Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
188. Demam


__ADS_3

Usai salat Ashar, Hanif dan Kinan duduk di ranjang dengan bersandar di kepala ranjang. Keduanya ingin membahas masalah Adam. Entah bagaimana masa depan anak itu nanti.


"Mas, bagaimana dengan yang tadi kamu katakan bersama Mama? Apa kamu benar-benar akan mengadopsi Adam kalau keluarganya tidak ada yang mencari?" tanya Kinan yang sudah penasaran dari tadi.


Hanif pun menarik napas dalam-dalam. Dia juga belum yakin akan hal itu, tetapi membiarkan Adam sendiri, pria itu tentu saja tidak tega.


"Sebenarnya aku juga ada niat untuk ke sana, tapi semua keputusan ada sama kamu. Kamu yang nantinya akan sering berinteraksi dengan Adam. Dia juga pasti sering menghabiskan waktu bersamamu. Aku juga tidak akan memaksamu jika kamu keberatan," jawab Hanif yang diangguki sang istri.


"Sebenarnya tidak, Mas. Justru aku senang ada Adam di rumah ini. Mungkin ini juga jalan kita untuk belajar merawat seorang anak."


Hanif tersenyum, dia senang Kinan berpikir ke arah sana. "Nanti biar aku yang mengurus semuanya. Aku juga perlu berkonsultasi dengan orang yang lebih paham mengenai adopsi. Apalagi kita juga tidak tahu siapa keluarga Adam yang sebenarnya. Aku cuma takut suatu hari nanti keluarganya datang dan menuntut kita."


"Iya, Mas. Aku terserah kamu saja. Meski sejujurnya aku sudah mulai menyayangi anak itu, tapi bagaimanapun juga dia bukan hak kita."


Mereka pun mengobrol sejenak, sebelum Kinan pamit keluar untuk melihat keadaan Adam. Wanita itu tahu jika Adam belum terbiasa dengan keberadaannya di rumah ini. Pasti anak itu banyak diam saja.


"Adam mana, Bik?" tanya Kinan saat memasuki dapur. Dia sudah dari tadi melihat sekitar, barangkali Adam ada di sana. Namun, ternyata anak itu tidak ada di mana pun.


"Masih di kamarnya, Neng. Sedari tadi nggak keluar, Bibi pikir dia sedang tidur," jawab Bik Ira yang sedang membersihkan rumah.


"Saya mau ke sana dulu, Bik."


Seperti perkiraan Kinan, kalau anak itu pasti hanya berdiam diri. Padahal orang-orang di rumah ini sudah sangat terbuka padanya. Adam saja yang tidak mau membuka diri. Wanita itu berjalan menuju kamar, di mana anak itu beristirahat.


Kinan mengetuk pintu beberapa kali, kemudian membukanya. Tampak Adam yang sedang duduk di ranjang. Wanita itu berjalan mendekatinya dan duduk di tepi ranjang.


"Kenapa di kamar saja, tidak keluar. Kamu kalau main di kamar saja, pasti bosan," ucap Kinan dengan pelan.


"Aku nggak berani, Tante," sahut Adam dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa nggak berani? Apa ada yang memarahi kamu?"


"Tidak ada."


"Ayo, keluar sama tante! Jangan takut, semua orang di sini baik-baik, kok!"


Adam pun mengikuti Kinan keluar. Wanita itu tahu jika anak itu merasa takut, dia pun segera menggandeng tangannya. Kinan memperkenalkan beberapa orang yang belum dilihat tadi pagi. Seperti tukang kebun dan juga satpam.

__ADS_1


Kinan mengajak anak itu menuju taman samping rumah dan berbincang di sana. Wanita itu ingin lebih dekat dengan Adam, dia ingin tahu kepribadian anak itu meski belum ingat apa pun.


"Kalian di sini, Mama cariin ke mana-mana!" seru Mama Aida yang baru saja datang. Tampak dia membawa sepiring cemilan. "Ini tadi Mama beliin di depan. Ayo dicobain!" lanjut wanita paruh baya itu dengan meletakkan sepiring makanan tadi.


Kinan pun mengambil kue yang ada di piring dan mencobanya. "Ini enak, Ma. Mama beli di mana?"


"Ada di depan. Adam, ayo cobain! Ini enak sekali," ucap Kinan.


Anak itu masih malu-malu, tetapi dengan bujukan Kinan, akhirnya Adam mau juga mencicipi apa yang ditawarkan oleh Mama Aida. Wanita senang karena anak itu sudah mulai berinteraksi dengannya. Meskipun agak sulit, Mama Aida terap mencoba untuk berbicara dengannya.


Awalnya Adam masih malu-malu. Namun, akhirnya anak itu mau berbicara juga. Anak itu juga mulai bercerita apa yang dia suka dan tidak. Hal itu tentu saja membuat Mama Aida menatapnya curiga.


"Oh ya, Kinan. Tadi pagi katanya baby Ars demam, apa sekarang sudah baik-baik saja?" tanya Mama Aida di sela makannya.


"Aku nggak tahu, Ma. Aku malah tidak tahu kabar kalau Baby Ars sakit. Mama tahu dari mana?"


"Tadi, Mama kamu yang bilang. Tadi sempat dia buat status jadi, Mama tanyakan ternyata memang Baby Ars sakit dan dibawa ke rumah sakit. Sampai sekarang Mama belum tanya, takutnya mereka masih repot."


"Coba deh aku saja yang tanya. Seharian aku juga aku nggak pegang ponsel. Sebentar aku ambil dulu di kamar," ucap Kinan yang segera pergi dari sana. Terlihat wanita itu sangat khawatir.


"Kenapa kamu tidak mau pulang?" tanya Mama Aida pada Adam, saat Kinan sudah tidak terlihat.


"Maksud Anda apa?" tanya Adam balik karena tidak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita itu.


"Kamu tidak perlu berpura-pura di depan saya. Jika itu Kinan atau Hanif, mereka pasti akan selalu percaya padamu. Aku yakin pasti ada sesuatu yang memang kamu sembunyikan dari kami. Entah apa itu."


Adam terdiam, dia menundukkan kepalanya. Anak itu tidak tahu harus berkata apa karena memang belum ingin berbicara.


"Saya tidak akan memaksa kamu untuk menjelaskan alasannya, kenapa kamu tidak mau mengatakan yang sejujurnya, tapi jangan kecewakan anak-anak saya. Mereka sudah sepenuhnya percaya sama kamu dan menyayangimu. Kamu pasti tahu kalau mereka orang-orang baik. Saran saya sebaiknya kamu jujur kepada mereka, mengenai apa yang terjadi. Sebelum mereka tahu yang sebenarnya dan akan membencimu."


Adam semakin menundukkan kepalanya. Bukan dia tidak mau jujur, hanya saja dia takut jika harus dipulangkan.


"Maaf, aku memang tidak mau pulang. Mereka pasti akan jahat sama aku," ucap Adam dengan pelan, membuat Mama Aida semakin heran. Siapa yang dimaksud anak itu dengan kata mereka.


"Kalau memang seperti itu, katakan saja pada Hanif dan Kinan. Mereka pasti akan membantu kamu."


"Tapi bagaimana nanti kalau Tante Kinan dan Om Hanif menyerahkan saya pada mereka."

__ADS_1


"Kamu jangan mengatakan sesuatu, yang belum tentu kebenarannya. Kinan dan Hanif pasti akan memikirkan yang terbaik untukmu. Entah apa pun nanti hasilnya. Jangan takut untuk mengatakan yang sebenarnya. Kamu harus mengatakan yang sebenarnya."


Adam menarik napas dalam-dalam. Ada rasa takut yang begitu besar dalam dirinya. Mama Aida sebenarnya juga tidak tega. Diusianya yang masih kecil, dia harus mengalami hal ini. Pasti anak itu sudah mengalami kejadian yang memaksanya dewasa.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kinan sedang berjalan di sini. Jangan terlalu menunjukkan wajah sedihmu. Pikirkan baik-baik apa yang ingin kamu lakukan nanti," ucap Mama Aida yang bisa melihat menantunya berjalan ke arah mereka.


Wanita paruh baya itupun menampilkan senyumnya agar Kinan tidak curiga. Dia juga melihat Adam yang berusaha terlihat baik-baik saja.


"Adam, ada apa? Apa ada sesuatu?" tanya Kinan yang bisa melihat wajah sedih Adam.


"Tidak apa-apa, Tante. Perut saya sakit, saya mau ke dalam dulu."


"Apa perlu Tante temani?" tawar Kinan.


"Tidak usah, Tante. Saya bisa sendiri."


Adam pun pergi menuju kamarnya, sementara Kinan masih di taman bersama dengan sang mertua. Keduanya pun berbincang di sana.


"Adam kenapa sih, Ma?"


"Mama juga nggak tahu. Dari tadi Adam hanya diam saja sambil menundukkan kepala. Mungkin belum terbiasa dengan kehadiran kita," jawab Mama Aida seadanya.


"Oh ya, Ma. Tadi aku sudah tanya sama Mama Aisyah, katanya sekarang Baby Ars sudah sembuh. Meskipun badannya masih lemas, tapi demamnya sudah turun dari tadi siang. Kak Ayman bahkan tidak pergi bekerja karena khawatir pada putranya."


"Iya, tadi mamamu juga cerita, katanya mereka khawatir sejali. Maklumlah mereka kan masih belum ada pengalaman jadi, masih takut berbahaya."


"Bukankah itu wajar, Ma. Sebagai orang tua kita khawatir, kalau anak sedang sakit?"


"Iya, memang itu wajar. Cuma yang namanya anak bayi pasti akan sering sakit. Kita sebagai orang tua harus selalu siap dengan obat apa saja yang cocok untuk anak kita."


Kinan mengangguk, dia mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh mertuanya mengenai pertolongan pertama pada anak yang demam. Ini juga sebagai pembelajaran baginya.


"Kalau Hanif dulu, sering sakit nggak, Ma."


"Kalau suami kamu, jangan ditanya lagi. Tiap minggu Mama selalu periksa ke dokter. Bahkan kalau dikasih obat di rumah juga nggak akan pengaruh. Pasti harus bertemu dengan dokternya. Bahkan tanpa minum obat pun sudah turun demamnya."


"Memang bisa seperti itu buktinya, suami kamu bisa," ujar Mama Aida yang diangguki Kinan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2