
"Ma, ada yang mau Papa bicarakan," ucap Ayman pada sang istri.
"Bicara apa, Pa? Tumben, sepertinya serius sekali." Zayna menatap sang suami, menunggu pria itu untuk berbicara.
Saat ini mereka ada di rumah, mereka semua sudah pulang dari rumah Arslan tadi pagi. Mereka memang memutuskan untuk menginap dan baru tadi pagi semuanya pulang. Meskipun sebenarnya Zayna masih malas untuk pergi, dia masih ingin bersama dengan cucunya.
"Tadi Lukman bicara sama Papa mengenai putri kita."
"Putri kita? Siapa? Ainiya atau Ainaya?"
"Aina. Dia bilang kalau Aina menyukai Ustaz Ali. Bagaimana menurut kamu jika itu memang benar."
Zayna terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan apa saja yang akan terjadi. "Jujur saja, Mama agak berat melepaskan si kembar. Mereka yang biasanya selalu manja-manja sama Mama, setiap ada apa pun yang seru pasti ceritanya sama Mama. Kalau tidak ada mereka, pasti rasanya akan sangat sepi. Kehilangan Arslan saja sudah terasa berbeda, bagaimana nanti kalau si kembar juga pergi. Mama bakalan kesepian."
Ayman tersenyum dan merangkul pundak sang istri agar lebih dekat dan lebih tegar. "Kan, ada Papa yang selalu ada di samping Mama. Tidak mungkin juga anak-anak selamanya tinggal bersama kita. Suatu hari nanti mereka akan pergi bersama dengan suaminya."
"Memang benar, tapi tidak untuk sekarang."
"Jadi Mama mau melarang mereka untuk menikah sekarang, begitu?" tanya Ayman yang ingin memastikan.
Dia tidak ingin mengambil keputusan sendiri. Apalagi anak-anak juga sudah sangat dewasa, mereka berhak memilih jalan sendiri. Dirinya dan sang istri hanya bisa memberi dukungan dan doa saja.
"Tidak juga, Pa. Kalau mereka memang ingin menikah sekarang, Mama juga tidak mungkin menghalanginya, tapi kalau bisa nanti saja saat umur mereka sudah benar-benar matang. Mama masih belum siap kehilangan mereka."
Ayman mengangguk, dirinya juga sama seperti sang istri. Masih belum rela jika si kembar pergi dari rumah. Apalagi kalau sampai calon suaminya tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Mengenai Ustadz Ali, mereka juga tidak begitu mengenalnya. Jik tidak ada perkataan yang keluar dari bibir anak-anak, keduanya tidak ingin membahasnya lagi.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Tidak perlu terlalu dipikirkan, nanti Mama malah sakit, masalah itu dipikirkan nanti saja kalau memang sudah waktunya."
Zayna pun mengajak sang suami untuk ruang keluarga dan menonton televisi di sana. Tidak berapa lama, Aina datang dan ikut bergabung dengan mereka. Gadis itu terlihat gugup, berusaha untuk memberanikan diri untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Pa, Ma, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Aina dengan suara bergetar.
"Mau bicara apa? Katakan saja, tumben mau bicara saja pakai tanya segala," sahut Ayman yang sedang bersantai di samping sang istri. Mereka tengah menikmati acara televisi yang tentunya lebih disukai oleh Zayna. Ayman tidak terlalu suka melihatnya, dia hanya menemani saja.
"Bagaimana menurut Papa dan Mama mengenai Ustaz Ali?"
Zayna dan Ayman saling pandang, baru saja keduanya membicarakan pria itu, kini anaknya juga memberi pertanyaan yang sama. Namun, sebisa mungkin dia harus terlihat biasa saja. Mereka tidak ingin putrinya tahu jika keduanya kurang suka.
"Ustaz Ali yang mana?" tanya Ayman yang berpura-pura tidak tahu siapa itu Ustaz Ali. Padahal sudah sangat jelas siapa pria yang disebutkan oleh putrinya.
"Itu, Pa, orang yang selalu mengantar Kyai Hasan jika datang berkunjung."
Aina bingung harus berkata dari mana. Padahal sebelumnya dia sudah merangkai kata-kata, tetapi saat di depan kedua orang tuanya justru malah gugup seperti ini. Gadis itu sudah bertekad akan mengatakan yang sejujurnya mengenai perasaannya. Melihat ketenangan dari kedua orang tuanya, justru semakin membuat Aina takut. Gadis itu lebih suka melihat papanya yang marah daripada diam tanpa ekspresi seperti sekarang ini.
"Kenapa diam? Memangnya ada apa dengan Ustaz Ali?" tanya Ayman sekali lagi.
"Aku menyukainya, Pa. Aku ingin bertaaruf dengannya, Pa."
Ayman menganggukkan kepala, sementara Zayna justru menggeleng. Wanita itu tidak mengizinkan putrinya bersama dengan ustaz itu. Melihat mamanya menggeleng membuat Aina menatap wanita itu dengan pandangan memohon agar merestuinya.
"Apa yang membuatmu tertarik pada pria itu? Padahal kamu juga belum mengenalnya secara menyeluruh. Bagaimana karakternya, kehidupan sehari-hari, keluarganya, semuanya. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia."
__ADS_1
"Aku memang belum tahu apa-apa tentang dia, Pa, tapi aku yakin kalau Ustaz Ali bisa membimbingku menuju jalan yang baik. Dia juga pasti bisa memberiku kehidupan yang layak di kemudian hari. Aku mohon sama Papa dan Mama merestuiku dan memberi usulan pada Kyai Hasan untuk aku bertaaruf dengan Ustaz Ali!" pinta Aina.
"Semuanya tidak semudah itu, Sayang. Kita semua tidak mengenal siapa keluarga mereka, bagaimana mungkin Papa dan mama merestui kamu begitu saja," sela Zayna.
Dia mencoba memberi pengertian putrinya agar gadis itu mengerti tujuannya. Aina masih terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan. Padahal masih banyak waktu untuk saling mengenal.
"Tapi, Ma, aku yakin kalau mereka orang baik, buktinya Kak Arslan dan Kak Hira juga bahagia, sampai sekarang. Keluarga mereka juga baik."
"Itu berbeda, Papamu lebih dulu mengenal Lukman sebelum menjadi pemimpin pondok pesantren. Papa juga mengenal keluarganya dengan baik, bahkan dulu mereka berteman saat masih menimba ilmu, sedangkan Ustaz Ali, kita tidak tahu apa pun, bahkan satu hal tentang dia pun kita tidak tahu. Bagaimana mungkin kamu bisa memilihnya?" tanya Zayna yang benar-benar tidak menyukai pilihan putrinya.
"Tapi aku yakin kalau Ustaz Ali orang baik, Ma."
"Tapi, Sayang ...."
"Mama," sela Ayman yang tidak ingin sang istri berdebat dengan putrinya. Apalagi keduanya berpegang teguh pada apa yang dianggapnya benar. Nanti dirinya akan mencari tahu mengenai keluarga mereka terlebih dahulu, sebelum merelakan putrinya untuk menjadi istri orang lain.
"Sudah, sebaiknya kita bicarakan nanti saja. Masih banyak hari yang lain."
"Tapi Papa harus memikirkan keinginanku baik-baik."
"Iya, akan Papa pikirkan." Ayman tidak ingin putrinya kecewa. Semuanya akan terjawab Nanti.
Terlihat wajah Aina yang kurang yakin dengan jawaban dari papanya. Namun, sebisa mungkin gadis itu akan buktikan pada papanya, jika ustadz Ali memang orang yang baik dan patut untuk diperjuangkan. Dia akan berusaha membuat Ayman melihat kelebihan yang dimiliki Ustaz Ali.
Aina pamit pada kedua orang tuanya untuk ke dalam. Dia pergi menuju kamar saudaranya. Gadis itu ingin berbicara dengan Aini, kira-kira dirinya harus melakukan apa. Aina yakin kembarannya pasti memiliki cara untuk membujuk kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ayman dan Zayna hanya bisa menghela napas, melihat keinginan putrinya yang begitu kuat, untuk segera menikah dengan Ustaz Ali.