Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
205. Keinginan yang tidak mungkin


__ADS_3

"Kamu mau melakukannya sendiri atau Papa yang melakukannya?" tanya Papa Hadi lagi pada menantunya.


Bukan maksudnya untuk merendahkan Hanif, dia hanya geram pada pelaku, yang sudah membuat putrinya masuk rumah sakit. Apalagi sampai membuat celaka. Untung saja Kinan tidak apa-apa jika terjadi sesuatu, sudah pasti pelaku tidak akan selamat.


"Tidak perlu, Pa. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri," sahut Hanif yang masih mengunyah makanannya.


"Baguslah kalau seperti itu. Katakan saja jika kamu butuh bantuan, Papa pasti akan membantumu. Orang-orang yang suka berbuat seenaknya memang pantas untuk mendapat hadiah."


Hanif sangat mengerti hadiah yg dimaksud mertuanya. Namun, dia tidak sekejam itu, dia hanya akan sedikit memberi pelajaran pada mereka. Pria itu tidak ingin ada orang seperti itu lagi di sekitar Kinan.


Keduanya melanjutkan makan malam, sementara di ranjang Kinan sedang berbincang dengan Mama Aisyah dan Adam. Banyak hal yang mereka bicarakan, dari kesukaan masing-masing dan hal yang paling tidak disukai. Wanita paruh baya itu mencoba untuk dekat dengan cucu barunya. Bagaimanapun juga sekarang Adam adalah cucunya. Dia berharap anak itu juga mau berbaur dengannya.


"Ma, ini sudah malam. Sebaiknya Mama dan Papa pulang, di sini sekarang sudah ada Mas Hanif," ucap Kinan pada mamanya.


Mama Aisyah melihat jam yang ada di ponselnya. "Mama maunya menginap di sini saja, temani kamu."


"Jangan, Ma. Memangnya Mama nggak kangen sama Baby Ars? Aku juga sekarang tidak apa-apa. Sebaiknya Mama istirahat di rumah. Ingat! Mama juga harus menjaga kesehatan."


Mama Aisyah menatap sang suami. Pria itu hanya mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan putrinya. Bagaimanapun mereka tetap harus menjaga kesehatan juga. Usia mereka sangat mudah sekali jatuh sakit.


Apalagi sekarang banyak sekali virus yang mudah menular. Mama Aisyah juga tidak ingin sakit, masih banyak keinginan yang belum terwujud. Akhirnya wanita itu pun mengangguk.


"Baiklah, Mama dan Papa pulang dulu. Adam mau ikut sama Oma pulang?" tanya Mama Aisyah.

__ADS_1


"Iya, Adam. Sebaiknya ikut Oma mau pulang saja ke rumah Oma. Nanti kamu di sini nggak bisa tidur. Di rumah Oma juga ada adik Baby Ars, kamu bisa main sama dia," ucap Kinan yang mencoba untuk membujuk putranya.


Anak-anak kalau terlalu lama di rumah sakit juga tidak baik untuk kesehatannya. Jangankan untuk mereka, untuk para orang tua saja mudah terserang apalagi anak-anak.


"Aku mau di sini saja, Oma. Aku tidak apa-apa di sini, tidur di lantai pun bisa." Adam tidak mau jauh dari Kinan dia takut jika keinginan akan meninggalkan seorang diri.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau ikut Oma pulang, tidak apa-apa,” ucap Kinan yang tidak ingin melihat wajah sedih Adam.


Saat ini yang terpenting buat anak itu adalah tidak memaksakan kehendak padanya. Apa pun pilihannya kita harus tetap mendukung. Dilihat dari wajahnya juga sepertinya dia masih merasa takut. Mungkin belum terbiasa dengan kehadiran Mama Aisyah dan Papa Hadi.


Mama Aisyah yang mengerti pun ikut diam, dia juga tidak ingin memaksa Adam. Wanita itu pulang bersama dengan sang suami. Sebenarnya Papa Hadi masih ada urusan dengan Hanif mengenai pelaku. Namun, sepertinya menantunya sendiri juga sudah bisa menyelesaikannya.


Dia tidak akan ikut campur mengenai kejadian ini. Biar saja itu menjadi urusan menantunya. Jika Hanif tidak sanggup pasti sudah mengatakan padanya.


Dia juga memberi wejangan pada putrinya agar selalu menjaga kesehatan. Saat ini yang dia jaga bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga adanya calon anaknya. Apalagi sekarang dirinya diharuskan istirahat total. Pasti menyiksa, tetapi ini semua demi calon buah hatinya.


Kinan mengangguk, setiap apa yang mamanya katakan. Dia senang masih memiliki orang tua pengertian seperti mereka. Saat dirinya benar-benar membutuhkan kehadiran orang yang mendukungnya, keduanya selalu hadir. Wanita itu juga bersyukur, kedua orang tuanya sangat menyayanginya.


Kinan berharap Papa Hadi dan Mama Aisyah selalu sehat agar bisa merasakan, kebahagiaan memiliki cucu darinya. Bukan hanya yang sekarang, tetapi nanti dan seterusnya. Wanita itu ingin di setiap kebahagiaan yang dia rasakan, ada orang tua yang selalu di sampingnya.


"Papa juga mau pulang dulu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi papa. Papa akan selalu ada untuk kamu." Papa Hadi mencium kening putrinya dan segera meninggalkan ruangan itu bersama dengan sang istri.


Kini di ruangan hanya tinggal Hanif, Kinan dan Adam. Anak itu sudah dari tadi selalu saja duduk di samping mamanya, seolah tidak rela jika wanita itu pergi. Padahal Kinan juga tidak akan ke mana-mana.

__ADS_1


***


Sementara itu di sebuah apartemen. Seorang pria sedang berdiri di balkon, sambil menikmati rokok dan segelas kopi yang diletakkan di atas meja. Dia adalah dosen yang bernama Frans, pria itu sedang berpikir mengenai Kinan. Saat pertama kali bertemu dengan wanita itu, ada sesuatu yang tidak dia mengerti dalam dirinya.


Setiap kali Kinan melakukan sesuatu, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya. Yang mendorong pria itu untuk dekat dengan Kinan. Bahkan saat pertama kelasnya dimulai, dia rela mencari wanita itu ke taman. Frans selalu mencoba untuk menjaga jarak dengan wanita itu.


Namun, semakin dia berusaha, justru perasaan yang Frans miliki terhadap Kinan semakin kuat. Untung saja pria itu mampu mengendalikan diri dengan baik. Jika tidak maka dia pasti sudah merebut istri orang.


"Andai saja kita bisa bertemu lebih awal. Pasti aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Maaf, bukan maksudku untuk mendoakan kejelekan untukmu. Akan tetapi, aku masih berharap jika kita bisa berjodoh. Entah bagaimana jalannya," monolog Frans dengan menatap langit yang hitam pekat, tanpa satu bintang pun di sana.


Frans memandangi pemandangan kota dengan kelap-kelip lampu jalanan. Berbagai macam kendaraan, hingga tidak dapat dia hitung berapa banyak jumlahnya. Semua orang masih sibuk dengan kesibukannya masing-masing meski hari sudah gelap.


Saat sedang asyik dalam lamunannya, ponsel pria itu yang ada di kamar berdering. Dia terlalu malas untuk mengangkat dan membiarkannya saja, hingga deringnya pun berhenti. Namun, lagi-lagi ponsel kembali berdering. Frans yang kesal pun segera mencari dan mengangkatnya.


"Halo," ucapnya dengan kesal.


"Halo, selamat malam, Frans. Bagaimana? Apa kamu sudah memikirkannya?” tanya seorang wanita yang berada di seberang.


Siapa lagi kalau bukan mamanya. Wanita paruh baya itu ingin menjodohkan Frans dengan wanita pilihannya. Sudah berulang kali mamanya memberi waktu untuk pria itu agar bisa mencari kekasih sendiri. Namun, hingga detik ini dia masih tetap sendiri.


Frans tidak bisa menjawab karena memang dirinya masih tidak bisa memenuhi keinginan mamanya. Padahal banyak sekali wanita yang berusaha mendekatinya. Akan tetapi pria itu sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Bahkan ada di antara mereka yang sampai menawarkan tubuhnya. Hal itu tentu saja semakin membuat Frans tidak suka dan menolak mereka mentah-mentah.


.

__ADS_1


.


__ADS_2