
Ali pulang dengan keadaan yang lesu. Tadinya dia berharap bisa membawa sang istri pulang, tapi karena kemarahan sang mertua, membuat pria itu akhirnya pulang dengan tangan kosong. Ali sangat memaklumi apa yang dilakukan oleh mertuanya. Jika itu terjadi pada adiknya, dia pasti akan melakukan hal yang sama.
"Assalamualaikum," ucap Ali saat memasuki rumah dan duduk di ruang tamu.
"Waalaikumsalam," sahut Bu Nur yang kemudian duduk di samping sang putra. "Kamu kenapa terlihat sedih begitu, Nak?"
"Tidak apa-apa, Bu. Aku ingin tanya sekali lagi sama Ibu, apa yang sebenarnya sudah Ibu lakukan pada Aina, sampai istriku masuk rumah sakit seperti itu?" Ali menatap wajah ibunya, berharap dia mendapatkan jawaban dari pertanyaan di kepalanya.
Bu Nur yang mendengar pertanyaan dari putranya pun jadi kesal karena lagi-lagi pertanyaan yang sama. "Ibu sudah bilang kalau Ibu tidak melakukan apa-apa. Kenapa kamu tidak percaya pada Ibu?"
"Bukannya aku tidak percaya, Bu, tapi Ibu lihat sendiri keadaannya justru berkata lain. Aina masuk rumah sakit dan aku sebagai seorang suami merasa sangat tidak becus menjaga istriku. Padahal selama ini dia sudah melakukan kewajibannya dengan baik, tapi aku sama sekali tidak tahu diri dan tidak bertanggung jawab. Aku takut murka Allah akan datang padaku. Seandainya saja aku bisa lebih perhatian padanya, seandainya saja aku mendengar setiap keluh kesahnya, pasti ini semua tidak akan terjadi. Surga benar-benar akan semakin jauh dariku."
Ali menundukkan kepala, merenungi apa yang sudah terjadi pada rumah tangganya. Bu Nur yang melihat itu pun jadi merasa sedih, matanya berkaca-kaca, tidak menyangka putranya akan sesedih itu. Apa yang dia lakukan itu hanya untuk kebahagiaan Ali, tetapi ternyata pikirannya salah.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Selama ini kamu sudah menjadi anak yang patuh pada Ibu, pasti kamu akan masuk surga. Bukankah seorang anak laki-laki surganya sama ibu?"
"Itu memang benar, tapi apa Ibu lupa jika seorang istri adalah sepenuhnya tanggung jawab seorang suami. Bagaimana mungkin aku bisa masuk surga saat aku tidak bisa menjaga dan membimbing istriku dengan baik. Bahkan aku sudah menelantarkannya hingga dia masuk rumah sakit seperti ini. Entah bagaimana tanggung jawabku nanti. Bahkan untuk mencium bau surga pun rasanya tidak mungkin."
Bu Nur terdiam, ada rasa bersalah yang tiba-tiba hadir dalam hatinya. Dia tidak menyangka jika apa yang dilakukan membuat putranya seperti ini. Selama ini wanita itu mengira jika sang anak tidak mencintai istrinya, itulah kenapa Bu Nur egois.
"Tadi Aina sudah diperbolehkan pulang, tapi Papa Ayman membawa Aina pulang. Hal itu semakin membuat aku merasa buruk, bahkan mertuaku saja tidak percaya karena memang aku tidak pantas untuk dipercaya dan diberi kepercayaan."
"Maafkan Ibu," ucap Bu Nur dengan suara lirih, dia menundukkan kepala dalam-dalam. Rasa bersalahnya pada putra dan menantunya begitu besar. "Bukan maksud Ibu untuk membuat rumah tanggamu seperti ini." Bu Nur meneteskan air mata, membuat Ali yang tadinya menunduk pun seketika menatap wajah ibunya.
Pria itu mengerutkan keningnya dan bertanya, "Maksud Ibu apa?"
__ADS_1
Bu Nur pun akhirnya menceritakan semua yang dia lakukan selama ini pada Aina. Hingga membuat Ali sampai meneteskan air mata. Pria itu tidak menyangka jika ibunya yang selama ini dia hormati begitu tega menyakiti istrinya. Padahal Aina sudah sangat baik dan tidak sekali pun menolak.
Fiani yang mendengar pembicaraan ibu dan kakaknya pun juga ikut merasa bersalah. Gadis itu juga pernah bersikap semena-mena terhadap kakak iparnya. Sama seperti ibunya, Fiani juga tidak suka dengan kehadiran Aina yang tidak sesuai dengan yang diinginkannya.
"Kenapa Ibu melakukan semua ini pada Aina? Katakan padaku, apa kesalahannya sampai berbuat seperti itu? Apa selama ini Aina pernah bersikap tidak sopan pada ibu atau bahkan mungkin bersikap kasar?" tanya Ali dengan memandang wajah ibunya.
Selama ini Aina yang pria itu kenal tidak pernah menentang apa pun yang dia katakan, tetapi kenapa ibunya sangat tidak menyukai istrinya. Pasti ada sesuatu yang membuat wanita itu membenci Aina, tapi apa? Bukankah sang istri tidak pernah berbuat jahat sama ibunya.
"Kamu benar, Aina memang tidak pernah bersalah pada ibu. Ibu lah yang justru sangat dzalim padanya. Hanya karena dia tidak memakai hijab dan bukan lulusan dari pesantren, ibu memperlakukan dia seenaknya. Ibu sangat bersalah, maafkan Ibu!"
"Ibu bersalah bukan padaku, kenapa minta maaf padaku? Yang Ibu dzalimi adalah Aina, bukan aku," kata Ali tanpa melihat ke arah ibunya.
Fiani yang tadi bersembunyi pun segera mendekat. Dia juga ingin meminta maaf atas kesalahannya. Gadis itu tidak ingin apa yang dirinya lakukan akan semakin menambah kerenggangan di keluarga mereka.
"Kak, maafkan aku juga. Aku sudah pernah kasar pada Kak Aina." Fiani berlutut di depan kaki kakaknya dengan meneteskan air mata. Dia tidak ingin kebersamaan keluarganya terpecah belah.
"Sudahlah, sebaiknya kamu bangun. Semuanya juga sudah lewat, bagaimanapun tidak bisa diputar lagi."
Dua hari sudah terlewati, sejak hari itu Ali tidak banyak berbicara dengan keluarganya. Hanya seperlunya saja, hari ini pria itu terlihat sangat rapi dengan kemeja putih dan celana hitam serta memakai sepatu. Bu Nur yang melihat pun jadi penasaran, ke mana putranya akan pergi.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Bu Nur sambil melihat penampilan Ali.
"Mau cari kerja, Bu. Doain aku bisa dapat kerjaan."
"Cari kerja? Kenapa cari kerja? Memang sudah tidak ngajar lagi di pondok?"
__ADS_1
"Tidak, Bu. Aku sudah mengundurkan diri. Aku malu sama Kyai Hasan dengan kejadian kemarin jadi, aku putuskan untuk mengundurkan diri. Aku tidak mau nama baik pondok jadi tercemar gara-gara keberadaanku di sana."
Hati Bu Nur mencelos, sebegitu besarkah pengaruh perlakuannya kemarin, hingga membuat putranya harus kehilangan pekerjaan. Sungguh dia tidak pernah bermaksud seperti itu.
"Tapi itu bukan kesalahan kamu, tidak seharusnya kamu mengundurkan diri, biar Ibu yang meminta maaf pada Kyai Hasan. Kamu jangan sampai berhenti."
"Tidak, Bu. Mungkin ini sudah saatnya aku mencari pekerjaan lain. Di pondok juga sudah banyak pengajar yang lebih baik dariku."
Ali pun berpamitan pada ibunya, dia berharap bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengannya. Bu Nur melihat kepergian putranya dengan pandangan sedih. Di sampingnya ada juga Fiani yang turut merasakan apa yang ibunya rasakan.
"Fiani, apa kamu tahu di mana rumah mbakmu?" tanya Bu Nur dengan menatap putrinya.
"Mbakmu siapa, Bu? Mbak Aina?"
"Iya, apa kamu tahu?"
"Ibu 'kan pernah ke sana!"
"Ibu lupa, apa kamu ingat?"
"Tidak, Bu, tapi kalau Ibu mau, kita bisa mencarinya. Orang tua Mbak Aina 'kan pengusaha, pasti tidak sulit mencarinya."
"Iya, kamu bisa mencarinya?"
"Memang Ibu mau apa?."
__ADS_1
"Ibu mau minta maaf."