
“Kinan,” panggil Farah saat gadis itu baru keluar dari mobilnya.
“Hai, Farah. Selamat pagi?” sapa Kinan sambil tersenyum.
“Pagi juga, kamu sudah mendengar berita terbaru belum?”
“Berita apa?” tanya Kinan balik sambil mengerutkan keningnya karena dia memang tidak tahu apa-apa. Gadis itu pikir itu mengenai dirinya. Namun, dugaannya ternyata salah.
“Mengenai keluarganya Nayla. Ternyata papanya Nayla itu selingkuh. Lebih tepatnya punya istri lagi dan yang lebih mengejutkan, restoran mereka terancam bangkrut.”
Kinan menghentikan langkahnya. Dia sungguh terkejut mendengar hal itu. Dirinya memang tidak mengetahui berita tentang keluarga Nayla sama sekali. Gadis itu juga tidak membaca koran ataupun menonton acara televisi.
Sejak pagi tadi Kinan juga belum melihat ponselnya jadi, dia tidak tahu ada berita apa hari ini. Gadis itu yakin jika semua yang terjadi pada Nayla, pasti ulah papahnya. Akan tetapi, Kinan tidak menyangka jika apa yang dibongkar papanya sangat mengejutkan. Memang berita ini tidak ada sangkut pautnya dengan Papa Hadi. Itu murni masalah keluarga Nayla. Akan tetapi, tetap saja Kinan merasa bersalah karena papanya yang membongkar semuanya.
“Ba–bangkrut kenapa?” tanya Kinan tergagap. Ada rasa kasihan dan takut yang tiba-tiba terlintas.
“Kamu lihat saja berita yang beredar. Aku malas menceritakannya. Bagaimanapun juga aku juga termasuk karyawan di sana. Aku mana tahu kalau makanan di sana ada yang berbahaya. Walaupun tidak semuanya, tapi tetap saja itu membahayakan nyawa orang.”
“Terus bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Itulah yang sedang aku pikirkan. Aku sedang mencari pekerjaan. Maaf, apa kamu masih ada pekerjaan untukku? Bukankah sebelumnya kamu sudah pernah menawariku, apa lowongan itu masih ada?” tanya Farah yang merasa tidak enak. Sebelumnya dia sudah menolak, tapi sekarang gadis itu membutuhkannya.
“Nanti aku coba tanyakan, aku nggak tahu masih ada atau tidak.”
“Iya, terima kasih sudah mau menolong.”
“Farah, mengenai keadaan Nayla bagaimana? Apa dia baik-baik saja?” tanya Kinan sambil menatap sahabatnya itu.
“Kamu itu sudah dijahatin sama dia berkali-kali, tapi tetap saja perhatian padanya. Sebenarnya aku juga tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Aku sudah mencoba menghubunginya dari semalam, tapi tidak diangkat juga," jawab Kinan dengan mengangkat bahunya acuh.
__ADS_1
“Aku yakin kalau Nayla saat ini sedang membutuhkan seseorang untuk mendukungnya.”
“Iya, kamu benar. Kekasihnya saja tidak peduli padanya lagi.”
“Maksud kamu siapa?”
“Memang siapa lagi kekasih Nayla jika bukan Niko. Pria itu seperti tidak ada rasa empatinya sama sekali pada Nayla. Padahal selama ini Nayla sangat baik padanya. Tidak jarang membiayai kehidupan Niko juga.”
Kini Kinan mengerti kenapa dari semalam Niko terus saja menghubunginya. Gadis itu langsung saja men-silent ponselnya. Dari pagi dia juga belum melihat sudah berapa banyak panggilan tidak terjawab dan juga pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Kinan tidak menyangka jika Niko bisa perbuatan seperti itu.
Padahal dulu saat dekat dengannya, pria itu sama sekali tidak memperlihatkan gelagat seperti layaknya pria pecundang. Bukan maksudnya untuk bahagia di atas penderitaan orang lain, tetapi Kinan bersyukur Tuhan memisahkannya dengan Niko dan menunjukkan siapa sebenarnya pria itu.
“Kenapa kamu melamun, Kin?” tanya Farah sambil menepuk pundak temannya itu.
“Tidak, aku hanya tidak menyangka saja Niko bisa berbuat seperti itu.”
“Iya, meskipun awalnya aku sakit hati karena merasa dikhianati, tapi sekarang aku tahu jika ini memang yang terbaik untukku. Tuhan lebih sayang padaku dan memberikan apa yang aku butuhkan, bukan yang aku inginkan.”
“Iya, semoga saja suatu hari nanti aku bisa bertemu dengan sosok laki-laki yang baik.”
“Amin, ya sudah. Ayo, masuk! Sebentar lagi aku ada kelas.”
Keduanya berjalan menuju ruang kelas masing-masing. Saat mereka akan sampai, sudah dihadang oleh Niko. Sepertinya pria itu sudah menunggu sejak tadi.
“Kinan, tunggu! Dari semalam aku menghubungi kamu, tapi kenapa kamu tidak mengangkatnya sama sekali?” tanya Niko.
“Apa ada keharusan kalau aku harus mengangkat panggilanmu? Aku rasa itu tidak penting, makanya aku tidak mengangkatnya,” sahut Kinan dengan sinis.
“Kinan, aku mohon jangan seperti ini. Kamu dari dulu selalu baik kepadaku dan semua orang, kenapa sekarang kamu jadi seperti ini? Apa bersama dengan Pak Hanif membuat Kinan yang aku kenal jadi berubah?”
__ADS_1
Kinan tertawa sinis mendengar apa yang dikatakan oleh Niko. Tidakkah pria itu membawa dirinya untuk berkaca, bukankah yang berubah itu dia sendiri, kenapa malah menyalahkan orang lain? Namun, berdebat dengan Niko pun rasanya percuma jadi, lebih baik dia pergi saja dari sana.
Saat Kinan melangkahkan kakinya, lagi-lagi pria itu menghadang jalan, membuat gadis itu menjadi bertambah kesal. Bahkan Farah yang ada di sampingnya pun juga ikut geram karena Niko seperti pria yang tidak tahu diri. Dulu dia sendiri yang meninggalkan Kinan dan lebih memilih Nayla. Sekarang di saat kekasihnya bangkrut dan ada masalah dengan keluarganya, pria itu seenaknya ingin kembali dengan Kinan.
“Niko, jadilah laki-laki yang punya harga diri. Jangan merendahkan dirimu seperti ini, cukup sekali kamu menghianatiku dengan memilih orang lain yang lebih bisa memberimu materi. Untuk kali ini cobalah untuk setia dengan Nayla. Dia gadis yang baik, selama ini dia juga selalu memenuhi kebutuhanmu. Sekarang saatnya kamu untuk mendampinginya. Sekarang dia butuh seseorang yang selalu ada di sampingnya. Beri dia semangat."
Kinan mencoba memberi pengertian. Dia berharap pria itu mengerti dan mau merubah pikirannya. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang sempurna. Begitu juga dengan Niko, yang menginginkan kesempurnaan tanpa mau berusaha. Namun, sepertinya usahanya sia-sia karena dia tetap kekeh ingin berpisah dengan Nayla.
"Aku tidak bisa dari awal aku tidak memiliki perasaan terhadapnya. Aku hanya mencintaimu. Maaf aku sudah pernah mengkhianatimu. Saat itu aku sedang terlena saja oleh keadaan."
Kinan memutar bola matanya malas. "Tidak bisakah kamu mencari alasan yang lebih baik lagi, alasanmu itu sungguh benar-benar sangat basi."
"Kinan, aku mengatakan yang sejujurnya. Aku tidak sedang mengada-ada."
"Kalau begitu simpan saja kejujuran kamu itu. aku sedang tidak membutuhkannya. Terserah apa yang kamu katakan itu jujur atau tidak, tidak ada pengaruhnya kepadaku. Aku sudah memiliki seseorang yang sangat menyayangiku dan kamu pasti mengerti," ucap Kinan yang berlalu dari sana.
"Apa karena Pak Hanif orang kaya, kamu mau menerimanya!" seru Niko membuat Kinan menghentikan langkahnya. Gadis itu pun berbalik menatap mantan kekasihnya itu dengan tajam.
"Memangnya kenapa kalau aku mencintainya karena dia kaya? Bukankah itu juga yang kamu cari-cari dari dulu? Apa pun alasanku memilihnya, itu bukan urusanmu dan tidak ada sangkut pautnya denganmu."
"Bagaimana kalau aku mengatakan pada Pak Hanif kalau kamu hanya mencintai hartanya bukan dia yang kamu cintai."
"Terserah padamu mau mengatakan apa. Memangnya kamu kira orang tuaku tidak mampu menghidupiku. Bahkan jika aku tidak memiliki suami, mereka dengan senang hati menampungku. Harta mereka juga nggak akan habis untukku berfoya-foya. Seharusnya kamu pikirkan hal itu baik-baik, sebelum kamu mempermalukan dirimu sendiri. Mulai hari ini jangan mencariku lagi, aku sudah benar-benar tidak mau berhadapan dengan pria pengecut seperti dirimu."
Kinan pergi dari sana diikuti Farah di belakangnya. Meninggalkan Niko yang mematung, sambil menatap punggung mantan kekasihnya. Andai saja dulu dia tidak tergoda oleh Nayla. Pasti saat ini dirinya dan Kinan masih bersama.
.
.
__ADS_1