeda.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu menolak?"


Zea menggeleng pelan dan menjawab, "Kalau Kakak memang serius dengan keinginan Kakak, sebaiknya Kakak datang menemui waliku dan bertanya padanya. Aku sudah sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada waliku."


Adam tersenyum senang, itu artinya Zea sudah setuju untuk menikah, hanya tinggal meminta persetujuan dari Papa Hanif dan Mama Kinan. Tanpa sang adik minta pun dia pasti akan melakukannya. Saat keduanya sedang serius membicarakan masa depan, pintu kamar terbuka. Masuklah dua wanita kembar, yang selama ini selalu mengusik kehidupan Adam. Siapa lagi kalau bukan Aina dan Aini.


"Apa kabar, Kak Adam?" sapa Aini yang langsung mendekati sepupunya.

__ADS_1


Gadis itu menggenggam telapak tangan Adam dan menanyakan keadaan pria itu. Dia melakukan hal tersebut karena ingin melihat Zea cemburu. Namun, ternyata sepupunya hanya diam sambil memperhatikan saja. Tidak menyerah begitu saja, tingkah Aini semakin dibuat-buat.


Dalam hati Zea benar-benar kesal pada Aini karena seenaknya saja melakukan sesuatu pada kakaknya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa, sepupunya datang untuk menjenguk. Bagaimanapun juga mereka juga masih saudara jadi, tidak masalah jika mereka begitu dekat. Sebelumnya juga mereka seperti itu meskipun sekarang ada rasa yang berbeda.


Aini memang sengaja melakukan hal itu, gadis itu ingin tahu apakah Zea akan cemburu atau tidak. Selama ini setiap apa yang dia lakukan, sepupunya itu akan diam saja. Itulah kenapa tidak ada yang tahu mengenai perasaan Zea. Sekarang semuanya bukan jadi rahasia lagi. Aini ingin tahu apa Zea akan bertindak atau masih diam saja.


"Alhamdulillah, keadaanku sudah lebih baik. Kalian ke sini cuma berdua saja? Arslan nggak ikut sama istrinya?" tanya Adam balik. Sejak kakak si kembar menikah mereka memang jarang bertemu.


"Mungkin nanti sore, Kak. Kak Arslan sekarang lagi kerja."


Zea yang sudah tidak tahan pun akhirnya berdiri dan mendekati Aini. Dia melepaskan tangan sang sepupu pada tangan kakaknya. Gadis itu melirik sinis ke arah si kembar.


"Aku tahu kamu memang sengaja buat panas-panasin aku jadi, kamu nggak usah seperti itu lagi. Karena kamu berhasil membuatku cemburu," ucap Zea sambil cemberut.


"Iya, iya, aku tahu. Pegang sedikit saja nggak boleh, bagaimanapun Kak Adam juga sepupuku," sahut Aini, yang sebenarnya sedang menahan kebutuhannya, tetapi sebisa mungkin dia mencoba untuk ikhlas.


"Cuma sepupu, ya! Tidak lebih."


"Iya, kamu itu posesif sekali," ucap Aini yang kemudian menatap Adam. "Kak Adam, nanti kalau Kakak nggak betah sama dia, Kakak bisa datang padaku. Aku akan buat Kak Adam nyaman bersamaku."


"Aku nggak akan biarin Kak Adam datang padamu, enak saja."

__ADS_1


Aina yang juga berada di sana hanya bisa menggelengkan kepala. Namun, dia senang karena keakraban yang sempat hilang kini kembali lagi. Semoga setelah ini tidak ada masalah yang membuat mereka terpecah belah. Kehangatan dan kebersamaan seperti ini yang membuat semua orang bahagia.


Mereka berempat pun berbincang kesibukan masing-masing, sesekali bercanda. Kedatangan si kembar mampu menghidupkan suasana dan juga menghibur Adam. Tadinya pria itu merasa khawatir dan deg-degan menghadapi operasi yang akan dijalaninya besok. Apalagi dia tidak pernah melihat apalagi mengalaminya. Semoga Adam tidak mempersulit semuanya.


"Assalamualaikum," ucap salam wanita saat memasuki ruangan di mana Adam dirawat.


Semua orang yang berada di sana sempat terkejut melihat kedatangan wanita itu. Siapa lagi kalau bukan Alin. Apalagi keadaan wanita itu dengan perut yang membesar. Semua orang terdiam, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara, hanya gerakan bibir untuk menjawab salam.


"Maaf jika kedatanganku mengganggu. Aku hanya ingin menjenguk Adam sekaligus ingin membicarakan sesuatu," lanjut Alin saat tidak mendapati satu orang menjawab salamnya.


Si kembar dan Zea saling berpandangan, seolah pertanyaan apakah tidak apa-apa jika mereka keluar dan membiarkan Alin berdua saja dengan Adam. Sampai akhirnya Zea pun mengangguk. Menurutnya ini rumah sakit dia yakin wanita itu tidak akan berbuat macam-macam. Apalagi dalam keadaan yang hamil itu, entah anak siapa yang dikandungnya.


"Ya sudah, Kak. Kami tunggu di luar saja, nanti kalau ada apa-apa Kakak teriak saja," ucap Zea yang diangguki oleh Adam.


Bukan maksud pria itu untuk mengusir adiknya. Hanya saja Adam penasaran, apa yang kira-kira ingin dibicarakan oleh mantan kekasihnya itu. Dia juga terkejut dengan keadaan Alin yang tengah berbadan dua. Sebelumnya memang Mama Kinan pernah bercerita jika mantan kekasihnya sudah hamil, saat datang ke rumahnya.


Namun, melihat secara langsung seperti sekarang ini, cukup membuatnya syok, bahkan hampir tidak percaya. Apalagi dengan keadaan Alin yang sepertinya kurang terurus. Zea dan si kembar sudah pergi keluar, mereka menunggu di kursi depan ruangan. Beberapa kali mereka menarik napas dan membuangnya agar rasa gelisah ini berkurang.


Alin mendekati ranjang Adam dan duduk di kursi tempat di mana Zea duduk tadi. "Kamu apa kabar, Adam?"


"Alhamdulillah, sudah lebih baik daripada kemarin. Meskipun saat ini kakiku sedang tidak baik-baik saja. Aku harus menjalani operasi terlebih dahulu."

__ADS_1


"Aku datang ke sini untuk minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan padamu. Padahal selama ini kamu sudah sangat baik kepadaku, tetapi aku dengan tidak tahu malunya malah menginginkan hal yang lebih. Padahal tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Aku menyesal sudah pernah menghianati kamu dan memilih pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Bahkan selama ini hanya memanfaatkanku saja."


Alin menunduk dengan tetesan air mata, menyesali setiap apa pun yang sudah dia lakukan. Adam melihat itu merasa sangat bersalah. Bagaimanapun apa yang terjadi pada Alin itu juga karena keberadaan dirinya. Akmal tidak akan menghancurkan wanita itu jika bukan kekasihnya.


__ADS_2