Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
192. Di rumah orangtua


__ADS_3

"Orang yang mengenalinya? Maksudnya keluarganya yang lain?" tanya Mama Aisyah.


"Bisa keluarganya, bisa juga terangganya. Yang bisa membawa Adam pulang, tapi aku dan Mas Hanif juga nggak bakalan tega kalau mengembalikannya pada orang tuanya," jawab Kinan dengan suara pelan.


"Kenapa memang dengan orang tuanya?"


"Nanti saja, Ma. Ada Adam ke sini," sahut Kinan saat melihat kedatangan Adam bersama dengan Zayna. Tampak di tangan anak itu ada beberapa cemilan.


"Wah! Banyak sekali cemilannya. Nggak mungkin 'kan itu buat Baby Ars?"


"Bukanlah, masa iya Baby Ars cemilannya ginian. Ini buat mamanya, biar nggak ngantuk. Lagian aku juga sekarang sering nyemil. Padahal sudah tidak ada bayi dalam perut ini, tapi bawahnya lapar terus," gerutu Zayna sambil mengusap perutnya yang masih sedikit membuncit.


"Kamu masih menyusui, Na. Jadi wajar kalau cepat lapar. Lagi pula kamu juga tidak pernah jajan-jajan di luar," sela Mama Aisyah.


"Malas saja, kalau keluar. Lebih enakan pesan dan diantar ke rumah, daripada harus keluar sendiri," sahut Zayna.


"Sekarang semuanya serba instan jadi, pada malas semuanya," cibir Kinan.


"Halah, kayak kamu nggak saja. Kamu juga sama saja, malah kamu lebih parah daripada Kakak iparmu ini. Mama penasaran, apa kamu sudah bisa masak atau belum. Jangan-jangan suami kamu yang masih memasak buat kamu." Mama Aisyah menatap putrinya dengan memicingkan matanya.


Wanita paruh baya itu sangat tahu bagaimana sang putri, yang selalu malas jika diminta belajar memasak. Selalu ada saja alasan yang dibuat. Padahal dia selalu ingin makan enak.


Kinan memperlihatkan deretan giginya sebagai jawaban untuk sang mama, membuat Mama Aisyah menghela napas. Anaknya ini benar-benar bandel. Sudah dibilang beberapa kali diminta untuk belajar masak, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh.


Giliran disuruh melakukan pekerjaan yang lain, pasti cepat sekali. Akan tetapi, kenapa urusan dapur sangat sulit untuknya. Setiap orang memang berbeda keahliannya, tetapi Kinan seorang wanita, paling tidak dia harus bisa memasak makanan yang paling mudah.


"Tante Kinan nggak bisa masak?" tanya Adam.


"Nggak bisa dia. Dia ini pemalas, suaminya malah yang disuruh masak," sahut Mama Aisyah dengan nada ketus.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Tante. Nanti biar aku saja yang belajar masak. Saat aku besar, nanti aku yang masakin buat Tante," ucap Adam membuat semua orang melongo menatapnya.


Anak seusia Adam saja sudah punya keinginan yang besar seperti itu, sementara Kinan sendiri malah malas untuk belajar. Zayna tersenyum melihat ke arah anak itu. Keadaan menang terkadang membuat seorang anak terpaksa berpikir dewasa dan akan menjadi kebiasaan.


"Tuh, kamu dengar! Adam saja sudah semangat untuk belajar, masak kamunya malah malas!" seru Mama Aisyah.


"Iya, Ma. Nanti aku akan belajar masak."


"Halah, kamu selalu bilang nanti-nanti, tapi nyatanya nggak dilakukan juga."


Kinan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memang sangat malas kalau urusan dapur. Entah kenapa, padahal wanita itu sangat ingin seperti Zayna, yang sangat pandai memasak, tetapi berada di dapur membuatnya merasa jenuh, dengan pekerjaan yang itu-itu saja.


Wanita itu bersyukur sang suami tidak pernah marah pada apa pun yang dilakukan. Hanif sendiri memang bisa melakukannya. Mungkin ini yang dinamakan pasangan saling melengkapi. Di saat seorang istri tidak bisa memasak, suaminya yang pandai. Begitupun sebaliknya.


"Tante, itu bola siapa?" tanya Adam pada Zayna, saat melihat ada bola yang tergeletak diantara pot bunga.


"Aku boleh mainnya, Tante?"


"Boleh saja kalau kamu bisa."


Adam pun mengambil bola tersebut dan membawanya ke ring yang biasanya dipakai Ayman bermain. Ring-nya cukup tinggi, hingga beberapa kali Adam berusaha memasukkan bola tersebut. Namun, belum juga berhasil.


"Kinan, kamu tadi mau cerita mengenai orang tua Adam, memang kenapa dengan orang tua anak itu?" tanya Mama Aisyah yang sedari tadi sudah sangat penasaran. Namun, harus ditahan karena ada anak itu di sampingnya.


"Sebenarnya Adam itu dibuang oleh kedua orang tuanya."


"Apa!" Mama Aisyah menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apa maksud kamu?"


Kinan pun menceritakan semua yang dia dengar dari Adam, tanpa mengurangi sedikit pun. Zayna juga sangat terkejut, dia tidak menyangka ada seorang anak yang mengalami hal melebihi dirinya. Wanita itu masih diterima di keluarganya meski harus setiap hari mendapat tekanan dan cacian, sedangkan Adam harus terusir dari rumahnya sendiri. Itu pun oleh ibu tiri.

__ADS_1


Zayna berpikir, apakah di dunia ini tidak ada ibu tiri yang benar-benar baik. Yang bisa menyayangi anak sambungnya seperti anak sendiri. Bukankah setiap anak berhak bahagia, mereka juga ingin dilahirkan dari keluarga yang utuh. Namun, mereka tidak bisa memilih.


Tanpa sadar Zayna meneteskan air mata. Dia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Adam. Apa lagi anak itu masih di bawah umur, yang belum bisa menghidupi dirinya sendiri. Kinan menatap kakak iparnya. Wanita itu tahu jika Zayna pasti bisa merasakan apa yang Adam rasakan. Dia tidak ada maksud untuk membuat kakak iparnya sedih. itulah yang memang terjadi pada kehidupan Adam.


"Kak, kenapa Kakak menangis? Maaf bukan maksudku untuk membuat kakak sedih."


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedih, ternyata ada anak yang mengalami kehidupan yang lebih pahit daripada yang pernah aku rasakan. Aku bersyukur, Adam bisa bertemu dengan kamu dan Hanif. Meskipun perkenalan kalian tidaklah baik, setidaknya anak itu bisa merasakan kasih sayang dalam keluarga. Walaupun bukan keluarga sendiri."


"Itu juga yang menjadi pikiranku, Kak. Aku tidak mungkin mengembalikan dia ke keluarganya. Apalagi setelah mendengar cerita dia. Aku jadi bingung harus bagaimana?"


Zayna tersenyum, dia mengerti kegelisahan yang dirasakan oleh Kinan. Tidak semua orang bisa berada di posisi adik iparnya. Bahkan dirinya pun belum tentu sanggup melewati semuanya.


"Semua keputusan ada padamu dan Hanif. Apa pun itu, kakak pasti akan mendukungmu."


"Mas Hanif juga sebenarnya ingin mengadopsinya, tapi pasti akan sangat sulit jika tidak ada keterangan dari orang tuanya, maupun dinas sosial. Mas Hanif akan berusaha, mudah-mudahan Tuhan melancarkan segala kesulitan kami."


"Amin, semoga saja seperti itu."


"Mama juga pasti akan mendukung kalian. Jika memang itu yang terbaik untuk anak itu. Kasihan jika dia harus kembali pada keluarga yang tidak mengharapkannya, sementara di sini ada orang yang sudah sangat menyayanginya. Mama bangga sama kamu," sela Mama Aisyah sambil mengusap rambut Kinan sambil tersenyum.


Sebagai orang tua, tentu dia sangat bahagia, saat melihat putrinya punya jiwa sosial yang tinggi. Membantu hal sederhana saja sudah membuat bangga, apalagi hal besar.


"Aku jadi terharu!" seru Kinan sambil memeluk mamanya.


"Jangan kencang-kencang, ini ada Baby Ars tidur!" seru mama Aisyah dengan suara tertahan, takut jika membangunkan cucunya. Zayna tersenyum melihatnya dia juga bangga terhadap adik iparnya, yang memiliki hati jiwa sosial yang tinggi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2