Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
257. S2 - Hukuman


__ADS_3

“Berarti kalian sudah siap untuk menerima hukuman?” tanya Ayman pada anak-anaknya.


"Pa, mereka tidak bersalah. Kalau Papa ingin member menghukum, hukum saja aku,” sahut Arslan yang tidak ingin adik-adiknya mendapat hukuman.


“Kalian melakukan hal itu sama-sama, jadi kalian harus dihukum sama-sama,” ucap Ayman yang kemudian menatap adik iparnya. “Hanif, sebaiknya ajak anakmu pulang.”


Mendengar apa yang dikatakan omnya, Zea melototkan matanya. Dia tidak mungkin meninggalkan para sepupunya dalam keadaan seperti ini. Gadis itu lebih suka dihukum sama-sama, dari pada nanti dirinya di rumah kepikiran. Papa Hanif tidak mungkin menghukumnya karena ada Mama Kinan dan Kak Adam yang akan membelanya.


“Tidak, aku juga melakukan kesalahan, aku juga harus dihukum,” sahut Zea yang tidak ingn meninggalkan semua sepupunya.


"Kalau kamu ingin dihukum, minta saja pada ayahmu untuk menghukummu. Om tidak berhak memberikan hukuman padamu," ucap Ayman tanpa melihat ke arah keponakannya.


Hanif pun membawa sang putri untuk segera pulang. Zea mencoba untuk menolak dan ingin tetap berada di sana. Namun, Kinan mencoba meyakinkan putrinya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hanif juga nanti akan memberikan hukuman pada Zea karena sudah melakukan kesalahannya.


"Sekarang ambil gadget kalian semua. Laptop, ponsel, kartu ATM dan alat elektronik lainnya. Letakkan semuanya di atas meja ini. Alat elektronik apa pun yang ada di kamar kalian, segera keluarkan dan taruh di sini," ucap Ayman sambil menunjuk meja yang ada di ruang tamu.


ketiga bersaudara saling pandang. Namun, akhirnya menuruti keinginan papanya juga. Mereka mengambil semua alat elektronik yang mereka miliki dan meletakkannya di atas meja. Arslan, Aina dan Aini sama-sama penasaran kira-kira apa yang akan dilakukan papanya pada gadged yang mereka miliki.


"Mulai hari ini kalian dilarang menggunakan semua ini. Saat pergi ke kantor atau pun ke kampus, akan ada sopir yang mengantar. Untuk makan siang, nanti Bibi yang akan menyiapkan dan membawakan bekal. Hukuman ini akan berlangsung selama satu tahun.'


Arslan dan si kembar melototkan matanya. Bagaimana bisa mereka hidup tanpa alat komunikasi dan elektronik lainnya. Jika masalah ung saku, itu bukan masalah, tetapi bagaimana dengan ponselnya? Mereka akan kesulitan berkomunikasi jika ada hal yang penting


"Pa, Papa beri hukuman kami yang lain saja, jangan yang ini. Bagaimana bisa kami lakukan tugas kuliah nanti, kalau nggak ada laptop," bujuk Aini.


"Kalian bisa menulisnya di buku, nanti biar Papa yang bilang sama dosen kalian. Mereka juga pasti tidak akan keberatan."


"Tapi ...."


"Itu adalah hukuman kalian karena sudah melakukan kejahatan. Jika kalian masih mau protes, maka masa hukuman akan Papa perpanjang."


Ayman memanggil Bik Ira untuk membantu, membawakan barang-barang milik anak-anaknya ke ruang kerja. Sementara itu, Zayna masih berdiri di sana sambil memandangi anak-anaknya. Dia merasa tidak tega pada mereka, wanita itu sangat mengerti kenapa mereka sampai melakukan hal tersebut.


"Ma, tolong Mama bujukin papa. Kami tidak bisa hidup tanpa ponsel dan laptop. Ayo, dong, Ma," rayu Aini. Dia yakin mamanya pasti tidak tega pada mereka.

__ADS_1


"Itu hukuman untuk kalian karena sudah melakukan kejahatan. Masih untung papa hanya menghukum kalian seperti itu. Bagaimana kalau papa melaporkan kalian ke polisi? Mama tidak bisa membayangkan hal itu. Sebaiknya kalian terima saja hukumannya. Satu tahun tidaklah lama," ucap Zayna yang kemudian meninggalkan anak-anaknya.


Aini menghela napas kasar. Bagaimana bisa mereka mengerjakan tugas kuliah dengan menulis di buku. Bisa-bisa tangan mereka keram. Tugas mereka bukan hanya satu atau dua lembar. Terkadang juga ada yang mereka tidak mengerti dan harus mencari di kolom pencarian. Kalau seperti ini harus bagaimana.


"Maafin Kakak karena sudah melibatkan kalian, jadinya kalian juga dihukum sama papa," ucap Arslan yang merasa bersalah pada adik-adiknya.


"Sudahlah, Kak, tidak apa-apa. Kita nikmati saja hukuman ini," sahut Aini yang membuat mereka terkekeh.


Memang bukan hal yang baru jika mereka bertiga dihukum bersama-sama. Meskipun kali ini hukumannya terasa berat bagi ketiganya karena harus berjauhan dengan alat komunikasi, yang selama ini mereka bawa kemana-mana.


"Nanti kalau ada tugas Kakak akan bantu," ucap Arslan yang diangguki oleh si kembar.


Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Ketiganya ingin membersihkan diri dan beristirahat setelah mengalami senam jantung sedari tadi. Sekarang Arslan juga tidak bisa menghubungi temannya, untuk menyerahkan DVD yang dia dapat. Pria itu pun memutuskan besok saja menghubungi lewat telepon kantor. Mudah-mudahan saja papanya juga tidak menyita telepon yang ada di ruangannya.


Sementara itu Zayna yang merasa kasihan pada anak-anaknya, mencoba pergi ke ruangan sang suami. Barangkali pria itu bisa meringankan hukuman untuk anak-anaknya. Dia tahu jika apa yang dilakukan suaminya memang demi kebaikan mereka, tetapi tidak ada salahnya mengurangi masa hukuman.


"Kalau kamu ke sini untuk membujukku meringankan hukuman mereka, sebaiknya tidak perlu. Mereka juga perlu diberi pelajaran, apa yang mereka lakukan itu sudah dalam tindakan kriminal. Aku tidak ingin mereka sampai melakukan hal seperti ini lagi," ucap Ayman yang seolah mengetahui tujuan sang istri.


"Tetap saja itu kesalahan, Sayang. Aku tidak membenarkan tindakan penipuan dan pencurian. Sekali-kali mereka juga perlu untuk diberi pelajaran. Lagi pula hukuman yang mereka terima juga masih dalam batas wajar. Sudah jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya kita istirahat. Gara-gara terlalu emosi tubuhku jadi sangat lelah."


"Kamu 'kan belum makan siang, Mas. Aku siapin dulu, ya?"


"Tidak perlu, aku sedang tidak ingin makan, kalau kamu lapar, kamu makan sendiri saja. Aku ingin istirahat dulu." Zayna dan Ayman pun menuju kamar, keduanya ingin beristirahat sejenak.


“Aina, bosan banget nggak bisa ngapa-ngapain,” keluh Aini yang saat ini ada di kamar saudaranya, sementara Aina sedang membaca buku.


“Sudahlah, anggap saja kalau kita kembali hidup di zaman dulu. Tidak ada ponsel dan internet. Lama-lama juga terbiasa,” jawab Aina yang masih fokus pada bukunya.


“Kalau kamu memang sudah biasa, kamu ‘kan memang selalu ke mana-mana sama buku, jadi kalau nggak ada internet bukan hal yang susah untuk kamu.”


“Walaupun aku selalu sama buku, aku juga butuh internet untuk mencari sesuatu yng tidak aku mengerti,” sahut Aina sambil menatap saudaranya sekilas.


Aina menutup bukunya dan berbaring di samping saudaranya. Dia juga sangat merasa kesepian tidak ada yang bisa gadis itu kerjaan dengan bukunya tanpa laptop. Alat elektronik memang sangat berpengaruh pada kehidupan zaman sekarang.

__ADS_1


“Niya, kira-kira bagaimana keadaan Zea? Om Hanif memberikan hukuman apa buat dia? Aku jadi merasa bersalah padanya,” ucap Aina dengan memandang langit-langit kamar, begitu juga dengan Aini.


“Aku juga tidak tahu, semoga saja Om Hanif tidak menghukumnya dengan sangat berat. Kalau sampai terjadi, aku juga pasti akan sangat merasa bersalah karena aku yang mengajaknya.”


“Jangan bicara seperti itu, bagaimanapun juga Zea sendiri yang ingin ikut. Ini kesalahan kita bersama.”


Pintu kamar diketuk oleh seseorang yang ada di luar. Aini pun meminta orang tersebut untuk masuk, tanpa mau membukakannya karena memang pintu juga tidak dikunci. Ternyata ada Arslan di sana.


"Ternyata kalian berdua ada di sini, tadi Kakak cari di kamar Aini nggak ada," ucap Arslan yang kemudian duduk di tepi ranjang.


"Habisnya nggak ngapa-ngapain jadi, aku ke sini saja, biar ada temen ngobrol."


"Kakak juga bosan di kamar, nggak ada yang bisa dilakukan." Arslan naik ke ranjang adiknya dan berbaring si tengah si kembar.


"Oh ya, Kak. Mengenai video yang sudah kita dapat, bagaimana caranya Kakak mau berikan ke teman kakak? Kalau ponsel Kakak saja disita sama papa," tanya Aina.


"Nggak tahu juga, besok Kakak mau telepon pakai telepon yang ada di kantor. Kalau tidak bisa, nanti kalau ada kesempatan saja, Kakak langsung berikan. Kebetulan dua hari lagi Kakak juga ada meeting dengannya."


Ketiganya terdiam sejenak, hingga pertanyaan Aini mengalihkan perhatian mereka. "Kak Arslan, memang tidak ingin menikah? Kak adam saja sebentar lagi mau menikah."


"Adam mau menikah? Kapan? Sama siapa? Kok aku nggak tahu?" tanya Arslan yang begitu terkejut mendengar berita tersebut.


"Masih rencana, Kak. Karena itu aku tanya sama Kakak, kapan nikahnya? Kenapa nggak sekalian bareng-bareng sama Kak Adam."


"Orang calonnya saja tidak ada, mau menikah."


"Kita nggak pernah lihat Kakak dekat dengan wanita. Memang Kakak nggak punya pacar? Jangan bilang Kakak juga seperti Kak Adam, pacaran diam-diam."


"Nggaklah, Kakak tuh nggak mau pacaran, maunya langsung menikah saja jika memang sudah ada yang cocok."


.


.

__ADS_1


__ADS_2