
"Aini, kenapa selama aku ada di sini, aku tidak pernah melihat Kak Alin? Apa dia tidak tinggal di rumah ini? Tapi aku lihat Kak Adam selalu masuk ke kamarnya. Apa yang sebenarnya semua orang tutupi dariku?" tanya Zea saat sedang mengambil minum. Kebetulan ada Aini yang baru memasuki dapur. Dia pun mendekati Aini dan bertanya pada sepupunya itu.
"Aku melupakan sesuatu. Aku mau ke depan dulu, ya, Zea," kilah Aini yang segera pergi meninggalkan ruang makan.
Gadis itu mengusap dadanya sambil berjalan. Dia sampai melupakan ketidaktahuan sepupunya mengenai gagalnya pernikahan Adam. Sebenarnya Aini ingin menjawabnya, tetapi dirinya sudah berjanji untuk tidak mengatakan apa pun pada Zea jadi, biar sepupunya sendiri yang bertanya pada Adam atau keluarganya. Gadis itu tidak ingin ikut campur.
Zea yang berada di dapur merasa aneh dengan sepupunya. Melihat tingkah Aini, dia yakin kalau ada sesuatu yang sengaja ditutupi oleh semua orang. Dalam hati, gadis itu bertanya, "Apa benar pernikahan Kak Adam memang hancur? Tapi kenapa tidak ada yang cerita padaku sama sekali? Bahkan setiap kali aku menghubungi mama dan papa, mereka juga tidak pernah membahas hal ini. Kak Adam juga yang setiap bulan datang ke sana, tidak pernah menceritakan tentang rumah tangganya. Saat aku tanya pun pasti ada saja alasan yang dibuat untuk menghindari nya."
Zea memutuskan untuk bertanya saat semua orang sudah pulang saja. Sekarang masih banyak sepupunya yang menginap di rumah ini. Melihat itu, pasti akan membuat suasana menjadi tidak nyaman. Apalagi saat ini mereka sedang dalam masa berkabung.
Aini mengajak keluarganya untuk pulang. Awalnya mereka menolak, masih ingin membantu beres-beres terlebih dahulu. Akan tetapi, setelah gadis itu membisikan sesuatu pada kedua orang tuanya, semua orang pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Ayman dan Zayna juga tidak ingin mendapat pertanyaan yang sama dari keponakannya.
Mereka tahu siapa Zea, kalau belum mendapatkan jawaban, pasti gadis itu akan bertanya hingga akhir. Beberapa kerabat yang lain juga ikut pulang, hanya ada keluarga dan saudara dari Opa Wisnu.
Sementara itu, Adam yang berada di kamar mendapat telepon dari pengacaranya, yang berada di luar kota. Dia memang sudah berhasil merebut restoran peninggalan almarhumah ibunya, tetapi yang hingga saat ini ayah dan keluarganya masih belum bisa menerima hal itu. Selalu ada saja ulah yang mereka lakukan. Untung saja pria itu sudah memperkirakan hal itu jadi, Adam sudah menyiapkan segalanya dengan dibantu oleh Hanif juga.
"Halo, assalamualaikum," ucap Adam begitu mengangkat panggilan.
"Waalaikumsalam, Pak Adam. Keluarga Pak Farid ternyata tidak menyerah. Mereka mengajukan gugatan ke pengadilan atas kepemilikan restoran," ucap orang itu.
"Biarkan saja, Anda sangat tahu kalau mereka juga tidak memiliki bukti apa-apa. Semua bukti sudah kita miliki, bahkan pajak bertahun-tahun juga saya yang membayarnya. Jadi mereka tidak memiliki hak atas apa pun."
"Itu juga yang membuat saya tidak habis pikir. Mudah-mudahan saja pengadilan langsung menolak laporan tanpa harus repot menjalani sidang."
"Kalaupun pengadilan memenuhi tuntutan mereka dan sidang digelar, saya juga tidak takut karena saya yakin apa yang saya lakukan sudah benar. Kita juga punya semua bukti kepemilikan."
"Saya sebagai pengacara yang ditunjuk oleh almarhumah ibu Anda, merasa ikut sedih karena Pak Farid tidak menjalankan amanahnya. Bahkan rumah yang mereka tempati seharusnya menjadi milik Anda, tetapi Pak Farid ternyata belum mengubah nama kepemilikan."
__ADS_1
Pengacara itu memang sedari dulu menjadi pengacara keluarga. Hal tersebut yang membuat Adam begitu percaya padanya dan memberikan sertifikat restoran, serta segala hal tentang suratnya dulu. Meskipun hatinya sempat ragu, takut jika dikhianati, tetapi tidak ada pilihan lain. Syukurlah pengacara itu orang yang amanah.
“Mengenai rumah itu saya tidak terlalu peduli, Pak. Yang penting aku sudah merebut hasil kerja keras mama.”
“Saya akan selalu mendukung apa pun keputusan Anda. Keberadaan Anda mengingatkanku pada almarhumah mama Anda, dia juga orang baik. Semoga kelak Anda bisa menemukan pasangan yang baik juga.”
“Amin, terima kasih, Pak.”
“Sama-sama. Itu saja yang ingin saya sampaikan, nanti jika ada sesuatu yang penting, akan saya akan hubungi.”
“Terima kasih, Pak. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Adam menutup panggilan dan menatap kosong ke arah depan sambil bergumam, “Aku tidak akan membiarkan kalian memiliki apa pun yang memang bukan milik kalian. Sudah terlalu lama aku membiarkan kalian bersenang-senang. Sekarang sudah saatnya kalian kembali ke kehidupan kalian yang sesungguhnya. Aku bisa saja membuat kehidupan kalian sengsara seperti yang aku alami dulu, tapi aku bukan orang jahat seperti kalian. Selagi aku masih berbuat baik, sebaiknya kalian menerima saja.”
“Kak Adam, tunggu!” ucap Zea saat pria itu ingin masuk ke kamarnya.
“Ya, ada apa?”
“Aku mau tanya sesuatu sama Kakak. Aku harap Kakak menjawabnya dengan jujur.”
“Tanya apa? Kalau aku tahu jawabannya, pasti akan aku jawab,” ucap Adam dengan yakin.
“Ke mana Kak Alina? Sejak aku pulang, aku tidak melihatnya. Tidak ada yang membahasnya sama sekali juga. Apa Kak Adam sedang ada masalah dengan istri Kakak?”
Adam terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu melirik ke arah mertua orang tuanya, berharap mereka membantunya untuk menjawab. Namun, seperti perkiraannya, kalau mereka juga sama bingungnya seperti dia. Zea menatap kedua orang tuanya, sepertinya mereka juga mengetahui sesuatu.
__ADS_1
“Opa, apa Opa tahu sesuatu? Aku lihat Opa dari tadi diam saja dan terlihat santai. Aku yakin Opa pasti juga menyembunyikan sesuatu dari ku, kan? Kenapa tidak ada satu orang pun yang mengatakan sesuatu padaku?”
“Hanif, sebaiknya kamu katakan saja yang sejujurnya. Mungkin ini sudah saatnya Zea tahu,” ucap Opa Wisnu pada putranya yang semakin membuat Zea bingung.
"Jadi benar ada yang semua orang sembunyikan dariku? Opa juga tahu, padahal selama ini Opa juga tinggal sama aku.”
“Memang benar, ada yang kami sembunyikan darimu. Apa itu, sebainya Adam yang menjelaskan,” sahut Hanif membuat Adam sedikit terkejut. Namun, dia senang karena secara tidak langsung papanya memberi pria itu kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya.
“Pa, aku boeh mengajaknya keluar, kan? Aku ingin menjelaskan semuanya dari hati ke hati,” pinta Adam pada papanya.
“Kamu tidak akan macam-macam padanya, kan?”
“Papa seperti tidak mengenalku saja," sahut Adam dengan kesal, dia sudah pernah berduaan sebelumnya. Dia dan Zea juga tidak melakukan apa pun
“Apa pun bisa terjadi jika sudah dikuasai setan.”
Adam mendengus, kemudian membawa Zea pergi. Gadis itu sama sekali tidak menolak karena dia juga penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada rumah tangga kakaknya. Tiba-tiba saja Zea merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, dia berusaha untuk biasa saja dan berpikir positif.
“Kita mau ke mana, sih, Kak?” tanya Zea saat mereka sedang dalam perjalanan.
“Mau ke tempat yang lebih tenang untuk bicara berdua,” jawab Adam yang semakin membuat Zea penasaran.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Zea juga tidak bertanya lagi. Menurutnya percuma juga, Adam juga tidak akan menjawab. Gadis itu lebih memilih mendengarkan musik di radio yang sengaja diputarnya. Hingga tidak berapa lama sampailah mereka di tempat yang dituju.
Keduanya turun dari mobil dan menuju tempat yang sangat Zea kenal, yaitu pantai. Tempat di mana dia dulu selalu menghabiskan waktu saat sedang bahagia maupun sedih. Gadis itu tidak menyangka jika kakaknya mengingat tempat ini. Sudah sangat lama Zea tidak ke sini.
“Kakak sering ke sini?”
__ADS_1
.