Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
74. Berikan dia waktu


__ADS_3

Sementara di luar kamar, Mama Savina dan Ayman tidak kalah miris mendengarnya. Pria itu tadinya ingin jalan-jalan, membatalkan niatnya karena gerimis. Saat akan ke kamar dia melihat mama mertuanya berdiri di samping pintu kamarnya. Dia yang penasaran pun ingin bertanya. Namun, wanita itu meletakkan jari telunjuknya di bibir.


Keduanya mendengar semua pembicaraan antara papa dan anak itu. Ayman tidak menyangka Zayna mengalami itu semua. Dia jadi merasa bersalah karena semalam sudah memaksa istrinya, tanpa tahu bagaimana perasaan wanita itu.


Mama Savina terisak sambil menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak keluar. Rasa bersalah pada anak sambungnya kembali hadir. Dia akui jika memang apa yang dikatakan Zayna memang benar. Wanita itu sama sekali tidak pernah peduli pada keadaan putri sulung keluarga ini.


Waktu memang tidak bisa diputar. Mama Savina ingin menebus semua kesalahannya saat ini. Jika Zayna membencinya, dia akan menerima karena dirinya memang pantas mendapatkannya.


"Maafkan Papa. Kata maaf saja memang tidak cukup untuk mengobati lukamu. Papa akan menebus semua kesalahan yang Papa lakukan selama ini," ucap Papa Rahmat setelah tangis mereka reda.


"Dengan cara apa? Berbuat baik? Mengabulkan keinginanku? Atau memberikanku mainan? Sayangnya waktu tidak bisa diputar kembali," sahut Zayna sinis. "Sebaiknya Papa keluar. Aku ingin istirahat."


Zayna membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Papa Rahmat. Air mata menetes dari sudut matanya. Luka itu kembali berdarah. Mungkin kali ini tidak akan bisa disembuhkan.


Papa Rahmat ingin bicara lagi, tapi melihat Zayna yang sudah tidak ingin diganggu pun mengurungkan niatnya. Pria itu memilih ke luar. Nanti dia akan bicara lagi dengan putrinya itu di waktu yang tepat.


Papa Rahmat sudah keluar dari kamar Zayna. Dia bisa melihat Mama Savina yang sudah menangis. Pria itu juga melihat menantunya yang masih berdiri di sana. Papa Rahmat menggenggam telapak tangan istrinya, mencoba untuk saling menguatkan.


Pria itu memberi kode pada Mama Savina dan Ayman untuk pergi dari sana. Dia tidak ingin Zayna melihat keberadaan mereka yang nantinya malah akan semakin menambah masalah. Ketiga orang itu memutuskan untuk pergi ke belakang rumah untuk berbincang sejenak di sana.


Sesampainya, Mereka duduk di kursi yang tersedia. Ketiganya sama-sama terdiam. Tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.


"Maafkan Mama. Mama yang sudah membuat Zayna begitu membenci Papa. Itu semua salah Mama. Seharusnya Mama bisa menyayangi Zayna seperti anak Mama sendiri," ucap Mama Savina yang kembali menangis.

__ADS_1


Papa Rahmat segera memeluk sang istri dan berkata, "Tidak usah dibahas lagi. Itu semua sudah berlalu. Yang penting sekarang, bagaimana cara kita menebus semua kesalahan yang kita lakukan sebelumnya. Terlalu banyak kesalahan kita pada Zayna. Kata maaf saja tidak akan bisa menebus semuanya."


Mama Savina mengusap air matanya. Benar apa yang dikatakan suaminya. Mereka harus menebus apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Terlalu banyak dosa yang mereka lakukan terlebih dirinya sendiri yang memulai.


"Apa Papa punya rencana?"


"Belum ada. Papa juga bingung harus bagaimana."


"Maaf, jika saya menyela. Zayna adalah wanita yang baik. Dia pasti akan memaafkan Papa dan Mama, tapi dari yang saya lihat sekarang, dia hanya butuh waktu. Berikan dia ketenangan terlebih dahulu. Jangan memaksanya agar bisa menerima semuanya dengan begitu mudah. Luka di dalam hatinya begitu dalam, tidak bisa kalau dengan memaksanya," sela Ayman.


"Jadi maksudmu, kita membiarkannya begitu saja?" tanya Papa Rahmat.


"Bukan membiarkannya, Pa, tapi memberi Zayna waktu. Aku yakin akan ada waktu di mana dia bisa ikhlas menerima semuanya. Kalau diperbolehkan, saya ingin membawa Zayna pulang ke rumah saya terlebih dahulu. Di saat Hatinya sudah tenang dan bisa berpikir dengan jernih, saya sendiri yang akan bicara dengannya dan mengajaknya ke sini. Semoga saja dia bisa memaafkan kesalahan Papa dan Mama."


"Kalau mengenai itu, aku juga tidak tahu. Semua itu kembali pada Zayna. Dia yang punya hak atas dirinya, mau memaafkan atau tidak, yang penting untuk saat ini ketenangan untuk Zayna. Nanti Papa dan Mama bisa berusaha untuk meminta maaf padanya. Bukankah Papa dan Mama ingin menebus kesalahan pada Zayna? Apa salahnya jika nanti kalian memohon padanya. Saya rasa juga itu perlu. Tidak peduli kalian orang tuanya atau tidak, setiap orang yang salah tetap harus meminta maaf, kan?"


Papa Rahmat dan Mama Savina mengangguk. Ayman benar, mereka harus berusaha mendapat maaf dari Zayna atas kesalahan yang selama ini keduanya lakukan. Bukan hanya mereka berdua, tapi juga kesalahan yang pernah Zanita dan almarhumah Zivana lakukan.


Ayman berharap mertuanya mengerti keputusannya. Dia tidak tega melihat wajah sedih istrinya. Semoga dengan membawanya pergi, bisa membuat Zayna melapangkan hatinya.


"Jika itu memang keputusan yang terbaik, Papa menurut saja. Mudah-mudahan nanti dia mau memaafkan kesalahan kami," ucap Papa Rahmat.


"Amin, semoga saja, Pa."

__ADS_1


Pintu rumah diketuk seseorang. Ayman pun ke luar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata kurir makanan yang mengantar pesanannya tadi. Pria itu pun membawanya ke ruang makan. Kedua mertuanya datang menghampiri.


"Siapa yang datang, Man?" tanya Mama Savina sambil mendorong kursi roda sang suami.


"Pengantar makanan, Ma," jawab Ayman. "Papa sama Mama sarapanlah dulu. Aku akan membawa sarapan untuk Zayna ke kamarnya. Dia pasti tidak mau jika aku minta dia ke sini."


Papa Rahmat dan Mama Savina sama-sama mengangguk. Mereka mengerti akan hal itu. Keduanya juga pasti akan melakukan hal yang sama saat hatinya terluka.


Ayman membawa dua kotak makanan ke kamar. Satu untuk Zayna dan lainnya untuk dia sendiri. Pria itu mengetuk pintu yang kemudian dilanjut dengan membukanya. Dia melihat sang istri membelakangi pintu dengan bahu yang bergetar. Itu tandanya Zayna sedang menangis.


"Sayang," panggil Ayman sambil mengusap lengan istrinya.


"Hmm," gumam Zayna menyahut panggilan sang suami.


Ayman yang tahu jika istrinya sedang tidak baik-baik saja pun ikut berbaring di samping wanita itu dan memeluknya dari belakang. Seketika membuat tangis Zayna semakin terdengar. Ayman merasa teriris mendengarnya. Selama ini dia berusaha agar sang istri tidak lagi mengeluarkan air mata karena kesedihan, tetapi kini Zayna justru sangat terluka.


"Menangislah, tumpahkan semua yang ada di dadamu," bisik Ayman membuat Zayna berbalik dan menenggelamkan kepalanya di dada sang suami. Tempat ternyaman dia selama ini, yang tidak wanita itu dapatkan dari keluarganya terutama sang papa. Zayna bersyukur, setidaknya ada seseorang yang bisa dia jadikan sandaran.


Ayman mengusap punggung sang istri. Sesekali mencium keningnya. Dia ingin memberi waktu pada wanita itu terlebih dahulu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2