Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
287. S2 - Pelajaran


__ADS_3

“Di mana orangnya?” tanya Hanif pada orang suruhannya.


“Ada di dalam, Tuan.”


Hanif memasuki ruangan yang ditunjukkan oleh anak buahnya. Di dalam sana juga ada orang yang berjaga. Pria itu berdecih sinis, melihat orang yang sudah mencelakai putranya. Padahal Adam selama ini sudah sangat baik pada mereka, tetapi kebaikannya disalah artikan oleh keluarganya.


Orang itu tidak lain adalah Akmal. Saat ini kondisinya sangat memperihatinkan. Kedua tangannya terikat ke belakang dengan duduk di atas kursi. Mulutnya pun ditutup dengan lakban agar tidak mengeluarkan suara yang mengganggu ketenangan. Meskipun saat ini mereka sedang berada di tengah hutan, tetap teriakannya akan mengganggu.


“Bangunkan dia!” perintah Hanif dengan pandangan yang masih menatap Akmal yang tidak sadarkan diri, entah sejak kapan.


Salah satu anak buah Hanif membawa ember yang berisi air dingin dan menyiramnya. Tentu saja hal itu membuat Akmal terkejut dan segera bangun. Dia melihat sekeliling dan melihat keberadaan Hanif di sana. Masih teringat dengan jelas siapa pria yang ada di depannya, orang tua yang mengadopsi Aldo atau yang sekarang dikenal sebagai Adam puluhan tahun yang lalu.


“Buka penutup mulutnya!” perintah Hanif.


Seseorang pun melakukan apa yang atasannya katakan. Akmal memekik kesakitan saat lakban yang ada di mulutnya ditarik dengan cepat. Beberapa kali dia mengumpat. Namun, sama sekali tidak dipedulikan orang yang ada di sekitarnya.


“Apa ada yang ingin kamu sampaikan sebelum saya melakukan sesuatu padamu?” tanya Hanif dengan nada tenang.


“Memangnya Anda mau melakukan apa? Aku yakin saat ini kedua orang tuaku sedang mencariku. Mereka juga pasti melapor ke polisi, Anda tidak tahu seberapa besar pengaruh keluargaku. Sebentar lagi Anda pasti akan ditangkap polisi," sahut Akmal dengan percaya diri.


Hanif tertawa terbahak-bahak, terdengar begitu mengerikan hingga membuat bulu kuduk meremang. Orang yang ada di sekitarnya pun jadi takut mendengarnya, termasuk Akmal pria itu di bawah terdiam, tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Semuanya tercekat di tenggorokannya.


"Sebelum melakukan sesuatu terhadap keluargaku. Apa kamu pernah mencari tahu siapa kami sebenarnya?" tanya Hanif dengan ekspresi yang kembali datar.

__ADS_1


"Aku tidak perlu mencari sesuatu yang menurutku tidak penting," sahut Akmal dengan nada sinis.


"Oh, tidak penting. Baiklah, kamu sepertinya sangat meremehkan aku dan keluarga. Aku akan menunjukkan sesuatu, yang pastinya akan kamu sesali seumur hidupmu karena sudah bermain-main dengan keluargaku."


Hanif mengeluarkan senjata api yang sedari tadi dia sembunyikan. Pria itu meneliti senjatanya dengan saksama, sambil melihat ke arah Akmal yang wajahnya sudah memucat. Pemuda itu memang sering melakukan kegaduhan atau sejenisnya, jadi tidak pernah menggunakan senjata seperti itu. Ini pertama kalinya dia melihat senjata api secara langsung. Akmal semakin ketakutan memikirkan apa yang akan Hanif lakukan terhadapnya.


"Bagaimana kalau salah satu peluru yang ada di dalam senjata ini masuk ke dalam tubuhmu? Apakah kamu akan langsung mengembuskan napas terakhir saat itu juga atau perlu lima peluru agar kamu bisa pergi selamanya dari dunia ini?" tanya Hanif tanpa melihat Akmal dan terus fokus pada senjata miliknya.


Tubuh Akmal bergetar, otaknya tidak bisa bekerja dengan benar saat dalam keadaan gugup begini. "Anda tidak bisa melakukan hal itu. Anda bisa dipenjara karena membunuh orang."


"Perlu aku katakan padamu. Sebelum kamu datang ke sini, sudah ada yang meninggal di tempat ini jadi, menambah satu korban lagi pun tidak masalah untukku. Polisi juga tidak akan pernah menemukan barang bukti karena setelah kamu mati, tubuhmu akan menjadi santapan binatang peliharaanku. Tidak ada bukti lagi yang bisa menjeratku."


Bulu kuduk Akmal semakin meremang, dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan pada pendiriannya. Namun, tidak dipungkiri apa yang dikatakan Hanif membuat tubuhnya menggigil ketakutan. Antara percaya dan tidak jika Hanif benar telah melakukan hal itu. Namun, jika dilihat dari situasi dan kondisi memang sangat memungkinkan.


"Oh iya, mungkin kamu tidak percaya padaku, tapi akan aku berikan satu bukti padamu."


“Bagaimana? Apa kamu mau mencobanya?” tanya Hanif dengan seringainya, membuat Akmal menggeleng dengan cepat.


“Kenapa kamu ingin mencelakai Adam?” tanya Hanif dengan datar.


“Karena dia sudah mengambil restoran kami."


“Restoran kami? Apa saya tidak salah dengar? Bukankah itu restoran milik almarhum ibu Adam? Dia hanya ingin miliknya kembali lalu, di mana letak salahnya?”

__ADS_1


“Memang benar? Tapi yang mengelola dan menjaganya dari dulu adalah kedua orang tuaku.”


“Benarkah? Bukannya Adam juga anak kandung papanya. Apa setiap tahun kalian sudah membayar pajak?”


Akmal membeku, Adam memang anak kandung papanya yang tidak dianggap. Dia juga pernah bertanya pada papa dan mamanya mengenai surat pajak, tetapi mereka bilang sudah hilang. Bertahun-tahun dirinya dan keluarga memang tidak pernah membayar. Pria itu mengira jika datanya sudah hilang.


“Apa itu juga ulah Adam?” Bukannya menjawab pertanyaan Hanif, Akmal justru balik bertanya.


“Menurutmu?”


“Sial!” gumam Akmal yang kemudian mendapat pukulan dari Hanif.


Akmal merintih kesakitan saat Hanif memberi bogem mentah. Hanif yang sudah sedari tadi menahan kekesalannya, seketika meluapkan pada Akmal. Dia memutuskan menyimpan kembali senjata api miliknya dan memberi pelajaran dengan tangannya sendiri. Pemuda itu benar-benar sudah tidak berdaya. Dia mencoba untuk membalas, tetapi tidak ada kesempatan baginya sama sekali.


Hanif meminta anak buahnya membuka ikatan agar dirinya, tidak dikatai pengecut karena menyerang musuh dalam keadaan terikat. Berkali-kali pemuda itu ingin membalas serangan yang diberikan Hanif. Namun, tenaganya sama sekali bukan tandingan pria itu. Pukulannya bahkan tidak mampu menyentuh kulit suami dari Kinan itu.


Hingga akhirnya Akmal benar-benar tidak berdaya. Entah sudah berapa tulang yang sudah patah dan berapa kali tadi dia berteriak. Hanif seolah menulikan telinganya atas teriakan pemuda itu. Selama ini pria itu tidak mau ikut campur urusan sang putra. Dia merasa tidak ada yang membahayakan, tetapi siapa yang menyangka jika keluarga kandung Adam sendiri yang justru mencelakai anak angkatnya.


Akmal sudah terkapar dengan darah yang bercecer di mana-mana. Tenaganya sudah benar-benar habis hanya karena satu orang. Entah bagaimana jadinya jika para preman yang membawa ke sini juga ikut menghajarnya.


“Bagaimana rasanya? Itu juga yang dirasakan putraku sekarang. Tulang kakinya patah jadi, kamu pun harus merasakannya. Itu baru patah jika sampai terjadi sesuatu yang lebih parah lagi, maka itu akan kembali padamu berkali-kali lipat. Ingat itu baik-baik!”


Hanif memperbaiki penampilannya dan berbalik untuk pergi dari sana. Sebelum itu dia berkata pada anak buahnya. "Serahkan dia pada polisi beserta buktinya. Pastikan dia tidak mengatakan apa pun tentang apa yang terjadi di sini."

__ADS_1


"Siap, Tuan."


.


__ADS_2