
"Karena dia memang wanita yang spesial. Dia sudah memenuhi seluruh hatiku. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisinya di hidupku," ujar Ayman yang memang disengaja agar Wina tahu bagaimana isi hatinya. Yang tidak akan pernah berganti dengan siapa pun.
Ayman menyayangkan hubungan mereka yang harus seperti ini karena perasaan cinta. Dulu dia sangat menyayangi Wina seperti adiknya sendiri. Tidak jarang pria itu akan bertengkar dengan orang yang mengganggu gadis itu. Namun, kebaikannya disalah artikan oleh Wina yang menganggap perlakuannya itu adalah bentuk cinta.
"Sepertinya Kakak sudah benar-benar cinta mati sama Kak Zayna," timpal Kinan.
"Tentu saja, apalagi sekarang dia sudah menjadi kakak ipar kamu. Tentunya Kakak semakin mencintainya."
"Aku jadi iri sama sama Kak Zayna, yang bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dari Kakak. Suatu saat nanti, aku juga ingin mempunyai suami yang hanya mencintaiku."
"Amin." Setelah itu tidak ada percakapan di antara mereka, hingga sampai di stasiun.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai di sini," ucap Wina sebelum turun.
"Iya, sama-sama."
Wina pun turun. Ayman dan Kinan sama sekali tidak ada niat untuk mengantarnya ke dalam. Mobil yang ditumpangi keduanya melaju meninggalkan Wina seorang diri.
"Apa yang Kakak ucapkan tadi sungguh-sungguh?" tanya Kinan.
"Ucapan yang mana?" tanya Ayman dengan mengerutkan keningnya.
"Yang mengenai kakak jatuh cinta sama Kak Zayna!"
"Tentu saja itu sungguh-sungguh. Memangnya Kakak sedang main-main?"
"Aku hanya takut tadi itu hanya untuk memanas-manasi Kak Wina saja."
"Ya, memang tujuannya seperti itu, tapi semua yang Kakak ucapkan itu jujur dari dalam hati. Tidak ada niat untuk berpura-pura."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu." Keduanya pun berbincang hingga sampai di depan kampus Kinan.
Memang benar seperti yang Kinan katakan jika apa yang dia ucapkan tadi, hanya untuk menegaskan pada Wina. Akan tetapi, setiap kata yang diucapkan tadi semuanya benar. Pria itu sudah sepenuhnya mencintai Zayna. Hanya wanita itu yang Ayman cintai kemarin, saat ini dan selamanya.
*****
Sementara itu, di sebuah rumah, Rahmat mendapat pesan dari Ayman. Jika menantunya itu sudah mentransfer uang bulanan. Pria itu pun melihat akun m-banking miliknya. Dia benar-benar terkejut dengan isi rekeningnya karena Ayman mengirim uang sebanyak itu.
Rahmat bertanya-tanya, apa pekerjaan menantunya hingga bisa mengirimkan uang sebanyak sepuluh juta. Gaji pria itu saja tidak sampai segitu. Dia pun mencoba menghubungi Zayna dan bertanya apa pekerjaan Ayman, hingga bisa mengirimkan uang sebanyak itu. Bukankah mereka juga membutuhkan uang? Namun, sayang sekali ponsel putrinya tidak aktif.
Berkali-kali Rahmat mencoba kembali menghubungi Zayna. Namun, ponsel putrinya tetap tidak aktif. Savina yang melihat sang suami tengah serius pun mendekatinya.
"Siapa sih, Pa, yang Papa telepon? Kayaknya serius sekali?" tanya Savina.
"Tidak apa-apa, Papa berangkat kerja dulu. Ada pekerjaan penting." Rahmat segera pergi meninggalkan istrinya.
Tidak lama setelah itu, ponselnya berdering, tertera nama Zanita di sana. Savina menarik napas dalam-dalam. Dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada putrinya. Hidup putrinya tidak pernah tenang sejak pernikahannya dengan Fahri. Pria itu yang sebelumnya baik, kini bersikap dingin pada Zanita.
Dulu saat menjadi kekasih Zayna, pria itu sangat hangat. Itulah kenapa dia mau menikahkan putrinya dengan Fahri karena Savina yakin, bahwa pria itu bisa menyayangi Zanita dan memanjakan putrinya itu. Namun, siapa sangka jika setelah menikah, Zanita justru menjadi semakin menderita. Apalagi di sana putrinya dijadikan sebagai pembantu.
"Halo, Sayang. Ada apa?" tanya Savina setelah menggeser tombol hijau.
"Ma, aku ingin pulang. Aku sudah tidak tahan tinggal di sini. Semakin hari, Mama Lusi semakin semena-mena padaku," rengek Zanita di seberang telepon.
"Kamu sabar dulu. Cobalah untuk bersikap baik kepada Fahri, pasti dia akan menuruti keinginan kamu."
Savina mencoba membujuk putrinya. Bagaimanapun dia tidak rela jika Zanita menjadi janda. Apa kata tetangga nanti jika sampai itu terjadi. Di tempat tinggalnya, orang-orang menganggap status janda adalah aib, apalagi karena bercerai. Mereka dianggap tidak becus sebagai wanita.
"Pokoknya aku mau pulang!"
__ADS_1
"Zanita, kamu jangan gitu, dong! Kamu jangan buat malu Mama. Apa kata tetangga nanti jika kamu pulang lalu, Fahri menceraikan kamu. Mama nggak mau kamu jadi janda. Para tetangga akan semakin menggunjing kita. Pokoknya kamu harus bisa bertahan di sana."
Zanita yang kesal dengan kata-kata mamanya. Dia segera mematikan ponsel secara sepihak. Wanita itu tidak habis pikir dengan mamanya. Bagaimana bisa Mama Savina hanya memikirkan omongan tetangga. Padahal dirinya sudah sangat menderita di sini.
Zanita pun tidak mau menuruti keinginan mamanya. Dia akan memberontak kali ini. Terserah jika nantinya Fahri akan menceraikannya. Dia juga cantik, pasti akan mendapatkan suami dengan mudah. Meskipun dirinya sudah menjadi seorang janda. Zanita bersiap untuk pergi keluar padahal Mama Lusi sudah memerintahkannya untuk membersihkan taman.
"Kamu mau ke mana?" tanya Lusi yang melihat wanita itu turun dari tangga dan sudah siap akan pergi.
"Aku mau keluar sebentar. Mau ketemu teman-teman," jawab Zanita dengan santai.
"Tadi, kan, Mama sudah bilang kamu harus bantuin Mama untuk membersihkan taman!"
"Maaf, Ma, tapi aku nggak bisa. Aku sudah berjanji sama teman-teman, permisi. Assalamualaikum." Zanita pergi begitu saja tanpa mencium punggung tangan mertuanya. Hal yang selama ini diperintahkan Fahri.
Lusi kesal dengan sikap Zanita. Dia pun menghubungi Fahri dan menceritakan semua yang terjadi. Pria itu terkejut mendengarnya. Istrinya sama sekali tidak berpamitan padanya dan tidak mengatakan apa pun saat dirinya pergi bekerja tadi pagi.
Fahri penasaran ke mana perginya Zanita. Namun, dia tidak ingin membuat mamanya kepikiran. Pria itu mengatakan pada Mama Lusi untuk tidak marah-marah agar penyakit mamanya tidak kambuh.
Setelah memutuskan panggilan dari mamanya, Fahri mencoba menghubungi ponsel istrinya. Beberapa panggilan tidak juga diangkatnya, hingga membuat dia kesal. Pria itu pun mengirim beberapa pesan. Namun, tidak dibaca sama sekali.
"Kamu ke mana Zanita? Jangan membuat aku kesal. Sudah cukup aku bersabar selama ini sama kamu. Jika sampai aku tahu kamu sudah membuat masalah, lihat saja nanti," gumam Fahri dengan menggenggam erat ponselnya. Dia kembali menerawang masa lalunya. "Andai aku tidak melakukan kebodohan itu, aku pasti sudah bahagia bersama Zayna. Bagaimana dengan keadaannya sekarang. Apa dia bahagia dengan pernikahannya?"
Pria itu pun melanjutkan pekerjaannya. Dia mencoba untuk fokus pada pekerjaannya. Urusan istrinya akan dia cari saat pulang kerja nanti. Fahri yakin jika Zanita pasti pulang ke rumah orang tuanya karena beberapa kali wanita itu memang pergi ke sana.
.
.
.
__ADS_1