
Ayman sungguh terkejut mendengar berita mengenai orang tua Wina. Apalagi dia juga sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Pria itu jadi kasihan pada wanita yang sudah Ayman anggap seperti adiknya itu. Dia sangat menyesal karena tidak tahu apa pun mengenai berita itu. Akan tetapi, memang keadaan yang tidak mengizinkannya untuk tahu.
“Saya turut berduka cita atas meninggalnya kedua orang tua kamu, Win,” ucap Ayman pada Wina.
“Iya, terima kasih, Mas.”
“Sebenarnya saya ke sini juga untuk mewakili orang tua Wina, ingin mengutarakan wasiat terakhir kedua orang tua Wina. Mereka meminta agar kamu menikah dengan putri mereka,” ucap Indri membuat Ayman terkejut.
Dia tidak menyangka akan mendengar hal itu. Pria itu sama sekali tidak pernah berpikir untuk menikah dengan Wina ataupun dengan wanita lain. Bagi Ayman, istrinya hanya satu yaitu Zayna dan dia tidak ingin mengkhianati wanita itu karena dirinya juga tidak akan pernah mau dikhianati. Pria itu tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sampai sang istri pergi darinya.
“Mohon maaf, Tante, tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya sudah menikah.”
“Tante tahu kamu sudah menikah, tapi bukankah laki-laki bisa memiliki istri lebih dari satu? Tante ke sini hanya menjalankan amanah almarhum kedua orang tua Wina. Tante nggak mau ini nantinya akan menjadi beban seumur hidup bagi Tante.”
Ayman menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran Indri. Bukankah dia juga seorang wanita? Bagaimana Indri bisa bicara seperti itu tanpa beban?
“Tante, kalau hanya sekadar menjaga Wina, saya akan menjaganya. Saya sudah menganggap Wina seperti adik saya sendiri, tapi untuk menikah dengannya, maaf saya tidak bisa. Saya sangat mencintai istri saya dan hanya dia yang ada dalam hatiku. Tidak ada tempat untuk wanita lain.”
“Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Tante yakin kamu bisa mencintai Wina karena dia wanita yang baik.”
Indri tetap kekeh pada pendiriannya untuk menikahkan Wina dengan Ayman. Dia masih berharap pria itu mau menyetujui perkataannya. Indri tahu jika Ayman adalah pria yang baik karena itu, dengan sedikit menghiba mungkin pria itu akan luluh.
__ADS_1
“Mohon maaf, Tante. Sampai kapan pun saya tidak akan menikahi Wina dengan alasan apa pun. Meski itu wasiat dari kedua orang tua Wina, tapi saya tidak merasa mendapatkan wasiat itu.”
“Wasiat itu lewat Tante.”
“Maaf, saya tidak bisa menerimanya. Terserah jika Tante menganggap aku berdosa, tapi bagiku, aku akan lebih merasa berdosa saat aku membuat istriku menangis karena telah melukai hatinya.”
“Kalau kamu takut dengan istrimu, Tante akan bicara dengannya. Aku yakin dia akan mengerti, bukankah dia wanita yang baik?”
“Sekalipun Zayna setuju dan mengizinkanku menikah lagi, aku akan tetap pada pendirianku. Aku tidak akan menikah lagi dengan siapa pun karena aku juga tidak sanggup, jika harus melihat Zayna menikahi pria lain. Justru karena dia wanita baik, aku tidak mau menyakitinya. Aku mohon Tante mengerti dan tidak memaksaku.”
“Ayman, Tante—“
“Tante, Jangan memaksa Mas iman. Dia tidak mau menikah denganku. Aku juga tidak mau memiliki suami yang sama sekali tidak memiliki perasaan padaku, jadi Tante sebaiknya lupakan wasiat itu,” sela Wina dengan nada sedih.
“Tapi aku tidak ingin memaksa Mas Ayman,” ucap Wina dengan meneteskan air mata.
Indri menatap Mama Aisyah, berharap wanita itu mau menolongnya. Dia pernah mendengar jika wanita itu juga sempat menyetujui rencana perjodohan antara Ayman dan Wina. Namun, semua akhirnya gagal.
“Bu Aisyah, Anda adalah sahabat orang tua Wina, saya harap Ibu mau menolong saya untuk membujuk Ayman. Saya yakin dia mau mendengar ucapan Ibu."
“Maaf, Bu Indri. Semua keputusan ada di tangannya. Dia sudah dewasa, saya tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadinya. Sebenarnya saya juga mempertanyakan mengenai wasiat itu. Bukankah orang tua Wina meninggal di tempat saat mobil terbakar, bagaimana bisa mereka menyampaikan wasiat terakhirnya pada Anda?” tanya Mama Aisyah dengan menatap tamunya itu.
__ADS_1
Sejak awal dia merasa janggal dengan apa yang Indri katakan. Dia sangat mengenal kedua orang tua Wina, yang selalu memegang teguh pendiriannya. Sebelumnya dia pernah bertengkar dengan mamanya Wina dan sahabatnya itu mengatakan jika tidak ingin lagi berteman dengan dirinya, tetapi sekarang tiba-tiba ada wasiat seperti ini, jadi Mama Aisyah merasa aneh.
Ayman menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan Mama Aisyah. Tadi Indri memang mengatakan jika mobilnya terbakar di tempat kecelakaan. Bagaimana bisa ada wasiat seperti itu. Apalagi Tante Indri juga tidak satu mobil dengan keluarga Wina.
“Itu ... itu ... sebelum kecelakaan, saya pernah berbicara dengan mamanya Wina dan dia mengatakan keinginannya itu. Ya, begitulah.”
“Berarti itu bukan wasiat Bu Indri. Itu hanya sebuah keinginan, jadi anak saya tidak berhak untuk memenuhi keinginannya, kan? Kita sebagai manusia juga punya banyak keinginan, tapi tidak semua bisa terpenuhi.”
“Tapi, Bu. Saya hanya ingin kakak saya bisa tenang di akhirat dan tidak memikirkan bagaimana putrinya berada di dunia ini. Itu saja, Bu.”
“Anda salah, Bu Indri. Seseorang yang sudah meninggal, dia hanya butuh doa dari orang-orang yang terdekat dan orang yang disayangi. Mengenai kehidupan Wina di dunia ini, biarlah Wina yang mencari jalan sendiri. Dia sudah cukup dewasa untuk mencari jati diri dan jodohnya sendiri. Tidak perlu memaksa anak saya untuk menikahinya. Lagi pula Ayman tadi sudah mengatakan akan menjaga Wina seperti Adiknya sendiri, tanpa perlu menikahinya.”
“Kenapa Bu Aisyah sekarang berbeda dengan dulu? Bukannya dulu Bu Aisyah yang menyetujui perjodohan ini?” tanya Indri dengan kesal.
“Saya memang menyetujuinya karena saat itu Ayman juga tidak memiliki wanita mana pun yang dia jadikan istri. Sekarang berbeda, dia sudah memiliki istri dan saya juga tidak setuju kalau dia ingin menikah lagi. Saya paling anti dengan yang namanya poligami. Memang agama tidak melarang seorang pria untuk menikah lagi, tapi wanita mana yang mau berbagi suami dengan wanita lain. Saya rasa Bu Indri juga tidak akan mau melakukan hal itu, kan?” tanya Mama Aisyah dengan tenang. Berbeda dengan lawan bicaranya yang sudah menahan kekesalannya dari tadi.
“Bu, kedatangan saya ke sini hanya meminta Ayman untuk menikah dengan Wina. Kenapa Ibu jadi malah memberi ceramah pada saya.”
“Saya tidak merasa seperti itu, Bu. Saya hanya mengatakan apa yang saya ketahui. Saya tidak merasa memberi ceramah atau menggurui Anda, tapi saya mohon cobalah untuk mengerti keadaan putra saya dan juga istrinya. Menantu saya pasti sakit hati jika ada orang lain yang meminta suaminya menikah dengan keponakannya. Apalagi saat ini menantu saya sedang hamil. Saya tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan berakibat fatal pada kandungannya.”
Indri dan Wina sama-sama terkejut mendengar kehamilan Zayna. Mereka tidak menyangka istri Ayman akan hamil secepat ini. Kalau seperti ini, sudah dipastikan mereka akan semakin sulit membujuk Ayman.
__ADS_1
.
.