
Ayman mengajak istrinya untuk menaiki mobil dan meninggalkan perempuan itu. Pria itu benar-benar kesal. Padahal dia masih ingin menikmati waktu bersama dengan istrinya, tetapi ada saja yang mengganggunya.
Dia berencana akan mengajak Zayna berkeliling lagi di sana, tetapi pria itu tahu pasti nanti Fani akan kembali mengusiknya. Lebih baik mencari tempat lain yang lebih nyaman. Ayman masih ingin membuat istrinya bahagia.
"Kamu mau ke mana lagi, Sayang?" tanya Ayman setelah beberapa menit terdiam.
"Pulang saja, Mas. Aku juga sudah capek. Memangnya kamu mau ke mana lagi?"
"Aku terserah kamu," jawab Ayman. "Padahal tadi aku sudah pamit sama mama kalau kita akan pulang malam, loh. Beneran mau pulang?"
"Iya, Mas. Kita pulang saja, kapan-kapan kita bisa jalan-jalan lagi, tadi kamu bilang begitu, kapan pun kita bisa pergi lagi."
"Iya, ya sudah. Ayo, kita pulang!" Ayman pun melajukan mobilnya menuju rumah.
Sebenarnya Ayman juga lelah, tetapi demi melihat istrinya bahagia, dia rela melakukan semuanya. Baginya kebahagiaan Zayna adalah obat lelah untuknya. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi itulah yang pria itu rasakan.
"Mas, tadi itu siapa?" tanya Zayna ditengah perjalanan.
"Siapa? Fani?" tanya Ayman yang diangguki oleh Zayna. "Dia dulu temanku dari SMA sampai kuliah. Dia sudah berkali-kali menyatakan cinta padaku, tapi aku sudah menolaknya karena bagiku Aku tidak ingin menjalin hubungan sebelum menikah. Emm ... bahkan dia pernah nekat menawarkan tubuhnya."
Zayna terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka ada wanita yang sangat agresif. Dirinya saja saat baru menikah merasa malu pada Ayman. Dia akui suaminya memang sangat tampan, tetapi sebagai wanita, Zayna tidak mau mengejar cinta Ayman seperti layaknya wanita murah*n.
"Kenapa diam, Sayang? Apa ada yang salah? Aku hanya mengatakan yang sejujurnya."
"Tidak, Mas. Hanya saja aku merasa aneh, kenapa ada wanita yang sampai merendahkan dirinya agar bisa bersama dengan pria yang dicintainya?"
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkannya. Itu urusan mereka."
Zayna pun mengangguk dan tidak bertanya lagi. Meski dalam hatinya dipenuhi berbagai pertanyaan. Tidak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman rumah. Tampak ada sebuah mobil yang terparkir di sana.
__ADS_1
Ayman sangat tahu siapa pemilik mobil itu. Apalagi ada sopir yang dia kenal duduk di teras rumahnya. Pria itu hanya bisa menahan napas sejenak guna meredakan gejolak dalam hatinya. Zayna merasa aneh, sepertinya sang suami memiliki masalah dengan pemilik mobil itu, tetapi dia tidak ingin bertanya. Biarlah pria itu sendiri yang menceritakannya.
Keduanya turun dari mobil dan memasuki rumah dan benar saja, di dalam ada seorang wanita yang sedang duduk bersama dengan Mama Aisyah. Sepertinya mereka asyik sekali hingga membuat mertua Zayna tersenyum mendengarkan apa yang dibicarakan oleh wanita itu.
Ayman menggenggam tangan Zayna. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya kini sudah memiliki seseorang yang mengisi hatinya. Pria itu tidak ingin memberi harapan pada wanita manapun. Sekali pun perbuatannya menyakiti orang lain, tetapi baginya itu lebih baik.
"Assalamualaikum," ucap Ayman dan Zayna bersamaan. Seketika menghentikan pembicaraan kedua wanita berbeda usia itu.
"Waalaikumsalam, kalian sudah pulang?" tanya Mama Aisyah sedikit gugup.
"Iya, Ma."
"Ayman, apa kabar? Lama tidak bertemu," sapa wanita yang bernama Wina dengan tersenyum. Dia berdiri dan berjalan mendekati pria itu.
"Baik, oh ya, kenalkan ini istriku, Zayna."
Wanita yang bernama Wina itu seketika menoleh ke arah Zayna. Dia terkejut mendengar Ayman sudah menikah. Tidak ada yang memberi tahunya mengenai hal itu. Bahkan dari tadi Mama Aisyah pun tidak bercerita mengenai pernikahan Ayman.
"Apa itu penting untukmu? Apa aku harus menjelaskan semua tentang siapa istriku kepadamu? Aku rasa kita tidak dalam hubungan yang harus menjelaskan satu sama lain."
Wina terdiam mendengar ucapan Ayman, tetapi bukankah sebelumnya Mama Aisyah dan mamanya sudah sepakat ingin menjodohkan mereka, lalu bagaimana bisa Ayman sekarang sudah menikah?
Kedatangannya ke sini atas perintah mamanya untuk membahas kelanjutan hubungan dirinya dan Ayman. Namun, sekarang pria itu datang dengan memperkenalkan wanita lain sebagai istrinya. Bagaimana dengan Wina? Wanita itu sudah menunggu momen ini sejak lama.
"Kami harus segera istirahat, kami sangat lelah. Silakan kamu berbincang dengan mama."
Ayman menarik tangan istrinya dan segera berlalu dari ruang tamu. Dia tidak ingin mendengarkan kata-kata lebih panjang lagi. Biarlah Mama Aisyah yang menjelaskan tentang statusnya. Pria itu percaya mamanya pasti akan menjelaskan dengan bijak. Meski wanita itu belum menyukai Zayna.
"Tante, apa benar yang katakan oleh Ayman? Apa itu benar-benar istrinya?" tanya Wina pada Aisyah setelah Ayman dan Zayna tidak terlihat.
__ADS_1
Mama Aisyah terdiam, tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Melihat keterdiaman wanita paruh baya itu membuat Wina mengerti tanpa harus dijelaskan. Jika memang Ayman sudah menikah, kenapa mamanya dan Mama Aisyah ingin menjodohkan mereka? Bukankah ini sama saja dengan mempermalukan dirinya?
Jangan-jangan mamanya tidak tahu mengenai pernikahan Ayman. Sepertinya ada yang tidak beres di sini. Apa mereka menikah siri? Apa keluarga tidak memberi restu hingga mereka menikah secara sembunyi-sembunyi?
Berbagai pertanyaan ada di kepala Wina. Dia tidak bisa tinggal diam saja. Wanita itu sudah melabuhkan hatinya pada Ayman. Semua akan diusahakannya.
"Apa, Tante, bisa menjelaskannya padaku? Kalau Ayman sudah menikah, kenapa Tante dan mama menjodohkan kami?" tanya Wina dengan pandangan kecewa.
"Maafkan Tante, saat rencana itu dibuat, Ayman belum menikah. Ayman baru menikahi istrinya sekitar satu bulan yang lalu. Itu pun hanya akad nikah saja. Mereka belum mengadakan resepsi."
"Jadi mereka benar-benar sudah menikah resmi? Dan perjodohan itu hanya omong kosong?" Wina tersenyum miris mendengar permainan ini. "Jika memang Ayman sudah menikah. Kenapa, Tante, tidak menjelaskan padaku dan mama jika perjodohan ini batal?"
"Tante masih mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya."
Wina sungguh terluka mendengar apa yang sudah terjadi. Hubungan mamanya dan Aisyah sangat baik. Jika saat ini dia pulang dan mengatakan pada mamanya apa yang sudah terjadi, sudah dipastikan akan terjadi perselisihan.
Mamanya Wina, orang yang mudah emosi. Meski sebenarnya dia orang yang baik. Dulu mereka bertetangga, tetapi saat bisnis papa Ayman berkembang, keluarga pria itu pindah. Akan tetapi, komunikasi mereka tetap berjalan. Tidak jarang Wina datang ke rumah dan menginap di sana.
"Malam ini bolehkan, Tante, aku menginap di sini? Aku tidak mungkin pulang saat ini. Mama pasti akan mencecarku dengan banyak pertanyaan."
"Jadi, kamu tidak akan memberitahu mamamu?"
"Ini masalah mama dan Tante. Aku tidak ingin ikut campur. Sebaiknya Tante segera menyelesaikannya. Jangan sampai Mama tahu dari orang lain dan membenci Tante."
Wina sudah memutuskan, biarlah itu menjadi urusan para orang tua. Dia tidak ingin ikut campur. Meski sebenarnya gadis itu ingin sekali melampiaskan amarahnya.
.
.
__ADS_1
.