
"Apa ada yang lucu dari kata-kata saya, hingga membuat anda tertawa?" tanya papa Rahmat yang tidak suka melihat kedua orang itu tertawa. Pria itu sangat tahu jika tuan rumah sedang mengejek. Apa pantas orang terhormat seperti mereka melakukan itu? Setidaknya hargai perasaannya sebagai orang tua yang hidup putrinya sudah hancur.
"Apa Anda tahu jika Anda bukan orang pertama yang datang ke sini untuk meminta pertanggungjawaban dari putra saya? Anda kira saya tidak tahu jika Anda hanya ingin memeras keluarga kami? Itu sudah trik lama yang orang-orang lakukan, jadi berapa yang Anda minta agar segera pergi dari sini dan tidak lagi memeras keluarga saya?"
"Sepertinya Anda salah. Saya benar-benar datang ke sini untuk meminta pertanggungjawaban anak Anda yang sudah menghamili putriku. Bagaimana bisa Anda setenang itu melihat apa yang anak Anda lakukan?"
"Apa Anda yakin jika anak yang ada dalam kandungan putri Anda itu ada darah kami? Saya sendiri tidak yakin. Mungkin benar anak saya pernah memakai putri Anda, tapi Bukankah Putri Anda juga menikmatinya? Jadi Anda tidak memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban darinya karena anak Anda sendiri juga mau melakukannya."
Papa Rahmat benar-benar sangat marah. Bagaimana mereka bisa mempermainkan perasaannya seperti ini. Mereka juga orang tua, bagaimana jika anak mereka merasakan apa yang juga dirasakan oleh Zivana. Akan tetapi, apa yang dikatakan pria itu memang benar. Putrinya yang sepenuhnya bersalah di sini.
"Tapi, putra Anda juga harus bertanggung jawab. Dia juga turut andil dalam kejadian ini."
"Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menikahkan anak saya dengan putri Anda. Kalian tidak selevel dengan kami."
"Anda juga orang tua, bagaimana bisa Anda begitu kejam pada putri saya? Di sini bukan hanya putri kami yang salah, putra Anda juga turut andil," sela Mama Savina yang tidak tahan melihat kesombongan pemilik rumah.
"Maaf saya tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi saya ada pertemuan penting, jadi bisakah Anda pergi sekarang atau Anda sedang menunggu saya mengeluarkan cek terlebih dahulu?"
"Tidak perlu, urus aja pekerjaan penting Anda. Saya hanya berpesan, semoga suatu hari nanti anak Anda merasakan apa yang saat ini keluarga saya rasakan," sahut Papa Rahmat.
Papa Rahmat memberi kode pada Zayna agar segera pergi dari rumah itu. Wanita itu pun menurutinya. Mereka semua merasa sedih dengan pengusiran ini. Mama Savina dan Zivana mengikuti mereka keluar dari rumah itu.
Selama dalam perjalanan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Semua hanya diam dengan pikiran masing-masing. Baru kali ini Zivana melihat kedua orangtuanya bersedih dan dialah penyebabnya.
*****
Saat makan malam, Papa Rahmat tidak mau keluar dari kamar. Dia beralasan belum lapar, Zayna sudah membujuk papanya, tetapi pria itu tetap menolak. Semua orang pun jadi tidak berselera makan. Hanya sedikit yang masuk perut mereka dan segera meninggalkan meja makan.
Zayna menghela napas. Wanita itu tidak tahu harus berbuat apa. Untuk saat ini biarlah mereka merenungkan diri, besok saja dia membujuk papanya. Zayna pun membereskan meja dan masuk ke kamar bersama sang suami.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi tadi?" tanya Ayman, saat keduanya sudah di duduk di tempat tidur dengan bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Keluarga pria itu menolak untuk bertanggung jawab." Zayna pun menceritakan apa yang terjadi di sana. Ayman hanya mendengarkan tanpa mau menyela sedikitpun. Dia ingin tahu, apa saja yang sudah
"Apa kamu mau aku ikut turun tangan? Aku ada kerjasama dengan mereka. Ak—"
"Mas, aku tidak ingin kamu mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Selama pekerjaan mereka baik, biarkan saja. Lagipula aku juga tidak setuju jika Zivana menjadi menantu di keluarga mereka. Baru kenal saja sudah seperti itu, bagaimana nanti."
"Aku beruntung sekali memiliki istri sebaik kamu," Ayman memeluk istrinya dan menciumi seluruh wajahnya, hingga membuat Zayna kegelian.
"Mas, geli tahu."
Ayman pun menghentikan kegiatannya. Dia memandang wajah sang istri dan merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.
"Mas, apa pekerjaanmu di sini masih lama?"
"Kamu tenang saja. Walaupun kerjaanku sudah selesai, aku akan bilang sama Papa agar aku mengurus perusahaan yang ada di sini saja dulu," jawab Ayman. "Kamu sendiri, apa kamu ada rencana untuk Zivana dan keluarga kamu?"
"Em ... em ...."
"Aku ingin merawat Anak Zivana jika nanti lahir, apa kamu tidak keberatan? Itu pun jika Papa dan Zivana setuju," ujar Zayna dengan pelan.
"Aku terserah kamu saja bagaimana baiknya. Oh ya, besok Papa sama Mama mau balik. Kamu bisa 'kan ikut aku mengantar mereka sebentar?"
"Cepet sekali mereka kembali! Padahal tadinya aku ingin mengajak Papa dan Mama jalan-jalan di kota ini, tapi karena ada masalah semuanya batal." Zayna mengembuskan napas pelan.
"Tidak apa-apa, mereka juga pasti mengerti. Tadinya mereka mau pamitan ke sini, tapi aku melarangnya karena keadaan rumah sedang tidak baik-baik saja. Lain kali saja jika mereka datang lagi."
Zayna pun mengangguk. "Ya sudah, ayo, kita tidur! Besok kamu bekerja, kan?"
Ayman juga mengangguk dan merebahkan tubuhnya. Zayna pun mengikuti sang suami dan memeluk pria itu. Tidak membutuhkan waktu lama, dia akhirnya terlelap. Ayman yang belum tidur pun menatap wajah sang istri.
Beruntung sekali orang-orang yang mengenal istrinya, termasuk dirinya sendiri. Dia wanita yang baik, tidak pernah dendam pada siapa pun. Berkali-kali keluarganya membuat hati sang istri terluka, tapi Zayna bersikap seolah semuanya tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Zayna sudah berada di dapur ingin menyiapkan sarapan. Dia masak makanan kesukaan semua orang. Wanita itu berusaha agar bisa membuat keluarganya semangat lagi. Zayna tidak ingin masalah yang menimpa mereka saat ini, membuat sedih dan berlarut berkepanjangan.
Dia tidak ingin papanya kembali sakit. Apalagi sekarang keadaan Mama Savina sedang tidak baik-baik saja. Kemarin magh-nya sempat kambuh. Untung saja di rumah masih memiliki persediaan obat.
Makanan semua sudah siap. Zayna berniat memanggil semua orang untuk menikmati sarapan pagi. Terlebih dahulu dia memanggil sang suami kemudian beralih ke kamar kedua orangtuanya.
"Pa, makanan sudah siap. Ayo, kita sarapan!"
"Kamu saja duluan, Papa masih belum lapar," sahut Papa Rahmat tanpa melihat ke arah putrinya.
"Pa, semalam Papa belum makan. Ayo, kita sarapan. Nanti Papa harus minum obat juga, kan?"
"Tapi, Papa belum lapar."
"Papa, bukannya nggak lapar, tapi memang nggak mau makan. Kalaupun Papa emang nggak lapar, bisa dipaksakan sedikit saja, biar perutnya terisi. Kita memang sedang menghadapi masalah, tapi jangan menyiksa diri. Ayo, Pa! Yang lain pasti menunggu Papa," ujar Zayna kemudian beralih menatap mamanya. "Mama juga, ayo, kita sarapan!"
Mama Savina menunggu sang suami keluar. Papa Rahmat yang mengerti pun segera mengikuti keinginan putrinya. Zayna tersenyum lega karena orang tuanya mau sarapan bersama.
"Papa sama Mama ke ruang makan dulu, ya! Biar aku panggilkan Zivana."
Mama Savina pun mendorong kursi roda sang suami, sedangkan Zayna menuju kamar adiknya. Dia mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.
"Kakak tahu kamu ada di dalam. Kamu mau Kakak dobrak pintunya?" tanya Zayna dengan sedikit mengeraskan suaranya. Namun, masih tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Wanita itu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Saat ingin membuka pintunya, ternyata terkunci dari dalam. Dia pun teringat kunci serep kamar itu. Segera Zayna mencari di tempat penyimpanan dan syukurlah kunci itu masih ada. Wanita itu mencoba membuka pintu. Tampak kamar begitu sepi, di atas ranjang tidak ada siapa pun.
"Zivana, kamu di mana?" tanya Zayna sambil mencari ke segala arah. Betapa terkejutnya wanita itu melihat keadaan adiknya.
.
.
__ADS_1
.