Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
99. Malu


__ADS_3

“Karena sekarang aku tidak mau lagi menjadi wanita bodoh yang bisa kalian manfaatkan. Aku juga tidak mau memiliki teman yang hanya bisa memanfaatkan, tanpa mau saling membantu. Jujur aku senang atas penghianatan kalian, dengan begitu aku bisa membuka mataku lebar-lebar. Jika kalian memang tidak pantas untuk menjadi temanku. Masih banyak di luaran sana orang-orang baik, jadi aku tidak perlu mempertahankan kalian,” ucap Kinan dengan tegas.


Tidak ada keraguan dalam diri Kinan karena memang sudah tidak ada lagi perasaan cinta untuk Niko. Yang ada hanya rasa muak dan tidak suka. Gadis itu tidak ingin menanamkan rasa benci dalam hatinya, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Berapa lama para pengkhianat akan bahagia.


Niko memandang wajah mantan kekasihnya itu dengan pandangan sedih. Dia tidak menyangka jika Kinan bisa berubah seperti ini. Dulu gadis itu selalu bersikap lembut pada siapa pun. Bahkan mantan kekasihnya itu tidak pernah sekalipun bicara kasar. Saat mereka bertengkar, selalu Kinan yang mengalah, tetapi kini saat bersama Nayla, semuanya berbalik.


“Aku tahu kamu pasti cuma pura-pura kuat. Aku sangat tahu sebesar apa cintamu pada Niko, jadi tidak mungkin kamu bisa melupakannya begitu mudah,” ujar Nayla dengan sinis.


“Aku ti—“


“Apa kalian akan mengobrol di tengah jalan seperti ini terus? Apa kalian tidak malu menjadi pusat perhatian di kampus seperti ini?”


Suara dari belakang, membuat tubuh Kinan menegang. Dia sangat tahu siapa pemilik suara ini. Gadis itu tidak berani memutar tubuhnya. Selain takut, Kinan juga malu karena sudah membuat keramaian di sini. Apalagi bersama dengan para pengkhianat.


Seharusnya tadi dia tidak meladeni mereka dan pergi saja dari sini. Kalau seperti ini, sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Lagian kenapa pria itu cepat sekali keluarnya. Kenapa tidak menunggu beberapa menit lagi.


“Kenapa diam? Apa kalian tidak punya mulut?”


Kinan memejamkan mata sejenak kemudian berbalik. Dia mencoba untuk tersenyum agar terlihat baik-baik saja. “Maaf, Pak. Saya tidak berniat untuk membuat onar. Mereka yang lebih dulu menghadang jalan saya.”


“Apa? Hei, kenapa malah memojokkan kami?” Nayla sangat geram dengan kata-kata Kinan. Seolah semua memang kesalahannya dan Niko. Meski memang seperti itu kenyataannya, tetapi gadis itu juga salah.


"Memang benar seperti itu, kan? Kamu yang lebih dulu menghadang jalanku."

__ADS_1


"Aku—"


“Sudah, sudah, apa kalian mau dihukum?”


Nayla terdiam, semua orang yang ada di sekitar pun hanya memandang saja. Semua tahu bagaimana sikap Hanif mereka yakin bahwa ketiga orang itu akan mendapat hukuman. Namun, siapa sangka jika Hanif akan melepaskannya begitu saja. Dia tidak mungkin menghukum gadis pujaan hatinya.


“Kinan, kamu kembali ke kelas. Bukankah sebentar lagi kelasmu akan dimulai?”


“Iya, Pak, terima kasih. Saya permisi,” ucap Kinan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dan berlalu dari sana. Dia merasa lega karena bisa lepas dari hukuman Hanif.


Sedangkan Nayla dan Niko masih berada di tempat. Sebenarnya Hanif ingin sekali menghukum mereka berdua, tetapi dia tidak ingin hal itu menjadi masalah. Sudah pasti akan membuat mereka merasa tidak adil karena Kinan sudah dibebaskan. Hanif juga terpaksa membebaskan Nayla dan Niko. Mereka pergi menuju kelas masing-masing.


****


Hadi dan aiman menunggu kedatangan Indri di sebuah ruangan private restoran terkenal. Indri datang bersamaan dengan sang suami, terlihat wajah mereka memang sangat lelah. Keduanya sangat khawatir dengan keadaan Wina.


“Maaf, meminta kalian datang ke sini secara langsung. Ada hal penting yang ingin kami tanyakan,” ucap Papa Hadi memulai pembicaraan.


“Iya, tidak apa-apa. Anda mau bertanya tentang apa?” tanya Doni—suami Indri.


“Begini, Pak Doni, Bu Indri. Apa anda tahu jika keponakan Anda sedang depresi?” tanya Papa Hadi membuat Indri dan sang suami terkejut.


Mereka memang menyadari hal itu. Namun, belum berani untuk membawa ke dokter. Selain itu juga, Wina selalu menolak untuk diajak dengan alasan dirinya baik-baik saja. Keduanya berpikir jika tingkah Wina hanya sementara, sebagai bentuk rasa sedih saja. Siapa sangka jika semua berlanjut hingga kini.

__ADS_1


“Apa maksud Pak Hadi. Jangan karena penolakan Ayman kemarin, hingga membuat Anda mengatakan kalau keponakan saya gila," ucap Indri mencoba menyangkal apa yang dikatakan Papa Hadi.


“Saya tidak mengada-ada, Bu Indri, tapi ini memang kata dokter. Tadi pagi sewaktu Wina datang ke rumah saya, keadaanya benar-benar berantakan. Cara bicaranya pun mulai melantur. Hingga saya mencurigai sesuatu karena melihat tingkah Wina yang tidak seperti biasanya. Saya meminta teman saya yang seorang dokter. Dia menanyakan beberapa hal pada Wina serta melihat tingkahnya dan teman saya bisa menyimpulkan jika memang Wina sedang depresi. Wina perlu diperiksa lebih lanjut agar bisa disembuhkan karena itu saya menghubungi Anda sebagai keluarganya. Saya berharap Pak Doni dan Bu Indri menyetujui pengobatan Wina.”


Indri terdiam, ternyata dugaannya selama ini benar. Akan tetapi, membawa keponakannya ke rumah sakit jiwa, rasanya sangat sulit baginya. Apa kata orang nanti jika tahu keadaan Wina? Doni juga tidak bisa membayangkan dampaknya nanti.


“Bu Indri, apa Anda tidak ingin melihat Wina sehat seperti sebelumnya?” tanya Papa Hadi yang masih mencoba membujuknya.


Bagaimanapun Wina adalah anak sahabatnya. Meski almarhum sudah tidak mengakuinya sebagai sahabat, tetapi dia masih menganggap mereka keluarga.


“Tentu saja, Pak Hadi, tetapi bagaimana dengan perusahaan keluarganya? Bagaimana dengan kata-kata orang nanti? Mereka pasti tidak akan percaya lagi pada Wina. Apalagi jika sampai berita ini terdengar oleh investor. Mereka pasti akan menarik investasinya di perusahaan papanya Wina. Itu pasti akan berdampak buruk pada perusahaan dan keadaan Wina.”


“Mengenai itu, Ibu, jangan khawatir. Saya akan berusaha untuk menutup rapat berita ini dan mengenai keberadaan Wina di rumah sakit, saya yakin rumah sakit akan menjaga data pasiennya. Selain itu, kita tempatkan di sini saja. Jika ada yang bertanya, jawab saja jika Wina perlu menenangkan diri atas kepergian orang tuanya."


Indri terlihat berpikir, dia masih belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh Hadi. Akan tetapi, wanita itu tidak mungkin membiarkan keadaan Wina semakin memburuk. Meskipun selama ini keponakannya itu selalu bersikap semena-mena, dia tetap menyayanginya. Indri menatap sang suami seolah mencari jawaban. Doni pun mengangguk karena memang itulah yang terbaik untuk Wina.


"Jika memang itu yang terbaik untuk Wina. Saya setuju saja."


Papa Hadi pun menjelaskan beberapa hal seperti yang dikatakan Dokter Rudi. Setelah itu mereka menikmati makan siang sambil membicarakan rencana selanjutnya untuk Wina. Mengenai perusahaan orang tua Wina, Hadi menyerahkan pada Doni dan Indri. Dia yakin mereka dapat dipercaya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2