Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
299. S2 - Akmal ingin bertemu


__ADS_3

“Hira, mari makan dulu! Ajak suamimu juga,” panggil Umi Rikha saat melihat anak dan menantunya masih duduk di teras depan.


"Iya, Umi," sahut Hira yang kemudian mengajak sang suami untuk makan malam.


Di meja makan sudah ada abi, umi serta Khairi—kakak Hira, yang kebetulan baru sampai bersama dengan istrinya.


"Kamu mau pakai apa, Mas?" tanya Hira pelan. Namun, masih bisa didengar oleh semua orang yang ada di sana.


"Pakai ikan saja, Sayang," jawab Arslan yang membuat Hira melototkan matanya.


Dia sudah pernah bilang jika di pondok jangan memanggil 'sayang' tetapi sang suami sepertinya lupa. Hingga di depan kedua orang tuanya pun masih tetap memanggil seperti itu. Arslan yang sadar akan kesalahannya pun tampak gugup. Dia tadi juga asal jawab saja tanpa melihat sekitar.


"Ma–maksudnya pakai ikan, D–dhek." Arslan tampak kaku saat memanggil istrinya dengan panggilan itu. Dia tidak bisa, lebih tepatnya tidak biasa.


"Sudah tidak apa-apa, Dhek. Memang apa masalahnya kalau panggil sayang. Kita semua ngerti, kok!" ucap Khairi—kakak pertama Hira—dengan nada menggoda.


"Apaan, sih, Kak. Kakak makan saja, jangan banyak bicara," sela Hira membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.


Meskipun di telinga terdengar aneh dengan panggilan itu, mereka senang melihat keromantisan yang ditunjukkan oleh Arslan dan Hira. Semua orang melanjutkan makannya dengan tenang, hingga akhirnya semuanya selesai juga.


“Sa ... Dhek, minumnya mana?” pinta Arslan yang segera diambilkan Hira.


"Sudah, panggil sayang juga tidak apa-apa. daripada kaku begitu. Jangan hiraukan Hira, dia memang malu-malu mau. Abi juga nggak mau, kalau sampai menantunya merasa tidak nyaman di rumah ini," ucap Khairi.


"Sudahlah, Kak. Kakak nikmatin aja makannya," sela Hira dengan kesal.


"Khairi jangan ganggu adik kamu terus," tegur Abi yang kemudian meminum minumannya. "Tapi Abi setuju dengan apa yang dikatakan kakak kamu. Abi tidak mau menantu Abi tidak nyaman di rumah ini. Panggil saja sesuai keinginan kalian."


"Iya, Abi."


"Ngomong-ngomong Kak Nadhif nggak pulang, Umi?" tanya Hira.


Dia sebenarnya juga sudah sangat merindukan kakak keduanya itu, yang saat ini berada di luar negeri untuk kuliah.

__ADS_1


"Kakak kamu sedang banyak tugas jadi tidak bisa pulang. Dia 'kan sangat sibuk, selain kuliah juga harus kerja." Hira mengangguk, wanita itu sangat kagum pada kakaknya, yang saat ini mengambil gelar master di luar negeri.


Setelah menyelesaikan makan malam, semua orang kembali pada kegiatan masing-masing. Khairi kembali ke masjid,masih ada beberapa hal yang harus dia urus, sementara Abi Hasan dan Umi Rikha bersantai di ruang keluarga. Arslan tadinya ingin membantu Khairi. Namun, dilarang oleh abi karena tahu, sang menantu juga sudah lelah. Seharian sudah bekerja ditambah perjalanan ke sini, biarlah pria itu istirahat saja.


****


"Sayang, mengenai pesta pernikahan kita, kamu maunya kapan dan bagaimana?" tanya Adam saat keduanya akan tidur.


Zea tampak berpikir sejenak kemudian menjawab, "Sebenarnya aku sampai saat ini belum memikirkan hal itu, Kak. Aku masih memikirkan soal kuliah saja dulu."


"Apa kamu tidak ingin kita mengadakan pesta? Apa kamu malu dengan keadaanku yang seperti ini?" tanya Adam dengan nada sedih, sambil melihat ke arah kakinya yang terasa sulit digerakkan.


"Bukan seperti itu, Kak. Seperti rencana kita di awal. Kalau aku maunya nanti saja, setelah urusan kuliah aku selesai baru kita bahas soal pernikahan. Untuk saat ini biarkan saja seperti ini. Bukan karena malu atau apa, tapi aku ingin menyelesaikannya satu persatu."


Adam mengangguk, sejak kakinya tidak bisa berjalan, dirinya memang sering tersinggung dengan kata-kata yang sederhana sekalipun. Dia sudah berusaha melupakannya, tetapi semuanya tidak semudah seperti yang dipikirkan. Pria itu juga sering merasa tidak percaya diri.


"Ya sudah, sekarang sudah larut. Ayo kita tidur!"


Zea mengangguk, kemudian tidur dalam pelukan sang suami. Sampai saat ini keduanya memang belum menghabiskan malam pertama. Itu karena kaki Adam yang juga belum sembuh benar. Keduanya juga tidak ingin merasa terpaksa, biarlah seiring berjalannya waktu membuat mereka bahagia.


"Apa perlu Papa temani ke rumah sakit?" tanya Papa Hanif.


"Tidak perlu, Pa. Papa pasti banyak kerjaan. Papa juga sudah membantu Adam buat ngurus restoran. Adam minta maaf, sudah terlalu merepotkan Papa," sahut Adam yang merasa bersalah pada orang tuanya.


"Kamu ini bicara apa? Tidak ada yang merasa direpotkan, asalkan kamu bisa cepat sembuh, Papa sudah bahagia."


"Tentu, Pa. Aku akan berusaha agar bisa segera sembuh."


Hanif pun pergi ke kantor. Adam pergi periksa diantar oleh Zea seorang diri karena Kinan, harus mempersiapkan acara tahlilan untuk sang mertua nanti malam, yang masih di hari keenam.


Saat sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, ponsel Adam berdering. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Meskipun ragu, dia tetap mengangkatnya, takut jika itu panggilan penting.


"Halo, assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam, dengan saudara Adam?" tanya orang yang berada di seberang telepon


"Iya, saya sendiri. Ini dengan siapa?"


"Selamat siang, Pak. Kami dari kepolisian ingin mengatakan jika saudara Akmal ingin bertemu dengan Anda. Dia saat ini sedang berada di rumah sakit, yang berada di dekat kantor polisi."


"Akmal berada di rumah sakit? Apa yang Anda maksud itu Akmal saudara tiri saya?" tanya Adam yang ingin memastikan pendengarannya.


Dia memang tidak tahu menahu tentang keadaan saudara tirinya. Yang pria itu tahu hanya Akmal sudah ditangkap polisi, itu saha. Papa Hanif yang memang sengaja menutupi semuanya dari Adam.


"Baik, Pak. Nanti saya akan ke sana. Saat ini saya sedang pergi untuk periksa ke rumah sakit. Mungkin nanti agak siangan baru sampai di sana."


"Iya, Pak, tidak apa-apa. Baiklah, Pak, terima kasih sebelumnya, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Siapa yang telepon, Kak?" tanya Zea sambil menatap sang suami.


"Polisi, mereka mengatakan kalau Akmal ingin bertemu. Saat ini dia di rumah sakit. Apa kamu tahu Zea dia sakit apa?"


"Aku tidak tahu, Kak. Aku 'kan tidak kenal sama dia. Aku juga tidak bertanya pada papa dan mama, mereka menyembunyikan semuanya."


AdaM hanya mengangguk dan kemudian melihat ke arah luar jendela. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Dia takut jika kedua orang tuanya terlibat dalam penyebab Akmal masuk rumah sakit. Pria itu segera menepis apa yang ada dipikirkannya. Itu pasti hanya rasa takutnya saja.


"Memang ada apa, Kak? Sepertinya Kakak galau sekali. Bukankah Akmal juga sudah jahat sama Kakak, sampai Kakak seperti ini. Kenapa masih dipikirkan juga?"


“Nggak boleh begitu bagaimanapun juga Akmal adalah saudara Kakak. Meskipun diantara kami sama sekali tidak ada darah yang mengalir, tapi bagi Kakak dia tetaplah saudara. Terlepas bagaimana dia memandang kakak."


"Baik boleh, Kak, tapi jangan terlalu berlebihan. Nanti Kakak malah yang akan semakin tersakiti. Kakak tahu sendiri betapa kejamnya mereka sama kakak selama ini. Bahkan saat Kakak kecil saja sudah diusir, bagaimana kalau sudah besar sekarang."


"Sudah, Mama juga tidak pernah mengajari kita untuk dendam pada orang lain. Apalagi orang yang sudah kita kenal. Mengenai balasan apa yang mereka dapat, biarlah Tuhan yang memberikannya. Kita sebagai manusia biasa, hanya bisa mendoakan agar mereka bisa menjadi orang yang lebih baik lagi."


"Semoga saja doa Kakak terkabul. Itu pun kalau mereka masih punya hati," sahut Zea dengan ketus.

__ADS_1


"Sudah, jangan dibahas lagi. Sebentar lagi kita sudah sampai rumah sakit. Semoga saja nanti hasil pemeriksaan semuanya bagus. Kakak juga bisa secepatnya menjalani terapi agar tidak terlalu lama menyusahkan kamu."


"Kakak apaan, sih! Aku sama sekali tidak pernah merasa direpotkan. Justru aku senang bisa bersama kakak seperti ini." Zea memeluk sang kakak dan merebahkan kepalanya di pundak pria itu.


__ADS_2