Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
170. Diusir


__ADS_3

Kinan mengetuk pintu beberapa kali, dilanjutkan dengan membuka pintu. Semua orang yang ada di kelas menatapnya. Saat ini dia merasa seperti maling yang tertangkap basah. Sungguh sangat memalukan.


“Assalamualaikum, selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat,” ucap Kinan dengan pelan untuk menutupi rasa gugup dan takutnya.


Apalagi napasnya yang masih belum normal kembali. Wanita itu bisa melihat wajah dingin pria yang ada di depan kelas. Dia mengakui jika pria itu terlihat sangat tampan meski tidak ada senyum di wajahnya. Hampir mirip dengan sang suami. Namun, lebih tampan Hanif tentunya.


“Sudah sepuluh menit saya berdiri di sini dan kamu baru datang. Jangan kamu pikir hanya kamu yang sibuk di sini sehingga kamu bisa datang seenaknya,” ucap pria itu dengan nada dingin.


Suasana semakin tegang, semua mahasiswa yang ada di ruangan itu juga tidak ada yang berani bersuara. Bahkan beberapa dari mereka kesulitan bernapas.


“Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu, saya tidak melihat pemberitahuan di ponsel tadi pagi jika Anda hari ini masuk. Sebelumnya kami semua mendapat pesan kalau hari ini libur."


“Jangan banyak beralasan karena cuma orang-orang pemalas yang banyak alasan. Sekarang lebih baik kamu keluar! Saya tidak mengajar mahasiswa pemalas, terutama seperti kamu.”


Kinan terkejut mendengar apa yang pria itu katakan. Dulu meskipun Hanif dosen yang paling tegas, tapi suaminya tidak pernah mengusir mahasiswa dari kelas, kecuali jika membuat rusuh. Kalau terlambat, hanya akan mendapat hukuman saja, tetapi dosen sekarang ini malah mengusirnya. Padahal dirinya hanya telat sepuluh menit. Itu pun karena tidak dia sengaja.


“Pak, saya mohon jangan usir saya dari kelas. Ini juga pertama kalinya saya telat, itu pun karena tidak sengaja," pinta Kinan. Dia masih ingin belajar dan tidak mau ketinggalan materi. Apalagi pria itu dosen baru, dirinya perlu menyesuaikan diri.


“Kamu pikir saya tukang jualan jadi kamu bisa menawar apa yang saya berikan! Keluar sekarang atau keluar selamanya, tidak usah mengikuti pelajaran saya sampai seterusnya.”


Kedua tangan Kinan yang berada di kedua sisi tubuhnya mengepal dengan kuat. Pria yang berada di depannya bisa melihat hal itu. Namun, dia sengaja melakukannya. Dosen itu paling tidak suka ada mahasiswa yang terlambat, apalagi mempermainkan pelajarannya. Sudah terlalu sering dia berurusan dengan orang seperti itu.


“Baik, Pak. Saya permisi,” ucap Kinan yang berusaha menahan amarahnya.


Wanita itu segera keluar dari ruangan dan memilih menuju taman kampus. Dia tadi sudah berusaha untuk cepat sampai tujuan. Namun, waktunya memang benar-benar mepet. Andai saja tadi dia membawa ponsel, pasti tidak akan seperti ini jadinya.


Nasi sudah menjadi bubur. Untuk hari ini biarlah dia tidak ikut kelas. Terserah apa kata dosen itu, tadi pria itu juga sudah membuat Kinan kesal. Semoga cuma hari ini dia terlambat.

__ADS_1


“Ternyata benar apa yang dikatakan semua orang, kalau dosen ini benar-benar killer. Padahal aku telat juga nggak sengaja. Ini pertama kali, tapi bisa-bisanya dia marah-marah. Kalau Mas Hanif pasti hanya dapat hukuman saja. Kenapa aku malah diusir? Nasib-nasib kenapa harus telat di hari pertama dosen itu masuk,” gumam Kinan.


“Kinan, kamu kenapa di sini? Ngoceh sendirian nggak jelas,” tegur Farah yang baru saja datang. Dia tadi melihat Kinan dari jauh sedang mengoceh tidak jelas. Gadis itu penasaran apa yang membuat temannya jadi begini.


“Farah! Kamu sudah selesai kelasnya?” tanya Kinan balik.


“Sudah, baru saja selesai. Kamu ngapain di sini?” tanya Farah lagi.


“Aku diusir dari kelas,” ucap Kinan lesu dengan menundukkan kepalanya.


“Diusir! Sama Pak Hanif?”


“Bukan. Mas Hanif 'kan sudah resign, dia sudah nggak ngajar lagi di sini.”


“Oh iya, terus kamu diusir sama siapa? Sama asistennya?”


“Bukan juga, aku diusir sama dosen baru. Hari ini dia mulai ngajar, malah aku diusir gara-gara telat.”


“Kemarin itu ada pemberitahuan kalau dosen belum bisa masuk jadi, hari ini libur, tapi tadi pagi ada pemberitahuan kalau hari ini dosen masuk. Aku enggak lihat ponsel akhirnya aku terburu-buru dan telat.” Kinan tertunduk lesu, memikirkan nasibnya yang diusir dari kelas.


“Kenapa sampai diusir? Apa kamu telatnya fatal banget?"


"Aku cuman telat sepuluh menit, tapi dosennya killer banget. Aku diusir begitu saja tanpa boleh beralasan. Katanya alasan itu hanya untuk orang-orang yang pemalas. Padahal setiap kejadian juga pasti ada alasannya. Mimpi apa aku punya dosen kayak dia.”


“Jangan begitu, nanti malah jatuh cinta loh sama dosen kamu," goda Farah dengan menyenggol lengan temannya itu.


“Hus, bicara ngawur kamu. Aku sudah punya suami dan tidak bisa ke lain hati. Lagi pula Mas Hanif itu sudah lebih dari segala-galanya. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesonanya.”

__ADS_1


“Iya, deh yang sudah bucin sama suaminya.”


“Ya, nggak pa-pa dong, asal jangan suami orang saja,” sahut Kinan dengan nada bercanda, membuat kedua wanita itu tertawa.


“Hebat ya kamu! Diusir dari kelas bukannya sadar dengan kesalahan, malah tertawa tidak jelas di sini,” ucap seorang pria yang ada di belakang mereka, membuat tawa kedua wanita itu terhenti.


Kinan menoleh ke belakang, betapa terkejutnya dia melihat keberadaan dosen yang berada di kelasnya tadi. Wanita itu pun segera berdiri dengan wajah tegang. Bukankah sekarang masih ada kelas, kenapa dosen itu ada di sini. Apa pria itu sengaja mencarinya. Berbagai pertanyaan ada di kepala Kinan, tetapi hanya mampu tertahan di tenggorokan.


“Maaf, Pak,” ucap Kinan dengan gugup.


“Siapa, Kin?” tanya Farah dengan berbisik.


“Dosen di kelasku,” jawab Kinan dengan berbisik pula. Farah mengangguk sambil melipat bibirnya karena dirinya kini tahu apa kesalahannya.


“Sekarang kamu masuk ke kelas, jangan enak-enakan duduk ketawa-ketawa di sini,” ucap pria itu yang kemudian berbalik arah.


Kinan pun mengikuti dosennya dari belakang. Wanita itu merutuki dirinya, seharusnya dia tidak tertawa seperti tadi. Itu terlihat seperti dirinya senang diusir dari kelas. Lagi pula kenapa juga dosen itu ada di sana. Bukankah Kinan sudah diusir, kenapa sekarang malah disuruh masuk. Benar-benar dosen labil.


“Duduk di tempatmu, jangan membuat rusuh. Jika tidak ingin saya suruh pergi dari kelas saya," ucap dosen itu setelah mereka sampai di kelas.


Kinan hanya mengangguk dan mencari tempat duduk. Wanita itu tidak ingin mencari masalah jadi, lebih baik dia diam saja selama pelajaran berlangsung. Kinan memperhatikan dengan baik apa yang disampaikan oleh dosen tersebut. Beberapa kali wanita itu dibuat kesel oleh dosennya.


Seperti memang disengaja dengan berbagai pertanyaan yang dibuat berbelit-belit. Untung saja saat di rumah dia juga mendapat pelajaran dari sang suami jadi, tidak terlalu sulit menjawab pertanyaan dari pria itu.


"Baiklah, kalau begitu, sampai di sini saja kelas hari ini. Sampai bertemu di hari berikutnya. Saya harap tidak ada lagi yang terlambat, apalagi jika sengaja dibuat-buat untuk mencari simpati. Saya tidak suka mahasiswa seperti itu," ucap dosen yang bernama Frans itu.


Kinan sangat tahu siapa yang dimaksud oleh Frans. Namun, dia pura-pura saja tidak tahu daripada nanti dirinya emosi. Pria itu juga sengaja ingin mengujinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2