Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
152. Resepsi


__ADS_3

Kinan berjalan menuju dapur. Dia ingin mengambil air minum untuk dirinya dan sang suami. Padahal sang suami hanya menggodanya, tapi wanita itu sudah gugup begini. Bagaimana jika nanti malam, bisa-bisa dia kena serangan jantung.


Kinan menarik napas berkali-kali, mencoba untuk membuat dirinya tenang. Sebelumnya setiap kali Hanif berkata manis dia selalu salah tingkah. Sekarang saat sudah sah kenapa malah jadi tidak bisa berkutik. Padahal sebelumnya wanita itu selalu berusaha untuk biasa saja, tetapi ternyata sulit.


Saat di depannya ada Hanif, rencana yang dia susun agar terlihat baik, Buyar seketika. Begitu besar pengaruh keberadaan sang suami. Untuk menghindarinya juga tidak mungkin karena pria itu sudah sah menjadi suaminya.


“Non Kinan butuh sesuatu?” tanya Bik Ira yang melihat Kinan mematung di depan kulkas.


Wanita itu sedikit terkejut kemudian menghela napas. “Mau ambil minum saja, kok, Bik. Ini sudah saya ambil sendiri.”


“Barangkali butuh makanan, biar saya buatkan.”


“Nanti saja, Bik. Sekarang Mas Hanif lagi mandi, kalau nanti makan aku bisa ambil sendiri.”


“Baiklah, kalau butuh sesuatu, nanti panggil Bibi saja.”


“Iya, Bik. Nanti aku panggil, aku ke kamar dulu,” ucap Kinan dengan membawa dua gelas minuman ke dalam kamarnya.


Begitu memasuki kamar, suasana tampak sepi. Terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Pasti Hanif masih ada di dalam. Kinan mencari pakaian yang akan dia gunakan nanti setelah mandi.


Tiba-tiba wanita itu teringat jika tidak ada pakaian untuk Hanif di sini. Tadi sang suami juga tidak membawa baju. Kinan berinisiatif untuk meminjam baju kakaknya saja. Dia keluar dari kamar menuju kamar kakaknya. Untungnya ada Ayman di sana jadi wanita itu tidak perlu mencarinya.


“Kak, aku pinjam bajunya. Tadi Mas Hanif tidak bawa baju.”


“Sebelumnya kenapa nggak kamu beliin? Seharusnya kamu siap-siap satu baju buat dia."


“Aku nggak kepikiran ke sana, Kak.”

__ADS_1


Ayman pun berjalan ke arah lemarinya untuk mengambil satu stel baju. “Kebetulan ada baju baru. Kakak belum memakainya,” ucapnya sambil menyerahkan papper bag pada adiknya.


“Terima kasih, Kak.” Setelah menerima baju dari kakaknya, Kinan segera kembali ke kamar. Namun, dia dibuat terkejut saat melihat sang suami duduk di tepi ranjang dengan hanya memakai handuk sepinggang.


Wanita itu segera membalikkan tubuhnya. Baru kali ini dia melihat tubuh pria tanpa berpakaian selain kakak dan papanya. Kinan merasa aneh saja melihat hal itu. Dia memegangi dadanya yang berdetak lebih cepat dan tidak beraturan. Suhu tubuhnya tiba-tiba terasa berbeda, ada sesuatu yang membuat pikirannya tidak bisa fokus.


“Kenapa berbalik? Bukankah kita sudah halal?” tanya Hanif.


“A—aku hanya terkejut,” jawab Kinan dengan gugup. Papper bag yang ada di tangannya pun menjadi korban. Hanif yang melihat kegugupan sang istri pun hanya tersenyum geli.


“Kinan, aku lupa nggak bawa baju. Aku juga tidak mungkin pakai baju tadi lagi. Aku harus pakai apa?" tanya Hanif.


“Mas pakai baju yang ini saja. Ini punya Kak Ayman, belum dipakai juga,” ucap Kinan sambil menyerahkan baju pada sang suami tanpa melihatnya.


Dia masih merasa malu pada pria itu. Hanif yang mengerti pun tidak lagi menggoda sang istri. Pria itu membawa bajunya ke kamar mandi dan memakainya di sana. Mendengar pintu kamar mandi tertutup, membuat wanita itu merasa lega.


Sementara itu, di dalam kamar mandi, Hanif pun sama gugupnya. Dia hanya berpura-pura terlihat biasa saja. Andai saja Kinan berada di dekatnya mungkin wanita itu bisa mendengar suara detak jantungnya. Untung saja sang istri berdiri sedikit jauh darinya jadi, dia masih bisa mengontrol dirinya.


"Aku harus mulai membiasakan hal ini. Aku tidak mungkin selamanya seperti ini. Semoga aku bisa," gumam Hanif dalam hati.


*****


Malam hari di sebuah gedung. Tampak beberapa tamu menghadiri pesta resepsi pernikahan Hanif dan Kinan. Gedung terlihat begitu mewah dengan dekorasi yang luar biasa. Bunga mawar putih mendominasi ruangan pesta, membuat para tamu kagum.


Padahal ruangan tidak sebesar pengusaha lainnya jika ada pesta. Namun, membuat siapa pun yang datang merasa nyaman. Keluarga memang sudah sepakat untuk tidak banyak mengundang tamu. Hanya kerabat dan keluarga terdekat saja.


Sepasang pengantin sudah berdiri di pelaminan sambil bersalaman dengan para tamu yang mengucapkan selamat pada mereka. Senyum terus saja terpancar dari kedua pengantin baru itu. Di sebelah pelaminan, terdapat panggung dengan seorang penyanyi yang membawakan lagu untuk menghibur para tamu. Ada beberapa tamu juga yang menyanyikan lagu yang dipersembahkan untuk pengantin.

__ADS_1


“Mas, kamu nggak mau nyanyi buat Kinan?” tanya Zayna pada sang suami.


“Aku nggak bisa nyanyi, Sayang.”


“Yah ... padahal aku ingin dengar suara kamu. Ayo, Mas! Nyanyi satu lagu saja buat Kinan. Ini juga keinginan anak kamu,” ucap Zayna sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


“Itu hanya alasan kamu saja yang dibuat-buat.”


“Kok, gitu, Mas! Ya sudah, kalau nggak mau nyanyi, tapi nggak usah nuduh-nuduh anakku begitu,” ucap Zayna dengan cemberut.


Ayman menghela napas, kalau sudah seperti ini sudah pasti dirinya yang akan kalah. “Baiklah, aku akan menyanyi, tapi kamu juga harus ikut naik ke panggung. Kita bernyanyi bersama bagaimana?”


“Aku nggak mau, Mas. Aku nggak bisa nyanyi," tolak Zayna dengan menggelengkan kepalanya.


“Aku juga nggak bisa nyanyi, tapi untuk membahagiakan istriku, nggak pa-pa sedikit fals.”


Zaina masih merasa ragu. Namun, dengan bujukan sang suami akhirnya wanita itu pun bersedia. Meski malu Ayman tetap naik ke atas panggung.


"Mohon maaf semuanya. Saya di sini sebagai kakak dari mempelai wanita, ingin mempersembahkan satu buah lagu untuk adik saya tercinta. Sebenarnya saya juga tidak terlalu mencintainya, tapi hanya dia yang saya miliki mau bagaimana lagi," ucap Ayman yang diselingi dengan tawa. Namun, matanya tetap berkaca-kaca.


"Terima kasih buat adikku. Selama ini sudah menjadi adik yang paling baik, selalu menemani dan membuat hari-hariku berwarna. Suaraku mungkin tidak terlalu bagus, tapi aku harap kamu menyukainya. Jika para tamu tidak tahan bisa menutup telinga."


Para tamu tertawa mendengar apa yang pria itu ucapkan. Ayman dan Zayna menyanyikan lagu 'Kupilih Hatimu' dari Andika Pratama dan Ussy Sulistiawati. Meski suara mereka tidak sebagus penyanyi profesional. Namun, cukup membuat para tamu larut dalam lagu yang keduanya bawakan.


Bahkan Kinan sampai meneteskan air mata karena terharu. Selama ini kakaknya tidak pernah bernyanyi. Namun, hari ini pria itu mempersembahkan lagu untuknya. Hanif merangkul pundak sang istri, dia tahu apa yang wanita itu rasakan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2