Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
309. S2 - Hati dan perasaan


__ADS_3

"Sepertinya kamu sudah siap punya mantu lagi, Ayman," ucap Kyai Hasan yang biasa dipanggil Lukman oleh Ayman dan teman-temannya dulu.


"Kamu bisa saja, memang siapa yang mau menikah?" tanya Ayman yang memang tidak tahu siapa yang dimaksud Lukman.


"Ya, itu salah satu anak kamu yang kembar. Dari kemarin aku lihat dia terus berusaha mendekati Ustaz Ali. Aku juga bisa melihat kalau dia menyukainya."


"Memang iya? Kapan? Kok, aku nggak tahu!" Ayman cukup terkejut dengan apa yang temannya katakan. Pasalnya dia tidak pernah mendengar desas-desus mengenai kedua putrinya, yang selama ini terlihat pendiam.


"Sejak di rumah sakit kemarin. Aku melihatnya dengan jelas. Kalau itu memang benar, sebaiknya disegerakan saja. Tidak baik wanita terlalu lama sendiri, apalagi sudah memiliki perasaan karena."


Ayman tampak menghela napas, seperti tidak rela kehilangan putrinya. "Jujur aku belum rela jika putriku akan meninggalkanku. Bayangan tentang mertua jahat dan suami tidak bertanggungjawab selalu menghantuiku."


"Sebenarnya itu wajar bagi seorang ayah. Aku juga merasakan hal yang sama, saat aku mengikhlaskan putriku untuk menjadi menantumu, tapi aku pasrahkan semuanya kepada Sang Maha Pencipta. Aku yakin Dia lebih tahu mana yang terbaik untuk putriku. Aku yakin pasti akan ada yang membimbingnya. Apalagi dia benar-benar orang yang baik dan dari keluarga yang baik. Aku jadi semakin yakin."


"Apa keluarga Ustadz Ali itu orangnya baik?" tanya Ayman pada sahabatnya, mencoba mencari tahu agar tidak salah mengambil keputusan.


"Aku tidak begitu mengenal mereka. Kalau Ustaz Ali memang orang yang baik, hanya saja aku tidak begitu tahu tentang keluarganya. Sebaiknya kamu tanyakan dulu lah sama anakmu, apa benar dia menyukai Ustaz Ali. Kalau iya nanti biar aku bantu untuk bicara dengan keluarganya. Siapa tahu putrimu mau taaruf dengan dia."


Ayman mengangguk sambil berpikir. Dia juga tidak mau mengambil keputusan secara mendadak. Apalagi ini menyangkut masa depan anaknya, pria itu tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari.


"Biar nanti aku bicarakan juga sama Zayna. Dia juga berhak untuk menentukan keputusan. Kamu tahulah, namanya anak-anak, mamanya itu yang paling protektif. Dia takut anaknya ajan disakiti sama orang lain. Ya ... bukan hanya mamanya, sih! Aku juga begitu."


"Kalian bicarakan dulu saja, kalau memang sudah ditentukan segera kabari aku."


"Siap."


Kedua pria itu pun berbincang-bincang sejenak, sekaligus membahas mengenai acara aqiqah cucu mereka. Keluarga setuju untuk mengadakan acara pengajian saja, tidak perlu banyak orang, hanya kerabat terdekat. Arslan juga sudah menyiapkan bingkisan untuk tamu yang datang.


****


"Aku nggak nyangka kalau kamu akan mendahuluiku, sekarang malah udah punya buntut aja," ucap Adam saat kini dirinya sedang berdua dengan Arslan.


"Makanya kamu kapan? Dari kemarin belum unboxing juga," cibir Arslan.


"Ngapain kamu yang kepo? Aku aja santai begini."


"Halah! Pura-pura santai, padahal dalam hati juga sangat berharap kalau kamu segera bisa unboxing, kan?"


"Sudah tahu pakai nanya segala." Adam memutar bola matanya malas. Apa yang dikatakan Arslan memang benar, hanya saja dia terlalu malas untuk menanggapi godaan sepupunya itu.


Keduanya berbincang santai, mereka sengaja ingin menjauhkan diri dari obrolan para orang tua. Begitu juga dengan Zea yang ingin ngobrol dengan Hira. Bagaimanapun dia juga ingin menjadi istri yang sesungguhnya, serta memiliki seorang anak yang lucu. Apalagi saat melihat baby Icha yang begitu menggemaskan, membuat dia semakin ingin memiliki baby juga.


"Kak, apa melahirkan itu sakit?" tanya Zea pada sepupunya.


"Namanya melahirkan tentu saja sakit. Orang kita disuntik saja sakit, apalagi melahirkan. Semua tergantung kita yang menjalaninya. Kalau kita ikhlas semuanya insya Allah akan lancar," jawab Hira yang sebisa mungkin agar tidak membuat Zea takut.

__ADS_1


"Tapi jujur, Kak. Aku takut kalau dengar orang cerita tentang melahirkan, itu katanya rasanya seperti dipukuli banyak orang."


"Memang begitu, tapi saat anak yang ada dalam kandungan kita keluar dan pertama kali melihat wajahnya, rasa sakit yang kita rasakan tadi pun tidak ada artinya sama sekali. Semuanya hilang begitu saja saat melihat malaikat kecil kita."


"Pasti Kakak sangat bahagia bisa memiliki Baby Ica." Zea menatap Wajak sepupunya yang terlihat berbinar.


"Bukan hanya bahagia lagi, sangat bahagia. Kamu akan merasakan itu saat kamu juga mengalaminya. Rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata."


Zea tersenyum, dia tidak sanggup membayangkan apa yang dikatakan oleh Hira. "Aku juga ingin seperti itu, api sayangnya sampai saat ini Kak Adam belum pernah menyentuhku," ucapnya dengan lesu.


"Yang benar!" seru Hira yang begitu terkejut.


Dia memang sudah mengetahui cerita tentang Adam dan Zea, tetapi mengenai lebih mendalam lagi dia tidak tahu. Bahkan Arslan juga tidak pernah menceritakan tentang rumah tangga sepupunya itu. Baginya itu urusan mereka sendiri.


Akan tetapi, bagaimana mungkin seorang pria yang tidur satu ranjang dengan seorang wanita mampu menahan hasratnya. Apalagi mereka sudah sah, yang haram saja mudah tergiur, tetapi mereka ... Hira menggelengkan kepala, mengusir segala pikiran yang tidak baik.


"Ya begitulah, Kak. Kakak kan tahu kalau keadaan Kak Adam sekarang masih dalam penyembuhan, jadi dia belum mau melakukan tugasnya."


"Kamu masih panggil dia kakak? Kalian sudah menikah, kenapa tidak dirubah? Memang suami istri juga ada yang memanggil kakak, tapi apa kamu nggak merasa aneh dengan panggilan itu? Secara sejak kecil kamu sudah memanggilnya dengan panggilan kakak. Setidaknya gantilah, sekarang 'kan status kalian sudah berganti juga."


Zea berpikir sejenak, memikirkan panggilan yang lebih cocok untuk Adam. Dia merasa aneh jika memanggil sang suami dengan panggilan yang lain. Melihat keterdiaman sepupunya Hira jadi merasa tidak enak.


"Apa karena aku tidak mau mengganti panggilan untuknya, jadi Kak Adam masih belum melakukan tugasnya, Kak?" tanya Zea yang entah kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu.


"Aku nggak tahu, Kakak juga nggak begitu dekat dengan suamimu. Coba tanyakan saja sama orangnya langsung, nyaman apa enggak dengan panggilan itu. Kalau memang biasa saja itu hak kalian suami istri. Yang paling penting itu komunikasinya lancar. Jangan sampai ada sesuatu yang dipendam dan akhirnya menjadi masalah."


Hira mengangguk, dia memang tidak begitu mengenal bagaimana sifat Adam, tetapi wanita itu yakin jika semua pria juga pasti ingin dihormati oleh istrinya. Begitu juga dengan Adam. Saat keduanya sedang berbincang, si kembar pun datang dan ikut bergabung.


"Sepertinya serius banget, nih! Lagi bicarain apa?" tanya Aini yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Hira, sementara Zea hanya diam sambil melihat ke arah keponakannya.


"Ih, ditanyain malah pada diam saha. Ini semua orang pada kenapa hari ini? Yang satu lagi galau soal cinta, ini yang dua lagi sibuk dengan urusan drama rumah tangga. Kenapa cinta begitu menyiksa, aku jadi nggak mau jatuh cinta dulu. Semoga Tuhan mengirim jodoh yang baik dunia akhirat," ucap Aini dengan nada sedih yang dibuat-buat.


"Memang siapa yang galau cinta?" tanya Hira yang kemudian pandangannya tertuju pada Aina. Gadis itu ternyata sedang melamun dengan pandangan yang kosong.


"Jatuh cinta sama siapa?" timpal Zea yang juga ikut penasaran dengan cerita sepupunya.


"Siapa lagi kalau bukan orang yang datang sama Kyai Hasan."


"Orang yang bersama Kyai Hasan?" Zea mengerutkan keningnya, sementara Hira mencoba mengingat siapa orang yang dibawa oleh abinya, kemudian matanya melebar saat tahu siapa yang dimaksud.


"Ustaz Ali? Aina jatuh cinta sama Ustaz Ali?" tanyanya.


"Ya begitulah, Kak," jawab Aini, sementara Aina segera menutup mulut kakak iparnya itu.


Dia tidak mau kalau sampai kedua orang tuanya mendengar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya. Gadisnya itu terlalu malu mengenai urusan percintaan. Apalagi selama ini dirinya dikenal sebagai anak pendiam.

__ADS_1


"Jadi Aina sudah mulai jatuh cinta? Hebat sekali," sahut Zea dengan terkikis geli, begitu juga dengan Aini yang begitu suka melihat wajah malu saudaranya.


"Kalian bisa diam nggak, sih! Nanti kedengeran sama mama bisa gawat," ucap Aina sambil sesekali melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka.


"Memangnya kenapa?"


"Mama 'kan nggak bolehin kita pacaran, apalagi deket-deket sama cowok sembarangan."


"Siapa juga yang pacaran, Aina. Di sini nggak ada yang pacaran. Lagi pula sekarang kamu sudah dewasa, kalau sekarang kamu suka sama lawan jenis sudah hal yang wajar. Asalkan jangan melebihi batas saja," sela Zea yang diangguki Aini.


"Iya, Kakak setuju. Kenapa kamu nggak coba untuk bertaaruf saja sama Ustaz Ali, kalau kamu memang benar suka sama dia," timpal Hira.


Aini tertunduk lemas. "Aku malu, Kak. Masa cewek duluan yang ngajuin diri, harusnya cowok, dong!"


"Kenapa harus malu? Tidak ada larangan wanita mengajukan diri dulu. Kamu ingat nggak cerita tentang Nabi Muhammad dan Siti Khadijah. Beliau juga mengajukan pernikahan lebih dulu pada nabi Muhammad jadi, tidak ada salahnya kalau wanita mengajukan lebih dulu. Jangan tinggikan rasa malu untuk kebaikan, malulah jika kamu melakukan hal yang buruk."


"Kalau papa sama mama menentang keinginanku bagaimana, Kak?"


"Berarti memang dia bukan jodoh yang terbaik untukmu. Kita tidak tahu bagaimana kehidupan kita kelak. Kita hanya bisa berdoa agar jalan yang kita tempuh nanti adalah jalan yang terbaik. Tentu saja dengan ridho kedua orang tua kita. Saran dari Kakak sebaiknya kamu bicarakan dulu dengan papa dan mama. Minta nasehat dari mereka dan bagaimana yang terbaik."


"Aku masih takut, Kak. Nanti aku pikirkan lagi bagaimana baiknya, untuk saat ini lebih baik tidak dulu," pungkas Aina yang diangguki Hira


Apa pun keputusan adik iparnya dia tidak berhak ikut campur. Wanita itu hanya bisa memberi saran, selebihnya itu hak diri masing-masing.


Saat mereka sedang berbincang, Umi Rikha datang, dia berpamitan untuk pulang lebih dulu. Sebelum pergi, wanita setengah baya itu ingin menggendong cucunya. Sebenarnya sangat berat meninggalkan cucunya, tetapi bagaimana lagi, mereka juga punya tanggungjawab di tempat tinggalnya.


"Umi, kenapa nggak nginep aja di sini?" tanya Hira karena memang uminya tidak pernah menginap. Padahal rumah ini sudah menjadi rumah Aslan dan dirinya, tetapi sekali pun kedua orang tuanya tidak pernah menginap. Meskipun itu hanya untuk satu malam.


"Sebenarnya Umi juga mau menginap, tapi 'kan kamu tahu tanggung jawab Abimu sangat besar, nanti kalau kakakmu sudah mengambil alih pengurusan pondok, barulah Umi bisa sedikit lega dan bisa pergi ke mana pun. Termasuk menginap di rumah kamu."


"Iya, Umi, Hira mengerti. Semoga Kakak secepatnya mengambil tugasnya."


"Semoga saja, ya sudah, Umi pergi dulu. Abi sudah nunggu di depan."


"Iya, Umi. Ayo Hira antar."


Hira pergi ke depan bersama dengan uminya yang juga masih menggendong cucunya. Aini menarik tangan Aina agar mengikuti kakak iparnya yang sedang mengantar kedua orang tuanya. Pasti di sana juga ada Ustaz Ali yang akan pulang juga. Sebenarnya Aina sempat memberontak dan tidak mau ikut, tetapi saudara kembarnya yang tetap memaksa dan akhirnya mau tidak mau dia ikut juga.


Di belakangnya Zea juga tidak mau kalah. Dia juga tidak mungkin di kamar sepupunya sendirian. Kyai Hasan dan Umi Rikha berpamitan pada besannya dan juga semua orang yang ada di sana. Ayman juga sempat meminta Lukman untuk tetap tinggal, tetapi demi tanggung jawab, akhirnya dia tetap akan pulang.


Dari tadi Aina berharap Ustaz Ali mau melihat ke arahnya, setidaknya sebelum pergi pria itu tersenyum satu kali saja padanya. Namun, hingga masuk mobil dan meninggalkan halaman rumah. Ustaz Ali sama sekali tidak menolehkan kepalanya. Hal itu semakin membuat gadis itu sedih karena merasa dirinya tidak diinginkan.


Kalau sudah seperti ini, Mana mungkin dia berani berbicara dengan kedua orang tuanya. Bisa-bisa dirinya akan dilarang pergi ke mana pun dan akan tetap di rumah dalam keadaan apa pun. Akan tetapi, bukankah cinta itu untuk diperjuangkan. Jika hanya diam saja, maka pasti tidak akan mendapatkan apa-apa.


Sepertinya Aina memang harus meminta saran dari kedua orang tuanya mengenai langkahnya. Bagaimana baiknya dirinya dan Ustadz Ali, semoga ada jalan untuk kebahagiaannya.

__ADS_1


.


__ADS_2