Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
171. Dosen baru


__ADS_3

“Kinan, kamu ngagetin aja!” seru Farah yang kemudian meminum minumannya.


Dia tadi sedang berada di kantin. Tiba-tiba saja Kinan datang dan duduk begitu saja di depan gadis itu. Tentu saja membuat Farah terkejut.


“Bagaimana tadi? Apa kamu dapat hukuman dari dosen ganteng itu?” tanya Fara setelah meminum minumannya.


“Ganteng apanya? Gitu aja ganteng. Masih gantengan Mas Hanif ke mana-mana juga.”


“Dia itu ganteng banget tahu! Mungkin menurut kamu tidak karena memang kamu sudah punya suami. Jadi kalau lihat laki-laki lain tuh berasa nggak ada nilainya selain suami kamu, tapi bagi jomblo sepertiku ini, dosen tadi itu benar-benar keren. Meskipun auranya sedingin es balok dan tatapannya juga tajam sekali sampai menusuk jantungku, tetap saja dia ganteng.”


“Terserah kamu lah," pungkas Kinan yang terlalu malas membahas dosennya. Pria itu sudah membuatnya menahan emosi. Entah berapa tensinya kini.


“Jadi bagaimana tadi? Kamu dihukum?”


“Enggak, aku disuruh duduk lagi dan mendengarkan penjelasannya. Sebenarnya dia juga mempersulit aku tadi.”


“Mempersulit bagaimana?”


“Masa dia baru jelasin dikit terus nanya ke aku panjang lebar. Untung saja suamiku yang baik hati dan tidak sombong selalu mengajariku di malam hari, semuanya bisa teratasi dengan baik.”


“Enak, ya, kalau punya suami dosen, tiap malam diajarin banyak hal. Diajarin pelajaran, diajarin rumah tangga, diajarin cara membuat anak.”


Kinan segera memukul kepala Fara hingga gadis itu mengadu kesakitan. Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu. Dirinya saja yang sudah memiliki suami merasa malu, tapi Farah terlihat biasa saja.


“Aduh! Kinan! Tadi ngagetin, sekarang mukul. Sakit tahu!”


“Lagian Kamu bicaranya nggak pakai filter. Main bablas saja.”


“Aku 'kan mengatakan yang sejujurnya,” sahut Fara tanpa merasa bersalah.


“Sejujurnya apaan begitu.”


Ponsel Kinan berdering, menghentikan perdebatan mereka. Ternyata Hanif yang menelepon. Kinan pun segera mengangkatnya dengan senyum mengembang.


“Assalamualaikum, Mas.”


“Waalaikumsalam, Sayang. Masih di rumah mama Aisyah?” tanya Hanif yang berada di seberang telepon.


“Aku lupa ngasih tahu kamu, Mas. Kalau aku nggak jadi ke rumah Mama. Aku ada di kampus, baru saja ada kelas mendadak.”


“Oh, apa perlu aku menjemput kamu?”


“Tidak perlu, aku bawa mobil tadi.”

__ADS_1


“Kamu mau pulang atau mau ke rumah Mama Aisyah?”


“Pulang saja, Mas. Besok pagi saja ke rumah Mama, sekalian mau ikut kak Zayna ke rumah sakit.”


“Baby Ars sudah pulang?”


“Belum, nggak tahu kapan. Kata Kak Zayna harus nunggu pemeriksaan besok. Kalau hasilnya bagus, Baby Ars bisa langsung pulang.”


“Baiklah hati-hati mengemudinya. Jangan ngebut.”


“Iya, Mas juga hati-hati.”


“Iya, aku tunggu di rumah. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Kinan segera mematikan sambungan telepon. “Farah, aku balik dulu, sebentar lagi suamiku pulang. Nggak enak kalau aku masih di luar saat suamiku sudah pulang kerja.”


“Tapi kamu belum pesan makanan.”


“Nggak usah, aku nanti makan di rumah saja. Makan bersama dengan suami lebih nikmat," sahut Kinan yang kemudian berdiri.


“Ah, kamu mah bicara di depan jomblo sepertiku. Aku semakin tersiksa tahu,” ucap Fara dengan nada sedih yang sengaja dibuat buat. Kinan tertawa kemudian pergi dari sana. Dia tidak mau jika Hanif sampai tiba di rumah lebih dulu.


“Kinan, tunggu! Bukannya tadi kamu bilang akan bicara dengan aku!” seru Niko sambil mengejar Kinan.


“Tadi kamu mengatakan kalau akan bicara denganku, asal tidak menghalangi jalanmu.” Kinan memutar bola matanya malas. Sepertinya dia telah salah berbicara. Namun, tadi memang dia benar-benar terburu-buru hingga lupa dengan apa yang dia katakan.


“Memang kamu mau bicara apa lagi, Niko? Kita sudah tidak ada hubungan lagi jadi, tidak sepantasnya kita masih berbicara seperti ini. Apalagi aku sudah memiliki suami.”


“Aku tidak ingin mengganggumu. Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu selama ini. Maaf sudah menghianatimu dan juga membuat hatimu terluka. Aku benar-benar minta maaf," ucap Niko dengan suara rendah.


Kinan tersenyum dengan membuang napas pelan. “Aku sudah melupakannya, kamu tidak perlu minta maaf lagi. Sejujurnya aku juga berterima kasih sama kamu karena pengkhianatan yang kamu lakukan, membuatku menemukan pria yang benar-benar tulus padaku. Dia juga mencintaiku tanpa mengharapkan balasan.”


“Aku senang melihat kamu bahagia dengan begitu, rasa bersalahku padamu sedikit berkurang.”


“Kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Semuanya memang sudah jalan takdir yang harus kita jalani.”


“Iya, kamu benar aku—“


“Permisi! Ini jalan umum buat orang lewat, bukan tempat untuk mengobrol. Tidak bisakah kalian mencari tempat lain dan tidak menghalangi kegiatan orang lain,” sela seorang pria yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Frans—dosen baru itu. Dia ingin lewat di sana, tetapi keberadaan Kinan dan Niko membuat jalannya terhalang. Kinan segera menepi sambil menunduk.


“Maaf, Pak. Jika mengganggu.”


“Lain kali kalau mau pacaran, cari tempat lain juga jangan di tempat umum seperti ini,” ucap Frans yang segera meninggalkan Kinan dan Niko.

__ADS_1


“Siapa dia?” tanya Niko sambil menatap kepergian Frans.


“Itu dosen baru yang menggantikan Mas Hanif.”


“Oh, itu dosen yang bicarakan oleh semua orang, yang katanya dingin dan killer itu. Dia sudah mulai ngajar?”


“Iya, baru hari ini,” jawab Kinan kemudian dia teringat dengan sang suami. wanita itu pun segera pamit, “Ya sudah, aku mau pergi dulu. Sebentar lagi suamiku pulang. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, hati-hati di jalan.”


*****


“Assalamualaikum,” ucap Hanif saat memasuki rumah. Pria itu melihat ke kiri dan ke kanan, terlihat rumah dalam keadaan sepi.


“Waalaikumsalam,” sahut Bik Isa yang berjalan ke depan.


“Kinan sudah pulang, Bik?”


“Belum, Den. Tadi katanya mau pergi ke kampus.”


“Iya, aku sudah tahu, dia bilang sudah mau pulang.”


“Mungkin masih di jalan, Den," sahut Bik Isa yang diangguki Hanif.


“Kalau Mama sama Papa mana?”


“Ada di kamar, Den. Katanya mau siap-siap ada undangan pesta.”


“Pestanya ‘kan masih nanti malam!”


“Saya kurang tahu, Den.”


“Aku mau ke kamar dulu, Bik.”


“Iya, Den..”


Hanif segera masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin segera membersihkan tubuhnya sambil menunggu sang istri pulang.


“Kinan hari ini sudah mulai kelas, berarti dosen baru itu sudah mulai mengajar. Kenapa aku jadi tidak tegang begini? Apalagi setelah mendengar apa yang Niko katakan kemarin," gumam Hanif.


Dia merasa tidak percaya diri. Padahal kemarin dia mengatakan bahwa sang istri tidak akan berpaling, tetapi sekarang Hanif yang tidak bisa tenang. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, pria itu yakin Kinan tidak akan mengkhianatinya. Namun, tidak dipungkiri dia mulai terpengaruh kata-kata orang di sekitar.


.

__ADS_1


.


__ADS_2