
“Ini kita mau ngapain sih sebenarnya?” tanya Zea yang berada di dalam mobil bersama si kembar Ay.
Arslan baru saja memasuki rumah Imel. Tadi dia sudah memberi kabar pada wanita itu kalau dirinya akan datang untuk berkunjung. Untung saja dia ada di rumah bersama dengan asisten rumah tangganya. Kedua orang tuanya juga masih berada di luar kota, jadi pria itu masih bisa bebas untuk melakukan apa saja.
“Sudah, sebaiknya kamu diam saja, ikuti perintah kami,” jawab Aini tanpa melihat ke arah Zea.
Dia terus saja melihat ke sekeliling rumah Imel. Di sana ada satpam yang sedang berjaga, tadi Arslan sudah memberi minuman pada pria itu, yang dicampur dengan obat tidur. Mudah-mudahan saja obatnya segera bereaksi agar mereka tidak perlu berlama-lama seperti ini.
“Kalian nggak mau mencuri di rumah ini, kan?” tanya Zea membuat si kembar menatapnya dengan sengit.
Bagaimana bisa sepupunya berpikir seperti itu. Keluarga mereka sudah sangat kaya, untuk apa juga mencuri di rumah orang lain. Harta mereka juga nggak akan habis untuk berfoya-foya.
“Kamu itu bicara sembarangan, kami tidak pernah memiliki otak kriminal yang seperti kamu katakan,” ucap Aina dengan pandangan sengit.
Zea menunjukkan deretan giginya ke arah sepupunya itu. Dia pun akhirnya diam saja, terserah apa yang mereka lakukan. Di dalam juga ada Kak Arslan yang akan selalu melindungnya dari tingkah konyol si kembar. Akan tetapi, dalam hati gadis itu khawatir karena Arslan sendiri sudah ada di dalam.
“Na, lihat itu! Satpamnya sudah tidur,” ucap Aini sambil menunjuk ke arah satpam berada.
“Iya, ayo kita masuk! Kamu kirim pesan dulu sama Kak Arslan dan katakan kalau kita masuk,” sahut Aina.
Aini mengangguk dan mengirim pesan ke nomor kakaknya. Dia mengatakan jika semuanya sudah terkendali.
“Sudah aman, Jack?” tanya Aina pada orang yang ada di kursi paling belakang.
__ADS_1
Dia adalah ahli IT yang sengaja Arslan bawa untuk mematikan CCTV yang ada di rumah itu. Mereka tidak ingin aksi ini terekam kamera dan mengakibatkan dirinya berurusan dengan pihak berwajib. Apalagi jika sampai membawa nama keluarga mereka.
“Siap, kalian pakai ini, nanti aku informsikan langkah apa yang harus kalian ambil,” ucap Jack sambil menyerahkan ear phone yang akan terhubung dengannya.
Ketiga gadis itu pun menerima dan memakai di telinga mereka masing-masing. Meskipun Zea belum mengerti apa yang harus dia lakukan, gadis itu hanya mengikuti apa yang sepupunya perintahkan. Yang gadis itu tahu saat ini hanyalah, mereka harus mencari sebuah video, tapi seperti apa bentuknya, itu yang dia tidak tahu.
"Ingat! Kita jalannya biasa saja, jangan terlihat mencurigakan, takutnya nanti ada orang yang lewat," ucap Aini kepada saudara dan sepupunya. Keduanya hanya mengangguk dan mengikuti Aini ke dalam.
Begitu memasuki rumah, ternyata hanya ada keheningan. Sebelumnya Arslan sudah mengajak Imel untuk ke taman belakang, sementara asisten rumah tangganya tertidur di meja makan. Ketiganya segera naik ke lantai atas. Mereka sudah mengetahui di mana letak kamar Imel, itu juga dari petunjuk yang Arslan berikan.
Begitu memasuki kamar, ketiganya berpencar untuk mencari video yang mereka butuhkan. Menurut teman Arslan videonya dalam bentuk DVD. Mereka pun berpencar mencari tempat yang sekiranya menjadi tempat persembunyian. Namun, hingga seluruh ruangan diperiksa, ketiganya tidak kunjung menemukan apa yang sedang dicari.
Aini, Aina dan Zea hampir saja berputus asa dan menyerah. Namun, karena teringat dengan apa yang dikatakan kakaknya, mereka pun bersemangat untuk mencarinya kembali. Semua tempat yang paling tersembunyi pun mencoba dicarinya.
Aini dan Aina pun sama-sama menoleh, mencoba melihat apakah benar itu yang mereka inginkan. Ternyata ada banyak sekali video di sana. Masing-masing piringan ada namanya. Si kembar hanya bisa menggelengkan kepala melihat hal itu.
"Kita coba saja," ucap Aini yang kemudian mengeluarkan laptopnya yang berada di tas yang dia bawa.
Gadis itu mencoba memasukkan kaset DVD tersebut dan memutarnya. Ternyata benar, itu adalah video yang mereka cari. Zea melototkan matanya saat melihat sepupunya memutar Video. Ternyata mereka mencari yang seperti itu. Dia hanya bisa menggelengkan kepala sambil menutup matanya.
"Apa kita perlu membawa semuanya?" tanya Aini sambil memperhatikan beberapa DVD yang ada di tangannya.
"Sebaiknya tidak usah. Kita tidak ada kepentingan dengan mereka. Itu juga agar tidak membuat Imel curiga. Nanti malah ketahuan kalau ada yang masuk ke kamarnya," ucap Aina yang diangguki oleh Aini.
__ADS_1
Mereka pun memasukkan kembali, beberapa DVD yang ditemukan tadi ke tempat semula. Niatnya hanya mencari satu video itu, yang lainnya itu bukanlah urusan mereka. Ketiganya kembali merapikan barang-barang yang sempat terbongkar, ke tempat semula agar Imel tidak curiga. Bagaimanapun yang mereka lakukan itu termasuk dalam kasus pencurian.
Setelah semua dirasa sudah beres, ketiganya meninggalkan rumah itu dengan hati-hati. Untung saja asisten rumah tangga dan satpam di sana masih tertidur. Mereka jadi bisa lolos dengan begitu mudah.
“Astaghfirullah, jadi kalian ke rumah ini cuma mau curi video seperti itu? Kalau kalian mau 'kan tinggal beli. Kenapa harus mencuri?" tanya Zea saat mereka sudah sampai di dalam mobil.
Dia tidak habis pikir dengan Arslan dan si kembar. Hanya karena video seperti itu mereka sampai melakukan tindak kriminal. Apalagi dirinya juga ikut terlibat. Selama pencarian tadi, jantungnya juga berdetak tidak beraturan, takut jika ada yang menangkap mereka.
“Mana ada kita cari video begituan! Kalau bukan Kak Arslan yang meminta bantuan, kita juga nggak akan mau. Itu tadi video temannya Kak Arslan bersama dengan Imel." Aini pun menceritakan semuanya kepada Zea, tentang apa saja yang sudah terjadi pada kakaknya.
Sepupunya itu hanya mengangguk. Meskipun dia tidak setuju dengan apa yang dilakukan si kembar, tapi mau bagaimana lagi, semuanya juga sudah terjadi. Bahkan dirinya juga ikut terlibat dalam aksi pencurian yang mereka lakukan. Sekarang gadis itu merasa seperti penjahat kriminal.
"Sudahlah, semuanya juga sudah terjadi. Semoga saja apa yang kita lakukan tadi, tidak membuat masalah kedepannya. Aku tidak mau kalau sampai mama dan papa tahu apa yang aku lakukan. Terutama Kak Adam, mereka pasti akan membunuhku," ucap Zea sambil membayangkan, apa yang keluarganya lakukan terhadap dirinya nanti.
"Jangan terlalu dipikirkan, mereka sangat menyayangimu. Mereka tidak mungkin berbuat kasar padamu," sela Aina yang mencoba menghibur sepupunya.
"Justru karena mereka sangat menyayangiku, pasti mereka tidak ingin aku membuat kesalahan. Apa yang kita lakukan tadi itu sudah termasuk kriminal. Bagaimana bisa itu dibenarkan, mereka pasti akan sangat kecewa padaku," sahut Zea membuat si kembar terdiam.
Mereka juga sebenarnya takut jika orang tua mereka mengetahui hal ini. Entah apa yang terjadi nanti pada ketiganya. Akan tetapi, tidak mungkin juga di kembar membiarkan kakaknya dalam masalah.
.
.
__ADS_1