
“Kinan, aku dengar katanya Pak Hanif mau resign, benar?” tanya Farah saat keduanya sedang berada di perpustakaan. Kelas baru saja selesai, Kinan ingin mencari buku untuk tugasnya.
“Iya, dia mau fokus sama perusahaan papanya,” jawab Kinan pelan, takutnya mengganggu yang lain.
“Pak Hanif punya perusahaan?” Pekik Farah tertahan.
“Hust ... lebih tepatnya itu perusahaan milik orang tuanya. Pak Hanif ‘kan anak tunggal jadi, dia yang harus meneruskan perusahaan orang tuanya. Tidak mungkin diberikan kepada orang lain, kan, sementara ada anak. Untuk apa coba orang tua membangun perusahaan besar kalau bukan untuk anak-anaknya.”
"Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu?"
"Pak Hanif yang menolak. Dia masih ingin menggapai cita-citanya untuk jadi pengajar."
Farah menganggukkan kepalanya. Tidak banyak orang baik seperti Pak Hanif, yang rela susah padahal tinggal hidup enak di bawah orang tuanya. Pantas saja dosennya itu menyukai Kinan karena keduanya sama-sama memiliki hati yang baik.
“Aku nggak nyangka, ternyata Pak Hanif itu orang kaya," ucap Farah.
Kinan hanya mengangguk. Dia terlihat biasa saja, kemudian bertanya pada Fara. “Kamu tahu dari mana kalau Pak Hanif mau resign?”
“Tadi banyak yang bicarain saat di kelas karena hari ini Pak Hanif datang untuk berpamitan pada para dosen.”
“Sekarang Pak Hanif ada di kampus?” tanya Kinan karena sebelumnya, Hanif tidak mengatakan apa pun mengenai kedatangannya hari ini.
“Iya, sudah sejak tadi.”
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Kinan, saat di lihat ternyata pesan dari Hanif. Pria yang baru saja dibicarakannya. Tunangannya itu meminta dirinya agar segera ke tempat parkir.
“Farah, aku balik dulu, ya? Aku masih ada urusan.”
“Iya, tidak apa-apa.”
Kinan beranjak dari sana menuju tempat parkir. Sampai di area parkiran, Kinan mencoba mencari mobil Hanif. Begitu melihat keberadaan mobil tunangannya. Gadis itu segera masuk.
“Kamu sudah tidak ada kelas lagi?” tanya Hanif.
“Sudah tidak ada lagi, baru saja selesai.”
“Kita pergi sebentar, aku mau membahas sesuatu.”
“Boleh.”
__ADS_1
Hanif pun menyalakan mobil dan meninggalkan area kampus. Kinan penasaran sebenarnya apa yang ingin pria itu katakan. Namun, sepertinya tidak enak jika dibicarakan di mobil. Gadis itu melihat sekeliling, dia tidak pernah melewati daerah ini. Kira-kira ke mana Hanif membawanya.
“Tadi anak-anak bilang kalau kamu sudah resign, Mas?” tanya Kinan memecah keheningan.
“Iya, hari ini aku sudah mulai resign. Aku sudah pernah bilang sama kamu, kalau aku harus fokus sama perusahaan Papa. Kalau untuk berbagi waktu antara perusahaan dan kampus, rasanya sangat sulit. Untuk perusahaan saja sudah sangat menyita waktu, apa lagi harus berbagi dengan kampus.”
Kinan mengangguk saja. Dia sangat tahu bagaimana sibuknya seorang pemimpin perusahaan. Hanif terus fokus pada jalanan. Untung saja tadi Kinan tidak membawa mobil. Pasti akan merepotkan orang lagi untuk mengambilnya.
Dalam perjalanan, Kinan dan Hanif berbincang mengenai keluarga besar mereka, setelah mendapat kabar tentang pernikahan. Diantaranya ada yang terkejut dan tidak percaya, ada pula yang merasa bahagia. Hingga tanpa sadar mobil yang dikendarai pria itu memasuki kompleks perumahan.
“Ini kita mau ke mana, Mas? Kenapa masuk ke perumahan?”
“Tidak apa-apa, lihat saja nanti.”
Hingga akhirnya mobil Hanif pun memasuki halaman sebuah rumah yang sangat besar. Kinan begitu takjub dengan bangunan yang ada di depannya. Rumah yang begitu mewah dengan desain klasik.
“Ini sudah sampai, ayo, masuk!” ajak Hanif.
Keduanya pun turun dari mobil dan memasuki rumah tersebut. Hanif menggenggam telapak tangan Kinan dan membawanya memasuki rumah. Lagi-lagi gadis itu dibuat terkejut dengan ornamen rumah. Semuanya terlihat klasik, ada beberapa foto keluarga di sana.
Kinan baru sadar jika ternyata ini adalah rumah keluarga Hanif. Selama ini memang gadis itu tidak tahu apa-apa mengenai tunangannya, bahkan rumah keluarga pria itu. Baru kali ini dirinya datang ke rumah ini.
“Assalamualaikum,” ucap Hanif dan Kinan saat memasuki rumah.
“Waalaikumsalam,” sahut Mama Aida sambil berjalan ke depan. “Eh, ada menantu Mama di sini. Kenapa nggak bilang kalau mau datang? Mama nggak nyiapin apa-apa.”
“Nggak perlu, Ma. Aku nggak mau ngerepotin Mama," sahut Kinan sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Mana ada merepotkan. Kamu itu anak Mama jadi, nggak ada kata merepotkan. Mama justru senang kamu bisa main ke sini. Bisa tahu rumah Mama jadi, kapan-kapan kamu bisa main sendiri ke sini tanpa menunggu Hanif."
“Iya, Ma.”
“Ayo, masuk! Kita duduk di ruang keluarga saja, biar bisa ngobrol enak,” ajak Mama Aida.
Mereka berjalan memasuki rumah. Wanita paruh baya itu menggandeng calon menantunya, hingga membuat Kinan merasa canggung dibuatnya, tetapi gadis itu mencoba untuk terlihat biasa saja.
Mama Aida dan Kinan duduk di ruang tamu, sementara Hanif menuju ke kamarnya. Ada sesuatu yang ingin pria itu tunjukkan pada calon istrinya.
“Kamu tadi habis dari kampus?” tanya Mama Aida.
__ADS_1
“Iya, Ma. Tadi ketemu sama Mas Hanif di sana. Katanya Mas Hanif sudah resign dari kampus.”
“Iya, kamu tahulah kalau dia harus mengurus perusahaan. Memang siapa lagi kalau bukan Hanif. Meskipun dia tidak suka, dia harus tetap melakukannya.”
Saat sedang asyik mengobrol, Hanif datang dengan membawa laptopnya. Pria itu duduk di sebelah Kinan yang lainnya jadi, sekarang posisi gadis itu berada di antara Mama Aida dan Hanif.
“Sayang, ini ada beberapa contoh EO yang sudah aku hubungi. Kamu bisa memilih salah satu di antara mereka atau kalau kamu mau, kamu bisa pilih EO yang lain,” ucap Hanif sambil menunjukkan gambar dekorasi milik salah satu event organizer.
Sementara itu, Kinan hanya diam, dia merasa malu karena pria itu memanggilnya ‘sayang’ di depan calon mertuanya. Ingin sekali gadis itu menyumpal mulut tunangannya karena sudah membuatnya tidak bergerak. Hanif hanya sibuk mengotak-atik laptopnya, tanpa peduli apa yang Kinan rasakan.
“Sayang, kenapa diam? Mau pilih yang mana?” tanya Hanif yang kali ini menatap ke arah Kinan.
Gadis itu pun melototkan matanya, sambil memiringkan kepala agar calon mertuanya tidak tahu apa yang dilakukan Kinan. Dia berharap Hanif mengerti maksudnya, tetapi pria itu seolah tidak peduli dan terus menatap laptopnya.
“Dia itu malu, Hanif. Kamu manggil dia ‘sayang’ di depan Mama,” jawab Mama Aida yang sangat tahu bagaimana perasaan Kinan. Anaknya itu memang selalu bersikap seenaknya.
“Memangnya kenapa kalau aku panggil kamu ‘sayang’? Tidak usah pedulikan keberadaan Mama, nanti saat kita menikah juga akan selalu ada Mama di sekitar kita.”
Kinan tersenyum canggung pada calon Mama mertuanya. Dia jadi bingung harus bagaimana bersikap. Suaminya selalu saja bersikap masa bod*h dengan orang sekitar asal keluarganya bahagia.
“Sudah, tidak apa-apa. Dia memang suka seperti itu,” pungkas Mama Aida, yang sangat tahu apa yang dimaksud putranya.
"Aku terserah kamu saja, Mas. Aku tidak ada gambaran mengenai acara resepsi. Yang pastinya aku ingin nuansanya warna putih, itu saja," ujar Kinan.
"Tidak ada warna lainnya?" tanya Hanif.
"Kalau ada kombinasi, aku maunya kombinasi warna silver atau warna ungu. Terserah, asalkan dasarnya warna putih."
"Kalau temanya kamu nggak mau pilih?"
"Nggak, itu terserah kamu saja, asal jangan terlalu berlebihan saja."
"Nanti aku coba konsultasikan sama EO-nya. Kira-kira bagaimana bagusnya."
"Kinan, mengenai hari pertemuan keluarga, Mama dan Mama Aisyah sedang mencari waktu yang tepat untuk bertemu dan membahas mengenai hari pernikahan. Kalian tahu lah Papa kalian masing-masing sangat sibuk sekali. Mungkin kalian ada keinginan tanggal berapa gitu."
Kinan menatap Hanif seolah bertanya, kapan kira-kira hari yang pas untuk mereka menikah. "Kalau aku mungkin dua atau tiga bulan lagi. Bagaimana menurutmu?"
"Itu terlalu cepat, Mas. Bagaimana kalau empat bulan lagi, saat itu juga sudah waktunya libur kuliah jadi, agak senggang saja."
__ADS_1
.
.