
"Aina, apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan tadi?" tanya Aini saat memasuki kamar saudara kembarnya itu.
Mereka memang sudah sampai setengah jam yang lalu dan sudah membersihkan tubuh juga. Aina yang sedang membaca buku pun mendongakkan kepala, melihat saudara perempuannya sudah ada di sini.
"Ucapan yang mana?" tanya Aina yang belum mengerti arah pembicaraan saudaranya.
"Mengenai keinginan kamu untuk segera menikah, memang kamu beneran mau segera menikah? Nggak mau kuliah? Bukannya selama ini kamu paling rajin belajar?" tanya Aina yang masih tidak percaya pada apa yang diucapkan Aina tadi. Dia juga penasaran, apa sebenarnya keinginan saudaranya itu.
"Ya ampun! Kamu ternyata masih mikirin hal itu?"
"Ya iyalah! Aku 'kan penasaran."
"Aku memang serius dengan apa yang aku ucapkan tadi, mana pernah aku berbohong. Selama ini aku memang rajin karena itu sudah tugasku sebagai pelajar, tapi kalau cita-cita, jujur aku sekarang pun nggak punya. Entah kenapa, aku nggak mau ngapa-ngapain, maunya tuh di rumah seperti mama. Selalu ada waktu untuk suami dan anak-anaknya. Meskipun di rumah sudah ada asisten, tapi mama tetap menjalankan perannya sebagai seorang ibu dengan baik. Makanya aku ingin jadi kayak mama. Kalau kamu ingin kuliah, aku pasti akan dukung kamu. Kamu jangan menyerah, ya!"
"Tapi nantinya aku nggak bakalan ada temennya kalau kuliah sendiri. Zea juga pasti sudah nggak kuliah lagi karena ada suami."
"Di luaran sana juga masih banyak orang yang ingin mengejar cita-citanya. Kamu jangan menyerah hanya sama aku dan Zea. Aku juga masih belum memutuskannya seratus persen, entah nanti mau kerja atau kuliah, aku juga tidak tahu."
Aini menatap saudaranya dan bertanya kembali. "Bukannya tadi kamu bilang ingin menikah?"
"Itu hanya sekedar keinginan, kalau jodohnya nggak ada, memang aku mau nikah sama siapa? Kamu aneh-aneh saja. Kalau dikasih jodoh, alhamdulillah. Kalau nggak, aku harus kerja. Masa mau di rumah ongkang-ongkang kaki nyusahin orang tua."
Aini menganggukkan kepalanya, apa pun keputusan Aina dan Zea, dia pasti akan mendukung. Entah bagaimana nanti hasilnya. Mudah-mudahan mereka masih bisa saling mendukung satu sama lain.
"Naya, hari ini aku tidur di kamar kamu, ya? Nggak tahu, hari ini aku tiba-tiba pengen deket kamu saja."
"Ih! Ngapain? Kamu 'kan sudah punya kamar sendiri."
"Anggap saja kalau nanti kamu beneran nikah, aku nggak bakalan bisa tidur sama kamu lagi karena sudah ada suami jadi, nggak pa-palah buat sekarang aku tidur sama kamu."
Aina pun akhirnya mengalah dan membiarkan saudara kembarnya tidur di atas ranjang. Dia juga mengikuti saudaranya untuk tidur. Keduanya menatap langit-langit kamar tidur dengan lampu remang-remang yang tidak bisa melihat secara jelas.
"Na, kalau seperti ini aku jadi kangen masa anak-anak. Dulu kita selalu bahagia tanpa repot memikirkan masa depan harus bagaimana. Yang penting setiap hari pergi dan pulang sekolah, setiap minta apa pun juga tinggal menadahkan tangan pada mama dan papa. Semuanya terasa ringan, ya?"
Aina tersenyum dan mengangguk. Tanpa terasa matanya sudah berkaca-kaca, kenangan itu tidak akan pernah dia lupakan.
__ADS_1
"Iya, masa anak-anak memang Paling membahagiakan dan tidak akan pernah bisa terulang lagi. Aku juga bahagia dilahirkan dan dibesarkan di keluarga ini, bisa memiliki saudara seperti kamu dan Kak Arslan
"Iya, kamu benar, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku lahir di keluarga lain."
Keduanya pun bercerita banyak hal, sambil mengenang masa lalu. Hal yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan karena terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing, sampai akhirnya tanpa sadar saudara kembar itu pun tertidur.
***
"Kak, apa tadi Akmal tidak membicarakan mengenai Kak Alin? Apa tidak ada keinginan dari Akmal untuk bertanggung jawab padanya? Ya ... setidaknya nanti kalau dia bebas akan menikahinya, kasihan Kak Alin, dia harus jadi orang tua tunggal untuk anaknya," tanya Zea saat mereka bersiap untuk tidur.
"Aku nggak ada urusan sama masalah itu, Sayang. Aku nggak berani bertanya, biarlah itu menjadi urusan mereka sendiri. Aku nggak mau nanti dibilang terlalu ikut campur."
"Bagaimanapun kasihan Kak Alin, apalagi Kak Alin juga tidak diterima di keluarganya."
"Tidak ada orang tua yang benar-benar mengusir anaknya, Sayang. Mungkin itu hanya emosi orang tua sesaat saja. Nanti kalau semuanya sudah reda, mereka pasti akan kembali seperti semula."
"Buktinya Kakak benar-benar diusir keluarga. Apa ada keinginan mereka untuk meminta maaf sama Kakak? Tidak, kan? Berarti ada kemungkinan juga orang tua Kak Alin tidak akan menerima lagi."
"Kalau pun memang seperti itu, biarkan saja. Itu tidak ada hubungannya dengan kita.
"Kak jika orang tua Kakak datang dan meminta maaf pada Kakak, apa Kakak juga akan memaafkan mereka dan tinggal di sana bersama orang tua Kakak?" tanya Zea dengan memandang sang suami, seketika pria itu juga ikut menatapnya. Ada kerutan di dahinya yang menandakan jika pertanyaannya kali ini terdengar aneh.
Namun, Adam tetap menjawabnya. "Kalau untuk memaafkan, sebenarnya aku juga sudah mulai membuka hati, tetapi kalau untuk kembali bersama mereka, sepertinya belum. Aku belum pernah memikirkan untuk tinggal bersama mereka. Meskipun hanya sebentar saja, yang saat ini aku pikirkan tentang mereka hanyalah saling meminta maaf saja."
Zea berpikir, apakah keluarga Adam mengetahui tentang keadaan kakaknya kini. Kenapa tidak ada seorang pun yang datang untuk menjenguk. Tidak mungkin mereka tidak tahu, sudah jelas Akmal sudah menjadi tahanan, pasti mereka juga diberitahu alasannya.
"Sudah, tidak usah membahas mereka lagi. Lebih baik kita bahas rencana kita ke depannya, kamu tidak keberatan jika kita langsung program hamil.? Maksudnya tidak perlu menunda-nunda lagi. Aku sudah berumur, kalau menunda aku akan semakin menua."
Wajah Zea memerah karena malu, entah kenapa tiba-tiba kakaknya bertanya tentang hal itu. Namun, dia harus tetap menjawab, "Itu terserah Kakak saja, kalau aku akan mengikuti apa yang kakak katakan."
"Ya sudah, ayo kita tidur! Ini sudah sangat larut."
Saat akan tidur, ponsel Adam yang berdering, ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya sempat ragu, tetapi akhirnya diangkat juga karena takut jika itu penting.
"Halo, assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, apa benar ini dengan saudara Adam?"
"Iya, benar. Ini dengan saya sendiri, ada apa, ya?"
"Begini, Pak Adam, Rumah sakit kami kedatangan seorang pasien wanita yang bernama Alin. Tadi dia mengalami kecelakaan, kami tidak tahu harus menghubungi siapa dan di ponsel ini hanya ada beberapa nomor, tapi semuanya tidak aktif jadi, saya menghubungi Anda. Maukah Anda datang ke sini sebagai penanggungjawab?"
Adam terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh seseorang, yang diyakininya pasti itu salah satu perawat atau resepsionis yang ada di rumah sakit. Pria itu tidak mungkin bisa pergi, kalau pun bisa juga tidak mungkin dia pergi sendiri dalam keadaan yang seperti ini.
"Maaf, Pak Adam. Bagaimana? Apa Anda bisa datang ke rumah sakit karena kami juga tidak tahu harus menghubungi siapa lagi."
"Saya akan usahakan."
"Baiklah, Pak Adam, kami akan menunggu kedatangan Anda." Adam memutuskan sambungan telepon dan membuang napas kasar.
"Siapa, Kak? Sepertinya serius sekali," tanya Zea saat Adam hanya terdiam dengan pandangan lurus ke depan.
Pria itu menatap sang istri dan menjawab, "Alin mengalami kecelakaan. Tadi ada seseorang menghubungiku, dia minta aku datang ke sana karena memang semua nomor yang ada di ponsel Alin, tidak bisa dihubungi. Pasti mereka sudah memblokir nomor Alin."
Zea begitu terkejut mendengar berita itu. Meskipun dia tidak begitu dekat dengannya, tetapi sebagai sesama manusia gadis itu merasa khawatir. Apalagi ada nyawa yang tidak bersalah di sana, entah bagaimana keadaannya kini.
"Terus bagaimana keadaan Kak Alin dan bayinya, Kak?"
"Aku juga tidak tahu, orang yang menghubungiku hanya mengatakan jika keadaan Alin saat ini sedang kritis."
“Terus Kakak nunggu apa lagi? Kita ke sana yuk! Kasihan Kak Alin tidak ada yang jaga, kamu lihat 'kan keadaanku, tidak mungkin aku ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini. Pasti yang ada malah ngerepotin orang lain."
"Ada aku, biar aku nanti yang bantuin segala urusan di sana."
"Memang kamu tidak apa-apa?"
"Kak, yang penting saat ini kita ke rumah sakit dulu untuk melihat bagaimana keadaan Kak Alin. Mengenai nanti keadaan selanjutnya, biarkan nanti diurus di sana.
Adam mengangguk, saat ini yang penting adalah menolong orang terlebih dahulu. Terlepas dia orang baik atau jahat. Tidak ada orang yang benar-benar ingin menjadi jahat.
"Ayo kita segera ke rumah sakit. Kamu jangan lupa kasih tahu Bik Isa, biar nanti mama nggak cariin kita."
__ADS_1
Zea mengangguk, dia membantu sang suami bersiap untuk segera pergi ke rumah sakit. Tidak lupa juga meninggalkan pesan lewat Bik Isa. Setelah itu mereka pergi bersama.