
“Assalamualaikum,” ucap Kinan saat memasuki rumah. Baru saja dia pulang dari kampus.
“Waalaikumsalam,” sahut Mama Aida yang berada di ruang keluarga bersama Adam.
Kinan mendekati mertuanya dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Dia mendekati Adam dan mengusap kepala anak itu.
"Adam, seharian main sama Oma?" tanya Kinan yang diangguki oleh anak itu.
"Ma, aku mau ajak Adam nengokin Baby Ars boleh, kan? Atau Mama mau ikut sekalian?" tanya Kinan pada mertuanya.
"Tidak, kalian pergi berdua saja. Mama mau di rumah, badan Mama juga rasanya nggak enak."
"Mama sakit? Mau diantar ke dokter?"
"Tidak usah, kalian pergi saja. Mama cuma sedikit lelah saja." Mama Aida berkata sambil tersenyum. Wanita itu tidak ingin membuat menantunya khawatir.
"Ya sudah, Adam mau ikut Tante ke rumah adik bayi?" tanya Kinan.
"Mau, Tante."
"Sekarang mainannya dibereskan dulu. Setelah itu, kamu siap-siap, ya!"
Anak itu mengangguk dan membereskan mainannya, sementara Kinan pergi ke kamarnya, untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Dia juga sudah sangat merindukan Baby Ars. Selama beberapa hari menemani Adam di rumah sakit, wanita itu sama sekali tidak melihat keadaan keponakannya.
Biasanya Kinan selalu datang berkunjung untuk sekadar bertemu Baby Ars atau memang ada keperluan dengan keluarga. Setelah membersihkan diri, wanita itu memanggil Adam yang ada di kamarnya. Dia tersenyum melihat penampilan anak itu yang sudah terlihat sangat rapi.
Kinan senang melihat Adam yang sangat cekatan dalam melakukan setiap hal. Terkadang dirinya merasa malu pada anak itu. Setiap pekerjaan apa pun yang dia perintahkan, anak itu mampu melakukannya dengan cepat. Berbeda dengan dirinya yang terkadang suka malas.
"Kamu sudah siap?" tanya Kinan.
"Sudah, Tante. Aku sudah rapi, kan? Aku tidak mau membuat Tante malu." Adam memperhatikan dirinya sendiri dan melihatnya dari pantulan kaca.
"Tentu saja tidak. Apa pun yang kamu pakai asalkan bersih dan rapi, itu sudah cukup. Kamu juga tidak membuat Tante malu," jawab Kinan yang tidak ingin Adam merasa bersalah. "Ayo, kita berangkat! Kita juga nggak bisa lama-lama di sana. Nanti sore harus segera pulang, nanti Om Hanif cariin kita."
"Iya, Tante."
Kinan pun menggandeng tangan anak itu. Keduanya berjalan keluar bersama. Di ruang keluarga, masih ada Mama Aida yang sedang menonton televisi. Mereka berpamitan pada wanita itu.
"Mama beneran nggak mau ikut?" tanya Kinan karena biasanya mertuanya itu selalu senang diajak bertemu dengan Baby Ars, tetapi hari ini tiba-tiba saja menolak.
__ADS_1
"Iya, nggak usah. Kalian berdua saja, kapan-kapan Mama mau ikut."
"Kami berangkat dulu, kalau Mama perlu sesuatu, hubungi saja aku. Nanti aku cariin atau mau titip sesuatu?"
"Nggak perlu, kalian jaga diri baik-baik. Hati-hati di jalan."
"Iya, Ma. Kita pergi dulu." Kinan mencium punggung tangan mertuanya, diikuti oleh Adam.
Keduanya pergi meninggalkan rumah itu setelah mengucapkan salam. Sepanjang perjalanan, Adam terlihat senang. Beberapa kali dia bertanya pada Kinan, dirinya akan berkunjung ke rumah siapa dan seperti apa pemilik rumah itu. Kinan pun menceritakan jika mereka akan pergi ke rumah orang tuanya.
Di sana juga ada kakak dan juga kakak iparnya. Ada juga sang keponakan yang baru lahir. Adam mendengarkan semuanya dengan baik. Seperti biasa, dia tidak mau membuat ulah, yang nantinya akan membuat Kinan marah.
"Di sana tidak ada mainan buat anak seusia kamu, ada cuma mainan buat anak bayi. Kamu nggak pa-pa, kan?" tanya Kinan yang takut jika Adam akan bosan di sana.
"Nggak pa-pa, Tante. Aku sudah biasa nggak ada mainan juga. Nanti aku bisa jagain adik bayi."
Kinan tersenyum dan mengangguk. "Tapi adik bayinya nggak bisa diajak bicara, apalagi bermain. Dia hanya bisa menangis jika ada sesuatu yang dia inginkan jadi, Adam harus sabar nanti, ya?"
"Iya, Tante."
Sebenarnya tujuan Kinan mengajak Adam karena ingin memperkenalkan anak itu dengan keluarganya. Meski saat ini di rumah hanya ada Mama Aisyah dan Zayna, itu tidak masalah. Kinan akan memperkenalkan mereka satu persatu.
"Rumah Tante bagus sekali, sama seperti rumah Oma Aida," ucap Adam sambil melihat rumah di depannya dan juga sekeliling.
"Ini bukan rumah Tante, tapi rumah kedua orang tua Tante."
"Iya, itu maksudnya."
"Ayo kita masuk! Nanti Tante kenalin sama mereka. Kamu belum sempat kenalan sama mereka kemarin karena adik bayi juga lagi sakit."
Adam mengangguk dan berjalan mengikuti ke mana Kinan melangkah. Begitu sampai di depan pintu, wanita itu menekan tombol bel di samping pintu. Tidak berapa lama, akhirnya ada seseorang yang membukanya. Tampak Zayna yang sedang membukakan pintu.
"Assalamualaikum, Kak. Apa kabar?" sapa Kinan pada kakak iparnya sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam, Kakak baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Zayna balik.
"Alhamdulillah, baik juga. Kenalin ini Adam. Adam, Ayo Salim sama Tante Zayna!" perintah Kinan pada Adam.
"Halo, Tante. Nama saya Adam," ucap anak itu sambil mencium punggung tangan Zayna.
__ADS_1
"Halo juga, ayo kita masuk! Kita ke taman samping rumah saja. Kebetulan Baby Ars ada di sana bersama dengan Mama Aisyah."
"Iya, ayo!"
Zayna mengajak Kinan dan Adam menuju taman di samping rumah.
Kinan tersenyum melihat keberadaan mamanya yang sedang duduk di kursi taman sambil menggendong Baby Ars. "Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam. Eh, kamu Kinan. Ini siapa anak ganteng ini?" tanya Mama Aisyah saat melihat keberadaan anak kecil di sana.
"Adam, ayo, kenalin diri dulu sama oma Aisyah," perintah Kinan.
Adam pun mendekati Mama Aisyah dan bersalaman dengannya. "Assalamualaikum, Oma. Namaku Adam."
"Ganteng sekali, kamu. Kinan kamu ambilin makanan di kulkas. Di sana banyak cemilan buat Adam, biar dia nggak bosen."
"Mama, aku kan baru sampai," sahut Kinan sambil cemberut.
"Biar aku saja yang ngambil, Ma. Adam mau ikut sama Tante? Mau ambil makanan, kamu bisa ambil kesukaan kamu," sela Zayna.
Anak itu menatap ke arah Kinan, yang dijawab dengan anggukan oleh wanita itu. "Iya, Tante."
Zayna pun mengajak Adam ke dalam untuk mengambil beberapa cemilan, sementara Kinan masih duduk di samping mamanya yang sedang menggendong Baby Ars.
"Baby Ars sudah baik-baik saja, Ma?" tanya Kinan sambil memperhatikan keponakannya.
"Iya, sudah baik. Namanya juga anak kecil, pasti juga mudah sekali sakit, tapi syukurlah anak ini juga mudah sembuh."
"Kemarin aku nggak sempat ke sini karena masih menjaga Adam di rumah sakit."
"Iya, Mama juga ngerti. Mengenai anak itu, apa belum ketemu sama orang tuanya, Kin?"
"Belum, Ma. Aku juga baru tahu kalau ternyata dia memang sengaja dibuang sama orang tuanya jadi, nggak mungkin bisa ketemu juga, kecuali kalau ada orang lain yang mengenalinya."
Mama Aisyah menatap sang putri yang beberapa kali mengembuskan napas pelan. Sepertinya memang sulit menemukan orang tua dari anak itu.
.
.
__ADS_1