Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
102. Periksa baby


__ADS_3

“Maaf, jika aku membuatmu kembali mengingat luka itu,” ucap Hanif sambil mengusap air mata Kinan dengan telapak tangannya.


Tidak ada yang lebih menyakitkan kala luka lama itu kembali terbuka. Jika luka fisik, cukup diberi obat akan sembuh dengan begitu mudah. Berbeda dengan luka di dalam hati, yang akan sembuh dengan hati pula. Akan tetapi, Kinan takut jika dia membuka hati, maka akan terluka lagi.


“Tidak apa-apa, aku saja yang terlalu cengeng,” sahut Kinan dengan mencoba tersenyum.


“Sudah malam, ayo, kita pulang! Tante Aisyah pasti nungguin kita.”


Kinan mengangguk, keduanya berdiri dan berjalan beriringan menuju mobil. Saat hampir sampai, ada seorang pengendara motor yang hampir saja menabrak Kinan. Hanif yang sadar akan hal itu, segera menarik gadis pujaan hatinya hingga keduanya terjatuh di tepi jalan.


Posisi Kinan saat ini berada di atas tubuh Hanif, pandangan keduanya bertemu. Ada sesuatu debaran rasa yang tidak bisa digambarkan. Tubuh mereka terasa kaku, sangat sulit digerakkan. Seolah jika ada pergerakan sedikit saja, akan menghilangkan keindahan di depan mata.


Wajah mereka begitu sangat dekat. Pandangan mata keduanya begitu tajam, hingga menusuk ke dalam hati. Tanpa sadar Hanif dan Kinan mendekatkan wajah mereka. Embusan napas keduanya semakin berat. Terasa sulit menggambarkan perasaan masing-masing.


Hingga suara dari orang sekitar yang datang ingin menolong, membuat mereka tersadar. Kinan segera bangun, begitu juga dengan Hanif. Keduanya terlihat salah tingkah. Bagaimana bisa mereka lupa jika saat ini berada di depan umum. Hampir saja keduanya melakukan tindakan tidak terpuji. Untung saja orang-orang menyelamatkannya.


“Kalian tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Hanif dengan sedikit gugup. Pria itu meringis kecil kala dia menyentuh sikunya, ternyata ada yang lecet di sana.


“Siku Anda terluka, sebaiknya diobati dulu.”


“Tidak perlu, Pak. Ini sudah malam, kami harus segera pulang. Terima kasih atas perhatiannya. Kami permisi, assalamualaikum,” ucap Hanif yang segera mengajak Kinan pulang.


Gadis itu mengangguk dan berterimakasih pada warga sekitar. Dia mengikuti Hanif memasuki mobil dan meninggalkan lokasi.


Selama perjalanan, keduanya terdiam. Mereka masih malu dengan apa yang terjadi tadi. Hingga ringisan Hanif membuat Kinan menoleh. Gadis itu merasa bersalah karena semua ini karena dirinya. Jika dia lebih berhati-hati pasti tidak akan seperti ini.


Kinan juga kesal dengan pengendara motor tadi yang lari begitu saja, tanpa meminta maaf. Gadis itu juga tidak akan menuntut apa pun, tetapi setidaknya sebagai pengendara yang baik, harus bertanggung jawab jika melakukan kesalahan. Bukan malah lari begitu saja dan meninggalkan korbannya.


“Mas, kita sebaiknya cari apotik dulu, itu siku kamu perlu diobati,” ucap Kinan.


“Tidak apa-apa, nanti saja. Aku tidak ingin menghancurkan kepercayaan Tante Aisyah karena telat pulang. Tadi 'kan Tante Aisyah sudah wanti-wanti, nggak boleh pulang larut."


“Ini masih jam sembilan, Mas. Lagi pula Mama pasti mengerti.”

__ADS_1


“Apa pun alasannya, aku tidak ingin Tante Khawatir.”


Kinan tidak lagi berbicara. Percuma juga berdebat dengan pria itu. Hanif sangat keras kepala, apa pun yang dia katakan, pasti pria itu tidak akan terpengaruh.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup, akhirnya mereka sampai juga di rumah Kinan. Hanif sebenarnya tidak ingin turun, tetapi gadis itu memaksa dengan alasan mamanya sedang menunggu. Benar saja, Mama Aisyah dan Papa Hadi sedang duduk di ruang tamu.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, kalian sudah pulang?”


tanya Mama Aisyah.


“Iya, Tante. Saya mau mengantar Kinan,” sahut Hanif.


“Ayo, duduk dulu!”


“Tidak perlu, Tante. Saya langsung pulang saja.”


“Jangan dulu, dong. Kamu harus obatin siku kamu, nanti infeksi,” sela Kinan.


“Memangnya kenapa dengan siku Hanif?” tanya Mama Aisyah sambil melihat ke arah siku pria itu.


“Kamu kebiasaan, kalau jalan pasti melamun, sampai nggak lihatin jalan,” tegur Mama Aisyah.


“Tidak apa-apa, kok, Tante. Ini hanya luka kecil,” sela Hanif.


“Jangan menyepelekan luka. Kinan benar, lukamu harus diobati dulu biar nggak makin parah,” ucap Mama Aisyah. “Kinan, kamu ambil obatnya di ruang tengah. Ada di laci sebelah kanan.”


“Iya, Ma." Kinan pun segera mengambil kotak obat di tempat yang sudah ditunjukkan oleh mamanya. Gadis itu kembali dan menyerahkan kotak obat pada mamanya.


“Kok, diserahkan sama Mama, ya, kamu obatin dong Hanif-nya. Dia jatuh juga gara-gara nolongin kamu, kenapa malah dikasih ke mama?”


Kinan hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal. Mau tidak mau, akhirnya dia duduk di samping Hanif dan mengobati siku pria itu. Kalau tidak, mamanya akan mengomel sepanjang malam dan tidak akan membiarkannya istirahat. Bukannya gadis itu tidak mau mengobati luka Hanif, tetapi Kinan merasa malu karena kejadian tadi. Bahkan hingga kini pun hatinya semakin gelisah dan gugup.


“Aduh!” rintih Hanif.

__ADS_1


“Hati-hati, Kinan. Pelan-pelan saja," tegur Mama Aisyah.


“Iya, Ma. Ini juga pelan-pelan, Mas Hanif saja yang berlebihan. Katanya luka kecil, tapi meringis juga," gerutu Kinan. Ini gara-gara Hanif yang tidak mau diobati di luar tadi dan sekarang, lihatlah dia dapat ceramah panjang.


“Kamu nggak boleh gitu. Meskipun luka kecil, tapi juga kalau diobatin pasti terasa sakit. Sudah jangan banyak bicara lagi, kamu obati Hanif saja.”


Kinan memutar bola matanya malas, tetapi tetap melanjutkan mengobati Hanif setelah selesai, pria itu pamit pada Papa Hadi dan mama Aisyah. Sudah sangat malam juga, tidak baik terlalu larut di rumah orang.


*****


“Nyonya Zayna,” panggil seorang suster.


“Iya, suster, saya di sini,” sahut Zayna.


“Silakan masuk, dokter sudah menunggu."


Hari ini Zayna ditemani sama suami memeriksakan kandungannya. Ayman sangat meunggu hari ini. Untuk pertama kalinya, dia menemani sang istri periksa. Pria itu sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana keadaan calon anaknya.


“Selamat pagi, Nyonya Zayna dan Tuan Ayman,” sapa Dokter.


“Selamat pagi, Dokter.”


“Apa tadi di luar sudah ditimbang berat badannya?”


“Sudah, Dokter.”


“Kalau mengenai keluhan, apa yang Anda rasakan saat ini?”


“Tidak ada keluhan apa pun. Saya malah doyan makan, Dokter. Saya jadi takut makin gemuk.”


“Ibu hamil, berat badannya bertambah itu wajar, Bu. Asal tidak terlalu berlebihan saja. Dari yang saya lihat, berat badan Anda Masih normal, jadi tidak perlu khawatir.”


“Syukurlah kalau begitu, tapi sekarang saya jadi pemalas. Pengennya tiduran dan makan. Berbeda sekali dengan aku yang dulu," ujar Zayna yang merasa sedih.


Sebagai wanita yang dari kecil selalu berputar di dapur, ada rasa berbeda kala dirinya yang kini enggan menyentuh alat dapur. Semua orang memang tidak ada yang keberatan, hanya saja dia sendiri yang kesal.

__ADS_1


.


.


__ADS_2