
"Halo, apa kabar Adam lama nggak ketemu, akhirnya bisa melihatmu juga di sini," ucap pria itu tanpa tahu malu, dia yang tidak lain adalah Akmal.
Padahal saat ini pria itu sama sekali tidak menggunakan apa pun. Dia dengan santainya berjalan dan memakai celananya yang berada di lantai, sementara Alin menutupi tubuhnya dengan selimut. Wanita itu benar-benar takut karena sudah ketahuan sang kekasih, melakukan hal yang tidak benar. Tadinya dia ingin pergi bersama Adam, tetapi tiba-tiba Akmal datang dan menggodanya kembali.
"Ternyata kalian benar-benar penghianat. Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan ini padaku, Alin. Padahal selama ini aku sudah sangat baik padamu," ucap Adam dengan menahan kegeramannya.
Alin hanya diam tidak mengatakan apa pun. Dia benar-benar malu dan merasa bersalah karena sudah menghianati Adam. Kekasihnya memang sangat baik padanya selama ini, tetapi Akmal lebih bisa memanjakannya. Sebagai wanita, tentu saja wanita itu senang diperlakukan istimewa.
"Santai dong Kakakku, sebaiknya kita bicarakan baik-baik atau mungkin kita bisa bersenang-senang bertiga," ucap Akmal dengan santainya.
Arin yang berada di atas ranjang pun terkejut mendengar apa yang dikatakan Akmal. Terlebih lagi saat pria itu memanggil Adam dengan panggilan kakak. Selama ini dia tidak tahu jika dua pria ini saling mengenal, tetapi kenapa Adam tidak pernah mengenalkan mereka. Bukankah Akmal juga mengatakan jika dirinya berasal dari luar kota.
"Apa mungkin mereka saudara sepupu? Tapi kenapa Akmal tidak pernah cerita jika memiliki saudara di kota ini?" tanya Alin dalam hati.
"Jangan samakan aku dengan dirimu. Aku bukan orang yang suka melakukan perbuatan menjijikan seperti yang kalian lakukan," tolak Adam.
Akmal menatap Adam sinis dan berkata, "Jangan sok suci. Kamu juga pasti sering melakukannya dengan wanita di luar sana, kan? Apalagi adik kamu juga sangat cantik, jangan-jangan kamu juga melakukannya dengan dia."
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Akmal, bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Hingga bibir pria itu berdarah. Adam sangat marah saat Akmal dengan tidak tahu malunya, mengatakan hal yang tidak-tidak tentang adiknya, yang selama ini dia sayangi dan dijaga. Adam tidak akan membiarkan siapa pun menghina apalagi menyakitinya
"Zea adalah wanita yang paling suci di dunia ini. Jangan sekalipun kamu menyebut namanya dengan bibir kotormu itu."
Akmal tertawa terbahak-bahak, sepertinya dia salah sasaran. Seharusnya yang bermain dengannya di atas ranjang tadi adalah adiknya Adam, bukan gadis itu. Akmal bahkan bisa melihat kemarahan kakak tirinya yang begitu besar, saat dirinya menyebut adik Adam.
"Apa artinya kamu sangat menyayangi adikmu itu? Atau kamu mencintainya sebagai seorang wanita?"
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu. Sejak kapan kalian memiliki hubungan? Dan kamu Alina, kalau kamu mencintainya kenapa kamu setuju untuk menikah denganku? Katakan saja kalau kamu mencintai pria lain, tidak perlu mempermainkanku seperti ini. Aku bahkan sudah mengurus semua keperluan pernikahan kita, tapi kamu malah berbuat hal menjijikan seperti ini. Aku tidak tahu harus berkata apa pada keluargaku nanti. Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Adam memejamkan matanya sejenak.
Papa dan mamanya pasti akan merasa sedih dengan apa yang sudah terjadi pada kehidupannya. Alina adalah pilihannya sendiri, tetapi kini semuanya hancur begitu saja. Bahkan dia sudah membuat kedua keluarga terpecah belah.
"Kamu mau bertanya kenapa? Tanyakan saja pada diri kamu sendiri, kenapa aku melakukannya. Ini semua juga karena kesalahanmu," jawab Alin dengan emosi.
"Kesalahanku? Memang apa yang aku lakukan?"
"Apa kamu tidak sadar jika selama ini kamu sudah menelantarkanku? Aku juga seorang wanita, butuh perhatian dan kasih sayang dari seorang pria. Kamu selalu sibuk dengan keluargamu, terutama adikmu itu. Kamu selalu menempatkanku pada posisi terakhir. Aku tidak mau itu terjadi padaku nanti. Aku tidak ingin menikah dan hidup dalam keluarga toxic, yang lebih mementingkan kedua orang tua dan adiknya. Aku butuh seorang laki-laki yang menempatkanku pada posisi pertama dan memberikanku kenyamanan," jawab Aina, kalimat yang selama ini dia tahan akhirnya terucap juga.
"Kenyamanan yang seperti kalian lakukan barusan?"cibir Adam. "Kita belum menikah, tapi kamu sudah memintaku mendahulukanmu. Aku tidak mungkin melakukannya, itu karena keluargaku adalah orang yang memberikan aku kasih sayang. Berbeda jika nanti kamu sudah sah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya."
"Aku ragu jika kamu bisa berubah."
"Aku mengakui kalau aku memang melakukan kesalahan. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita. Kita sepertinya sudah tidak bisa bersama lagi, aku juga tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan seorang pengkhianat. Kamu juga sudah punya laki-laki yang bisa memberikan kamu segalanya. Aku harap kalian bisa berbahagia, terima kasih sudah pernah menjalani hari bersamaku. Meskipun akhirnya semuanya harus berakhir."
Alin tidak rela jika harus berpisah dengan Adam. Namun, keadaan dirinya yang seperti ini, sudah pasti membuat pria mana pun tidak bisa menerimanya. Wanita itu tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan kedua orang tuanya nanti, saat mengetahui bahwa pernikahan dia dan Adam sudah batal. Mereka sudah sangat menyukai kekasihnya itu.
"Sudah tidak ada lagi yang harus aku katakan, permisi," ucap Adam yang segera pergi dari sana.
Alin berusaha untuk mengejar Adam dengan selimut yang melilit di tubuhnya. Namun, langkah wanita itu terhalang selimut, membuat dirinya tertinggal. Dia berusaha payah terus melangkah sambil meneriakkan nama sang kekasih, tetapi sama sekali tidak ada sahutan. Adam pun akhirnya pergi dari apartemen itu meninggalkan Alin yang menangis dengan meneriakkan namanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Adam menetaskan air mata. Dia merasa sedih karena sudah dibohongi selama ini. Namun, dalam hati pria itu merasa lega. Setidaknya Adam mengetahui semuanya sebelum terlambat.
Dia juga tidak menyangka jika Alin yang selama ini dia kenal baik dan pendiam, bisa juga berbuat seperti itu. Selama bersamanya, mencium saja tidak pernah saat mereka keluar. Hanya sebatas pegangan tangan dan cium pipi, selebihnya tidak pernah.
__ADS_1
Kenangan dirinya bersama Alin tiba-tiba hadir dalam ingatan. Adam mengakui jika dirinya juga bersalah dalam hal ini. Dia kurang mengerti bagaimana perasaan wanita. Akan tetapi, pria itu juga tidak bisa mengabaikan keluarga dan adiknya begitu saja. Mereka selama ini sudah sangat baik, yang Adam lakukan sama sekali tidak ada artinya untuk keluarga itu. Mungkin dirinya dan Alin memang tidak berjodoh.
Hingga akhirnya sampailah dia di depan rumah. Pria itu segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Suasana tampak begitu sepi, tidak ada seorang pun di sana. Adam pun mencoba mencari mamanya di taman, biasanya wanita itu ada di sana untuk menanam bunga. Namun, ternyata tidak ada siapa pun di sana.
"Mama ada di mana, Bik?" tanya Adam pada Bik Isa yang sedang menjemur baju.
"Ibu mengantarkan Non Zea ke bandara," jawab Bik Isa sambil sedikit mengeraskan suaranya karena jarak mereka sedikit jauh.
Adam mengerutkan keningnya, dia masih belum memahami kata-kata asistennya itu. Memang mama dan adiknya ke bandara untuk apa. Apakah mungkin opa dan omanya pulang juga. Kenapa tidak ada yang memberitahunya, apa dadakan?
"Apa sama papa juga, Bik?"
"Tidak berdua saja sama ibu. Tadi Tuan mau ikut, tapi tiba-tiba ada telepon dari kantor, katanya penting," jawab Bik Isa yang semakin membuat Adam heran.
"Kenapa mama sama Zea ke bandara, Bik?"
"Untuk mengantar mengantar Non Zea, Den."
"Mengantar Zea? Memang Zea mau ke mana?"
"Katanya mau tinggal sama Omanya di sana, dia juga akan kuliah di sana."
Adam terkejut mendengarnya. Dia sama sekali tidak mendengar mengenai rencana adiknya, bahkan Zea tidak berpamitan padanya. Ini pasti ada kaitannya dengan perasaan Zea dan juga pembicaraan mereka kemarin. Tanpa mengatakan apa pun, pria itu pun dengan cepat berlari ke depan dan menaiki mobilnya.
Pria itu ingin mengejar adiknya, mudah-mudahan saja pesawatnya belum berangkat. Dia ingin menanyakan alasan kepergiannya dan juga mau mengatakan sesuatu.
__ADS_1
.
.